CINTA TAK BERTEPI adalah sebuah cerita dari seorang gadis bernama Reya Agustiana Dewi.
Berawal dari saat dirinya remaja. Karena sang ayah yang dipecat membuat dirinya harus pindah sekolah ke sebuah desa kecil. Disana dia berteman dengan seorang laki-laki bernama Rama dan saling jatuh cinta. Namun sayang, hubungan yang baru saja seumur jagung itu harus terpisahkan oleh maut dan membuat Reya sedikit trauma untuk kembali mengenal cinta.
Tapi bukankah setiap manusia memang sudah memiliki jodohnya masing-masing?
Begitupun dengan Reya. Saat usianya dewasa, rasa cinta kembali mengetuk hatinya lewat seorang polisi bernama Seno. Tapi sekali lagi, hubungan diantara mereka tidak selurus jalan tol. Banyak sekali ujian di dalam hubungan mereka. dan banyak juga misteri yang muncul sejalan kasus yang sedang dihadapi oleh AKP Seno Pramudya.
Akankah cinta Reya dengan Seno akan berujung ke dalam sebuah pernikahan???
Selamat membaca sahabat... 😄😄😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sari N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELISAH
Pukul satu siang jam belajar mengajar di sekolah telah usai. Dengan cepat Reya menarik tangan Ayisha agar bisa segera pulang. Padahal biasanya Ayisha selalu jajan dulu ke kantin untuk bekal cemilannya di dalam angkutan desa.
“Kenapa harus cepet-cepet pulang sih Rey? Emangnya ada apa?” tanya Ayisha setelah duduk di mobil angkutan desa.
“Ga ada apa-apa,” jawab Reya acuh tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
“Iya kalau ga ada apa-apa, kenapa gue ga boleh jajan cemilan dulu?”
“Cemilan terus yang dipikirin. Cobalah sekali-kali diet,” jawab Reya yang kini dengan menatap Ayisha.
Tampak Ayisha yang cemberut pada Reya. Bukan karena Reya mengatainya gendut, tapi karena Reya melarangnya untuk terus memikirkan cemilan. Sepanjang jalan mereka lewati dengan saling berdiam diri tanpa ada satu katapun yang keluar. Ayisha, sepanjang perjalanan terus memikirkan cemilan kesukaannya, dan Reya sepanjang jalan terus memikirkan tentang ajakan Rama nanti malam.
Tiga puluh menit telah berlalu. Akhirnya mereka telah sampai di rumah masing-masing. Sesampainya di dalam kamar, Reya langsung melempar tasnya ke atas tempat tidur dan dia juga langsung menjatuhkan badannya di atas kasur yang sangat empuk itu. Hatinya benar-benar tidak bisa tenang. Dia berguling-guling di atas kasurnya ke kiri dan ke kanan namun tetap saja tidak menemukan ketenangan. Setelah sepuluh menit lamanya dia tidak bisa
diam, akhirnya dia berdiri dan lalu berjalan menuju ke arah jendela kamarnya. Sebuah tempat yang sangat spesial di dalam kamarnya karena hanya di titik itulah Reya biasa menemukan sebuah ketenangan.
Seketika bayangan-bayangan Rama muncul di benaknya. Pertemuan di hari pertama sekolah, saat perkenalan Reya di depan kelas.
~Flashback on~
“Hay, salam kenal semuanya. Nama saya Reya Agustiana Dewi. Teman-teman semuanya bisa memanggil saya dengan sebutan Reya”
“Dan dia adalah saudara sepupuku,” kata Ayisha memotong perkenalan Reya.
Semua siswa yang merasa kaget dengan suaranya yang tiba-tiba muncul langsung menyurakinya.. UUuuuuuuuUUUU.....
Melihat kondisi kelasnya yang mulai berisik, Bu Layla mencoba menenangkan.
“Sudah.. sudah.. hey.. anak-anak.. coba hargai Reya yang sedang berbicara di depan,” ucap sang guru, tegas, membuat warga kelas diam dan kembali fokus pada Reya.
“Silahkan dilanjutkan Reya,” titah bu Layla.
“Baik, Bu. Saya baru pindah kesini beberapa hari yang lalu. Saya pindahan dari SMA Purnama yang terletak di kota Jakarta”
“WEITSS ADA GADIS KOTA GUYS...!!!”
~Flashback Off~
Lalu berlanjut dengan pertemuannya di lapangan parkir sekolah.
~Flashback On~
Ketika melewati parkiran sekolah, tiba-tiba saja asap motor menutupi langkah Reya. Suara motor itu pun terdengar sangat berisik. Reya sampai batuk-batuk karena asap motor tersebut.
*I*h siapa sih sore-sore gini maenin motor, pikir Reya.
Asap itu semakin banyak dan seolah-olah memang sengaja ditujukan ke depan wajah Reya. Reya sudah siap untuk berlari ketika langkahnya dihentikan oleh suara seorang laki-laki.
“Yaelah gadis kota kok batuk-batuk karena asap knalpot sih. Bukannya di kota polusi udara seperti ini udah biasa ya,” kata laki-laki itu.
~Flashback Off~
Di setiap pertemuan mereka, Rama selalu saja membuat Reya sangat kesal. Sampai suatu ketika, dia menemukan sebuah kartu As. Titik kelemahan Rama yang jika dia gunakan maka dengan mudah Rama akan hancur seketika. Sampai sekarang Reya masih mencari waktu yang tepat untuk bisa mengeluarkan kartu as nya itu.
