Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TABUNGAN DALAM KALENG SUSU
Di rumah kami ada satu kaleng susu bekas yang sudah lama kosong. Ibu menyimpannya di atas rak untuk menaruh kancing, jarum, dan potongan benang. Aku meminta kaleng itu setelah makan malam.
“Untuk apa?” tanyanya.
“Menabung.”
Ibu melihat Nira yang sedang mengoleskan minyak kelapa pada sepatunya. Ia tidak bertanya lagi. Kancing dan benang dipindahkan ke mangkuk kecil. Ayah membantu membuat lubang sempit pada tutup kaleng memakai ujung paku yang dipanaskan.
Aku memotong kertas dari bagian belakang buku lama dan menulis satu kata: SEPATU. Nira menambahkan gambar dua telapak kaki di bawahnya. Kami menempelkan kertas itu dengan lem kanji.
Koin pertamaku masuk malam itu. Bunyi ting kecil terdengar dari dasar kaleng. Nira memasukkan dua koin yang ia simpan untuk membeli gula-gula.
“Kalau ditabung semua, kita tidak jajan,” kataku.
“Sepatu juga bisa dimakan?”
“Tidak.”
“Berarti kita harus tetap makan bekal.”
Ia mengatakan itu dengan serius. Aku tertawa kecil. Kami menggoyang kaleng. Tiga koin menghasilkan bunyi yang sangat sedikit, tetapi cukup untuk membuat kami membayangkan sepatu hitam dengan sol yang tidak licin.
Kaleng itu kami sembunyikan di belakang tumpukan buku dekat dinding. Tempatnya tidak benar-benar rahasia. Ibu pasti melihatnya setiap kali menyapu, dan Ayah dapat mendengar bunyinya ketika kami menggoyang pada malam hari. Namun, mereka pura-pura tidak tahu. Kadang aku menangkap Ibu tersenyum ketika melewati rak.
Menabung ternyata lebih sulit daripada memasukkan koin pertama. Di sekolah, kantin menjual permen jahe, ubi goreng, dan es lilin. Bau minyak panas terasa kuat saat istirahat. Biasanya uang jajanku hanya cukup membeli satu permen setiap beberapa hari. Kini aku harus melewati kantin sambil memegang koin di saku.
Gala pernah menawarkan setengah ubi goreng. Aku menolaknya karena ia juga membeli dengan uang sendiri.
“Anggap saja pinjaman,” katanya.
“Dibayar kapan?”
“Kalau nanti kau menjadi orang kaya, belikan aku warung.”
Aku menerima setengahnya. Kami makan di bawah pohon sambil melihat hujan menggantung di atap kelas. Rasanya lebih enak karena tidak mengurangi tabungan.
Aku mulai mencari cara mendapatkan koin tambahan. Sepulang sekolah, aku membantu Bu Mirah mengangkat singkong dari halaman ke dapur. Ia memberiku dua koin dan sebungkus keripik kecil. Pada hari lain, Pak Darma meminta aku membersihkan rumput di sekitar kandang. Upahnya satu koin dan sebutir telur. Telur kubawa pulang untuk Ibu, sedangkan koin masuk ke kaleng.
Nira tidak mau kalah. Ia mengumpulkan botol bekas di sekitar sekolah dan menjualnya kepada pedagang keliling. Hasilnya sangat sedikit. Ia juga membantu Windu menyalin judul pada gambar, lalu Windu memberikan satu koin yang semula hendak dipakai membeli pensil warna.
“Jangan ambil uang teman,” kataku.
“Aku bekerja,” jawab Nira. “Aku menulis enam judul.”
Windu mengangguk tegas. “Tulisan Nira lebih rapi.”
Aku akhirnya membiarkan koin itu masuk. Nira menjatuhkannya dengan wajah bangga. Bunyi di dalam kaleng mulai tidak lagi sendirian.
Bu Satya mengetahui tabungan kami tanpa sengaja. Pada pelajaran membaca, Nira diminta membacakan cerita di depan kelas tiga karena suaranya paling jelas. Setelah selesai, Bu Satya memberikan sebuah koin sebagai hadiah.
Nira membawa koin itu kepadaku sebelum pulang. “Ini lebih besar.”
“Beli buku kecil saja.”
“Bukuku masih ada.”
