NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Ancaman Fisik dan Kamar yang Dikepung

Pendaran cahaya dari layar ponsel pintar milik Riko memantulkan bayangan tajam di langit-langit ruang kerja eksekutif yang mulai menggelap. Momen manis saat Rani berada di pangkuannya menguap dalam sekejap, digantikan oleh hawa sedingin es yang mendadak menguar dari tubuh tegap Riko.

Mata elang Riko menatap lurus ke arah sebuah foto yang dikirim oleh nomor tidak dikenal. Di dalam foto itu, gerbang besi rumah mewah Rani terlihat sangat jelas, diambil dari balik kemudi sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan. Waktu pengambilan gambar tertera: Baru saja.

Di bawah foto itu, sebuah pesan singkat tertulis dengan untaian kata yang sarat akan kegilaan:

“Nikmati malam terakhir kalian di atas ranjang mewah itu, Riko. Aku tahu di mana istrimu tidur, dan aku tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya. Kita lihat, seberapa cepat elangmu bisa terbang saat sarangnya kubakar.”

Rani, yang merasakan perubahan drastis pada ketegangan otot tubuh Riko, langsung menegakkan tubuhnya. Dia melirik ke arah layar ponsel. Begitu membaca pesan dari Hendra, napas Rani tertahan di tenggorokan. Ego Alpha Woman-nya yang kokoh seketika digelitik oleh rasa ngeri yang nyata. Hendra tidak lagi bermain di lantai bursa; pria itu kini menjadi penguntit bersenjata dendam yang siap melakukan tindakan kriminal.

"Hendra sudah kehilangan akal sehatnya," bisik Rani, tangannya tanpa sadar meremas bahu jas Riko dengan erat.

Riko berdiri dari kursinya, menurunkan Rani dengan lembut namun posesif. Dia langsung menekan nomor panggilan cepat ke arah kepala tim keamanan internal Pratama Corp yang kini sudah dia integrasikan dengan rumah Rani.

"Pindahkan seluruh tim Alfa dan Beta ke kediaman Rani malam ini juga," perintah Riko, suaranya terdengar sangat rendah, tegas, dan dingin tanpa ada keraguan sedikit pun. "Perketat perimeter luar. Aktifkan sistem pemindai inframerah di halaman belakang, dan pastikan tidak ada satu pun kendaraan tak dikenal yang boleh berhenti dalam radius seratus meter dari gerbang. Jika ada yang memaksa masuk, lumpuhkan di tempat."

Setelah mematikan telepon, Riko menoleh menatap Rani. Dia melangkah mendekat, menangkup kedua bahu Rani dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, mencoba menyalurkan rasa aman yang mutlak. "Kita pulang sekarang, Rani. Di rumah, aku bisa mengontrol penuh keselamatanmu."

Pukul sebelas malam, kediaman mewah Rani yang biasanya sunyi kini berubah menjadi benteng pertahanan yang super ketat. Di luar pagar, lima mobil keamanan pribadi berpatroli secara bergantian. Di dalam halaman, beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian taktis hitam berjaga di setiap sudut buta.

Namun, di dalam kamar tidur utama di lantai dua, suasananya terasa begitu kontras. Kamar itu sunyi, hanya diterangi oleh pendaran lampu nakas berwarna kuning temaram yang hangat.

Rani duduk di tepi ranjang King Size-nya, mengenakan baju tidur satin berwarna hitam yang kontras dengan kulit putih bersihnya. Rambutnya digerai bebas, jatuh melewati bahunya. Tangannya memegang secangkir teh chamomile yang sudah mendingin, namun matanya terus bergerak gelisah menatap ke arah jendela besar yang gorden tebalnya sudah ditutup rapat oleh Riko.

Cklek.

Riko melangkah masuk setelah memeriksa ulang sistem pengunci biometrik di pintu kamar. Malam ini, dia tidak mengenakan kaos oblong santai seperti biasanya. Pria itu mengenakan celana hitam panjang dengan kaos dalaman taktis berwarna hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot dada dan perutnya yang kokoh—sebuah kesiapan fisik jika sewaktu-waktu bahaya menerobos masuk.

Riko berjalan mendekati ranjang, lalu menatap ke arah tengah kasur. Bantal guling yang biasanya diletakkan Rani sebagai "garis perbatasan internasional" malam ini sama sekali tidak terlihat. Rani sengaja menyingkirkannya ke lantai.

Riko menaikkan satu alisnya, tersenyum tipis yang sangat tampan. "Di mana pasukan pembatas wilayahmu, Ibu Panglima? Apakah agresi militer malam ini dilegalkan?"

Rani mendongak, wajah cantiknya merona merah samar di bawah cahaya lampu temaram, namun dia menolak untuk memalingkan wajahnya kali ini. "Hendra ada di luar sana, Riko. Dan kamarmu di sebelah sayap tamu terlalu jauh jika terjadi sesuatu. Malam ini... tidak ada pembatas."

