"Aku dibenci nggak mati, kamu gak suka aku juga nggak tutup usia, selagi rasa nggak suka dan bencimu tidak menutup pintu rezekiku, aku tidak perduli." celetuk Joanna Eden dengan tatapan santai seolah tanpa beban dosa.
Awal mulanya dia masuk kedalam dunia mafia hanya karena sebuah misi pertolongan dengan membantu kakaknya Jordan Eden yang berprofesi sebagai anggota Kepolisian untuk melakukan tipu daya agar bisa meringkus seorang Bos Mafia, tapi siapa sangka hal itu justru membuat Joanna terjerumus dalam gelombang asmara, lalu bagaimanakah kisah cinta Joanna? akankah dia bahagia atau nyawa yang akan jadi taruhannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10.Kisah Tukang Galon dan Air Galon.
Disaat kondisi Anna sudah semakin tak terkendali, Ghavin dan Jordan langsung bertindak dengan tugas masing-masing.
Setelah Jordan menyuruh rekannya untuk menjemput Anna, dia langsung mengambil alih untuk mengawasi pergerakan dari anak buah Jay Alisher, sementara Ghavin langsung menyiapkan mobilnya untuk mengamankan Anna malam ini.
"Permisi, saya harus membawa nona Anna!"
"Siapa kamu!" Jay yang masih terlena akan gombalan dari Anna mulai mengalihkan pandangannya ketika ada pria yang mengetuk pintu ruangan itu.
"Saya anak buah nona Anna." Jawab pria itu dengan tegas saat pintu itu terbuka.
"Benarkah?" Jay mulai bangkit dan memperhatikan pria itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Nona Anna, kita harus bergegas untuk pergi ketempat lain."
"Apa tidak bisa nanti saja, aku masih mau mengobrol dengan si Tampan itu." Anna belum sepenuhnya tumbang, dia pun masih setengah sadar hanya saja tubuhnya seolah sudah melayang-layang tak menentu.
"Kita masih harus pergi ke suatu tempat nona Anna!"
"Aku tidak mau, aku masih ingin disini menemaninya." Ucap Anna yang merasa belum puas menikmati ketampanan Jay malam ini.
"Maaf nona, tapi Tuan Eden sudah menunggu anda."
"Aish, dia memang bukan orang yang penyabar!" Begitu mendengar nama belakang mereka berdua, Anna langsung patuh, karena dia malas jika harus berdebat dengan Abang satu-satunya itu.
"Tunggu dulu, siapa Eden?"
Dalam bisnisnya, Jay Alisher memang harus waspada kepada pihak manapun yang terkait dengannya, karena itu demi kelangsungan bisnisnya.
"Eden? Dia adalah--"
Saat Anna ingin menjelaskan jawaban dari pertanyaan Jay, anak buah Ghavin langsung memotongnya, takut jika Anna nanti keceplosan bicara dengan jujur.
"Nona Anna, kita tidak punya banyak waktu lagi, ayo kita pergi."
Tadi dia terlihat santai, tapi saat mendengar nama Eden dia langsung patuh, apa dia kekasihnya? Peh... Apa jaman sekarang masih ada gadis yang setia dengan satu pasangan saja? Aku rasa langka, lihatlah rayuannya tadi, jantungku bahkan hampir bermasalah karena mulut manisnya itu, tapi ternyata dia tak lebih dari seorang wanita yang aku kenal pada umumnya!
"Pergilah, dasar racun dunia!"
Jay Alisher langsung memalingkan wajahnya dengan senyum kesalnya dan kembali berjalan ketempat duduknya semula.
"Bye Tampan, besok kita bisa bertemu lagi, jangan lupa hubungi aku ya!" Ucap Anna yang mulai bejalan sempoyongan meninggalkan ruangan itu.
Anak buah Ghavin terlihat susah payah saat ini, dia ingin memapah Anna, namun Anna menolaknya, namun jika dibiarkan saja Anna bisa jatuh karena langkahnya saja sudah tak searah, sedangkan jika menggendongnya dia sedikit ragu, karena dia tahu jika Anna adalah adik dari Jordan, jadi dia hanya bisa merentangkan kedua tangannya sebagai pagar yang siap menangkap tubuh Anna jika terjatuh kapan saja.
Plak!
"Kenapa kamu menenggak habis minuman itu Gadis kosong!"
Begitu sampai di Parkiran mobil dan memastikan keadaan aman, Jordan langsung mendekat kearah Adiknya.
"Argh, sakit kepalaku Bang!" Umpat Anna yang tidak mampu membalas keusilan Abangnya, karena kepalanya seolah terasa berputar-putar.