***
Hampir seharian ini Reya tampak gelisah. Apapun yang dia kerjakan selalu salah. Mau ambil minum, malah buka lemari kue. Mau bawa handuk, malah bawa lap tangan. Semuanya tampak kacau. Ibunya sampai bingung dengan tingkah laku anaknya itu. Jika ditanya ada apa, jawaban Reya selalu tidak ada apa-apa.
Hari sudah semakin sore. Reya hanya bisa duduk termenung menatap dirinya di depan cermin. Tangannya bergetar. Dia bingung harus bagaimana menghadapi Rama nanti malam. Apalagi kalau sampai orangtuanya
tau kalau dia jalan berdua dengan seorang laki-laki dan itupun malam hari. Bisa-bisa bakalan ada sidang di rumah.
Jam demi jam telah berlalu. Menit, detik, dan akhirnya sampai juga di jam delapan malam. Jam yang sangat sakral bagi Reya. Karena malam ini dia akan jalan dengan orang yang paling dia benci di sekolah. Rama sudah mengirim pesan bahwa dia sudah sampai di depan gang rumahnya. Sesekali dia berfikir untuk membiarkan Rama berdiri di depan gang sampai pagi. Setidaknya itu juga bisa dijadikan balas dendamnya. Tapi bagaimana jika Rama nekad datang ke rumah dan ketemu sama Ayah dan Ibu. Oh My Ghost. Lebih baik dia keluar dan menghadapinya sendiri.
Dengan mengenakan celana panjang berwarna biru dilengkapi dengan jaket biru kesayangannya, serta rambut yang senantiasa dia ikat, Reya pamit pada orangtuanya hendak kerja kelompok.
Di ujung gang, Reya melihat kesana kesini keberadaan Rama.
“Kok ga ada? Sial.. Jangan-jangan gue dikerjain lagi,” kata Reya sambil terus mencari keberadaan Rama.
"Gue ada kok, khusus buat elo," suara Rama tampak mengagetkan. Ya iyalah gak keliatan, orang dia berdiri di tempat gelap dengan stelan baju dan celana warna hitam.
“Sudah tau malam-malam, ngapain berdiri di tempat gelap pake baju item?” tanya Reya sinis.
“Gue ga tau kalau ternyata jalan di depan gang rumah elo minim penerangan. Kalau tau gini, gue pake baju putih-putih biar sekalian dikira pocong,” jawab Rama sambil jalan mendahului Reya.
Reya tampak tersenyum mendengar candaan Rama. Diapun berjalan mengikuti Rama dari belakang.
“Sejak kapan elo jadi babu gue?” tanya Rama sambil menghentikan langkahnya.
“Apa?” tanya Reya tidak mengerti.
“Gue tanya sejak kapan elo jadi babu gue, gadis kotaaaaa???” Rama mempertegas kalimatnya sambil mencondongkan wajahnya hingga mendekati wajah Reya.
“Sialan maksud elo apaan?” jawab Reya marah dan langsung mendorong tubuh Rama yang terlihat semakin mendekat.
”Ya, habisnya elo. Jalan dibelakang gue. Kayak babu gue tau?” kata Rama dan langsung menarik tangan Reya sehingga mereka berdiri berdampingan.
“Ishh. Lepasin tangan gue. Katanya bukan muhrim,” jawab Reya ketus.
Rama tampak tertawa mendengar ucapan Reya.
“Hahahahha.. Elo masih marah sama gue? Kan gue udah minta maaf.”
“Hmm..” jawab Reya sambil tetap berjalan.
Mendengar jawaban Reya yang aneh, Rama menarik tangan Reya dan diapun terjatuh di pelukan Rama. Mata mereka saling berpandangan. Reya yang tersadar, langsung menghempaskan badan Rama dari tubuhnya.
“Ishh. Ngapain elo peluk-peluk gue?” tanya Reya agak sedikit kesal dan malu.
“Gue mau minta maaf” jawab Rama acuh.
“Soalnya yang gue tahu di film-film, gadis kota itu paling suka kalau ada yang meminta maaf sama dia harus sambil dipeluk dan di kiss. Mangkanya elo, gue tadi peluk. Cuman sayangnya belum sempet gue.....”
“Jangan pernah berfikir macem-macem. Gue bukan cewek kayak gitu,” jawab Reya seraya memalingkan wajahnya
karena malu.
Melihat yang terjadi pada wajah Reya, Rama hanya tersenyum. Dia sangat senang jika sudah melihat wajah gadis kotanya itu berubah menjadi merah merona karena malu.
Setelah lama berjalan akhirnya mereka sampai di sebuah tempat. Iya, kafe tempat Reya dan Ayisha jalan-jalan waktu itu. Seperti biasa tempat itu selalu penuh dengan pengunjung. Rama sampai harus berebut kursi dengan
pengunjung lain agar mereka bisa duduk. Untungnya ga sampai berkelahi.. hehehe
“Mau pesan apa, Rey?” tanya Rama setelah pelayan datang.
“Jus jambu aja,” jawab Reya sedikit cuek.
“Emangnya elo ga bosen? Di sekolah jus jambu, disini jus jambu. Apa ga mau coba ‘minuman kota’?” tanya Rama sambil sedikit menaik turunkan alisnya.
Ishq enak aja ngajak gue minum minuman kayak gitu. Awas loh gue kasih pelajaran, baru tau rasa lo.
Diapun berpikir mungkin inilah saat yang tepat untuk membalaskan dendamnya pada Rama. Reyapun tersenyum smirk di dalam lamunannya.
###