NovelToon NovelToon
The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:87k
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Timur

Pernikahan bahagia merupakan impian setiap orang. Menikah dengan orang yang dicintai dan mencintai pula dengan sepenuh hati. Namun, bagaimana jika keindahan pernikahan harus ternoda oleh persoalan keturunan?

Tiara, seorang putri tunggal pengusaha kaya, harus mengalami masa-masa sulit bersama Alfa, suaminya yang juga merupakan putra tunggal, yang digadang-gadangkan sebagai penerus pucuk pimpinan perusahaan keluarga, untuk harus bersabar lebih lama dalam mendapatkan keturunan karena Tiara yang ternyata memiliki keadaan lemah kandungan.

Helmia, sang ibu, bersikeras agar Alfa menikah lagi untuk dapat segera memiliki garis keturunan pewaris keluarga.

Apakah Alfa dan Tiara akan tetap teguh atas nama kekuatan cinta? Ataukah mereka akan berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Timur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-10 Kegembiraan Bersama

Lampu-lampu yang tampak di segala sisi jalan, berpadu dengan warna merah dan kuning keemasan yang terpasang pada kendaraan yang tengah berjalan nampak indah di depan mata. Alfa mengendarai mobilnya dengan kecepatan konstan. Ia harus segera menyelesaikan kemelut di hatinya ini secepat mungkin. Lelaki itu tak menyangka kalau kejutan Tiara adalah tentang hal yang lain. Ia mengira, Tiara akan memberinya kabar tentang apa yang sudah menjadi penyebab amarahnya tadi di studio.

Tiara hamil... Tiara benar-benar hamil...

Ia menoleh lagi ke amplop putih di dashboard mobilnya yang kini tengah kusut karena digenggamnya tadi. Dua garis merah nampak di layar kecil alat tes kehamilan yang mengisi amplop itu dan menjadi tanda bahwa istrinya tengah hamil muda. Hal itu membuat perasaannya penuh oleh rasa cinta, sayang, kagum, dan bahagia yang bercampur jadi satu, tetapi di satu sisi, Tiara tengah marah padanya. Rasa menyesal kembali menghampiri dan keadaan lalu lintas yang padat merayap ini menambah siksanya. Semoga saja Tiara pulang ke rumah dan dengan mudah ia bujuk. Namun, bagaimana jika Tiara marah dan memutuskan untuk singgah ke suatu tempat yang Alfa tak tahu?

Aarrgghhhh...

Alfa kesal sendiri dengan kemungkinan-kemungkinan yang dibuatnya. Ponsel Tiara dimatikan. Habis sudah.

******

Suara mesin mobil yang terdengar memasuki garasi sedikit mengejutkannya dari ambang tidurnya. Tiara kecewa. Ia menangis sampai tertidur. Telah ia putuskan untuk berpura-pura tidur saja sehingga suaminya itu tak mengajaknya bicara. Wanita itu begitu kecewa karena ekspektasinya yang terlalu tinggi. Bayangan dinner yang penuh nuansa romantis dan kejutan bahagia itu disambar habis oleh kemarahan Alfa. Suaminya memang seperti itu disaat kesal. Lelaki itu seperti tak punya energi untuk marah kepadanya sampai meletup-letup hingga berteriak misalnya. Masih dalam nada biasa namun dengan perkataan yang cukup untuk membuatnya menangis.

Tiara mendengar betul langkah Alfa memasuki rumah, meletakkan tas di meja kerja, dan berjalan menuju kamar mereka lalu membuka pintu. Pergi ke kamar mandi sebentar dan sepertinya berganti pakaian kemudian naik ke atas ranjang. Berselimut, memeluknya dari belakang.

Alfa mengelus perutnya perlahan dalam kependiaman yang sama dengan Tiara.

Apakah Alfa berarti telah membuka amplop kecil yang dibawanya tadi?

Wanita itu lupa membawanya kembali saat sudah berada di luar pintu restoran. Malas untuk kembali dan sudah tak peduli lagi. Tetapi kali ini, sikap Alfa membuatnya langsung tersentuh begitu saja dan setengah terpaksa ia membuka mata.

