NovelToon NovelToon
Suamiku Koma, Aku Di Jual Adik Ipar

Suamiku Koma, Aku Di Jual Adik Ipar

Status: tamat
Genre:Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:165.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kim Yuna

Karena kecelakaan yang menimpa suaminya, Reyhan. Shanaya Almira Frederica terpaksa menerima tawaran yang di berikan oleh Sonia, adik Ipar nya sendiri untuk membayar biaya pengobatan Reyhan yang saat itu sedang terbaring koma di rumah sakit.

Shanaya harus menikah dengan cucu dari keluarga Anggara, Vano Anggara yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Shanaya juga harus melahirkan keturunan darinya.

Sonia dengan tega berbohong kepada Shanaya, termasuk uang yang di dapat dari assisten kepercayaan keluarga Anggara. Itu sama saja jika Sonia menjual dirinya kepada keluarga Anggara.

Sungguh Shanaya amat sangat marah kepada adik Ipar nya itu. Tetapi untuk mundur ia tidak bisa, karena pasti akan berurusan dengan hukum karena ia sudah menandatangani kontrak perjanjian.

Bagaimana kehidupan Shanaya setelah ini? apakah ia akan kembali bersatu dengan suaminya, Reyhan ? atau justru terjebak dengan pernikahan nya bersama Vano Anggara, cucu dari keluarga Anggara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Naya!"

Aku terkesiap saat Mas Vano mengalihkan tatapan nya kepadaku. Apakah itu panggilan di tunjukkan kepadaku? Apa dia sudah tahu siapa aku?

"Anaya!" Lirihnya dengan suara bergetar. Kini di sertai dengan tatapan penuh kerinduan.

Pak Hendra menyentuh lembut pergelangan tangan Mas Hendra yang terikat pada sudut ujung ranjang. "Mas Vano, dia bukan Mbak Anaya," ucap Pak Hendra.

Lelaki itu mengalihkan tatapan nya pada Pak Hendra. Bibirnya gemetaran, wajahnya nampak tegang, terlihat dari urat-urat yang menonjol pada pelipisnya.

"La-lalu siapa dia, Pak Hendra?" Suara lelaki itu begitu lembut dan terdengar penuh lara.

Pak Hendra menoleh ke arahku sesaat dan kembali menatap pada Mas Vano yang terbaring di atas ranjang.

"Dia adalah calon istri Mas Vano."

Mas Vano menggelengkan kepalanya. Sekilas menatap padaku dengan tatapan tidak suka. "Tidak, aku 0tidak mau menikah jika tidak dengan Anaya. Anaya adalah pengantinku. Dia pasti akan kembali, Pak Hendra!" Rintihan dari suara lembut itu berujung dengan sebuah teriakan di akhir kalimatnya.

"Tidak, aku tidak mau menikah! Anaya pasti akan kembali padaku." Lelaki itu berteriak histeris. Tubuhnya menghentak-hentakkan membuat ranjang berukuran sedang itu berguncang.

Aku bergidik takut. Tanpa aku sadari, kakiku telah bergeser menjauh.

"Tenang Mas Vano, tenang!" Pak Hendra berusaha menenangkan.

"Aku mau Anaya!" Mas Vano semakin berteriak histeris. Pergelangan tangannya menarik keras tali yang mengikat.

"Ada apa ini, Pak Hendra? Apa yang sudah anda lakukan pada Vano?" Wanita berambut pirang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Berjalan cepat menghampiri Pak Hendra. Pasti karena mendengar keributan yang terjadi dari dalam kamar ini.

Sorot matanya menatap panik melihat Mas Vano yang terus meronta.

"Bik Inah, cepat ke sini!" Bu Lita berteriak keras. Suaranya melengking tinggi.

"Pak Hendra harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Vano" wanita berambut pirang itu menatap nyalang pada Pak Hendra.

Tidak ada ekspresi apapun yang Pak Hendra tunjukkan. Hanya sebuah tatapan dingin.

Beberapa saat kemudian seorang wanita yang kuperkirakan usianya hampir setengah abad itu muncul berlari tergopoh-gopoh dari arah pintu.

"Ada apa, Nyonya?" ucapnya seraya mengatur nafas yang tersenggal.

