Ini tentang Elza, wanita lumpuh yang dinikahi Alvian sebagai pertanggung jawaban pria tersebut yang menjadi penyebab Elza harus mengalami kelumpuhan seumur hidupnya.
Alvian Pramana hanya bisa pasrah meski sebelumnya menolak mentah-mentah atas permintaan orang tua Elza yang menginginkan pertanggung jawaban dengan menikahi Elza. Karna orang tua Elza yakin tidak ada pria manapun mau menikahi putrinya yang cacat.
Alvian yang sempurna bersanding dengan Elza, wanita cacat.
Jangan lupa mampir ke:
Instagram: Khazana_va
Tik tok: Khazana_va
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara obat
"Ceraikan aku!"
"Elza...!!" bentak Alvian menatap tajam sang istri."Kau kira pernikahan ini hanya permainan? Aku tidak akan menceraikan mu!"
"Tapi aku tidak tahan terus bersama mu!" Elza memukul-mukul dada kokoh Alvian dan tangisan yang semakin menjadi-jadi."Kau tidak pernah menghargai perasaanku dan statusku sebagai istrimu!" sambungnya dengan perasaan sakit saat mengatakan itu.
Alvian menarik tubuh Elza dalam dekapannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh sang istri. Pria itu menyembunyikan wajahnya di leher Elza yang sudah berkeringat. Tangisan sesegukan dan mata yang semakin sembab membuat perasaan sakit muncul dalam benak Alvian pada istrinya.
"Aku ingin pulang, Alvian..." ucapnya disertai tangisan sesegukan.
"Iya, kau boleh pulang tapi harus denganku," balas Alvian seraya mengusap lembut punggung Elza.
Pria itu menguraikan pelukannya dan mengusap air mata yang sudah membasahi wajah Elza yang memerah. Ia menatap lekat wajah Elza dengan pandangan yang menyiratkan sesuatu.
"Berbaringlah di kasur, aku akan menyiapkan perlengkapanmu."
Elza bergeming tak merespon ucapan suaminya hanya suara tangisan yang sesegukan yang keluar dari bibirnya. Mengingat kondisi wanita itu tengah hamil dan sulit mengendalikan emosinya yang tiba-tiba meledak-ledak.
Alvian menggiring Elza menuju ke kasur dan membantu sang istri berbaring di kasur. Ia mengambil selembar tisu di sampingnya dan mengusap peluh yang berlumuran membasahi wajah Elza. Tenaga wanita itu seolah terkuras dan tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun. Bukan karna Ia takut atau sudah tak sanggup lagi, tapi ini merupakan titik terlemah Elza saat ini, titik yang membuat Ia bingung harus melakukan apa hingga perceraian menjadi jalan keluar baginya.
Perlahan kelopak mata Elza mulai meredup, kesadarannya sudah menghilang terbawa ke alam mimpi. Alvian yang melihat wanita itu sudah tertidur segera beranjak pergi, sebelum pergi Ia membalut tubuh sang istri dengan selimut.
"Kata pelayan Bella datang ke sini dan kau menyuruhnya pergi, apa benar?" ucap Riana menghadang Alvian di luar pintu kamar.
"Sebaiknya jangan membahas itu, Ma," balas Alvian hendak beranjak dari hadapan Riana.
"Pasti ini karna Elza."
Langkah kaki Alvian langsung terhenti. Ia berbalik badan menatap ke arah sang mama yang kini berjalan mendekat padanya.
"Mama sudah mengatakan padamu puluhan kali tapi kau tetap saja menikahi Elza. Cukup kau berikan uang yang orang tua Elza inginkan maka semuanya selesai. Dan lihat sekarang, Elza sudah mengandung anakmu."
Alvian menghela napas berat dan memejamkan matanya sejenak."Semuanya sudah terjadi, jangan diungkit-ungkit lagi. Mama juga harus tahu aku menikahi Elza karna kesalahan yang sudah aku lakukan dan tekanan dari papa yang memintaku untuk menepati janji untuk menikahi Elza."
"Jika Mama ingin protes masalah ini, proteslah dengan papa." sambungnya.