Ah, sikap mana coba dari Alfa yang tak membuatnya tertarik? Ia mudah sekali menurut seperti ditarik magnet jika bersama lelaki ini.

Alfa menarik pundaknya agar Tiara mengubah posisi tidur. Dan ... ya, Tiara bergerak namun memalingkan muka dengan mata tertutup.

"Aku hanya ingin bicara dengan anakku," lirih Alfa yang berhasil membuat Tiara menoleh. Alfa memandangnya dengan tatapan sendu. Dilihatnya mata Tiara yang sembap dengan kantung mata besar pertanda ia telah menangis dan tertidur.

Tak tahan melihat itu semua, dipeluknya Tiara erat dengan sedikit menarik paksa. Terhanyut dalam suasana haru bersama, Tiara pun akhirnya turut memeluk Alfa.

"Maaf ... maaf Tiara ... dan terima kasih," ucapnya sembari mengusap punggung istrinya dengan sentuhan ringan selama beberapa lama.

Alfa kemudian melepas pelukan dan bergerak mendekati perut istrinya. Meletakkan kepala di sana tapi tetap menyangga tubuhnya dengan tangan. Lupa akan segala beban pikirannya tadi, berganti begitu saja dengan rasa bahagia yang menyebar ke seluruh tubuh.

"Hai ... kau di sana? Kau mendengar ayah?" Alfa berbicara dengan anaknya seolah ia berada di hadapannya dan bisa menjawab.

Tiara tersenyum. "Masih kecil. Mungkin masih seukuran biji kacang," ucapnya.

"Besok kita ke Dokter Jeni ya sayang ... mari kita lihat, setampan apa dirimu." Masih dengan posisi yang sama.

Mencium perut istrinya, "Baik-baik di sana ya, Ayah ingin sekali mengunjungimu." Mengusap perlahan.

"Eh!" Tiara memekik terkejut saat tangan Alfa menyentuh ke mana-mana.

"Tidak mau!" Tiara memiringkan badan dan memunggungi.

Alfa mengangkat sebelah alis. "Benarkah ...?" Masih dengan tangan liarnya.

"Tidak sebelum bertemu dengan Dokter Jeni dan memastikan bahwa semua baik-baik saja," tukasnya.

Alfa mendesah dan menghentikan aksinya. Berbaring di samping Tiara berbantalkan kedua tangan.

"Oke. Baiklah. Ibumu kejam sekali pada Ayah nak."

Tiara terkekeh.

Suara nada dering ponsel Alfa menyela mereka. Spontan keduanya menoleh ke sumber suara. Dengan susah payah, Alfa menarik ponsel yang ada di saku celana.

Mama Berta?

"Siapa?" Tiara duduk menengok ke arah layar karena walau sudah ada di tangan, Alfa tak kunjung menjawab telepon.

"Mamamu." Alfa mengangkat kedua alis.

"Angkatlah ...." Tiara berkata dengan muka melengos, malu karena ponselnya tadi ia matikan. Mungkin saja Mamanya hendak menghubunginya namun tak bisa tersambung.

"Mama." Alfa menyapa.

"Alfa ... di mana kau? Tiara sedang bersamamu bukan? Mama menghubunginya, tetapi tak bisa terhubung sedari tadi. Di mana dia?" Pertanyaan menyudutkan dari Mama mertua tersayang yang terdengar memekik di telinga membuat Alfa menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar dengan meringis.

"Maaf Ma. Iya, Tiara ada di rumah bersamaku dan baik-baik saja."

"Apa kalian bertengkar?"

Alfa langsung menatap Tiara yang juga tengah menyimak.

"Tidak. Kami hanya sedang berbahagia." Alfa tersenyum.

"Ada apa?"

"Tiara hamil muda," jawabnya dengan bersemangat.

"Benarkah? Tiara hamil? Ah, Mama tak sabar ingin bertemu dia." Terdengar suara kegirangan dari ujung telepon beberapa saat.

"Kami akan datang nanti di waktu senggang. Mama hendak menghubungi Tiara tadi bukan? Apa Mama baik-baik saja?"

"Ah, iya Alfa, Mama hanya rindu dan ternyata benar, Mama menghubungi di waktu yang tepat karena kalian sedang diliputi kabar baik."

"Terima kasih."