"Cepat berikan obat untuk Vano," titahnya.

Sementara sorot mata Bu Lita menatap kesal pada Pak Hendra.

"Ikut saya ke depan Pak Hendra. Saya ingin bicara dengan anda!" titah Bu Lita dengan nada ketus.

Aku berfokus menetap pada wanita yang dipanggil Bi Inah oleh Bu Lita. Wanita itu dengan cekatan memberikan obat-obatan pada Mas Vano. Tidak menunggu waktu lama Mas Vano mulai tenang. Meskipun bibirnya terus menyebut wanita bernama Anaya itu. Sayangnya aku harus segera meninggalkan kamar berdinding abu-abu itu mengikuti Pak Hendra.

"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Pak Hendra. Anda harus tahu diri ya, kalau anda itu bukanlah siapa-siapa di keluarga ini. Jadi jangan sok ikut campur." Bu Lita berang. Ia mengayun-ayunkan jari telunjuknya pada Pak Hendra. Tetapi lelaki yang aku rasa cukup humoris itu hanya diam tidak menjawab. Bahkan aku tidak melihat ekspresi apapun dari wajahnya.

"Dan kamu!" mata tajam Ibu Lita beralih padaku. Seperti membunuh tepat di jantungku. Jari telunjuknya terulur satu garis lurus dengan mataku. Aku mati membeku. Pasti saat ini wajahku berubah pucat mendadak.

"Kamu yakin ingin menikahi Vano?" cibirnya penuh penekanan. Matanya yang besar membulat semakin lebar. "Apakah kamu tau jika Vano adalah orang gila? jadi apa yang kamu inginkan dari orang seperti itu?" Bu Lita melipat kedua tangannya di depan dada. Menatapku tajam padaku.

Kakiku bergetar, terasa lemas. Tetapi aku harus tetap berdiri tidak mungkin aku jatuh pingsan di sini.

"Oh yah, kamu tidak tahu kan, jika setiap malam Vano akan mengamuk dan berteriak-teriak. Bahkan Vano tidak segan untuk menyakiti orang lain. Bahkan dirinya sendiri." ucapan Bu Lita membuatku bergidik. "Karena itulah kami mengikatnya!" tegas Bu Lita penuh keseriusan.

Senyuman tersungging dari sebelah sudut bibirnya. "Menikah dengan Vano sama saja hidup bersama dengan malaikat pencabut nyawa!" desis Bu Lita menyeringai ke arahku.

"Sudah cukup Nyonya Lita, waktu saya sudah habis untuk mendengarkan cerita anda." aku mendadak kaget dengan sahutan pak Hendra memotong ucapan Ibu Lita.

Bu Lita mengalihkan tatapan kesal pada Pak Hendra. Rahangnya mengatup matanya besar semakin membuka lebar.

"Ayo, Mbak Naya! Kita masih banyak urusan. Kita harus ke butik untuk memesan baju pengantin untuk anda dan Mas Vano." Pak Hendra menatapku memutar tubuhnya ke arah pintu, wajah Bu Lita semakin terlihat membara.

Aku memaksakan kakiku untuk bergerak, ucapan-ucapan Bu Lita seperti bogem yang jatuh menimpaku bertubi-tubi tanpa jeda.

"I-iya." Jawabku terbatas cepat, aku menyusul Pak Hendra.

...----------------...

Sonia kamu tidak hanya anak durhaka, adik sialan tapi kamu juga orang yang sangat jahat sekali.

Rupanya dia sudah tahu dari awal jika lelaki yang akan menikah denganku adalah orang yang mengalami gangguan kejiwaan? Pantas saja tidak ada satupun orang yang mau menikah dengan lelaki itu sekalipun dibayar 10 miliar, Aku yakin tidak akan ada yang mau. Apalagi harus mendapatkan keturunan. Itu sangat mustahil sekali. Membayangkan pun otakku tidak mampu.

Aku mau mengusap kasar wajahku. Saat ini aku benar-benar tidak bisa berpikir apapun.

"Hah!."

Helaan nafas Pak Hendra mengalihkan tatapanku. Setelah ia bercerita panjang lebar tentang perjanjiannya dengan Sonia. Dia pikir Sonia sudah mengatakan kepadaku tentang keadaan Mas Vano yang sebenarnya.

