NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: BENIH YANG MULAI TUMBUH

Waktu terbukti menjadi penghapus duka yang paling ajaib. Beberapa hari sejak Arman pergi dari pekarangan rumah dengan membawa sejuta penyesalan yang membakar batinnya, atmosfer di rumah orang tua Aini berubah total menjadi ladang kedamaian. Tidak ada lagi mendung di wajah Aini. Sebaliknya, getaran dari ponsel di genggamannya kini menjadi salah satu sumber tawa yang paling konsisten memecah kesunyian kamarnya.

Hubungannya dengan Egi di WhatsApp bergerak maju secepat meteor, beralih dari sekadar obrolan formal sesama penulis menjadi gurauan akrab yang selalu berhasil memancing senyuman manis di bibir Aini.

Egi, yang sudah kembali ke kota provinsi, terbukti memiliki selera humor yang renyah namun tetap menjaga kesantunan seorang pria berwibawa. Suatu sore, saat Aini sedang asyik membalas pesan sambil rebahan, sebuah chat dari Egi masuk membuat dadanya seketika berdesir lucu.

Egi:Ai, aku mau protes. Gara-gara naskah barumu kemarin, aku sampai lupa mematikan kompor saat memasak mie instan. Alhasil, mienya berubah wujud jadi arang hitam legam sehitam masa lalu tokoh antagonismu.

Aini:Hahaha, benarkah? Berarti tulisan saya berhasil menghipnotis Mas Egi. Tapi tolong mienya jangan dibuang, Mas. Diulek saja, siapa tahu bisa jadi masker wajah herbal.

Egi:Wah, ide yang sangat kejam. Kulitku yang bersih seperti artis Korea ini bisa berubah jadi sekelam malam kalau pakai masker arang mie instan buatanmu, Ai.

Aini tertawa lepas di dalam kamar. Tawa yang sudah satu tahun lamanya tersedat di tenggorokan, kini meluncur bebas tanpa beban. Perhatian Egi yang konsisten, tanpa tuntutan yang merendahkan mental, perlahan-lahan menyiram benih harapan yang baru di dalam hatinya.

Keesokan harinya, Aini memutuskan untuk memanjakan sang ibu. Berbekal uang bonus pertamanya dari NOVEL TOON yang mengalir deras seperti air bah, Aini mengajak Ibu Naya pergi ke pasar kecamatan menggunakan sepeda motornya. Pagi itu, Aini tampil begitu segar; mengenakan pakaian yang rapi, bersih, dan memancarkan wangi bunga lavender yang lembut.

Sesampainya di pasar, mereka berdua seperti melakukan aksi jor-joran belanja yang membuat dompet tersenyum lebar. Aini membeli beras premium, minyak goreng, tumpukan sabun, makanan enak, hingga sepotong baju baru bermotif indah untuk ibunya. Saat sedang asyik memilih sayuran, sepasang mata dari meja sebelah memperhatikan mereka dengan saksama. Itu adalah Uni Lastri, salah satu tetangga kampung yang beberapa bulan lalu terkenal paling tajam lidahnya saat menggunjingkan status janda Aini.

Melihat penampilan Aini yang kini berkilau bagai berlian yang baru selesai diasah, Uni Lastri mendadak mengubah arah anginnya. Wanita itu mendekat dengan senyuman yang dipaksakan semanis tebu.

"Eh, Aini... makin cantik saja kamu sekarang ya, Nak. Bersih sekali wajahmu, kelihatan makin segar seperti anak gadis," puji Uni Lastri, matanya melirik tas belanjaan Aini yang penuh sesak oleh barang-barang mahal.

"Belanja banyak ya? Alhamdulillah, ikut senang Uni melihatnya."

Aini menarik napas dalam, mengaktifkan "perisai cuek" yang sudah dia pelajari dengan matang. Dia tidak merengut atau membalas dengan ketus. Aini hanya mengukir senyuman yang teramat anggun dan tenang.

"Iya, Uni. Alhamdulillah, ada rezeki sedikit hasil menulis di Hp, jadi bisa membelikan Ibu kebutuhan dapur," jawab Aini dengan nada suara yang sangat lembut namun telak menampar gengsi sang tetangga.

Uni Lastri seketika melongo, tidak menyangka menantu yang dulu kabarnya terlantar kini bisa jor-joran belanja dari hasil memencet layar HP. Ibu Naya yang berdiri di samping Aini hanya bisa tersenyum bangga, dadanya membusung lega melihat putrinya kini tumbuh menjadi wanita mandiri yang berwibawa tanpa bisa lagi dijatuhkan oleh omongan orang lain.

