Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Pergi Ke Tempat Wisata
Selanjutnya..
Kemudian, Pak Rio dan Bu Rina tiba-tiba serentak menoleh ke arah rumah majikan Bu Rina. Rinto sedang berdiri melihat dan seperti mendengar obrolan Pak Rio dan Bu Rina.
Bu Rina akhirnya menurut atas ajakan Pak Rio, karena kurang enak dengan keberadaan Rinto.
"Ya sudah Bang, ayo cepat pergi! Enggak enak ribut-ribut di depan rumah orang," kata Bu Rina.
Pak Rio pun langsung menghidupkan motornya. Bu Rina naik dan duduk di belakang sambil memegang pinggang Pak Rio. Ya, tentunya tidak lupa juga memakai helm demi keselamatan.
Mereka pergi ke sebuah tempat wisata yang selalu ramai dikunjungin orang.
Sesampainya di tempat wisata, Pak Rio dan Bu Rina menyewa pondok terbuka dan tikar, juga memesan minuman dan makanan ringan kepada pelayan pengelola wisata.
"Sudah pernah kemari, Dek?" tanya Pak Rio setelah mereka duduk.
"Belum, Bang. Semasa hidup suamiku tidak pernah membawa kami kemari," jawab Bu Rina.
"Sudahlah, jangan ingat-ingat dia lagi!" Pak Rio seperti cemburu.
"Bagaimana, suka enggak?" tanya Pak Rio.
"Suka sekali, Bang" jawab Bu Rina.
**
"Ini pesanannya Pak, Bu" kata pelayan pengelola wisata sambil meletakkan di atas tikar, lalu pergi.
**
"Oya Dek, apakah kamu mencintaiku?" tanya Pak Rio kepada Bu Rina. Dia ingin mengetahui lebih pasti.
"Lebih besar dari cinta Abang kepadaku," jawab Bu Rina.
"Jadi bagaimana, tidak mungkin kita terus seperti ini. Aku ingin secepatnya, secepatnya berakhir," kata Pak Rio.
"Apaaa...!" Bu Rina sedikit berteriak.
"Maksudnya, berakhir di pelaminan," canda Pak Rio.
"Mauku juga begitu, tetapi Abang kan tahu sendiri bahwa aku sudah punya dua anak," kata Bu Rina. Dia juga ingin mengetahui respon Pak Rio.
(Pak Rio terdiam sejenak)
"Makan Dek! sambil-sambilan," Pak Rio tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Setelah ngobrol panjang-lebar, Bu Rina melihat matahari sudah mau terbenam di ufuk barat.
"Sudah jam berapa Bang, sudah petang sepertinya?" tanya Bu Rina sambil memakan yang mereka pesan.
"Enggak tahu, Dek" jawab Pak Rio.
"Ayo pulang Bang, kapan-kapan lagi kita kemari. Tetapi antar aku ya, Bang" pinta Bu Rina.
"Ya sudah," balas Pak Rio seperti terpaksa.
Kemudian, Bu Rina memanggil pelayan pengelola wisata. Dia membayar semua yang mereka pesan. Sesudah itu, mereka pun pulang.
**
"Bang, Mama kok belum pulang?" tanya Intan kepada Andi sambil merengek.
**
Dalam perjalanan, Pak Rio berkata: "Dek, sebelum rumah kamu aja kuturunkan, ya." Bu Rina hanya mengangguk.
Tidak berapa lama, mereka pun sampai sesuai permintaan Pak Rio. Bu Rina diturunkan kira-kira 50 meter dari rumahnya.
Bu Asni yang sedang duduk di teras rumahnya melihat Bu Rina berjalan seperti terburu-buru.
"Kok jalan, Rin?" tanya Bu Asni.
"Kelewatan, Bu" jawab Bu Rina dan tetap berjalan.
Andi dan Intan yang sudah bersiap-siap dari tadi mau pergi jalan-jalan tidak terlihat bahagia setelah melihat Bu Rina pulang.
Bu Rina mendapati Intan sedang menangis sesunggukan.
"Kenapa Adikmu nangis, Di?" tanya Bu Rina kepada Andi.
"Katanya jalan-jalan, apaaaa...." jawab Andi sambil berlinang air mata dan tidak menatap Bu Rina.
"Sudah, sudah! Mama banyak kerjaan tadi," kata Bu Rina dengan nada sedikit tinggi.
****
***
Malam tiba dan di saat mau tidur, Pak Rio masih terpikir dengan Bu Rina yang sudah punya dua anak.
"Aku tidak bersedia menjadi Bapak dari anak orang. Jika aku dan Rina sudah bersama, bisa-bisa kedua anaknya menjadi beban dalam rumah tangga kami," batin Pak Rio.
Begitu juga dengan Bu Rina. Di saat mau tidur, dia memikirkan sekolah yang dilihatnya saat belanja tadi pagi.
"Hmmm... uang sudah menipis, padahal kerja baru beberapa hari. Lagian kalau Andi masuk sekolah, bagaimana dengan Intan? Siapa yang menjaga? Tidak mungkin Bu Asni digaji hanya menjaga Intan, apalagi dibawa ke tempat kerjaan. Duhhh... pusingnya! Ya sudahlah, tahun depan aja Andi masuk sekolah," batin Bu Rina. Lalu dia memejamkan mata untuk tidur.
***
\~<>\~<>\~<>\~<>\~
Pak Rio pergi ke rumah Bu Rina. Sesampainya, alangkah terkejutnya dia melihat seorang pria berada di rumah Bu Rina. Dia langsung lemas tidak berdaya, hatinya sungguh sakit. Wanita yang dia cintai selama ini telah milik orang lain. Dia ingin meluapkan amarahnya, tetapi tidak sanggup.
"Dasar wanita jalanggg...." gumamnya.
Begitu Pak Rio berbalik badan ingin pulang, tiba-tiba Bu Rina melihat keberadaannya.
"Bang Rio! Mau kemana?" panggil Bu Rina dari rumah lalu berlari mau menghampiri.
Pak Rio mendengar Bu Rina memanggilnya. Dia pun berbalik badan lagi mau melihat Bu Rina.
"Siapa pria ituuu...?" tanya Pak Rio dengan nada tinggi.
"Ayo masuk dulu Bang, nanti kuceritakan," jawab Bu Rina.
"Siapa pria itu kubilanggggg...?" tanya Pak Rio dengan nada semakin tinggi sambil mengeluarkan air mata.
"Ummm...." ucapan Bu Rina tiba-tiba terpotong.
"Sudahlahhh... itu suamimu kannn...! Hiks, hiks, hiks" bentak Pak Rio sambil sesunggukan. Tiba-tiba dia terbangun.
"Ternyata hanya mimpi, syukurlah," gumam Pak Rio lega.
BERSAMBUNG..
**Dukung Vote, Like dan Komen ya para reader, terima kasih..**🙏🌹