Akibat kenakalan di masa remajanya, Shanum sampai hamil di luar nikah. Wanita itu menyembunyikan kehamilannya dari Aska—kekasihnya kala itu, dan yang Aska tahu Shanum sudah menggugurkan kandungan.
Hingga Enam tahun kemudian, Shanum bertemu Aska yang baru saja menikah dengan seorang wanita bernama Zara.
Shanum ingin putranya yang dia beri nama Laskar, mendapat kehidupan yang baik karena papa kandungnya menjadi orang sukses. Namun, akankah Aska akan menerima Laskar dengan tangan terbuka? Lalu bagaimana dengan Zara? Sanggupkah wanita itu menerima masa lalu sang suami?
Shanum, alasan apa yang membuatnya sampai dengan tega memberikan anaknya? Apa benar hanya karena Aska kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Kedatangan Mertua
Shanum mengantar Laskar ke sekolah seperti biasa hari itu. Dia bersyukur sakit yang dialaminya sedikit berkurang meski tidak hilang sepenuhnya
“Bunda masih sakit?” tanya Laskar saat mereka sudah sampai di depan gedung sekolah. “Kalau masih sakit, Bunda ga usah kerja aja.”
“Bunda sudah baikan, Laskar jangan cemas.” Shanum menjawab sambil mengusap wajah Laskar. Dia tidak ingin sang putra cemas memikirkan kondisinya.
Laskar menatap Shanum yang mengulas senyum dengan tatapan sendu, hingga akhirnya bocah itu percaya kemudian segera masuk ke sekolah.
Shanum masih berdiri memandangi punggung Laskar, hingga kemudian kembali ke mobil untuk pergi ke kantor. Dan saat Shanum sampai, tanpa sengaja dia bertemu dengan Aska di lobi.
Aska sedikit kaget melihat Shanum, tapi wanita itu terlihat biasa saja dan menyapa Aska layaknya bawahan ke bosnya.
“Shanum!" Aska tiba-tiba memanggil dan mau tak mau Shanum pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh.
"Zara bilang kemarin kalian bertemu di rumah sakit dan sama-sama periksa di dokter kandungan, apa itu benar?”
Shanum yang memang membenci Aska pun hanya memasang air muka datar, hingga dengan ketus menjawab, “Kamu tenang saja, aku tidak akan cerita apa-apa ke istrimu tentang masa lalu kita.”
Aska cukup terkejut mendengar jawaban Shanum, padahal dia tidak berniat membahas hal itu.
“Hubungan kita sudah berakhir, tidak ada lagi yang tersisa, tepat di hari kamu tidak bisa aku hubungi,” ujar Shanum menjelaskan.
Aska terlihat merasa bersalah mendengar ucapan Shanum, hingga kemudian bertanya, “Apa Laskar, dia... dia anakku?”
Shanum tersenyum miring mendengar pertanyaan Aska, hingga kemudian menjawab, “Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa, yang jelas Laskar itu anakku, tidak peduli siapa ayahnya.”
Setelah menjawab pertanyaan Aska, Shanum pun memilih segera pergi ke ruang kerjanya. Ia menundukkan kepala memberi hormat, seburuk dan sedalam apapun luka yang Aska berikan, tetap saja pria itu atasannya.
**
Siang harinya Zara kedatangan Sekar—ibunda Aska di rumah. Wanita itu sama sekali tak memberi kabar dan membuat Zara terkejut.
“Mama hanya mampir karena kebetulan lewat,” ucap Sekar saat dipersilakan masuk, matanya nampak mengamati ruang tamu rumah Zara.
Zara mengangguk dan terlihat sedikit sungkan kepada mertuanya itu.
“Ini sudah tiga bulan, apa kamu belum hamil juga?” tanya Sekar menatap sinis sang mantu.
“Belum, Ma.” Zara menjawab dengan rasa tidak nyaman karena tatapan dingin Sekar.
“Kok kamu belum juga hamil? Anak-anak teman Mama, semuanya sudah hamil meski baru saja menikah. Menantu atau anak mereka tuh subur-subur, sekali buat jadi,” ucap Sekar yang tega membandingkan Zara dengan yang lain.