"Sebenarnya tidak ada salahnya berbuat kebaikan. Tetapi jika kita diinjak itu tandanya kita harus melawan."

Pak Hendra seperti sedang menyindir keadaanku dengan Sonia atau mungkin ia sedang ada di pihakku.

"Ya sekalipun penjahat itu adalah orang terdekat kita sekalipun. Karena Sebenarnya musuh yang paling berbahaya adalah dia yang paling dekat dengan kita. Sekali dia menikam kita akan hancur." Pak Hendra menatap lurus ke depan pada pemandangan jalanan yang berada di luar restoran.

"Apakah saya tidak boleh mundur, pak?" Lirihku menggigit bibir bawah. Tidak bisa aku bayangkan menikah dengan lelaki kurang waras.

Pak Hendra menoleh. "Kenapa bertanya lagi? Apakah saya harus menjelaskannya berkali-kali pada Mbak Naya?" Pak Hendra menaikkan kedua alisnya. Aku hanya mampu membuang nafas berat.

Aku terduduk lesu.

"Aku tidak ingin mati muda, pak Hendra" lirihku sembari menahan sesak.

Pak Hendra menatapku heran. Lalu tersenyum lebar, ketawanya terdengar sengaja untuk mengejekku.

"Memangnya siapa yang mau membunuh Mbak Shanaya?"

"Ya itu majikan Pak Hendra," jawabku memberanikan diri.

"Oh, Mas Vano!" Pak Hendra mengangguk-angguk.

"Jadi Mbak Naya percaya dengan apa yang dikatakan Nyonya Lita." Pak Hendra menaikkan kedua alisnya.

Aku semakin bingung. Tidak ada alasan untukku tidak percaya. Sekalipun Bu Lita bukanlah Ibu Mas Vano, tetapi dia tetap saja keluarganya.

"Mbak Naya, Mbak Naya!" Pak Hendra meraih cangkir kopi dan menyesapnya sesaat. Sementara aku terus memperhatikan gerak-gerik Pak Hendra dengan wajah penuh tanya.

"Semua tidak seperti itu Mbak Naya. Mas Vano hanya depresi saja. Dia bukan orang gila." Pak Hendra menjeda ucapannya, sesaat setelah meletakkan kembali cangkir di atas tatakan.

"Depresi?" ucapku penuh penekanan.

"Pak Hendra menoleh. "Iya benar sekali. Beberapa bulan yang lalu hari yang seharusnya menjadi hari bahagia Mas Vano justru menjadi hari terburuk untuknya. Kecelakaan mobil yang menimpa calon mempelai wanitanya tepat di hari pernikahannya."

"Anaya?" Aku menduga.

"Ya, Nona Anaya." wajah Pak Hendra berubah murung. "Dan sampai saat ini jasadnya belum juga ditemukan. Tetapi di lihat keadaan mobil yang nona Anaya kendarai sudah dipastikan jika penumpangnya tidak akan selamat. Mobil itu hancur dan meledak di dalam jurang." suara Pak Hendra terdengar lirih.

Aku mengangguk tanda mengerti. Aku tidak bisa berkata apapun.

"Mbak Shanaya tenang saja, Mas Vano tidak seburuk yang Mbak Naya bayangkan." senyuman tersungging dari bibir Pak Hendra yang menampakkan dua gigi emasnya.

...----------------...

Aku sudah bersiap-siap , Hari ini aku akan bertemu dengan Mas Vano untuk yang kedua kalinya. Tetapi tidak di rumah bak istana itu. Entahlah aku tidak tau dimana, Pak Hendra yang sudah mengatur semuanya untukku.

Suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu hotel. Aku yang sudah siap segera membukakan pintu. Aku yakin itu adalah Pak Hendra.

"Mbak Naya sudah siap?" ucap Pak Hendra saat aku membukakan pintu untuknya.

"Sudah Pak!" jawabku ramah.

"Kita berangkat sekarang!" Pak Hendra memutar tubuhnya berjalan mendahuluiku.

