The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh

Episode-1 Pernikahan

Sebuah gedung pertemuan bernuansa bangunan Belanda tengah ramai dengan begitu banyak orang. Kesemuanya hampir mengenakan gaun pesta dengan make up sempurna menghias wajah. Rangkaian bunga terjuntai di mana-mana, tak lupa hiasan dedaunan dan kain tipis yang melambai-lambai tertiup angin ditata dengan pasnya. Rumput Jepang sebagai alas menjadi penyempurna seolah pemilik acara memang benar-benar menginginkan suasana hijaunya kebun nan damai.

Di atas panggung yang menjadi tempat lebih tinggi sebagai pelaminan, berdiri sepasang kekasih yang kini telah menyatukan cinta sebagai pasangan suami istri. Mempelai lelaki tampak mengenakan tuksedo berwarna hijau botol dengan aksen gelap. Kemeja dengan warna lebih muda, jam tangan berwarna hitam mengkilap senada dengan sepatu yang dikenakannya membuatnya seperti pangeran dari negeri dongeng. Di sampingnya berdiri wanita cantik mengenakan gaun panjang membentang dengan warna yang sama. Kulitnya yang putih bersih, rambut berwarna coklat keemasan dan rangkaian bunga kecil warna-warni yang menghias di kepala menjadikannya bak dewi yang turun dari kahyangan. Masih dilengkapi dengan senyum yang tak henti terulas dari bibirnya yang meski dipoles dengan lipstik, namun tetap cantik dan tidak berlebihan.

Keduanya tampak mencolok dengan pelaminan yang didominasi oleh warna putih. Bunga-bunga yang terangkai indah memagar di area belakang, lampu-lampu kecil redup yang merantai diletakkan dengan tepat di tempatnya, sungguh sesuai dengan keinginan mereka saat ini.

Berkali-kali ia menolehkan kepala ke arah kanan dimana suaminya pun juga tengah takjub menatapnya seperti baru saja bertemu. Sejujurnya ia benar-benar kagum dengan wanitanya saat ini. Terlihat sangat mempesona tidak seperti dihari-hari biasa. Mungkin karena kebiasaan istrinya ini yang selalu memulaskan riasan sederhana, sehingga ketika para perias me-make over wajahnya, ia tampak lain dan sangat cantik.

"Tiara, duduklah jika lelah." Helmia, ibu mertuanya mengangsurkan segelas cola dingin dengan senyum ke arahnya, lalu, menunggu di sampingnya dan memiringkan kepala ke arah Alfa menuntut perintah yang sama.

Tiara tampak menyesap setengah dari satu gelas penuh cola-nya dengan rasa lega. Para perias yang tampak berdiri tak jauh dari panggung kemudian memajukan dirinya untuk menata gaun yang dikenakan Tiara agar memudahkannya untuk melangkah dan duduk di kursi pelaminan.

Alfa tampak tak mau melepaskan tangannya dari Tiara dan membantunya duduk.

"Terima kasih Alfa, aku benar-benar hanya meminta dua hal padamu, tetapi, kau bisa mengabulkannya dengan hal luar biasa seperti ini." Senyum penuh rasa haru nampak di wajahnya.

"Apa yang tidak akan kukabulkan untukmu Tiara? Dan, ini semua sesuai permintaanmu bukan? Pesta pernikahan yang didominasi warna putih dan hijau, serta rangkaian hiasan bunga-bungaan." Dengan bangga ia menyapu pandang ke segala arah dan berakhir ke arah Tiara dengan senyum manis yang juga tersungging di sana.

Beberapa tamu undangan yang mendekat hendak berpamitan membuat keduanya berdiri dari tempat duduk dan menyalami dengan penuh penghormatan.

Tiara sangat lelah hari ini, akan tetapi, sungguh, ini adalah lelah yang menyenangkan dan membahagiakan. Menikah dengan pria yang dicintainya, disambut dengan pesta pernikahan yang meriah.

******

Duduk berhadapan, Yunus, ayah Alfa, Helmia, ibu Alfa, serta Berta ibu Tiara di paviliun kecil area belakang gedung pertemuan. Mereka tengah menikmati teh hangat yang disediakan oleh pelayan catering, membuang lelah setelah seharian berkutat dengan para tamu undangan di pernikahan putra dan putri tunggal mereka.