Zara menarik napas panjang mendengar ucapan Sekar, hingga kemudian mencoba membela diri.
“Aku sama Mas Aska baru menikah, Ma. Wajar kalau belum hamil.”
“Apa kamu sudah coba periksa ke dokter?” tanya Sekar kemudian.
“Sudah.” Meski tidak nyaman dengan pembahasan itu, Zara tetap menanggapi ucapan mertuanya dengan baik.
“Oh ya, sejak Aska menikah denganmu, dia itu kok jadi berubah. Dia juga jarang kasih kabar, apa kamu melarang?” sindir Sekar, bahkan bibirnya terlihat meliuk ke kanan dan kiri dengan bola mata memicing.
Zara tak menyangka Sekar bisa menuduh seperti itu, sedikitpun tak ada niatnya memutus tali silaturahmi antara ibu dan anaknya.
“Aku ga pernah begitu, Ma. Mungkin karena Mas Aska memang sibuk, jadi dia jarang kasih kabar ke Mama. Bahkan saat Mama minta uang pun aku ngomong ke Mas Aska dan ga keberatan sama sekali,” ujar Zara menjelaskan.
Sekar terlihat tidak suka saat Zara mengungkit masalah uang, seolah menantunya itu tidak ikhlas sampai masalah seperti itu saja kembali dibahas.
“Asal kamu tahu saja, kesuksesan Aska itu karena Mama. Dia bisa seperti sekarang karena Mama ambil andil dalam pendidikannya. Ibarat kamu itu hanya nemu enaknya saja, dia sudah sukses juga,” ujar Sekar membahas sampai kemana-mana.
Zara menghela napas kasar, dia tidak ingin berdebat dengan Sekar hingga akhirnya memilih diam. Meski ingin membela diri tapi Zara menahannya karena sadar harus menghormati ibunda suaminya.
“Nanti kamu bilang ke Aska kalau Mama datang,” kata Sekar menutup perdebatan itu.
Zara pun mengangguk mengiakan ucapan Sekar, setelah itu menawari mertuanya makan dan minum.
**
Aska pulang sedikit larut hari itu. Zara melayani suaminya seperti biasa dan tidak langsung membahas masalah kedatangan Sekar karena tahu kalau Aska pasti lelah.
“Tadi Mama datang,” ucap Zara saat mereka duduk bersebelahan di atas ranjang.
Aska tampak terkejut mendengar ucapan Zara. Ia sudah bisa menerka bahwa hal yang tak mengenakan pasti dikatakan Sekar ke istrinya.
“Mama bilang apa saja? Apa Mama minta uang lagi?” tanya Aska menyelidik.
“Ga kok, Mas. Mama hanya nanya kabar kita,” jawab Zara yang tidak langsung menceritakan semua yang dikatakan Sekar.
Aska terlihat tidak senang mengetahui kedatangan Sekar ke sana. Dia seperti terbebani dengan ibunya itu, Aska selalu merasa kalau ibunya ingin dia membalas budi karena sudah membuatnya bisa menjadi seperti sekarang.
“Mama tadi tanya, kenapa aku belum hamil. Ya aku jawab, karena memang belum diberi, mau gimana lagi,” kata Zara kemudian.
Aska merasa tidak enak hati karena mamanya datang hanya untuk menanyakan hal seperti itu, hingga dia meraih kepala Zara dan menyandarkan di bahunya.
“Kamu jangan memikirkan soal ucapan Mama, abaikan saja semua ucapannya.
Zara mengangguk mendengar ucapan Aska, mengiakan saja apa yang dikatakan suaminya, meski Zara sendiri merasa kalau Aska terlihat kesal kepada Sekar.
Wanita itu tak dulu tak sekarang tanpa sadar selalu menempatkan putranya dalam kesulitan.
recommended...
bahkan setelah baca ini . bakalan banyak bersyukur
Aska kamu berhutang permohonan maaf yg sangat besar ke shanum.
Laskar harus kuat ya nak 💪
bikin anak kehilangan ibuknya...😭😭😭😭😭