Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33_Pria bertopeng
"Siapa di sana?!" bentak Nathan sambil memutar tubuhnya dengan cepat. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menyapu kegelapan, sementara kedua tangannya mengepal penuh kewaspadaan.
"Jangan bergerak, Vara!" seru Edgar dengan suara lantang. Wajahnya dipenuhi kepanikan, tetapi tubuhnya langsung berdiri di depan Elvara, berusaha melindungi adiknya.
Elvara menahan napas.
"A-aku... aku merasakan seseorang berdiri tepat di belakangku." ucapnya terbata-bata. Bibirnya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi, sementara kedua tangannya gemetar memegangi lengan Nathan.
Nathan segera menarik Elvara mendekat.
"Tetap di sampingku." katanya tegas. Tatapannya tetap mengawasi sekeliling, napasnya terdengar berat menahan ketegangan.
Tiba-tiba...
Suara tawa pelan menggema dari sudut ruangan.
"Hahaha..."
Suara itu bergema berkali-kali hingga sulit ditebak berasal dari arah mana.
Kepala keamanan langsung menelan ludah.
"Pak... saya tidak suka ini." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara dahinya dipenuhi keringat dingin.
Edgar menggertakkan giginya.
"Nyalakan senter sekarang!" perintahnya lantang. Tatapannya penuh kemarahan.
Beberapa petugas keamanan langsung menyalakan senter. Sorot cahaya menyapu seluruh ruang arsip. Rak demi rak terlihat kosong. Tak ada siapa pun.
Namun...
Kotak kayu hitam itu kini sudah tidak berada di tempatnya.
Nathan langsung membelalak.
"Kotaknya hilang!" serunya keras. Wajahnya berubah serius, sementara kedua alisnya bertaut erat.
Semua orang spontan menoleh. Benar saja. Lantai tempat kotak itu berada kini kosong.
Edgar mengepalkan tangannya.
"Mustahil!" bentaknya geram. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya terlihat jelas.
Elvara menutup mulutnya.
"Padahal... tadi ada di sana." bisiknya lirih. Air mukanya dipenuhi kebingungan dan rasa takut.
Belum sempat mereka berpikir...
Duar!
Suara ledakan keras terdengar dari lantai bawah. Gedung bergetar hebat. Lampu darurat otomatis menyala dengan cahaya merah yang redup. Alarm berbunyi memekakkan telinga.
"Wiuu... wiuu... wiuu..."
Salah seorang petugas keamanan menerima panggilan melalui radio. Wajahnya langsung pucat.
"Pak Edgar!" serunya panik. Napasnya memburu.
"Ada apa lagi?" tanya Edgar cepat. Tatapannya tajam.
"Ruang server diserang!" jawab petugas dengan suara gemetar. Matanya membelalak penuh kecemasan.
Nathan langsung menoleh.
"Apa?" ucapnya terkejut. Wajahnya menegang.
"Seluruh sistem perusahaan tiba-tiba terkunci." lanjut petugas. Tangannya ikut bergetar saat memegang radio.
Edgar memukul dinding dengan keras.
"Sial!" geramnya. Wajahnya memerah karena emosi.
Nathan berpikir beberapa detik. Lalu matanya membelalak.
"Ini pengalihan!" serunya tegas. Tatapannya berubah tajam.
Edgar langsung menoleh.
"Maksudmu?" tanyanya cepat. Wajahnya penuh tanda tanya.
Nathan menarik napas panjang.
"Mereka sengaja membuat kita fokus ke ruang arsip." jelasnya dengan nada serius. "Padahal target sebenarnya adalah ruang server." lanjutnya sambil mengepalkan tangan.
Elvara langsung terkejut.
"Kalau data perusahaan berhasil dicuri..." ucapnya lirih. Wajahnya semakin pucat.
Nathan mengangguk pelan.
"Bukan hanya perusahaanmu yang hancur." katanya tenang. "Seluruh bukti kejahatan Arsenio juga bisa lenyap." lanjutnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
Edgar tidak membuang waktu lagi.
"Semua ikut denganku!" bentaknya lantang. Wajahnya dipenuhi tekad.
Mereka segera berlari menuju ruang server. Namun ketika pintu lift terbuka... Semua orang membeku.
Di dalam lift...
Seorang petugas keamanan tergeletak tak sadarkan diri. Seragamnya dipenuhi bercak darah. Di dadanya tertempel secarik kertas putih.
Nathan segera mengambil kertas itu. Tulisan berwarna merah memenuhi permukaannya.
"Kalian terlambat."
Di bawah tulisan itu terdapat simbol yang sama persis dengan lambang pada foto yang sebelumnya diberikan pria misterius.
Nathan menggenggam kertas itu hingga kusut.
"Aku pernah melihat simbol ini..." gumamnya pelan. Wajahnya berubah tegang, seolah sebuah ingatan lama mulai kembali.
Edgar langsung menoleh.
"Di mana?" tanyanya cepat. Alisnya berkerut tajam.
Nathan terdiam cukup lama. Napasnya terdengar semakin berat. Kemudian ia mengangkat wajahnya perlahan.
"Simbol ini..." ucapnya lirih. Tatapannya dipenuhi keterkejutan. "...ada di berkas rahasia ayahku yang menghilang lima belas tahun lalu."
Ucapan itu membuat Edgar dan Elvara membelalak.
Belum sempat mereka bertanya lebih jauh... Terdengar suara tepuk tangan dari ujung lorong.
"Tap... tap... tap..."
Semua kepala menoleh bersamaan.
Di ujung lorong yang remang-remang... Berdiri seorang pria tinggi mengenakan jas hitam dan topeng perak.
Ia tidak bergerak sedikit pun. Hanya berdiri sambil menatap mereka. Lalu perlahan mengangkat tangan kanannya.
"Selamat datang di babak berikutnya..." ucapnya pelan. Senyum tipis terlihat di balik topengnya, sementara sorot matanya memancarkan ancaman yang dingin.
Sesaat kemudian... Seluruh lampu kembali padam.
Ketika cahaya darurat menyala beberapa detik kemudian...Pria bertopeng itu telah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Yang tersisa hanyalah sebuah kartu hitam di lantai dengan satu kalimat yang membuat jantung semua orang seakan berhenti berdetak.
"Permainan baru saja dimulai... dan kali ini, salah satu dari kalian akan menjadi pengkhianat."
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.