"Apakah Anda baik-baik saja Nyonya Berta?" Yunus akhirnya mengeluarkan suara setelah meneguk dengan penuh kepuasan rasa teh hangat yang disediakan, kemudian meletakkan kembali ke atas meja. Tadi sempat dalam sekilas pandang, besannya yang tengah duduk di atas kursi roda itu tampak muram.

"Ya, seperti yang kau lihat. Aku sedang menantikan kesepian yang sebentar lagi akan datang," ucapnya datar dengan senyum seadanya.

Tiara adalah anak satu-satunya sekarang. Bertahun-tahun berjuang dan menguatkan diri menjadi single parent tentulah tidak mudah. Ayah Tiara meninggal dunia di usianya yang ke-60 tahun. Dua orang kakak laki-laki Tiara wafat ketika usia mereka masih balita dan berusia 10 tahun. Kehilangan demi kehilangan tak membuat Berta menyerah, hingga lahirlah putri kecilnya yang telah tumbuh dewasa sekarang dan akan memulai hidup baru.

Sebenarnya, bukan hanya berdua dengan Tiara saja ia tinggal, ada satu perawatnya yang juga tinggal bersama, menemani dan melayani segala kebutuhannya sejak lama yang sudah seperti keluarga.

Yunus menampakkan senyum menyemangati sebelum berkata, "Aku tahu rasanya Nyonya Berta. Aku dan Helmia bahkan sudah lama merasakannya. Jauh dari anak sejak ia berusia sekolah menengah."

"Tapi kurasa, ada benarnya juga mereka memilih hidup terpisah dari kita." Helmia turut menyimak dan mengeluarkan isi hatinya. "Mereka akan benar-benar memulai dan belajar satu sama lain, menyesuaikan diri mereka ketika hidup bersama." ditatapnya Berta dengan rasa hangat yang sama.

"Kau benar. Kita sebagai orang tua tentu sudah berpengalaman dengan semuanya, tetapi, terlalu mencampuri urusan mereka bukan hal yang bijak, meskipun pada akhirnya, kita harus bertindak juga ketika ada hal-hal krusial yang membutukan campur tangan kita." Berta berkata dengan pandangan menerawang.

"Jangan terlalu dipikirkan Berta, aku bisa datang ke tempatmu dan kau bisa mengunjungiku juga kapanpun kau mau." Helmia berbinar-binar mencerahkan suasana.

******

Tiara masih duduk di depan toalet memandang pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya. Senyumnya merekah dan dengan riang ia mengambil sisir di atas meja dan menyisir rambutnya. Ia telah berganti pakaian setelah membersihkan badan.

Di belakangnya, para perias nampak masih sibuk berkemas. Memasukkan segala rupa alat rias ke dalam boks-boks hitam berukuran besar.

Alfa masih belum kembali dari gedung pertemuan. Memastikan segala pembersihan area cepat dilakukan mengingat gedung ini akan dipakai kembali esok lusa.

Stefany, periasnya, mendekat ke arah Tiara dan memegang kedua pundaknya dengan senyum. Mengembuskan napas panjang kelegaan. Tiara menatap Stefany melalui kaca di depannya dan menggenggam tangan Stefany yang tersampir di pundaknya.

"Selamat ya Tiara, aku tak bisa memberimu hadiah pernikahan lebih dari ini."

Tiara mengangkat satu alis. Ia tahu, Stefany adalah perias kepercayaan ibunya sejak beberapa tahun lalu. Ia menawarkan diri menjadi periasnya begitu mengetahui Tiara akan menikah. Dan tentu saja, ia tidak memungut biaya kali ini dan menganggap apa yang dilakukannya adalah hadiah.

"Ini pemberianmu yang luar biasa Stef, kau selalu merendahkan diri. Aku sangat berterima kasih. Kau selalu mengerti yang aku inginkan." Tiara mendongak demi menatap wajah Stefany secara langsung.

Stefany kemudian menunduk dan berucap sambil setengah berbisik.

"Apa aku perlu meriasmu kembali untuk malam pertamamu?" Ucapnya menggoda.

"Tidak perlu Stef, aku lebih suka Tiara yang natural." Alfa mendadak sudah berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu berdiri dengan santainya, menyakukan kedua tangan pada saku celana. Mata cokelat mudanya memandang dengan penuh kasih kepada wanita yang masih duduk tak jauh darinya.

Tiara dan Stefany sontak menengok ke sumber suara, hingga kemudian, Tiara menjadi salah tingkah.

