Apa jadinya jika kau bertransmigrasi ke tubuh salah satu karakter sampingan di sebuah novel?
Hal inilah yang dirasakan oleh gadis bernama Melinda!
Mampukah ia mengubah karakter yang awalnya hanya dimanfaatkan menjadi seorang antagonis yang membalaskan dendam?
ataukah justru alur cerita pada novel tersebut tetap berjalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10| Teror
Sudah seminggu Elena berada di mansion sendirinya. Ia juga sesekali datang ke warga desa dan bertanya mengenai kebun serta ternak yang sedang mereka awasi.
Kedatangannya membuat para warga merasa terbantu, mengingat sudah bertahun-tahun daerah tersebut tidak diawasi dengan baik oleh pihak kerajaan.
"Terima kasih nona Elena, berkat campur tangan anda, kami kembali merasakan tempat ini menjadi lebih baik."
Elena menggeleng dengan cepat.
"Tidak, ini semua berkat kerja keras kalian. Saya baru seminggu tinggal di sini dan hanya membantu sedikit. Saya bersyukur karena saya yang tanggung jawab untuk desa ini."
"Nona, terima kasih juga anda mau membantu kami. Sejujurnya ini pertama kali bagi kami merasa ada bangsawan yang benar-benar peduli pada desa, sebelumnya mereka hanya akan memeras kami."
Elena sedikit terkejut, bagaimana bisa?
Maksudnya adalah memangnya raja tak pernah mengunjungi daerah ini sampai-sampai tak tahu bahwa mereka semenderita itu.
Jika memang raja tak punya waktu, bukankah Max ada. Dia bisa membantu sebagai seorang pangeran dan hal itu bisa membuat namanya menjadi semakin bagus dimata para warga.
Yah mau bagaimana lagi kalau dasarnya mereka hanya peduli pada diri sendiri, tak ada yang bisa dilakukan.
"Aku akan kembali lagi, sepertinya hari akan gelap. Kalian juga kembalilah ke rumah, jangan ada yang berkeliaran."
"Baik nona."
Elena pun kembali dengan menggunakam portalnya, sekarang dia bisa menggunakan sihir itu lebih banyak dari yang ia inginkan. Tubuhnya tak lagi kekurangan energi, dia bahkan tidak tahu mengapa demikian.
Setibanya di kamar, ia duduk dan mengingat soal firasatnya.
"Semoga saja firasatku tidak benar."
Elena pun mengingat soal sesuatu yang masuk ke dalam tubuh saat ia melakukan penyegelan hewan sihir.
"Benar ... Aku yakin pasti begitu. Apa yang sebenarnya terjadi pada dunia ini? Aku akan coba mencari sejarah tentang hewan sihir itu."
Baru saja Elena akan beranjak, tiba-tiba dadanya sesak. Dia mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya hingga sebuah cahaya putih keluar dari mulut.
Elena tak melihat karena sibuk mengurus dirinya yang seperti akan kehabisan napas.
Cahaya putih itu tiba-tiba berubah bentuk menjadi seseorang. Setelah dadanya tak sesak, Elena merasa lega dan menatap ke depan.
"Uwaaah!" teriaknya terkejut sendiri.
"K-kau siapa? B-bagaimana kau b-bisa masuk?" tanyanya kebingungan, Elena kini telah berada di sebelah kasur saking kagetnya.
"Aku belum memperkenalkan diri, kau bisa memanggilku Leon!"
Elena masih bingung di sana.
"Jangan terkejut, aku akan jujur padamu."
Ada keheningan sejenak sebelum Leon melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya ... Aku adalah salah satu hewan sihir yang kau segel."
Bisa dilihat betapa Elena saat itu benar-benar terkejut. Jadi tatapan itu yang dia lihat memang benar?
Lalu, bagaimana bisa hewan sihir berubah wujud menjadi manusia?
"Aku tahu kau pasti bingung. Jika aku ceritakan ini, ku mohon untuk menjaga rahasia itu. Jangan sampi ada yang tahu sampai waktunya tiba."
"Hee ... Kau pasti ingin membohongiku. Kau dan dua hewan sihir itu telah membuat kekacauan dengan mengirimkam hewan-hewan sihir kecil lainnya dan menghancurkan beberapa rumah warga."