"Kenapa nggak kamu telan aja sekalian dengan botolnya, biar cepat masuk Neraka kamu, hah!" Jordan ingin sekali marah karena Adiknya menyentuh minuman itu, namun apa daya itu adalah sebagian misi dari mereka dan memang akan terlihat aneh jika Bos penjual minum setan tapi tidak mau meminumnya.
"Jordan, jangan menyakitinya, dia sudah bekerja keras malam ini." Dan Ghavin langsung menangkis pukulan Jordan yang akan mendarat lagi dikening Anna.
"Memang hanya uncle Tampan yang terbaik, dasar Abang jelek!" Ugut Anna sambil bergelayut manja dilengan Ghavin.
"Hei, kalau aku jelek kamu pun sama, jangan lupa kalau kita itu satu Trah, paham kamu!" Ucap Jordan yang langsung membalikkan fakta.
"Hmpt, hoerk!" Namun rasa mual dari perut Anna mulai muncul.
"Hei, jangan muntah disini, kalau sampai bajuku kotor dengan muntahanmu, kamu harus menjadi tukang laundryku selama setahun, mengerti!" Umpat Jordan yang langsung menjewer telinga Anna.
"Sudahlah Jordan, biar aku yang menjaga Anna, kamu yang bawa mobilnya saja!"
Begitu melihat sikap Jordan yang sudah seperti tikus dan kucing dengan adiknya, Ghavin langsung mengambil alih.
"Awas nanti dia muntah Komandan!"
"Hoerrrkkk!"
Benar saja, Anna langsung memuntahkan isi perutnya.
"Tuh kan, Anna kamu benar-benar ya, kasian komandan kan!"
Dan apesnya muntahan itu tumpah dilengan jacket milik Ghavin.
"Tidak masalah, cepat bawa mobilnya, kita langsung kerumahmu saja!" Ghavin bahkan tidak merasa jijik sekalipun dengan muntahan yang berbau menyengat itu, dia hanya melepas jacketnya dan segera menggendong Anna masuk kedalam mobil.
"Siap Komandan!"
Jordan langsung membawa mobil itu dengan kecepatan penuh, dia pun sebenarnya kasihan melihat adiknya yang harus berkorban seperti ini, dia tahu Anna pasti melakukan hal itu karena terpaksa, agar misi mereka tetap berjalan dengan sempurna.
"Uncle, kepalaku pusing, perutku juga rasanya nggak enak banget." Keluh Anna sambil sambil memegang kepalanya.
"Tahan sebentar ya Anna, tidurlah dipangkuanku, kita akan segera sampai kerumahmu, mau aku pijit kepalanya?" Ghavin dengan sabarnya memperlakukan Anna saat ini.
"Hmm."
"Aish, gadis kosong ini memang menyusahkan!" Jordan ikut mengumpat dari kursi sopir.
"Jordan! bawa mobil yang benar, konsentrasi saja, jangan melihat kebelakang!" Teriak Ghavin yang langsung membela Anna, padahal disana yang menjadi kakak kandung Anna adalah Jordan, bukan Ghavin.
"Siap Komandan!"
"Sabar ya Anna, besok aku akan memberikan hadiah untukmu, apapun yang kamu mau!" Ucap Ghavin disela-sela pijitannya.
"Benarkah?"
"Dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Jaga sikapmu dengan Bos Mafia itu, jangan terlalu berani, dan satu hal lagi, kamu tidak perlu menggoda pria itu sampai sedekat itu, okey?" Ghavin menangkupkan kedua tangannya diwajah Anna, agar pandangan Anna terfokus kepadanya.
"Menggoda bagaimana maksud uncle?"
"Kamu tidak perlu merayu atau semacam menggombalinya, cukup kamu ngobrol santai aja, jaga jarak aman, okey?" Ada banyak kegelisahan bagi Ghavin yang muncul karenanya.
"Kalau mau yang instant harus dengan cara itu Uncle, karena kalau kita jual mahal, dia akan sulit ditaklukkan." Jawab Anna yang sebenarnya tidak seberani itu, dia memang sedikit memaksakan diri tadi.
"Kamu hanya perlu mengkorek informasi saja, tidak perlu sampai merayu dengan kata-kata manis seperti itu, nanti kalau dia benar-benar tergoda bisa bahaya Anna."
"Kenapa bahaya, bukannya itu bagus, lebih cepat menaklukkannya akan lebih cepat mendapatkan informasi detailnya."
"Tapi lain kali jangan pakai gombalan seperti itu, bahaya Anna."
"Apa anda juga mau digombali komandan?" Dan setiap perkataan Ghavin menurut Jordan melambangkan rasa iri atau rasa cemburu karenanya.