"Oke. Tugasku sudah selesai. Aku harus pulang." Stefany menepuk bahu Tiara lalu mengambil tasnya di sofa seberang dan berpamitan. Ketika sampai pintu, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Alfa dan mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat rendah hingga tidak bisa terdengar sampai ke telinga Tiara. Entah apa yang dikatakan perempuan itu sampai-sampai berhasil membuat Alfa tersenyum hingga menampakkan gigi-giginya.

"Ayo Tiara. Kita juga harus pulang, karena aku sudah tidak sabar." Lelaki itu mengedikkan kepala ke arah luar pintu dengan ekspresi menggoda.

Tiara hanya menoleh sebentar dengan senyum pula yang terulas di bibirnya, kemudian menunduk dengan sikap malu untuk kemudian berdiri dan beranjak dari duduknya.

Terpopuler

Comments

Belinda Marchely

Belinda Marchely

Saileehh, malu-malu pertama2nya si Tiara ☺️

2020-08-26

1

°•°vivï:)

°•°vivï:)

aku nyampe sini karna rekomendasi dri uncle bram semoga ceritanya menarikyahk😁

2020-08-02

2

uciie sucay

uciie sucay

mampir

2020-07-15

2

lihat semua
Episodes
1 Episode-1 Pernikahan
2 Episode-2 Rumah Baru
3 Episode-3 Keinginan
4 Episode-4 Perhatian Mama
5 Episode-5 Sakit
6 Episode-6 Kejutan Menyedihkan
7 Episode 7 - Lukisan Wajahmu
8 Episode-8 Kembali Bekerja
9 Episode-9 Kemarahan Alfa
10 Episode-10 Kegembiraan Bersama
11 Episode-11 Periksa Kandungan
12 Episode-12 Bertemu Mantan
13 Episode-13 Sebuah Rencana
14 Episode-14 Teka Teki
15 Episode-15 Kehilangan
16 Episode-16 Air Mata
17 Episode-17 Tersenyum Kembali
18 Episode-18 Gallery
19 Episode-19 Kesempatan
20 Episode-20 Bersekutu
21 Episode-21 Tanpa Sadar
22 Episode-22 Kedua Kali
23 Episode-23 Pertengkaran
24 Episode 24 - Melukis Harapan
25 Episode 25 - Lebih Dekat
26 Episode 26 - Pulang
27 Episode 27 - Kepedihan
28 Episode 28 - Melepas Rindu
29 Episode 29 - Lemah
30 Episode 30 - Bertahan
31 Episode 31 - Mati Bersamamu
32 Episode 32 - Tak Terduga
33 Episode - 33 Kecewa
34 Episode-34 Kembali Pulang
35 Author Menyapa
36 Episode-35 Merawatmu
37 Episode-36 Dilema
38 Episode 37 - Wonder Woman
39 Episode 38 - Hidroterapi
40 Episode 39 - Bukan Kejutan
41 Episode 40 - Kolam Renang
42 Episode 41 - Wanita itu
43 Episode 42 - Berbeda
44 Episode 43 - Menemani
45 Episode 44 - Asisten?
46 Episode 45 - Tanda Kehamilan
47 Episode 46 - Tempat Terbaik
48 Episode 47 - Balas Budi
49 Episode 48 - Bertemu Lagi
50 Episode 49 - Ayah Sejati
51 Episode 50 - Kabar Buruk
52 Episode 51 - Salam Perpisahan
53 Episode 52 - Sepercik Rindu
54 Episode 53 - Rencana Terselubung
55 Episode 54 - Keputusan
56 Episode 55 - Bersandiwara
57 Episode 56 - Menunggu Kabar Baik
58 Episode 57 - Lelaki Penggoda
59 Episode 58 - Mengintai
60 Episode 59 - Permintaan
61 Episode 60 - Bersabar
62 Episode 61 - Langkah Terbaik
63 Episode 62 - Tak Ada Pilihan
64 Episode 63 - Emosional
65 Episode 64 - Wanita dan Cinta
66 Episode 65 - Rencana Terakhir
67 Episode 66 - Kucing Persia
68 Episode 67 - Bahagia
69 Episode 68 - Mencari Kebenaran
70 Episode 69 - Kamuflase
71 Episode 70 - Muara Rindu
72 Episode 71 - Nadia
