"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006 - Masa Lalu Kirana
Arya tidak langsung membalas pesan Denny.
Ia meletakkan ponsel di meja, layar menghadap bawah.
Kirana masih duduk di meja makan dengan mangkuk soto di depannya. Ia melihat perubahan kecil di wajah Arya.
"Ada apa?"
"Pesan kampus. Aku urus besok."
"Dari siapa?"
"Denny Hartono."
Sendok Kirana berhenti.
Nama itu membuat udara di ruang makan berubah.
"Dia menghubungimu?"
"Dia minta bertemu besok di bawah gedung fakultas."
Kirana menutup mata sebentar. "Aku sudah lama menolak dia. Aku kira dia akan berhenti sendiri."
"Dia tidak terdengar seperti orang yang mudah berhenti."
"Denny terbiasa mendapatkan semua yang dia mau." Kirana menatap mangkuk soto. "Aku dulu selalu menghindar karena kalau dilawan, dia makin suka membuat keributan."
Arya menarik kursi dan duduk di depannya.
"Kamu takut dia?"
"Aku takut masalahnya melebar."
"Kalau melebar, aku hadapi."
Kirana menatapnya. "Kamu selalu bicara begitu sejak kemarin."
"Karena memang itu pilihanku."
Malam makin larut. Hujan kecil turun di luar jendela apartemen. Suara kota Surabaya terdengar jauh dari Tower A Lt.16. Kirana tidak kembali tidur. Ia membawa selimut tipis ke balkon, lalu duduk di kursi dekat kaca.
Arya membuat air hangat dan meletakkannya di meja kecil.
"Kamu perlu istirahat."
"Kalau aku tidur, aku mimpi Mama."
Arya duduk di kursi sebelahnya.
Kirana memegang gelas dengan dua tangan. Uap air hangat menyentuh wajahnya.
"Ayahku meninggal waktu aku tujuh tahun," katanya pelan.
Arya diam.
"Dia kerja di proyek bangunan dekat Malang. Jatuh dari lantai atas. Katanya kecelakaan. Pemilik proyek cuma datang sekali, kasih uang santunan sedikit, lalu hilang."
Kirana menatap lampu kota di bawah.
"Sejak itu Mama jual kue. Kue lapis, onde-onde, risoles, apa saja. Jam tiga pagi dia sudah bangun. Aku sering terbangun karena suara adonan dipukul di baskom. Waktu kecil aku mau bantu, tapi Mama selalu bilang..."
Kirana menghela napas.
"Kamu belajar saja, biar Mama yang kerja."
Arya merasakan kalimat itu masuk dalam.
"Dia tidak pernah membeli baju baru untuk dirinya sendiri. Sandalnya putus, dijahit lagi. Lututnya sakit, dia bilang cuma masuk angin. Kalau aku dapat juara kelas, dia tempel sertifikatku di ruang tamu seperti piala."
"Waktu aku diterima beasiswa, tetangga satu gang datang. Mama masak nasi kuning kecil-kecilan. Dia berdiri di depan foto Ayah dan bilang, 'Putri kita sampai Surabaya.' Aku ingat wajahnya hari itu. Bangga sekali."
Kirana mengusap mata dengan punggung tangan.
"Setiap kali aku kirim foto nilai atau tugas, Mama balas dengan doa panjang. Dia tidak pernah minta uang beasiswaku. Dia selalu bilang kota besar mahal, simpan saja untuk masa depan."
Kirana tertawa kecil tanpa senyum.
"Aku belajar gila-gilaan karena cuma itu yang bisa kubalas. Dari SD sampai SMA, aku harus nomor satu. Aku dapat beasiswa ke Universitas Surya Laut, Mama menangis di terminal bus. Dia bilang Ayah pasti bangga."
Tangannya mulai gemetar.
"Sekarang aku hamil sebelum wisuda."
Arya menggenggam gelasnya agar tidak tumpah.
"Kirana..."
"Kamu mengerti kenapa aku takut?" Ia menoleh. Matanya merah. "Bagi orang lain, ini gosip. Bagi Mama, ini seperti semua pengorbanannya jatuh ke lantai."
"Pengorbanannya belum jatuh."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena kamu masih orang yang sama. Kamu masih Kirana yang belajar keras. Kamu masih anak yang dia besarkan. Kehamilan ini membuat hidupmu berat, tapi tidak menghapus semua yang kamu capai."
Kirana memejamkan mata.
"Aku ingin percaya itu."
"Aku akan bantu kamu lulus. Aku akan bicara dengan dosen kalau perlu. Aku akan temani kontrol. Aku akan pergi ke Malang dan minta maaf ke Ibu Ratna."