Ia memasukkannya ke kaleng malam itu. Ayah yang sedang mengasah parang berhenti sejenak, lalu mengusap kepala Nira. Tidak ada yang berkata apa-apa. Bunyi koin menjadi bahasa yang kami mengerti bersama, kecil tetapi cukup jelas untuk menjaga niat kami.
Setiap malam kami menghitung tanpa membuka tutup. Kami menggoyang dan menebak jumlahnya dari suara. Kadang Nira yakin kaleng sudah setengah penuh, padahal ketika kuangkat masih terasa ringan.
“Suara bisa membuat benda lebih berat,” katanya.
“Tidak bisa.”
“Harapan bisa.”
Aku tidak tahu dari mana ia mendapatkan kalimat itu. Mungkin dari buku bekas, mungkin dari Bu Satya. Aku menyimpannya dalam ingatan.
Pada akhir minggu kedua, kami membuka kaleng dan menghitung di atas tikar. Koin disusun menjadi baris-baris kecil. Jumlahnya masih jauh dari harga sepatu Mbah Wreda. Namun, untuk pertama kali, harga itu tidak terasa mustahil. Ia hanya terasa jauh.
Aku membuat dua puluh kotak kecil pada selembar kertas. Setiap jumlah tertentu tercapai, Nira memberi tanda silang pada satu kotak. Baru empat kotak yang terisi, tetapi ia menggambar sepatu pada kotak terakhir. Kertas itu ditempel di balik pintu agar kami dapat melihat kemajuan tanpa membuka kaleng. Setiap tanda silang membuat hari-hari yang berat terasa memiliki tujuan. Bahkan perjalanan enam jam seperti sedang membawa kami sedikit demi sedikit menuju sepasang sepatu.
Ibu masuk membawa teh hangat. Begitu melihat uang di lantai, ia berhenti.
“Banyak sekali,” katanya.
“Belum,” jawabku cepat. “Jangan dipakai.”
Kata-kataku terdengar seperti tuduhan. Ibu tidak marah. Ia hanya meletakkan gelas dan mengusap punggungku.
“Uang itu milik kalian,” katanya.
Aku menyesal, tetapi tidak tahu cara meminta maaf. Sejak batuknya semakin sering, aku takut setiap kebutuhan rumah akan menelan koin kami. Ketakutan itu membuatku menjaga kaleng seperti menjaga sesuatu yang hidup.
Ayah memindahkan kaleng ke atas balok dekat tempat tidur kami agar tidak terkena bocor. Ia membungkusnya dengan kain supaya tidak mudah terlihat dari pintu. Pada hari pasar, seorang penjual mainan melewati dusun dan meniup peluit berbentuk burung. Nira berdiri lama di depan rumah, lalu meraba saku yang kosong. Ia tidak mengeluh. Malamnya ia justru menggoyang kaleng lebih lama, seolah sedang memastikan pilihannya tidak sia-sia.
“Tabungan harus dijaga,” katanya. “Tapi jangan sampai kalian menjaga uang lebih keras daripada menjaga keluarga.”
Aku mengangguk, meskipun belum memahami sepenuhnya.
Hari-hari berikutnya hujan turun lebih panjang. Kami tetap berjalan lewat kebun karet. Sepatu Nira terus menggesek jempolnya. Tali merah dari Mbah Wreda menahan bagian depan, tetapi retakan baru muncul dekat tumit. Setiap melihatnya pincang, aku membayangkan kaleng semakin penuh.
Malam sebelum tabungan itu hilang, kami menggoyangnya sekali lagi. Suaranya ramai. Nira menempelkan telinga pada sisi kaleng.
“Sebentar lagi sepatu baru,” katanya.
“Sepatu bekas yang lebih baik,” koreksiku.
“Bagi kita, itu baru.”
Kami mengembalikan kaleng ke belakang buku, lalu tidur. Aku terbangun beberapa kali karena batuk Ibu dari ruang depan. Suaranya panjang dan dalam. Di sela batuk, kudengar Ayah berbisik menanyakan apakah dadanya sakit. Ibu menjawab hanya masuk angin.
Pagi hari aku bangun lebih awal untuk menambahkan satu koin dari Bu Mirah. Tanganku meraba belakang tumpukan buku, tetapi hanya menyentuh dinding bambu.
Aku memindahkan buku satu per satu. Kain pembungkusnya tergeletak kosong. Kaleng susu bertuliskan SEPATU tidak ada di tempat persembunyian.