73 Episode 72 - Mendekap Luka
74 Episode 73 - Secercah Harapan
75 Episode 74 - Romantika
76 Episode 75 - Titik Balik
77 Episode 76 - Melepas Beban
78 Episode 77 - Bertamu
79 Episode 78 - Restu Mama
80 Episode 79 - Antipati
81 Episode 80 - Panik
82 Episode 81 - Memulihkan Diri
83 Episode 82 - Penerimaan
84 Episode 83 - Mimpi Itu
85 Episode 84 - Persiapan
86 Episode 85 - Memaksa Diri
87 Episode 86 - Menjemput Waktu
88 Episode 87 - Akhir Penantian
89 Episode Penutup - Mencintaimu
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Episode-1 Pernikahan
2
Episode-2 Rumah Baru
3
Episode-3 Keinginan
4
Episode-4 Perhatian Mama
5
Episode-5 Sakit
6
Episode-6 Kejutan Menyedihkan
7
Episode 7 - Lukisan Wajahmu
8
Episode-8 Kembali Bekerja
9
Episode-9 Kemarahan Alfa
10
Episode-10 Kegembiraan Bersama
11
Episode-11 Periksa Kandungan
12
Episode-12 Bertemu Mantan
13
Episode-13 Sebuah Rencana
14
Episode-14 Teka Teki
15
Episode-15 Kehilangan
16
Episode-16 Air Mata
17
Episode-17 Tersenyum Kembali
18
Episode-18 Gallery
19
Episode-19 Kesempatan
20
Episode-20 Bersekutu
21
Episode-21 Tanpa Sadar
22
Episode-22 Kedua Kali
23
Episode-23 Pertengkaran
24
Episode 24 - Melukis Harapan
25
Episode 25 - Lebih Dekat
26
Episode 26 - Pulang
27
Episode 27 - Kepedihan
28
Episode 28 - Melepas Rindu
29
Episode 29 - Lemah
30
Episode 30 - Bertahan
31
Episode 31 - Mati Bersamamu
32
Episode 32 - Tak Terduga
33
Episode - 33 Kecewa
34
Episode-34 Kembali Pulang
35
Author Menyapa
36
Episode-35 Merawatmu
37
Episode-36 Dilema
38
Episode 37 - Wonder Woman
39
Episode 38 - Hidroterapi
40
Episode 39 - Bukan Kejutan
41
Episode 40 - Kolam Renang
42
Episode 41 - Wanita itu
43
Episode 42 - Berbeda
44
Episode 43 - Menemani
45
Episode 44 - Asisten?
46
Episode 45 - Tanda Kehamilan
47
Episode 46 - Tempat Terbaik
48
Episode 47 - Balas Budi
49
Episode 48 - Bertemu Lagi
50
Episode 49 - Ayah Sejati
51
Episode 50 - Kabar Buruk
52
Episode 51 - Salam Perpisahan
53
Episode 52 - Sepercik Rindu
54
Episode 53 - Rencana Terselubung
55
Episode 54 - Keputusan
56
Episode 55 - Bersandiwara
57
Episode 56 - Menunggu Kabar Baik
58
Episode 57 - Lelaki Penggoda
59
Episode 58 - Mengintai
60
Episode 59 - Permintaan
61
Episode 60 - Bersabar
62
Episode 61 - Langkah Terbaik
63
Episode 62 - Tak Ada Pilihan
64
Episode 63 - Emosional
65
Episode 64 - Wanita dan Cinta
66
Episode 65 - Rencana Terakhir
67
Episode 66 - Kucing Persia
68
Episode 67 - Bahagia
69
Episode 68 - Mencari Kebenaran
70
Episode 69 - Kamuflase
71
Episode 70 - Muara Rindu
72
Episode 71 - Nadia
73
Episode 72 - Mendekap Luka
74
Episode 73 - Secercah Harapan
75
Episode 74 - Romantika
76
Episode 75 - Titik Balik
77
Episode 76 - Melepas Beban
78
Episode 77 - Bertamu
79
Episode 78 - Restu Mama
80
Episode 79 - Antipati
81
Episode 80 - Panik
82
Episode 81 - Memulihkan Diri
83
Episode 82 - Penerimaan
84
Episode 83 - Mimpi Itu
85
Episode 84 - Persiapan
86
Episode 85 - Memaksa Diri
87
Episode 86 - Menjemput Waktu
88
Episode 87 - Akhir Penantian
89
Episode Penutup - Mencintaimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!