"Kalau Mama menangis?"
"Aku tetap berdiri."
"Kalau dia menyuruhku pulang?"
"Aku ikut ke Malang."
Kirana membuka mata. "Kamu benar-benar keras kepala."
"Mulai kemarin."
Kirana akhirnya tersenyum kecil.
Pagi berikutnya, bel apartemen berbunyi.
Kirana langsung tegang.
"Siapa?"
Arya melihat layar interkom. Seorang perempuan berdiri di lobi dengan tote bag besar, wajah galak, dan kacamata hitam di atas kepala.
"Sari Wulandari," kata petugas resepsionis lewat speaker. "Mengaku teman Ibu Kirana."
Kirana menepuk dahi. "Aku lupa balas pesannya."
"Dia tahu?"
"Belum semua. Tapi dia pasti curiga."
Sepuluh menit kemudian, Sari masuk ke unit apartemen.
Langkah pertamanya langsung berhenti.
Ia melihat ruang tamu, jendela besar, dapur bersih, lalu Arya.
"Oke," katanya. "Aku butuh duduk sebelum bertanya kenapa sahabatku tiba-tiba tinggal di apartemen yang liftnya saja lebih mahal dari kosku."
Kirana menariknya ke sofa. "Sar..."
Sari melepas kacamata, lalu melihat wajah Kirana. Nada bercandanya hilang.
"Kamu sakit?"
Kirana memegang perutnya.
Sari langsung paham separuh cerita.
"Ya Allah, Kirana."
Air mata Kirana jatuh lagi. Sari memeluknya, erat, tanpa banyak kata. Arya mundur ke dapur memberi ruang.
Beberapa menit kemudian, Sari menatap Arya seperti penguji skripsi.
"Kamu."
"Iya."
"Kamu tahu seberapa besar masalah ini?"
"Tahu."
"Kamu akan kabur?"
"Tidak."
"Kamu dapat uang dari mana?"
Arya menarik napas. "Proyek teknologi dan aset yang baru cair. Legal. Aku tahu jawabannya terdengar belum cukup. Untuk sekarang, aku bisa tunjukkan bahwa semua kebutuhan Kirana aku urus."
Sari menatapnya lama.
"Aku belum percaya penuh."
"Wajar."
"Bagus kalau kamu sadar." Sari menunjuk Kirana. "Dia sahabatku. Kalau kamu bikin dia tambah hancur, aku cari kamu sampai mana pun."
"Aku terima."
Kirana menyeka air mata. "Sar..."
"Diam. Kamu juga salah. Tapi sekarang aku harus pastikan orang ini tidak lebih salah lagi."
Arya hampir tersenyum.
Sari melihat map pemeriksaan, vitamin, jadwal kontrol, dan daftar rencana di ponsel Arya. Wajahnya sedikit melunak.
"Setidaknya kamu tidak kosong."
"Aku akan terus buat rencana yang lebih jelas."
Sari mengambil jadwal kontrol dan membaca tanggalnya.
"Kirana sering pura-pura kuat," katanya. "Kalau dia bilang cuma pusing sedikit, cek lagi. Kalau dia bilang sudah makan, lihat piringnya. Kalau dia diam terlalu lama, jangan tunggu dia minta tolong."
Arya mengangguk. "Aku catat."
"Dan jangan jadikan uang sebagai jawaban untuk semua hal. Dia butuh rasa aman. Cara kamu bicara sama pentingnya dengan apartemen ini."
Kirana menghela napas. "Sar..."
"Aku belum selesai." Sari menatap Arya lagi. "Kamu juga harus siap dimaki Ibu Ratna. Beliau keras karena hidupnya keras. Kalau egomu naik sekali saja, kamu kalah."
"Aku akan menunduk dan dengar."
"Bagus. Aku pegang kata-katamu."
Sari berdiri saat sore hampir tiba. Sebelum keluar, ia menahan Arya di dekat pintu.
"Aku kasih tahu satu hal. Denny Hartono masih tanya-tanya soal Kirana. Anak itu punya ego besar dan uang bapaknya lebih besar lagi. Kalau dia sudah kirim pesan ke kamu, hati-hati."
Arya mengangguk.
"Terima kasih."
Sari menurunkan suara.
"Jaga Kirana. Dia terlihat kuat di kampus, tapi kalau soal ibunya, dia mudah runtuh."
Pintu tertutup.
Arya melihat Kirana yang tertidur di sofa, satu tangan di atas perut.
Pesan Denny masih belum ia balas.
Besok, ia harus menemui orang itu.