"Tidak ... Itu bukan ulah kami. Ada seseorang yang melakukan semua ini. Tolong, percayalah padaku!"
"Kau pik-"
"Nona Elena!"
Sebuah suara ketukan yang tergesa-gesa terdengar dari luar pintu kamarnya. Elena lantas meminta Leon untuk diam di kamarnya dan jangan sentuh apapun.
Leon mengangguk tanda setuju dan duduk di ranjang milik Elena.
Di luar, nampak Fierda khawatir.
"Ada apa?"
"Nona ... Gawat, sepertinya kita harus kembali ke kediaman orang tua anda. Saya mendapatkan info melalui burung merpati, bahwa nyonya di teror oleh orang tak dikenal!"
Mendengar itu Elena tersentak, kali ini masalah apa lagi yang sedang menantinya. Ia masuk ke dalam kamar dan menemui Leon.
"Leon, bisakah kau menjaga tempat ini selagi aku pergi?"
Leon bangkit dan berdiri tepat di hadapan Elena, oh jarak keduanya sangat dekat hingga gadis itu bisa melihat betapa tampan pria di depannya.
"Kau mau ke mana? Aku ikut, takutnya kau akan kenapa-napa!"
"Tidak Leon. Jika aku pergi, seseorang harus menjaga tempat ini. Kau bisa berkeliling dan jangan sentuh apapun."
Belum saja Leon mengucapkan satu kata, Elena sudah pergi begitu saja saking paniknya.
Karena keadaan darurat, Elena harus menggunakan portal untuk tiba di sana.
Tujuan Leon ingin ikut adalah agar energi Elena tak cepat habis. Benar, Elena bisa menggunakan sihir portal berkali-kali itu berkat bantuan Leon.
Mereka telah tiba dengan Elena yang langsung melongos masuk tanpa menyapa siapapun.
Dia berlari menuju kamar ibunya dan melihat sang ayah serta kakak sedang menenangkannya.
"Ibu?"
Elena melihat bagaimana sang ibu ketakutan. Ia berlari dan memeluknya, Lucas terkejut bagaimana bisa adiknya datang apalagi hari sudah malam.
"Ibu, tak apa. Ada Elena di sini, tenang oke?" Elena membelai pelan rambut ibunya, menyalurkan kekuatan pada wanita itu agar tak ketakutan lagi.
"Bisakah kalian tinggalkan aku dan ibu? Aku hanya ingin berbicara berdua!" ucapnya tegas.
Dengan berat hati, Lucas dan Edward berjalan meninggalkan kamar. Tersisa Elena dan ibunya, ia menatap khawatir pada sang ibu.
"Ibu ... Coba ceritakan, apa sebenarnya yang terjadi?"
Elena menatap dua manik di depannya, ketakutan itu tergambar jelas.
"Ibu, tidak apa-apa. Kalau ibu tidak mau cerita, maka ibu bisa tidur lebih dulu. Ceritakan apa yang ibu alami besok padaku, aku akan berada di sini sepanjang malam."
Hanya ada anggukan dan kemudian Loretta nampak berbaring. Elena yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada sang ibu.
Hari semakin malam, tepat saat ibunya telah benar-benar terlelap, Elena berusaha mencari-cari energi yang sekiranya asing baginya.
"Siapapun yang membuat ibuku seperti ini, tak akan kubiarkan kau lolos!"
Mendekati waktu subuh, Elena dikejutkan dengan suara dobrakan dari jendela. Ia terjaga sepanjang malam dan tak merasa mengantuk.
Elena sering begadang karena mengerjakan tugas sewaktu masih berada di masa depan.
Ia melangkah perlahan, membuka tirai dan melihat adanya darah menempel.
Saat itu pulak ada sebuah energi besar yang dia rasakan tengah berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Elena hanya diam, mencoba merasakan pergerakan dari energi itu, tetapi tak ada dan justru malah semakin menjauh.
"Kau main-main denganku, sialan! Baik, aku akan meladeninya."
Paginya pelayan pribadi Loretta datang membawa makanan. Ini adalah perintah dari Edward, mengingat istrinya tak makan sejak semalam dan dia sedikit canggung untuk sekedar bertatapan dengan Elena.