"Baik. Istirahatlah," ujarnya langsung menutup pembicaraan dan mematikan telepon.

"Kau hendak memberi tahu Mamamu tentang ini?" Tiara bertanya kembali.

"Tentu saja. Mama pasti sangat gembira mendengar kabar ini." Alfa bangkit dari duduknya di ranjang dan mengambil sesuatu dari laci meja nakas.

"Lihatlah, aku hampir gila karena dokter Jeni. Ia membuatku terhantui kabar buruk ini sepanjang malam." Alfa menaruh amplop besar berwarna coklat ke hadapan Tiara.

Ini seperti amplop yang dibawa Alfa di rumah sakit waktu itu ...?

"Ini-" Tiara tergugu akan kata-kata yang hendak diucapkannya. Dan Alfa cukup paham.

"Iya. Itu hasil tes darahmu. Maafkan aku telah berbohong waktu itu karena benar-benar tak ingin membuat Mama menghebohkan rumah sakit ketika mengetahui ini."

Tiara membuka amplop itu dengan berhati-hati serta mengeluarkan kertas kecil di dalamnya. Membaca lambat-lambat apa yang tertulis di sana.

"Kehamilanmu saat ini sungguh sebuah keajaiban Tiara. Dokter Jeni berkata bahwa dengan keadaanmu yang demikian, kemungkinan kau bisa hamil hanya 40 persen."

Tiara mendongak.

"Sebenarnya, bagaimana Mama? Sampai-sampai kau seringkali merasa takut Ia akan menyakitiku?"

Alfa balas menatapnya dengan terkejut karena Tiara mempertanyakan hal lain yang ia pun tak bisa menjawab.

******

"Apa Alfa benar-benar akan menolak jika ku memintanya untuk datang sebagai wakil ketika pertemuan para CEO pekan depan?"

Yunus sedang berada di depan laptopnya, menerawang ke depan. Bertanya pada Helmia, namun sepertinya ia lebih ke bertanya pada diri sendiri.

Anak semata wayangnya yang dulu begitu ia nantikan kehadirannya itu kini tak mau bekerja sama dengannya. Alfa dengan sombongnya berkata bahwa dia akan sangat berterima kasih ketika orang tuanya menaruh kepercayaan padanya menjadi seorang pemimpin, akan tetapi, ia lebih bahagia ketika ia bisa meraih segala sesuatunya dengan kerja kerasnya sendiri. Ia ingin merintis usahanya sendiri dari awal dan tidak mengandalkan orang tuanya sebagai jaminan kemudahan.

"Aku hanya ingin memperkenalkan pada semua kolega, bahwa anakku itu bisa diandalkan. Ingin sesekali kulihat dia memakai setelan jas dan berdiri di antara orang berjas pula, tidak melulu di puncak gunung atau aktivitas outdoor lainnya."

"Biarkan aku yang bicara padanya." Helmia menyahut singkat.

******

"Apa? Kau mau? Mama tak salah dengar?" Helmia takjub atas apa yang baru saja didengarnya. Ia menutup mulutnya yang ternganga bahagia dengan jari jemarinya yang lentik. Tak menyangka Alfa dengan mudah mau menuruti keinginannya tanpa berbantahan seperti biasa. Ia mendeham kemudian dan menempelkan ponselnya kembali ke telinga.

"Ya. Aku sedang sangat senang kali ini. Jadi, aku mau mengabulkan permintaan Papa sebagai hadiah tambahan dariku." Nada angkuh muncul di sana. Ia tentu saja harus mendapat imbalan setimpal atas apa yang telah dilakukannya. Seringaian puas muncul di sana. Alfa tak menduga, jalan untuk masuk ke perusahaan ayahnya semulus ini, tanpa ia harus membuat-buat alasan agar tak mencurigakan orang-orang ayahnya. Ada rencana terselubung yang akan ia jalankan, dan dengan ini, ia tak perlu menunda lagi.

"Hadiah tambahan?"

"Ya. Aku mempunyai hadiah utamaku untuk Mama."

"Apakah itu?"

Terdengar embusan napas Alfa di seberang telepon. Bersiap memberi jawaban.

"Tiara mengandung."

