S 1
Menikah dengan laki-laki yang dicintai adalah impian setiap wanita. Tetapi, pernikahan impian yang diharapkan Aruna justru membawanya pada penderitaan lantaran dendam yang dimiliki sang suami pada kakaknya yang Aruna tidak ketahui. Namun, karena cinta, Aruna tetap bertahan dengan segala perlakuan suaminya.
Sebuah fakta akhirnya membuat pertahanan Aruna runtuh. Dengan segala cara Aruna melarikan diri dari rumah yang sudah seperti neraka untuknya. Aruna pergi dengan membawa cinta yang telah berubah menjadi kebencian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RM. BAB 10
"Dua hari lagi," ucap Juna dengan lirih sambil menatap kearah langit yang nampak mendung dari jendela kamarnya.
Lima hari sudah berlalu semenjak ia mendatangi rumah Aruna untuk menebus semua kesalahannya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah kepedihan lantaran gugatan cerai yang diajukan oleh Aruna. Padahal ia benar-benar tulus untuk memperbaiki semuanya dan ingin membuka lembaran baru bersama Aruna. Dan harapannya itu akan benar-benar pupus dalam waktu dua hari mendatang disidang perceraiannya nanti.
Jane yang sejak tadi berdiri diambang pintu memperhatikan Juna, perlahan melangkah masuk dan ikut berdiri disampingnya kakaknya itu yang masih setia menatap hamparan langit mendung.
Sejak lima hari lalu, Jane sudah memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk membantu kakaknya. Dan hari ini ia sudah yakin dengan rencananya itu, meskipun sebenarnya ia sedang berperang melawan rasa trauma jika harus keluar rumah. Yah, semenjak peristiwa itu hingga dirinya perlahan membaik ia belum pernah bepergian kemanapun, bahkan hanya sekedar menghirup udara segar diluar sana. Kejadian itu benar-benar membuatnya takut dengan dunia luar, tetapi demi masa depan kakaknya ia harus melawan rasa takutnya itu.
"Sidang perceraian kakak dua hari lagi, kan? Bagaimana kalau kita berangkat ke Jakarta hari ini?" Saran Jane, setelah beberapa saat hanya terdiam disamping kakaknya.
Mendengar ucapan Jane, Juna pun menoleh menatap adiknya itu. "Sebaiknya kamu tidak usah ikut, Jane. Biar kakak sendirian saja." Ujar Juna. Terlihat kekhawatiran dimatanya. Ia takut Jane akan kembali merasakan traumanya bila ikut ke kota dimana adiknya itu mengalami peristiwa yang hampir membuatnya gila.
Jane pun tersenyum, ia tahu mengapa kakaknya itu melarangnya untuk ikut. "Kakak tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Lihat, aku sudah baik-baik saja sekarang." Jane merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar untuk meyakinkan kakaknya itu bahwa ia sudah baik-baik saja.
"Tapi, Jane...
"Kak, please! Lagian aku juga merindukan rumah kita disana." Jane menatap kakaknya dengan penuh permohonan. Dan akhirnya Juna pun mengangguk menyetujuinya.
Membuat Jane bersorak senang. Dengan antusias Jane berlari ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian yang akan ia bawa.
Beberapa jam kemudian, dua kakak beradik itupun akhirnya berangkat menuju kota Jakarta.
Selama perjalanan Jane nampak gelisah karena ia akan kembali mendatangi kota yang memiliki masa lalu kelam. Ia hanya berharap jika tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu, laki-laki yang telah meninggalkan jejak ditubuhnya yang hampir membuatnya gila.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat jam, mobil Juna pun kini telah terparkir didepan sebuah rumah minimalis. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang adik ketika tinggal di ibukota.
Kedua mata Jane nampak berkaca-kaca ketika memasuki rumah itu. Dulu, meski hanya tinggal berdua dengan Juna tetapi selalu ada keceriaan di rumah itu, hingga peristiwa itu terjadi dan Juna pun membawanya untuk tinggal dan menjalani perawatan khusus di Bandung.
"Kakak kelihatan lelah, kalau begitu kakak istirahat dulu ya. Aku mau keluar sebentar." Ujar Jane ketika telah duduk di sofa ruang tamu bersama kakaknya melepas penat.
"Kau mau kemana, Jane?" Tanya Juna dengan nada khawatir. Iapun sampai hari ini masih merasa takut jika Jane bepergian seorang diri.
"Aku mau ke resto biasa, Kak. Mau beli makanan untuk kita." Jawab Jane.
"Biar kakak saja yang pergi membeli makanan, kamu istirahat saja disini." Kata Juna dengan cepat, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Namun, belum sempat ia melangkah Jane dengan cepat menahan tangannya.
