NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:110.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 | OH SHIT I'M DEAD ?

Ponsel Dante bergetar Panjang di atas meja kayu solid, memecah keheningan di kamar VIP tersebut. Dante tidak bergeming, matanya masih terpaku pada Elara yang terengah-engah dalam dekapannya.

"Ponselmu," bisik Elara, mencoba melepaskan diri.

Dante mendengus, meraih ponsel itu dengan satu tangan tanpa melepaskan Elara. Layar menunjukkan nama Elena Vanderbilt ibu Elara. Dante mengerutkan kening, lalu menekan tombol speaker

"Dante?" suara Elena terdengar di seberang, bukan suara ibunya Elara, melainkan suara seorang wanita paruh baya yang elegan. "Aku tahu kau ada di lantai sepuluh. Buka pintunya. Aku tahu kau tidak sendirian."

Dante membeku. Elara membelalak, wajahnya pucat pasi. Ibu Dante, Beatrice Moretti.*

"Ibu tidak seharusnya ada di sini," desis Dante, suaranya sarat akan peringatan.

"Dan kau tidak seharusnya membawa agen CIA itu ke sarang kita, Dante!" suara Beatrice tajam, tanpa basa-basi.

Elara panik. Ia segera melompat turun dari pangkuan Dante. "Aku harus bersembunyi ! Dia akan membunuhku atau setidaknya menghancurkan karierku dalam sekejap!"

Dante tidak tampak terganggu. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah santai, sementara Elara menyelinap ke balik tirai beludru tebal yang menutupi jendela besar.

Dante membuka pintu. Beatrice Moretti berdiri di sana, menatap putranya dengan tatapan yang lebih dingin dari musim dingin di Siberia. Ia melenggang masuk tanpa diundang, matanya langsung menyapu ruangan.

" Cukup berani kau membawa aset itu ke sini, Dante. Apa kau sudah lupa apa yang terjadi pada Sofia?" tanya Beatrice langsung, tanpa basa-basi.

"Jangan bawa-bawa Sofia," potong Dante, suaranya merendah, berbahaya.

"Ayahmu sedang dalam perjalanan dengan Melisa," ujar Beatrice, menatap Dante dengan simpati yang palsu. " Mereka akan sampai di sini dalam sepuluh menit. Jika mereka melihat wanita itu, mereka tidak akan hanya membunuhnya, mereka akan membakar hotel ini bersamanya."

Dante mengepalkan tangannya. "Aku bisa menjaga Elara."

"Kau tidak mengerti, Dante. Ini bukan soal perlindungan. Ini soal perang terbuka." Beatrice melangkah mendekati tirai tempat Elara bersembunyi. Dante menahan napas. Beatrice berhenti tepat di depan tirai, tersenyum sinis. "Katakan padanya untuk keluar. Rok gaunnya yang merah itu menjuntai keluar dari balik tirai. Sangat tidak profesional."

Elara terpaksa menyingkap tirai, berdiri tegak dengan wajah yang berusaha ia buat seberani mungkin. Beatrice menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, tatapan yang membuat Elara merasa seperti sedang dibedah.

"Jadi, ini gadis yang membuat putraku kehilangan akal sehatnya," gumam Beatrice.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Pintu lift terbuka tepat di seberang kamar, dan suara tawa yang familiar terdengar. Melisa Sterling muncul bersama Franco Moretti

"Oh, lihat siapa yang ada di sini!" seru Melisa, matanya memicing saat melihat pintu Dante terbuka. Ia melangkah keluar dari lift dengan angkuh, tapi langkahnya terhenti saat melihat Dante, Beatrice, dan Elara yang berdiri berdampingan di ambang pintu.

Melisa menatap Elara dengan tatapan yang membakar. " Dante? Apa yang dilakukan sampah ini di sini?"

Suasana di koridor itu mendadak beku. Franco Moretti tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan pisau.

" Ternyata benar rumor itu. Putraku lebih suka memungut sisa-sisa daripada menjaga kehormatan keluarganya."

Elara menatap Melisa, lalu menatap Dante yang kini berdiri di depannya sebagai pelindung. Ia tahu, tidak ada jalan keluar yang mudah dari sini. Malam ini bukan lagi soal misi atau rahasia ini adalah medan perang di mana setiap pihak siap untuk saling mencabik.

Dante melingkarkan lengannya di bahu Elara, menatap Melisa dan ayahnya dengan tatapan yang menantang segalanya. " Dia bukan sisa. Dia adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang tidak memiliki darah kotor seperti kalian semua."

"Kau baru saja menandatangani surat kematiannya, Dante," bisik Franco dengan nada mengancam.

Elara menggenggam tangan Dante di balik gaunnya, merasakan detak jantung pria itu. Ia tahu Permainannya baru saja dimulai.

