Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat,Tempat untuk Bernapas Lega
Min-woo masih berdiri di kamar, pipinya masih terasa panas dan perih dari tamparan Ayahnya. Matanya secara tidak sengaja jatuh ke arah meja belajar, di mana sebuah bingkai foto berdiri tegak. Di dalamnya, tergambar sosoknya yang masih kecil bersandar pada kakak laki-lakinya, keduanya tersenyum lebar dengan wajah penuh kebahagiaan.
Mata Min-woo membesar sedikit, dan ia melangkah perlahan mendekati foto itu. Jari-jarinya meraba permukaan kaca bingkai dengan lembut. Kenangan lama yang sudah ia coba sembunyikan sepenuhnya mulai muncul kembali, menyelip masuk ke dalam pikirannya.
Kakaknya—Min-jun—sangat menyukai musik, apalagi alat musik piano. Ia bisa memainkan berbagai lagu dengan lincah hanya dengan mendengar sekali. Di sekolah, Min-jun adalah anak yang sangat pintar, selalu mendapat nilai tertinggi di kelasnya. Kedua orang tua selalu membanggakannya, menyebutnya sebagai harapan keluarga yang akan menjadi musisi terkenal kelak.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Teman-teman di sekolah tidak suka dengan keunggulan Min-jun. Mereka mulai menyakitinya dengan kata-kata menyakitkan, menyebarkan desas-desus yang tidak benar, bahkan kadang menyakiti fisiknya. Min-jun menjadi korban bullying yang terus-menerus, tapi ia tidak pernah memberitahu orang tua—takut membuat mereka kecewa.
Min-woo ingat semuanya dengan jelas sekarang. Hari itu, hari yang kelam yang tidak akan pernah ia lupakan.
Ia sedang mencari Min-jun di sekolah karena orang tua minta menyampaikan pesan. Tiba-tiba, suara teriakan terjadwal dari atas gedung. Min-woo menoleh ke atas, dan melihat sosok kakaknya berdiri di tepi atap gedung sekolah. Sebelum ia sempat berteriak, Min-jun sudah melompat.
THUD!
Suara benturan yang keras terdengar, membuat seluruh orang di sekitar berhenti bergerak. Min-jun tergeletak tak berdaya di lantai tepat di hadapan Min-woo, darah mengalir deras dari tubuhnya, menyeka lantai yang kering. Matanya masih terbuka, penuh dengan rasa sedih dan kecewa. Lalu, dengan sisa tenaga yang ada, Min-jun menjulurkan tangannya ke arah Min-woo—seolah meminta tolong.
“Min… woo… tolong… aku…” bisiknya dengan suara yang sangat lemah, sebelum akhirnya matanya menutup dan nafasnya terhenti.
Saat ingatan itu muncul kembali, dada Min-woo mulai sesak parah. Ia merasa sulit bernapas, keringat membasahi dahinya, dan tubuhnya mulai gemetar hebat. Ia menjerit perlahan, suara tercekik di tenggorokan, sambil memegang dada yang terasa seperti tertutup oleh sesuatu yang berat.
Ia jatuh ke lantai, tubuhnya membungkuk, sementara ingatan tentang hari itu terus membanjiri pikirannya. Itulah alasan mengapa Min-woo membenci musik dan menolak semua keinginan Ayahnya untuk membuatnya menjadi musisi—karena musik selalu mengingatkannya pada kakaknya, pada kejadian yang tak terbalikkan. Dan itu juga alasan ia memutuskan menjadi pemburu hantu: untuk tidak melihat orang lain lagi terjebak dalam kesedihan yang membuat mereka mengambil keputusan buruk, seperti yang dilakukan kakaknya.
Setelah menenangkan diri sejenak, Min-woo mengusap kasar air matanya, lalu berdiri dengan langkah yang masih terasa berat. Ia membuka lemari pakaiannya, mengambil beberapa helai baju ganti beserta seragam sekolahnya, dan memasukkannya ke dalam ransel. Tanpa meninggalkan sepucuk surat atau pesan apa pun, ia melangkah keluar kamar, melewati ruang tamu yang sudah sepi, dan meninggalkan rumah tanpa pamit sama sekali. Orang tuanya sedang beristirahat di kamar masing-masing, sama sekali tidak menyadari bahwa putra mereka telah pergi meninggalkan rumah malam itu juga.
Dengan berjalan kaki menembus malam yang semakin larut, Min-woo tiba di depan pintu kontrakan Seung-hyun. Ia mengetuk pintu tiga kali dengan ritme yang tenang namun tegas.
Tok… tok… tok…
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Terlihat Seung-hyun yang baru saja bangun atau baru saja menyiapkan makanan, memegang mangkuk berisi ramen panas di tangannya. Wajahnya terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
“Min-woo? Kenapa kau datang selarut ini?” tanyanya.