"Kak, kakak kenapa sih masih aja terlihat khawatir? Aku tuh udah gak apa-apa, Kak. Aku udah baik-baik saja." Tutur Jane kemudian berdiri. Padahal, sebenarnya kata baik-baik saja yang ia ucapkan itu sama sekali tidak sejalan dengan perasaannya saat ini. Rasa takut itu masih saja ada, tetapi ia harus melawannya demi sang kakak. Terlebih mengingat dua hari lagi menjelang sidang perceraian kakaknya, maka ia harus bergerak cepat.
"Baiklah, kalau begitu kita pergi sama-sama. Kita makan di sana saja." Ucap Juna pada akhirnya. Meski Jane mengatakan dirinya sudah baik-baik saja, tetapi tetap saja ia tidak bisa membiarkan adiknya itu pergi sendirian.
"Tapi, Kak...
Sebelum Jane menyelesaikan ucapannya, Juna sudah lebih dulu menarik tangannya keluar dari rumah.
.
.
.
"Dok, apa kita bisa mampir ke resto sebentar? Aku lapar." Ujar Aruna sambil tersenyum malu-malu. Hari ini ia sudah banyak merepotkan dokter Adam. Saat dokter Adam datang kerumahnya untuk memeriksa kondisi kesehatan papanya, ia meminta tolong untuk diantarkan ke rumah sakit memeriksa kandungannya. Dokter Adam pun menemaninya hingga pemeriksaannya selesai dan kembali mengantarnya pulang.
"Iya," jawab dokter Adam singkat tanpa melihat kearah Aruna.
Setelah mobil dokter Adam terparkir didepan sebuah resto. Aruna pun bergegas turun karena benar-benar sudah merasa lapar. Semenjak kehamilan memasuki bulan kedua, ia menjadi sering merasa lapar. Dan hal itu membuat badannya tampak lebih berisi sekarang.
"Kita duduk di situ saja," ujar dokter Adam sambil menunjuk kearah meja yang tak jauh dari pintu masuk.
Aruna hanya mengangguk kemudian dengan cepat melangkah kearah meja itu. Melihat orang-orang yang tengah menikmati makanannya membuatnya merasa semakin lapar.
___________
"Yeay, akhirnya sampai juga. Buruan masuk yuk, Kak, udah laper nih!" Seru Jane setelah mobil kakaknya sudah terparkir didepan resto yang ditujunya.
Juna hanya menanggapinya dengan senyuman lalu turun dari mobilnya, begitupun dengan Jane.
Dua kakak beradik itu saling bertautan tangan memasuki resto tersebut. Orang-orang yang melihat pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.
"Kak, kita duduk dimana ya?" Tanya Jane sambil mengedarkan pandangannya mencari meja yang kosong tanpa melepas tautan tangannya dari sang kakak.
Juna pun mengedarkan pandangannya, namun bukan meja kosong yang ia dapatkan melainkan pemandangan yang cukup membuat dadanya terasa sesak. Di meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, Aruna dan laki-laki yang diakuinya sebagai calon suaminya itu sedang makan berdua.
Tanpa sadar, Juna melangkah pelan kearah meja dimana Aruna dan dokter Adam menikmati makanannya sambil menarik tangan Jane yang masih sibuk mencari meja kosong dengan pandangannya.
Bertepatan dengan itu Aruna pun mengangkat pandangannya untuk memanggil pelayan, dan tatapannya langsung tertuju pada Juna yang terlihat melangkah kearahnya. Aruna pun terpaku, namun bukan Juna yang menjadi pusat perhatian saat ini melainkan seorang gadis yang bersama laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
'Cih, baru lima hari yang lalu dia sampai merendahkan harga dirinya memohon dibawah kakiku untuk diberi kesempatan. Tapi apa yang dilakukannya sekarang, dia sudah bersama wanita lain bahkan sebelum kita resmi bercerai.' Aruna bermonolog dalam hatinya.
"Em, Dok aku sudah kenyang." Ujar Aruna kemudian, ia benar-benar merasa muak dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Baiklah." Dokter Adam yang telah selesai makan, mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Namun, gerakan tangannya terhenti di udara ketika tatapannya tertuju pada sosok gadis yang berdiri di samping Juna.
Bersamaan dengan itu, Jane yang telah menemukan meja kosong pun menarik tangan kakaknya hendak menuju meja itu. Namun, Juna tidak bergerak dari tempatnya berdiri membuat Jane menoleh melihat kakaknya.
"Kak, ayo kesana..." Ucapan Jane terhenti ketika tak sengaja tatapannya bertemu dengan laki-laki yang bersama Aruna juga sedang menatapnya.
"Dia...
.
.
.
BONUS VISUAL 🤗🤗🤗
ato aruna?