Riana mendelik kesal mendengarnya. Sementara Alvian sudah pergi dari sana meninggalkan begitu saja. Memangnya salah sebagai orang tua Ia menginginkannya menantu yang sempurna dan tidak cacat seperti Elza. Bisa-bisa cucunya ikutan cacat seperti ibunya, batin Riana.
•
•
"Tu-tuan." pelayan tampak kaget ketika Alvian tiba-tiba masuk ke dalam dapur. Karna sangat jarang sekali pria itu masuk ke dalam dapur ini.
Saat ini beberapa pelayan yang di tugaskan memasak di dapur kini tengah menyiapkan makan malam nanti.
"Buatkan bubur untuk Elza. Setelah matang langsung kau antar ke kamarnya," perintah Alvian.
"Baik Tuan."
Sebelum beranjak pergi dari sana, sorot mata Alvian jatuh pada botol kecil berisi pil obat di atas meja dapur. Rasa penasaran tiba-tiba menyeruak dalam dadanya.
"Itu obat apa?" tanya Alvian menunjuk dengan lirikan matanya.
Pelayan itu langsung menatap ke arah yang Alvian tunjuk. Ia mengambil botol obat itu.
"Saya kurang tahu Tuan. Baru saja nyonya Riana memberikan ini katanya untuk kesehatan nona Elza dan kandungannya. Jadi saya di minta untuk memasukkan obat ini ke dalam makanan dan minuman nona Elza."
Alvian mengernyitkan keningnya. Sejak kapan orang tuanya seperhatian itu dengan istrinya. Baru saja sang mama mengucapkan ketidak sukaannya dengan Elza.
"Kemari kan obat itu."
Pelayan segera memberikan botol obat itu pada Alvian. Pria itu menatap lamat-lamat pil obat yang tidak ada keterangannya sama yang selalu tercantum di botol obat biasanya.
"Sekarang cepat kau buatkan buburnya."
"Baik Tuan."
Alvian pergi dari sana membawa botol obat tersebut. Ia sedikit ragu bila ini benar-benar vitamin untuk istrinya.
"Mama!" Suara teriakan Alvian yang cukup keras menggelegar, Riana yang mendengarnya mendengus sebal.
"Ada apa Alvian?!" sahut Riana dengan nada ketusnya. Saat ini wanita paruh baya itu tengah duduk santai di ruang keluarga dengan di temani secangkir teh hangat dan majalah yang ada di tangannya.
Alvian segera melangkah menghampiri Riana yang fokus menatap majalah di tangannya.
"Maksud Mama apa menyuruh pelayan memberikan obat ini untuk Elza?" tanya Alvian berdiri di hadapan Riana yang perlahan mengangkat pandangan matanya pada botol kecil yang putranya perlihatkan.
Bola mata wanita paruh itu langsung membesar dengan raut wajah yang tampak terkejut dan panik.
"Elza sedang hamil dan aku melarang pelayan untuk memberikan obat atau vitamin apapun untuk Elza kecuali obat dari dokter. Tidak mungkin Mama sebaik itu dengan Elza!"
Riana bangkit dari tempat duduknya dan menghempas kasar majalah yang Ia pegang sekarang ke sofa.
"Kau ini kenapa Alvian? Baik salah, jahat pun salah dengan Elza. Sejak kapan kau jadi perhatian dengan istri cacatmu itu, huh?"
Alvian menggelengkan kepalanya."Ini bukan tentang aku perhatian atau tidak dengan Elza, tapi Mama memberikan obat untuk Elza tanpa seizinku! Sedangkan saat ini Elza sedang hamil."
"Ooh, sekarang Mama paham. Kau mengira Mama ingin meracuni Elza. Iya?" Riana menatap Alvian yang menatap wanita paruh baya itu dengan napas yang memburu."Sekarang kau benar-benar berubah. Jangan sampai tuduhanmu itu menjadi penyesalan Alvian." sambungnya.
"Menuduh? Aku tidak sama sekali menuduh, tapi melarang Mama memberikan obat untuk Elza!"
__________
Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen
See you di part berikutnya:)
wkwkwk
Hiiii 🙈