Tanpa menjawab, Min-woo langsung melangkah masuk begitu saja, seolah sudah merasa betah di tempat itu. Ia meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu menuju ke dapur kecil yang ada di sana.
Seung-hyun mengikuti dari belakang, masih memegang mangkuknya. “Apa kau bertengkar lagi dengan Ayahmu?” tanyanya dengan nada sudah bisa menebak keadaan.
Min-woo tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia mengambil panci bersih, menaruhnya di atas kompor, dan mulai menuangkan air untuk memasak ramen juga. Lalu ia menoleh sebentar, bertanya dengan nada datar:
“Ada sosis tidak?”
Seung-hyun mengerutkan dahi, semakin heran dengan tingkah temannya itu. “Ada… ada di dalam kulkas. Tapi tunggu dulu, apa yang sebenarnya terjadi?”
Min-woo mengambil sosis itu, lalu melanjutkan kegiatannya seolah tidak ada halangan. Setelah beberapa detik hening, ia mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara yang mantap:
“Aku akan tinggal di sini seterusnya.”
Mendengar kalimat itu, Seung-hyun yang sedang menyuap makanan langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk hebat sampai matanya berkaca-kaca, buru-buru meletakkan mangkuknya dan mengambil segelas air untuk menenangkan tenggorokannya. Setelah agak pulih, ia segera menghampiri Min-woo yang masih sibuk di depan kompor.
“Kau yakin dengan ucapanmu itu?” tanyanya dengan nada serius dan penuh pertimbangan. “Kau tahu apa artinya tinggal di sini? Tidak ada kenyamanan seperti di rumahmu, dan orang tuamu pasti akan panik mencarimu ke mana-mana.”
Min-woo berhenti sejenak, memandang air yang mulai mendidih di dalam panci. Wajahnya terlihat lelah, namun ada keteguhan yang tidak bisa digoyahkan.
“Aku sudah memikirkannya matang-matang,” jawabnya pelan namun tegas. “Di rumah itu, aku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Setiap sudutnya hanya mengingatkanku pada harapan yang bukan milikku, dan kenangan yang menyakitkan. Di sini… setidaknya aku bisa bernapas lega.”
Seung-hyun hanya bisa menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan. Ia tahu betul beban yang dipikul oleh sahabatnya itu, dan ia tidak bisa menolak kehadirannya.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Tempat ini memang sempit, tapi masih ada ruang kosong untukmu. Anggap saja ini rumahmu juga. Tapi ingat, nanti kalau mereka mencarimu, kita harus pikirkan cara menghadapinya bersama-sama.”
Mendengar itu, untuk pertama kalinya malam itu, sedikit senyum tipis terukir di bibir Min-woo. Ia merasa sedikit lebih ringan, setidaknya ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Tak lama kemudian, ramen yang dimasak Min-woo sudah matang dan mengepulkan asap harum. Ia membaginya ke dalam dua mangkuk, menambahkan potongan sosis yang ia ambil tadi, lalu membawanya ke ruang tengah.
Mereka duduk berdampingan di lantai sambil bersandar pada sofa tua. Seung-hyun mengambil remot televisi dan menyalakannya, mencari saluran olahraga yang sedang menayangkan pertandingan sepak bola malam itu. Begitu melihat pemain-pemain berlari di lapangan, suasana yang tadinya tegang langsung berubah.
Suara sorak penonton dari layar televisi memenuhi ruangan kecil itu. Mereka menyantap ramen panas sambil sesekali berteriak atau berkomentar saat ada serangan mendekati gawang.
“Lihat itu! Umpannya pas sekali!” seru Seung-hyun sambil menunjuk layar, mulutnya masih penuh makanan.
“Apa yang kau bicarakan? Itu jelas salah arah, kalau aku yang pegang bola sudah pasti masuk,” balas Min-woo sambil tertawa kecil, ekspresi yang jarang terlihat di wajahnya belakangan ini.
Malam itu, tidak ada lagi pembicaraan tentang pertengkaran di rumah, tidak ada lagi tugas yang menakutkan, dan tidak ada lagi kenangan pahit yang menyiksa. Di antara tawa, komentar seru, dan rasa hangat makanan yang masuk ke perut, mereka seolah melupakan sejenak semua beban yang selama ini memikul pundak masing-masing.
Bagi Min-woo, malam ini terasa seperti nafas segar yang sangat ia butuhkan. Di tempat ini, bersama sahabat yang sudah mengerti sifat dan rahasianya, ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memenuhi harapan orang lain atau menyembunyikan rasa lelahnya.
Hingga pertandingan berakhir dan larut semakin malam, keduanya masih duduk di sana dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Setidaknya untuk malam ini, ketenangan berhasil mereka dapatkan, meskipun tahu keesokan harinya tantangan baru sudah menanti.