Melisa maju dengan langkah yang menghentak, tangannya sudah terangkat tinggi untuk melayangkan tamparan telak ke wajah Elara. Namun, sebelum telapak tangannya mendarat, Elara mencekal pergelangan tangan Melisa dengan refleks seorang agen yang terlatih. Suasana di koridor hotel itu mendadak hening, hanya menyisakan deru napas Melisa yang memburu.

"Jangan pernah mencoba menyentuhku jika kau tidak ingin tanganmu patah, Melisa," bisik Elara dingin, matanya menatap tajam ke dalam iris Melisa yang dipenuhi amarah.

Beatrice Moretti, yang berdiri di samping mereka, menatap Pemandangan itu dengan alis terangkat, sementara Franco Moretti hanya tersenyum tipis, menikmati kekacauan di depan matanya.

"Lepaskan dia, Elara," suara Dante terdengar berat. Pria itu menarik Elara perlahan ke belakang Punggungnya, menempatkan tubuhnya di antara Elara dan Melisa.

"Dante ! Kau melindunginya?!" Melisa berteriak histeris, wajahnya memerah padam. " Kau mempermalukan dirimu sendiri dengan membawa wanita rendahan ini ke acara keluarga kita!"

Elara tidak tinggal diam. Ia menyingkir dari balik punggung Dante, menatap Melisa dengan ketenangan yang menghina.

" Rendahan? Kau menyebut dirimu terhormat padahal kau hanya bergantung pada nama keluarga Sterling dan pertunangan yang tidak diinginkan oleh pria di depanku ini? Kau bukan tunangan, kau hanya pengawas yang dikirim oleh ayahmu untuk memastikan Dante tidak lepas dari kendalimu. Sungguh menyedihkan."

Melisa ternganga, tak percaya dengan keberanian Elara. Namun, sebelum ia bisa membalas, Beatrice Moretti melangkah maju, memotong perdebatan itu dengan otoritas yang mutlak.

"Cukup. Perilaku kalian memuakkan," ujar Beatrice dingin. Ia menoleh ke arah Elara.

"Terima kasih untuk ponselku. Dan mengenai kau," ia menatap Melisa dengan tatapan tajam, "bersikaplah seperti seorang wanita terhormat jika kau ingin tetap berada di lingkaran keluarga ini."

Tanpa menunggu jawaban, Beatrice masuk ke dalam lift, diikuti oleh Franco yang masih menebar senyum misterius. Melisa menatap Elara dengan mata yang menjanjikan kematian, sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam lift yang sama dengan amarah yang tertahan.

Begitu pintu lift tertutup, koridor kembali senyap. Elara segera masuk ke dalam kamar VIP dan membanting pintunya, namun Dante masuk tepat di belakangnya dan mengunci pintu tersebut.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Elara, napasnya tersengal karena adrenalin.

"Pesta itu masih berlangsung di bawah, dan tunanganmu baru saja bersumpah akan membunuhku."

"Dia tidak akan menyentuhmu," jawab Dante singkat. Ia berjalan mendekati Elara, memojokkannya ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Tokyo yang mulai diselimuti kabut.

"Aku butuh kamar lain, Dante. Aku tidak akan berbagi tempat tidur dengan pria yang baru saja diancam oleh keluarga besar tunangannya sendiri," tegas Elara.

Dante terkekeh rendah, suara yang terdengar berbahaya di ruangan yang sunyi itu. "Ini hotel milikku, Elara. Dan saat ini, ini adalah satu-satunya ruangan yang memiliki sistem keamanan yang tidak bisa ditembus oleh siapapun, termasuk pengawal ayahku."

"Aku tidak peduli," balas Elara, mencoba melangkah pergi, namun Dante menahan tangannya dan menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan.

Dante memeluk Elara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.

" Aku mohon hanya untuk malam ini. Jangan tinggalkan aku sendiri dengan kegelapan di ruangan ini."

Suara Dante yang biasanya dominan kini terdengar retak, dipenuhi oleh kelelahan yang tersembunyi. Elara terdiam. Ia bisa merasakan detak jantung Dante yang tidak beraturan Jantung seorang pria yang selama ini dipandang sebagai predator, namun kini terlihat begitu rapuh.

Elara menghela napas panjang, kepasrahan mulai mengambil alih akal sehatnya.

"Aku akan tetap di sini," ucapnya pelan, membuat Dante mengeratkan Pelukannya seolah takut Elara akan menghilang. "Tapi, ada syaratnya."

●●●

1
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
hmmm 😍😍😍
Anonim
next😍😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
makin gemes😍😍😍
Tiara
next😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍p0ki🤭
Tiara
lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!