NovelToon NovelToon
MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETAHUAN

Alena melangkah keluar dari toko kelontong sambil menghela napas panjang, dadanya terasa naik turun menahan emosi yang baru saja meluap. Ia mengusap pipinya yang masih terasa perih bekas tamparan Bu Sari, lalu menarik napas dalam‑dalam, mengembuskan pelan‑pelan sambil mengangguk kecil pada dirinya sendiri.

“Kuat lah Alena… Jangan menangis lagi. Kamu tidak bersalah.”

Ia menguatkan hatinya sendiri, meremas gagang kantong belanjaan erat‑erat, lalu berjalan tegak pulang menuju rumah barunya. tanpa menoleh ke belakang, tidak akan lagi menunduk takut seperti dulu.

Di dalam toko, Bu Sari masih berdiri mematung. Matanya menatap tajam lurus ke arah Siska, penuh tanya yang mulai berubah menjadi kecurigaan. Siska sendiri membuang muka gelisah, tidak berani bertatapan mata lebih lama lagi.

Sesampainya di rumah, Bu Sari langsung meletakkan tas belanjaannya dengan kasar di meja. Wajahnya masih merah padam menahan kesal dan penyesalan yang bercampur aduk.

“Siska, kemari!” panggilnya tegas.

Siska datang dengan langkah pelan, berusaha terlihat biasa saja.

“Ada apa Bu? Ibu pulang‑pulang malah marah begitu?”

“ada apa kamu bilang! Apa yang sudah kamu lakukan di toko itu?”

tanya Bu Sari langsung menatapnya tajam.

“Kamu menjatuhkan diri sendiri lalu memfitnah Alena begitu saja, benar kan?”

Siska mengerutkan dahi pura‑pura tersinggung.

“Ibu bicara apa sih! Alena yang dorong aku keras sekali, Ibu sendiri lihat kan?”

“Jangan berbohong padaku!” bentak Bu Sari lebih keras.

“Mataku belum buta! Aku lihat caramu menarik tangan Alena lalu menjatuhkan badanmu sendiri! Dan aku… aku yang bodoh sekali langsung menampar Alena tanpa mendengar penjelasannya dulu!”

Bu Sari menghela napas kasar, dadanya naik turun.

“Kamu membuatku melakukan hal yang sangat buruk pada gadis yang dulu tidak pernah berbuat salah sedikit pun pada kita semua!”

“Ya ampun Bu, Ibu kok malah membelanya terus!”

Siska mulai meninggikan suaranya.

“Alena itu sudah berubah jadi kasar dan sombong sekarang! Ibu jangan tertipu wajah sedihnya!”

“Cukup Siska! Jangan cari alasan lagi!” potong Bu Sari.

“Mulai sekarang hati‑hatilah bersikap. Aku tidak akan membiarkanmu menipu kami terus‑menerus!”

Belum selesai pertengkaran itu, pintu depan terbuka dan Hendra masuk. Begitu melihat wajah Siska yang seakan hendak menangis, ia langsung bergegas mendekat.

“Ada apa ini? Kenapa suaranya sampai ke depan?” tanya Hendra sambil menatap ibunya.

“Ibu memarahi Siska lagi ya?”

“Sebenarnya Nak, tadi di toko—” Bu Sari hendak menjelaskan.

Namun Siska lebih dulu bergerak. Ia langsung memegangi perutnya, wajahnya meringis kuat, dan tubuhnya terhuyung sedikit ke depan.

“Aduh… Mas… perutku…” rintihnya pelan namun terdengar jelas penuh kesakitan.

Hendra langsung panik, melupakan apa pun yang baru saja dikatakan ibunya. Ia segera menopang tubuh Siska.

“ Siska Kamu kenapa ” tanyanya cemas.

“sakit mas… Ibu terus marahi aku… mungkin janinnya jadi kaget …” Siska menatap Hendra dengan mata berkaca‑kaca sambil sesekali mengerang pelan.

Hendra langsung menoleh ke ibunya dengan nada tidak setuju.

“Ibu, tolong deh! Siska sekarang lagi mengandung cucu Ibu! Kenapa Ibu harus menekan‑nekannya terus? Kalau sampai apa‑apa terjadi pada anakku, bagaimana?” tegur Hendra.

“Hendra, dengarkan Ibu dulu. Ini bukan salah Ibu, tadi Siska—”

“Sudah Bu! Jangan dibahas lagi!” potong Hendra memotong pembicaraan ibunya.

“Siska sedang sakit, dia butuh istirahat, bukan dimarahi!”

Tanpa menunggu jawaban ibunya, Hendra langsung menuntun Siska berjalan menuju kamar tidur. Bu Sari hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap anaknya yang begitu buta akan kebenaran.

Sesampainya di kamar, Hendra membantu Siska duduk di tepi kasur.

“Kamu istirahat dulu ya. Jangan banyak pikiran. Aku ambilkan air minum sebentar,” kata Hendra lembut, lalu berjalan keluar sebentar menuju dapur.

Siska tersenyum kecil begitu Hendra berpaling. Lagi‑lagi aku berhasil… Hendra selalu percaya padaku.