Satu jam perjalanan akhirnya kami tiba di depan sebuah taman yang cukup luas. Sejauh mata memandang, danau yang terlihat tenang begitu menghanyutkan. Namun Suasananya yang Hening membawa ketentraman tersendiri.

Tatapanku menyapu ke sekeliling. Menikmati sajian indah yang Allah ciptakan.

"Itu mereka?"

Aku mengalihkan tatapan mataku pada sosok yang duduk di bangku taman. Ada Mas Vano dengan seseorang.

"Selamat pagi Dokter Frans!" Pak Hendra mengulurkan tangannya pada lelaki berkaca mata yang membersamai Mas Vano.

"Selamat pagi Pak Hendra," balas Dokter Frans. Menyambut uluran tangan Pak Hendra.

Aku mengikuti apa yang Pak Hendra lakukan. Bersalaman dengan Dokter Frans.

Aku menjatuhkan tubuhku duduk pada bangku yang berada di samping pak Hendra. Sesekali Aku mencuri pandang pada Mas Vano yang duduk di samping dokter Frans.

Wajahnya kali ini tidak seserang saat hari itu. Wajahnya tampak lebih segar meskipun tatapan kosong itu masih ada.

"Mas Vano, bagaimana kabar anda hari ini?" ucap Pak Hendra ramah.

Pak Hendra tersenyum kecil. Menatap pada Dokter Frans yang juga melemparkan senyuman pada Pak Hendra.

"Mas, kenalkan ini adalah Shanaya, dia adalah calon istri Mas Vano."

Mas Vano perlahan mengalihkan tatapannya kepadaku. Membuat detak jantungku berdebar-debar.

"Ha-halo!" sapaku berusaha untuk bersikap ramah.

Tidak ada ekspresi dari Mas Vano. Lelaki itu hanya diam memandangiku dalam waktu yang cukup lama.

...----------------...

...----------------...

...----------------...

1
Queen Za
.
kimiatie
cerita yang asyik
iren thezer
bagus alur ceritanya
Alanna Th
tq othor, spt d dunia nyata; pd akhirnya smua org akan mnghadap Sang Khalik, mk brusahalh baik" sj dg smua org
Alanna Th
kalo aq jadi penulis cerinya (sorry, thor. bkn tak suka ya), akan kbwt shanaya mninggal tnp mlht bayinya. biar vano mnyesal seumur hdpnya
Alanna Th
🎼🎶 terlambat sudah kau datang padaku, stlh kau sakiti hatiku, saat itu cintaku sdg tumbuh, kau biarkan mnjadi layuuu🎶
Alanna Th
waaa
Alanna Th
tinggal selangkah mnuju lobang kubur aja, msh sekeji itu! tunggulh smp bayinya lahir slamat. smoga s kakek dpt pljrn
Alanna Th
naaah, ktahuan kbohongn naya. smoga vano mmaafkn
Alanna Th
jadi d mata kakek vano n naya hanya pencetak ahli waris utk klg anggara
Alanna Th
tuh msh aja nekad mndekati vano, nagih janji vano, dirinya sendiri tdk setia sjk awal. smoga vano brtindak tegas n msk akal
Alanna Th
anaya bnr" y tdk tau malu demi mmprthnkn atm brjlnny, brusaha mnjegal lngkh vano
Alanna Th
smoga shanaya pergi dari vano
Alanna Th
bagus s vano dilema; mana yg mo dtolong anaya atau shanaya? kl bisa dua"nya skalian. d rs gk akan saling mnyerang toh?
Alanna Th
biasanya cowo nylametin cewe dari akibat pmbiusan, ini kebalik. waa, mnarik, thor
Alanna Th
jngn" mrk brcerai, naya hamil
Alanna Th
lupa diri s vano ktemu cln istriny yg ia gk tau tlh brkhianat. tega kamu, stdkny minta bli tuk jmpt naya plng k hotel
Alanna Th
pasti obat vano yg bikin vano tdk sembuh" dari depresinya
Alanna Th
bnr", teganya sonia; pasti dia juga akan mmbuang ibu n kakaknya yg dianggap hanya mnyusahknny saja. bnyk korban d sini. karma apa yg akan mnimpa sonia???
Alanna Th
tapi sonia benar y uangnya dpake utk reyhan smp sembuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!