Helmia terkejut kedua kalinya. Langsung terbayang pada sosok bayi kecil yang akan segera ada di pangkuannya. Suara senyum di bibirnya terdengar sampai telinga Alfa.

"Mama senang mendengarnya."

"Aku percaya itu."

"Baiklah. Jangan lupa persiapkan dirimu. Papa akan sangat bahagia memandangmu dari kejauhan dengan tubuh tegapmu yang mengenakan jas."

Tak memberi respon. Alfa memutus sambungan begitu saja.

1
Fitri Afrilia
ngasih kejutan mulu nah dkejutin balik dehh...hehehe yg sabar yaa
Fitri Afrilia
haiii aq mampir d karya mu ya...
Arum
Tiara bukan kamu saja yg sedih atas apa yg menimpamu. tetangga aku jg persis sepertimu. bahkan lebih dari 5kali hamil tp berakhir dg keguguran. sabar ya Tiara skenario tuhan akan indah diakhir nanti.
Bintang Timur: wah.. sedih ya
total 1 replies
Arum
sama sama berjuang ya tiara alfa. kalian luar biasa, saling menguatkan demi kebahagiaan kalian
Arum
jd inget waktu hamil. gak mau makan masakan sendiri . ntah rasanya nikmat sekali makan masakan tetangga. pernah saat itu cuma pngen makan sama krupuk aj . suami marah2 karna harus ke warung malam2. langsung nangis kenceng bgt. Km harus bangga Tiara pnya suami macam Alfa. gak smua calon ayah paham hormon sama kemauan ibu hamil itu sulit ditebak.
Arum
suka dg jenis novel semacam ini. Narasi dg susunan kata yg tertata apik. meski sudah end tetep tak kasih semangat othor
LEANA
bagus novelnya cm maaf ya thor terlalu banyak ceritanya drpda percakapannya...
Bintang Timur: terima kasih Leana telah membaca
hihi...iya, karena ternyata ada banyak hal yang bisa dimengerti tanpa kita berbicara #uhuk
total 1 replies
Andriyah Nurhidayati
boleh ndak nimpuk mamanya Alfa secara online
Bintang Timur: wkwkwk silakan...silakan...
total 1 replies
Andriyah Nurhidayati
semangat tiara, klo mami mertuamu si Helmia itu gur arep misahke koe karo Alfa, diarsenik saja
Andriyah Nurhidayati
siap saja menantu perempuan yg baca novel ini pasti pingin nimpuk si Helmia itu sampai koma
Andriyah Nurhidayati
morotuo ra genah coba aja dia yg sakit lumpuh atau terkena penyakit ganas trus mlaah ditinggal mingagat karo suamine, jal rasane piye, anak itu hak pretigatifnya Allah ora isoh disegerakan koyo gawe roti wae, mamer gak ada akhalak
Bintang Timur: wkwkwkwk sabar... sabaarr.. 😂😂
total 1 replies
Bunga
novelnya bagus banget, beda dari yang beda
Bintang Timur: terima kasih sudah membaca
total 1 replies
Vera Wilda
kok Tiaranya pakai motor ya thor.... 😊😊
Bintang Timur: iya, dia perempuan sederhana nan anggun
total 1 replies
Belinda Marchely
Nah, kaaannnn 😔
Belinda Marchely
Hmmm, emaknye si Alfa lagi gue pantau, nih 🙄
Bintang Timur: wkwkwkwk
total 1 replies
Belinda Marchely
Duh, jadi teringat pengalaman sendiri nih 🤣☺️
Belinda Marchely: Bangeeettt 🤣🤣
total 4 replies
Belinda Marchely
Saileehh, malu-malu pertama2nya si Tiara ☺️
Bintang Timur: malu-malu tapi mau... 😆😆

wah, langsung meluncur kemari nih
makasih banyak Kak 💜😘😘
total 1 replies
Rahayu Yayuk
love You Thor
Bintang Timur: lopyu tuu.....
total 1 replies
Ghina
kok END sih kak🙄😢
Bintang Timur: nanti kalau lanjut terus jadi kayak sinetron 😅😅😆😆😆
total 1 replies
Neni Nurhaeni
Ditunggu karya selanjutnya thorrrrr....😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!