Sore harinya, saat suasana rumah sedang santai dan angin sejuk bertiup dari pekarangan belakang, suara ketukan pintu depan memecah keheningan. Seorang kurir paket berdiri di sana membawa sebuah kotak berukuran sedang.

"Paket atas nama Aini Lidya," seru kurir tersebut.

Aini yang sedang duduk di ruang tengah segera menerima paket itu dengan kernyitan heran di dahinya. Dia tidak merasa memesan barang apa pun di aplikasi belanja online belakangan ini. Rasa penasarannya memuncak. Di bawah tatapan menyelidik dari Ibu Naya dan Natan yang sedang asyik mengunyah kerupuk di lantai, Aini membuka selotip kotak tersebut secara perlahan.

Saat tutup kotak terbuka, aroma wangi cokelat dan keharuan langsung menyeruak. Di dalam kotak itu tersusun rapi beberapa kotak vitamin kecantikan premium, sebuah buku catatan menulis bersampul kulit yang teramat elegan, serta beberapa bungkus camilan keripik pedas kesukaan Aini. Di atas tumpukan barang tersebut, terselip sebuah kartu ucapan kecil berwarna putih bersih.

Aini mengambil kartu itu, membacanya dalam hati. Tulisan tangannya sangat rapi dan maskulin:

“Semangat mengetik bab selanjutnya, Ai. Jangan lupa makan keripik pedasnya kalau otaku sedang buntu, tapi tolong kompor di rumahmu jangan sampai ikut hangus seperti milikku kemarin. Jaga kesehatanmu selalu. —E.”

Seketika itu juga, semburat merah merona langsung menjalar cepat di kedua pipi Aini, membuat wajahnya terasa hangat bagai disengat matahari siang. Jantungnya berdesir hebat oleh kejutan manis yang sama sekali tidak dia duga ini.

Natan, adiknya yang baru menginjak kelas 5 SD, ternyata memiliki mata sejelas elang. Melihat perubahan ekspresi wajah kakaknya yang mendadak bersemu merah jambu, anak laki-laki itu langsung menghentikan kunyahan kerupuknya. Natan bangkit berdiri, lalu berjalan mendekat dengan senyuman jahil yang terkembang lebar di wajah polosnya.

"Wah, wah... ada yang pipinya mendadak berubah jadi seperti tomat matang nih," ledek Natan dengan suara yang sengaja dikeraskan, membuat Ibu Naya ikut menoleh sambil menahan tawa.

"Ciye... Kak Aini dapat hadiah misterius dari Om Penulis ya? Siapa namanya, Kak? Om Egi yang di WA itu ya?"

"Natan! Jangan sembarangan bicara ya, ini... ini paket kiriman dari pembaca novel Kakak tahu!" dusta Aini panik, mencoba menyembunyikan kartu ucapan itu ke balik blazer rumahnya, namun gerakannya yang salah tingkah justru membuat Natan semakin gencar menggoda.

"Ah, masa dari pembaca sampai tahu keripik pedas kesukaan Kakak? Pembacanya peka sekali atau jangan-jangan sudah mau berubah status jadi calon abang ipar baru Natan nih? Hahaha!" tawa Natan pecah, berlari menghindar saat Aini pura-pura hendak melemparnya dengan bantal sofa.

Di sudut ruangan, Ibu Naya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman yang teramat teduh. Kamar yang dulunya dipenuhi oleh gemuruh tangis hampa Aini, kini telah sepenuhnya menjelma menjadi ruang penuh tawa riang dan candaan keluarga yang menghangatkan jiwa.

Malam itu, Aini kembali menatap hadiah buku catatan di atas mejanya dengan hati yang teramat lapang dan bahagia. Dia menyadari sebuah hakikat kehidupan yang indah dari proses healing-nya:

Sebab, saat kamu memilih untuk berhenti meratapi sebutir kerikil tajam yang pernah melukai kakimu di masa lalu, semesta akan dengan senang hati menuntun langkahmu menuju taman bunga yang luas; membuktikan bahwa tawa lepas bersama orang-orang yang menghargaimu jauh lebih megah daripada air mata yang kamu buang untuk manusia yang salah.

Aini memejamkan matanya malam itu ditemani binar harapan yang baru, siap menyongsong hari esok tanpa ada lagi sekat penyesalan yang tersisa di dalam jiwanya.

--------------------

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!