Namun senyum itu belum sempat hilang, tiba‑tiba ekspresi wajahnya berubah drastis. Rasa sakit yang samar tadi kini berubah menjadi nyeri yang sangat nyata dan tajam. Bukan akting lagi.

“Aduh…!” Siska memegangi perutnya erat‑erat, wajahnya memucat seluruhnya. Perutnya terasa melilit hebat. Ia merasakan ada cairan hangat yang keluar membasahi celana dalamnya, terasa licin dan berlendir.

Hendra kembali masuk membawa segelas air, namun langkahnya terhenti melihat wajah Siska yang ketakutan luar biasa.

“Siska? Kamu kenapa? Ini airnya sudah datang—”

“Hendra… aku… aku merasa aneh…” suara Siska bergetar hebat. Ia perlahan mengangkat sedikit bajunya, lalu menunjuk ke arah bawahnya dengan tangan gemetar

“Ada cairan… dan… dan darah Hendra! Ada darah keluar!”

Mata Hendra melotot melihat bercak merah yang mulai terlihat jelas di balik kain sarung Siska. Gelas di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai hingga pecah berkeping‑keping.

“Darah?!” seru Hendra panik. “Tunggu sebentar! Kita ke rumah sakit sekarang juga!”

Tanpa membuang waktu lagi, Hendra langsung menggendong Siska keluar rumah, melesat membawa istrinya ke rumah sakit terdekat.

Di rumah sakit, Siska segera dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Hendra mondar‑mandir di depan pintu dengan wajah pucat berkeringat dingin, napasnya tidak pernah teratur. Dua puluh empat menit terasa seperti dua puluh empat jam bagi Hendra yang menunggu dengan gelisah.

Akhirnya pintu terbuka dan dokter keluar. Hendra langsung berlari menghampiri.

“Dokter! Bagaimana istri saya? Bagaimana anak saya? Apakah mereka selamat?!” tanyanya bertubi‑tubi penuh cemas.

Dokter itu tersenyum menenangkan, meski ada kerutan halus di dahinya.

“Tenang saja Bapak. Kondisi istri Bapak sekarang sudah membaik. Pendarahannya sudah berhenti dan janinnya aman, meski harus dirawat beberapa hari untuk pemantauan.”

Hendra menghela napas lega luar biasa, menepuk dadanya berkali‑kali.

“Syukurlah… Terima kasih Tuhan… Terima kasih banyak Dokter!”

Namun dokter itu menatapnya sebentar lagi sebelum melanjutkan bicara.

“Tapi Bapak… saya harus jujur menyampaikan sesuatu. Saat memeriksa tadi, kami melihat jelas usia kandungannya.”

“Lalu bagaimana Dok? Apakah sehat?” tanya Hendra polos.

“Sehat sekali, bahkan perkembangannya sangat bagus,” jawab dokter itu pelan namun jelas

“Usia kehamilannya sekarang sudah memasuki delapan bulan.”

Hendra mengangguk sebentar, lalu matanya membelalak perlahan.

“Delapan… delapan bulan?” ulangnya terbata‑bata. “Tidak mungkin Dok! Pernikahan kami baru berjalan tujuh bulan! Bagaimana mungkin kandungannya sudah delapan bulan?!”

Dokter mengangkat bahu sedikit. “Ini hasil pemeriksaan USG dan pemeriksaan fisik Bapak. Tidak salah lagi. Delapan bulan lebih beberapa hari.”

Di dalam ruangan tempat Siska berbaring mendengar semuanya, wajahnya seketika berubah pucat Tangannya mencengkeram selimut erat‑erat, keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Delapan bulan… Semuanya sudah ketahuan sekarang…

Hendra berdiri terpaku di lorong rumah sakit, dunia seakan runtuh di kakinya. Delapan bulan… Anak itu sudah ada bahkan sebelum mereka menikah…

BANTU LIKE DAN KOMEN YA

1
Thewie
jangan keluarkan airmatamu buat suami keparat itu ya alena
Thewie
terlalu lemah kau Alena. jadi agak gak suka lihat otor🤣🤣
Thewie
kapan Alena bahagia thorrrrr...
Nuna_Pena: ditunggu aja ya hehe,
total 1 replies
Thewie
5 tahun Alena... salut buatmu hidup dengan caci maki keluarga mertua .. luarbiasa kamu Alena..
Nuna_Pena: sprti diriku 7 tahun lbih bertahan dn sekarang menjauh dulu dri mereka😌😌😌.. hehe ngemeng2 makasi sudah mampir
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Cha Libra
jngan biarkan s alena d tindas mlu thour scpetnya cerai..semoga ja ada karma buat keluarga dajjal
Nuna_Pena: 😁😁😁... sabar sayang...
total 1 replies
Cha Libra
thour klo bsa hruf kapitalnya yg biasa ja jdi enak bacanya..
Nuna_Pena: makasi sudah mampir, nanti saya buat huruf biasa aja
total 1 replies
..
keren!
..
Hai kak, semangat yah. aku sudah bom like karya kamu. jangan lupa like balik karya aku juga yah. mari saling dukung!
Himna Mohamad
lanjut
..
semangat, kak. jangan lupa like balik dan saling dukung yah💪💪💪
SRIANA
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!