"JORDAN!" Ghavin mengeratkan barisan gigi putihnya, karena tebakan Jordan memang benar adanya.
"Ahehe, jadi uncle tampan mau aku gombali juga, baiklah." Anna mulai memiringkan wajahnya ke arah Ghavin dan mengulurkan satu tangannya untuk mengusap Pipi Ghavin. Dan hal itu cukup membuat detak jantung Ghavin semakin tak menentu.
"Bukan begitu Anna, tapi--?"
"Uncle dan Bos Mafia itu sama-sama tampan, tapi Uncle itu ibarat air putih dan Bos Mafia itu ibarat kopi istimewa."
"Hah! kenapa Uncle jadi minuman yang murah, sedangkan Mafia itu yang jadi kopi istimewa, ingat Anna, dia adalah penjahat, bahkan buronan kita, kamu jangan melupakan hal itu." Ghavin langsung protes karenanya.
"Cie, iri ya komandan?" Ledek Jordan kembali.
"Diam kamu, fokuskan pandanganmu kedepan sana!"
"Konon air putih itu pernah menaruh rasa cemburu pada secangkir kopi. Alangkah menyenangkan menjadi dirimu wahai kopi, bahkan sering diajak foto-foto, ditulisi kata-kata inspiratif bahkan kata-kata mutiara dan filosofi pula." Anna langsung berceloteh sambil menatap langit-langit mobil diatas kepalanya.
"Kasian amat dah nasip si air galon?" Jordan benar-benar mendapat hiburan gratis disana.
"Jordan!"
"Asiap komandan!"
"Aku belum selesai bicara, kalian ini pria tapi kenapa banyak bicara!" Lanjut Anna yang merasa jengah sendiri melihat kedua pria itu.
"Okey, lanjut Dik!" Teriak Jordan dengan semangat.
"Dan kopi pun menjawab, wahai Air putih, hidupmu bahkan lebih bermakna, walau tak pernah difoto, namun kamu selalu dibutuhkan. Manusia bisa tanpa aku, tapi tidak bisa tanpamu, bukankah lebih baik berguna, daripada hidup hanya sekedar dipamerkan?"
"Eherm, kamu ada benarnya juga Anna." Ghavin mulai merasa tersanjung, ternyata gombalan itu berpihak kepadanya.
"Bahaha, kamu luar biasa Dik, aku nggak nyangka loh, otak kosongmu itu bisa terisi dengan hal inspiratif seperti ini, apa ini gara-gara Bos Mafia itu?"
"TIDAK MUNGKIN! yang namanya Mafia tetaplah Mafia, tak patut ditiru apalagi dicontoh, apa kalian paham!" Darah Ghavin seolah memanas, merasa tidak rela ada hal baik dari Bos Mafia itu.
*Wuidih, ada apa dengan Komandan? Apa dia tertarik dengan adik perempuanku, wah.. semakin seru aja drama si gadis kosong ini*?
"Opsh, siap! Paham Komandan!" Jordan terdenyum-senyum sendiri dengan lamunan sesaatnya.
"Anna, tidurlah nanti begitu sampai aku akan membangunkanmu, okey."
"Hmm."
Cekiiiiittt!
Grep!
"Jordan, apa yang kamu lakukan!"
Begitu Jordan dengan sengaja mengerem mobilnya dengan mendadak, Ghavin dengan sigap langsung memeluk Anna dan merapatkan ditubuh kekarnya.
"Aku kasih bonus Komandan, biar bisa meluk si Tukang Galon itu!" Ucap Jordan dengan senyum ledekannya, sambil melihat kondisi mereka dari spion tengah mobil itu.
"Hah?"Jordan pura-pura tidak mengerti, padahal dia hanya menutupi rasa canggungnya saja, karena seolah rahasia hatinya mulai diketahui oleh orang lain.
"Peluk yang erat, aku akan menambah kecepatan mobilnya Komandan!"
Jordan akhirnya sedikit menyadari, bahwa ada yang lain dari sikap Komandannya, apalagi jika menyangkut tentang Anna dan dia hanya ingin memastikan saja.
Dan benar saja, saat Anna terlelap dipangkuan Ghavin, tatapan kedua mata Ghavin selalu terarah ke wajah Anna dalam diam, seolah ada rasa yang terpendam begitu dalam.
Bahkan Ghavin terus saja mengusap dan memijit kepala Anna, walau kedua mata gadis itu sudah tertutup dengan sempurna, karena efek dari minuman setan itu.
semangat berkarya thor...
ditunggu karya selanjutnya
yaaaa aammpuunnnnn...
kocak abiz mereka itu...
btwxakhirnya up date...
mkasi byak ya aa kaakkkk
❤❤❤❤