NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Dua Garis Merah

"Lepaskan tanganmu, Irmi. Aku harus pulang sebelum Erni mulai curiga. Langit sudah mulai gelap."

Irmi tertawa pelan, suara gelang emas di pergelangan tangannya beradu, menciptakan denting yang tajam di keheningan kamar. Ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan kepulan asap tipis menari-nari di udara, membentuk pola abstrak yang tak peduli pada kegelisahan Hino. "Pulang? Untuk apa? Menemani istrimu yang bahkan tak tahu cara memanjakan lelakinya? Atau untuk kembali ke kamar sempit itu dan menghitung sisa uang makan yang tidak akan cukup untuk besok pagi?"

Hino meremas kemejanya yang mulai kusut di bagian bahu. Keringat dingin merayap di pelipisnya, sensasi yang sudah jadi teman akrab sejak ia masuk ke kamar ini. "Dia istriku. Aku mencintainya. Dan dia tidak bersalah dalam urusan ini. Berhenti menyeretnya ke dalam masalah kita."

"Cinta tidak akan membayar tagihan listrik yang sudah dua bulan menunggak, Hino. Jangan naif." Irmi melangkah mendekat, jemarinya yang terawat menyentuh rahang Hino dengan paksa, menahan wajah pria itu agar tetap menatap matanya. "Kau sudah menjadi milikku. Secara moral, dan secara kontrak yang baru saja kutandatangani dengan pengacaraku. Kau tahu betul apa yang terjadi setelah kau meminum jamu itu malam itu. Kau tidak bisa lari dari fakta itu."

Hino terdiam, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengar suaranya sendiri beradu dengan detak jam dinding yang lambat. "Kontrak apa maksudmu? Aku tidak pernah menandatangani apa pun! Aku hanya mabuk saat itu, dan kau memanfaatkan situasinya."

"Kontrak pernikahan siri. Dan kalau kau mencoba lari, aku punya bukti cukup untuk menghancurkan hidup Erni seketika." Irmi mendekatkan wajahnya, membisikkan ancaman yang membuat nyali Hino menciut hingga ke dasar sepatu. "Pilih: Jadi suami janda kaya yang hidupnya terjamin, atau jadi gelandangan yang istrinya berakhir di jalanan karena skandal perselingkuhan yang akan kusebarkan ke seluruh penghuni kosan ini."

Hino mundur satu langkah, namun kakinya terasa terpaku di lantai kayu kamar Irmi yang mengilap. Ia merasa seperti mangsa yang sedang ditarik perlahan menuju pusat jaring laba-laba. Pikirannya buntu. Ia terjepit di antara kewajiban kepada Erni dan ancaman nyata dari wanita di depannya.

Tiga minggu berlalu sejak malam yang mencekam itu, dan Hino masih terjebak dalam labirin kebohongan. Setiap kali ia memandang wajah Erni, rasa bersalah itu menyayatnya seperti pisau tumpul yang terus digesekkan. Ia melangkah masuk ke kamar kosnya sore itu, hanya untuk mendapati Erni duduk di lantai, menatap sesuatu di tangannya dengan mata yang berkaca-kaca, namun ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan.

"Mas, lihat ini." Erni menyodorkan sebuah stik plastik kecil dengan dua garis merah yang kontras. Senyumnya lebar, tulus, dan penuh harapan. "Aku hamil, Mas. Anak kita. Akhirnya Tuhan menjawab doa kita."

Dunia Hino runtuh seketika. Rasanya lantai kamar kos itu tiba-tiba hilang di bawah kakinya. Di balik pintu kamar Irmi di lantai atas, ia tahu, perempuan itu juga sedang menunggunya dengan kabar yang sama. Dua nyawa, satu pria, dan sebuah jebakan yang baru saja ditarik pelatuknya.

"Mas? Kenapa diam saja? Kamu tidak senang?" Erni berdiri, memeluk Hino erat. Pelukan itu terasa seperti jerat yang semakin mengencang di lehernya. Aroma tubuh Erni yang biasa menenangkan, kini justru terasa menyesakkan.

Hino memejamkan mata, membiarkan air mata keputusasaan jatuh di bahu istrinya. "Aku senang, Erni. Sangat senang. Aku hanya... aku hanya tidak percaya kita akan segera jadi orang tua."

"Mas, kenapa tanganmu gemetar? Apa kamu sakit?"

Hino menarik napas dalam, memaksakan sebuah senyuman palsu yang rasanya seperti menelan pecahan kaca. Ia harus memerankan perannya dengan sempurna. "Hanya karena aku takut, Erni. Aku takut tidak bisa memberimu kehidupan yang layak. Aku takut anak kita tidak mendapatkan yang terbaik."

"Kita akan berjuang bersama, Mas. Aku percaya padamu. Apapun keadaannya, kita akan melewatinya."

Hino menatap Erni, lalu menatap pintu kamar yang tertutup rapat, membayangkan apa yang akan terjadi jika rahasianya terbongkar. Ia tahu, mulai malam ini, kebohongan ini akan menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup. "Ya, Erni. Kita akan berjuang. Apa pun yang terjadi, percayalah padaku."

Erni mengusap air mata di pipi Hino, menatapnya dengan pandangan teduh. "Tapi Mas, apa kau yakin kita bisa melewati semuanya tanpa ada rahasia di antara kita? Aku ingin kita selalu terbuka, apa pun bebannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!