Loretta bangun dan tidak ketakutan seperti semalam, sementara Elena telah mengambil alih makanan tadi.
"Ibu, kau harus makan."
Ia pun hanya mengangguk sembari tersenyum. Elena lantas menyuapi ibunya dengan makanan tersebut. Tidak ada yang terjadi sampai pada suapan ke lima, tubuh Loretta tiba-tiba mengalami kejang-kejang.
Elena terkejut bukan main dan meletakan makanan di atas meja, lantas mencoba memanggil ibunya.
"Ibu ... Ibu! Kau dengar aku? Astaga, apa yang terjadi."
"Pengawal! Pengawal!" teriaknya frustasi.
Suara Elena nampak menggelegar hingga membuat Lucas yang sedang sibuk pun turut mendengarnya. Ia bergegas datang ke kamar sang ibu dan terkejut saat melihat kondisi Loretta.
"Cepat panggil tabib atau kepala kalian aku penggal!" ucap Elena dengan wajah yang sudah frustasi.
"Panggil pelayan pribadi ibu, sekarang!" bentaknya.
Kejang-kejangnya telah berhenti, tetapi Loretta pingsan.
Jantung Elena berdetak dua kali lebih cepat, bahkan cenderung gemetar tubuhnya. Lucas mendekat dan menyentuh bahu sang adik.
Elena spontan memeluk pria itu dan menangis.
"Kakak akan cari tahu siapa yang telah melakukan hal ini pada ibu!" Lucas menatap tajam, dia berjanji akan memenggal siapapun yang telah membuat ibunya menderita.
Pelayan pribadi Loretta datang dengan wajah ketakutan. Tidak ada yang pernah melihat Elena marah seperti ini sebelumnya.
Gadis berambut ungu itu lantas melepas pelukan Lucas dan berdiri tepat dihadapan pelayan itu.
"Coba kau jelaskan bagaimana bisa ibuku keracunan makanan?" tanyanya dengan menatap nyalang.
"A-ampun nona ... Sa-saya hanya mengantarkan ma-makanan a-tas perintah dari salah satu pelayan. Ka-katanya dia disuruh oleh tu-tuan untuk me-memasak makanan nyonya!"
"Kalau begitu panggil dia. Siapapun yang berani menyembunyikan sebuah kebenaran, aku tidak akan segan-segan memutuskan kepala dari lehernya!"
Ancaman Elena membuat nyali mereka menciut seketika. Aura yang dia keluarkan cukup kuat hingga tak ada yang berani untuk sekedar membuka suara.
Pelayan tersebut datang langsung membungkuk di hadapan Elena, meminta untuk diampuni.
"Katakan ... Apa yang sudag kau campurkan dalam makanan buatanmu!" Suara rendah Elena membuat pelayan itu gemetar.
"A-ampun nona ... Sa-saya sebelum meminta untuk m-makanan itu di a-antarkan, s-saya sempat keluar k-karena dipanggil o-oleh tuan. Begitu saya k-kembali, saya melihat seorang pe-perempuan keluar dari dapur. Saya tidak menaruh cu-curiga dan langsung meminta pelayan pribadi nyonya untuk mengantarkan ma-makanannya!"
"Bangs*t!"
Semua tercengang, pasalnya tidak ada yang mengerti bahasa itu.
"Sialan! Di mana tabib, aku menyuruh kalian memanggil tabib, apa perlu telinga kalian aku lubangi dengan pedang, ha?"
"Elena, tenang!"
Lucas memeluk adiknya, dia tahu betapa sang adik sangat khawatir saat itu.
"Bagaimana bisa aku tenang saat nyawa ibu sedang terancam. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang telah berani membuat ibu seperti ini!"
Elena pun melepas pelukan kakaknya secara kasar dan berlalu begitu saja.
Kini, langkahnya terhenti tepat di depan ruang kerja sang ayah. Awalnya penjaga meminta Elena untuk tidak masuk, tetapi dia mengancam akan membunuh mereka.
Begitu akan membuka pintu, Elena mendengar suara yang membuat kemarahannya semakin menjadi.
"Tua bangka sialan!"
Bersambung ...