Riko tidak membalas dengan godaan lagi. Dia tahu di balik ketegasan suara Rani, wanita itu sedang menahan rasa takut yang teramat sangat. Riko melangkah naik ke atas ranjang, merebahkan tubuh tegapnya di sisi kiri, lalu menepuk sisi kanan kasur yang kosong di sampingnya.

"Sini," ujar Riko lembut, suaranya yang berat terdengar begitu menenangkan di tengah keheningan malam.

Rani meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di samping Riko. Namun, alih-alih menjaga jarak seperti malam-malam sebelumnya, Rani justru menggeser tubuh rampingnya mendekat. Tanpa sepatah kata pun, dia menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Riko yang kokoh, membiarkan jemari lentiknya mencengkeram kaos hitam pria itu.

Riko sempat tertegun selama satu detik merasakan inisiatif kedekatan dari sang Alpha Woman. Namun detik berikutnya, naluri protektifnya sebagai seorang pria mengambil alih sepenuhnya. Riko melingkarkan lengan kanannya yang kekar di sekeliling bahu Rani, menarik tubuh wanita itu hingga melekat sempurna tanpa jarak di dalam dekapannya. Tangan kirinya bergerak mengusap rambut hitam Rani dengan gerakan yang sangat lembut dan teratur.

Monolog batin Rani bergemuruh hebat di dalam dadanya. Suara detak jantung Riko yang terdengar konstan dan kuat di bawah telinganya terasa seperti musik paling damai di dunia. Aroma maskulin parfum bercampur sabun dari tubuh Riko meresap ke dalam indra penciumannya, mengusir seluruh bayangan mengerikan tentang ancaman Hendra di luar sana. 'Pernikahan ini mungkin awalnya palsu... tapi pelukan ini, rasa aman ini, dan debaran gila di dadaku ini... aku tidak bisa membohongi diriku lagi. Aku sudah jatuh cinta padanya.'

"Riko..." bisik Rani lirih, suaranya meredam di dada Riko.

"Hmm?"

"Bagaimana jika Hendra benar-benar nekat? Bagaimana jika dia menggunakan sisa uangnya untuk menghancurkan proyek kita dari jalur belakang?"

Riko menghentikan usapan tangannya di rambut Rani sejenak. Dia menundukkan kepalanya, membuat dagunya menyentuh puncak kepala Rani. "Dia tidak akan bisa, Rani. Siang tadi, setelah sahamnya hancur, tim hukumku sudah membekukan seluruh aset pribadinya atas tuduhan penggunaan dana nasabah ilegal. Malam ini, dia hanyalah seekor serigala tua yang terluka dan tidak punya taring. Dia mengirim pesan itu hanya untuk menakutimu karena dia tahu dia sudah kalah segalanya dariku. Terutama... kalah mendapatkanmu."

Rani mendongakkan wajahnya sedikit, membuat mata indahnya menatap langsung ke dalam mata elang Riko yang jaraknya teramat dekat di atas bantal yang sama. Napas hangat mereka saling berembusan, menciptakan atmosfer yang mendadak berubah menjadi sangat intim dan sarat akan ketegangan asmara yang membara.

"Kamu begitu percaya diri, Tuan Riko Pratama," gumam Rani, bibirnya yang tipis terangkat membentuk senyuman manis yang jarang dia perlihatkan pada dunia.

"Aku selalu percaya diri jika menyangkut hal yang sudah menjadi milikku, Rani," balas Riko rendah. Tatapan matanya turun, mengunci lurus pada bibir ranum Rani yang berkilau di bawah cahaya temaram.

Riko mengikis jarak di antara wajah mereka secara perlahan, memberikan waktu bagi Rani jika ingin menghindar. Namun, Rani justru memejamkan kedua matanya, sedikit mengangkat dagunya seolah memberikan izin mutlak atas apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di bawah kepungan malam yang mencekam dan penjagaan ketat di luar rumah, di dalam kamar tidur utama yang sakral itu, bibir sang elang akhirnya bertautan dengan bibir sang Alpha Woman dalam sebuah ciuman yang dalam, lembut, dan penuh dengan luapan perasaan nyata yang selama ini mereka kekang di balik lembaran kontrak kertas. Tidak ada lagi akting untuk media, tidak ada lagi gengsi korporasi; malam itu, mereka resmi menyatukan hati mereka sebagai suami istri yang sesungguhnya.

Namun, di tengah momen intim yang menghanyutkan itu, di luar gerbang rumah mewah yang dijaga ketat, sebuah siluet mobil van putih tanpa pelat nomor perlahan berhenti di bawah bayangan pohon besar, mematikan lampu utamanya, dan seorang pria di dalamnya mulai merakit sebuah alat detonator jarak jauh yang terhubung dengan pipa gas utama di samping dinding luar rumah Rani!

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!