Sebagaimana Tata Surya berada dalam lintasan rotasinya, demikianlah hidup seseorang berada dalam lintasan garis kehidupannya.
Diantara banyaknya garis kehidupan, yang paling sering menjadi perbincangan dan menarik untuk dikisahkan adalah :
*Garis Kehidupan Percintaan*
Karena di garis ini, ada banyak unsur dalam diri seseorang yang bisa mempengaruhi hidupnya dan hidup orang lain.
Sebagaimana garis kehidupan percintaan gadis bernama Kandara Suwendra, seorang Programmer dari Indonesia dengan Darel Kei, seorang member boyband yang terkenal dari Korea Selatan.
Mungkin menurut perspektif kita, Darel dan Kandara berada dalam lintasan garis kehidupan yang berbeda.
Tetapi bukankah ;
"Kehidupan ini, ada yang mengaturnya?"
*Ini karya pertamaku. Mohon dukungannya, ya.🙏🏻❤
*Selamat Membaca.*
🙏🏻Semoga terhibur dan tetap semangat.😊❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Harapan.
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Bu Selvine, Mama Kandara telah bangun dari pagi dan membersihkan rumah. Sedangkan Kandara yang menyiapkan sarapan.
^^^Itu adalah hal rutin yang mereka lakukan secara otomatis, tanpa diatur. Kadang mereka lakukan sebaliknya, karena mereka tidak memiliki pembantu. Rumah mereka juga tidak terlalu besar, jadi mereka bisa melakukannya sendiri.^^^
^^^Kalau untuk pakaian kotor, selimut atau lainnya tidak bisa dicuci sendiri, mereka akan membawanya ke Laundry.^^^
Setelah membersihkan rumah, Bu Selvine menata sarapan di atas meja makan. Nasi goreng spesial buatan Kandara, dan air jeruk panas buatan Bu Selvine telah tersaji di meja makan, siap menjadi sarapan mereka.
Bu Selvine memanggil Kandara untuk sarapan bersama. Karena sudah lebih dari 10 hari tidak bertemu dengannya. Akhirnya pagi ini mereka bertemu kembali dan bisa sarapan bersama lagi.
Bu Selvine menambahkan beberapa irisan tomat dan timun di pinggiran piring nasi goreng Kandara. "Makanlah yang banyak, Dara." Ucap Bu Selvine sambil menatap sayang putri semata wayangnya.
Sejenak, keningnya berkerut ketika melihat putrinya. Ada yang berbeda dengannya. Karena pagi ini baru bertemu dengan Kandara setelah kemaren petang kembali dari Seoul. Sehingga Bu Selvine baru menyadari ada yang berubah dari Kandara. Wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Matanya yang selalu tersenyum, terlihat redup.
"Dara, mau masuk kerja hari ini?" Tanya Bu Selvine karena merasa khawatir.
"Iya, Ma. Dara mau menyiapkan laporan bersama Mas Mala dan Mas Toby. Kenapa Ma?" Tanya Kandara.
"Kalau masih capek, lebih baik cuti dulu. Kau terlihat kurang sehat." Ucap Bu Selvine lagi, merasa khawatir.
"Ngga papa ko', Ma. Dara baik-baik saja. Mungkin karena beberapa hari ini makanan kurang sesuai selera." Kandara coba tersenyum untuk menenangkan hati Mamanya. Walau pun Kandara berusaha tersenyum, tetapi matanya tidak bisa berbohong. Bu Selvine merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan putrinya
"Yaa sudah, kalau begitu nanti pulang makan siang di rumah, ya. Mama tidak ke butik hari ini. Mama akan buatkan soup ayam untukmu." Bu Selvine, khawatir.
"Baik, Ma. Makasiii... Kalau begitu, Dara mau siap-siap ke kantor dulu." Ucap Kandara setelah sarapan dan mencuci semua perlengkapan sarapan mereka, lalu segera ke kamar untuk bersiap-siap.
^^^Jarak rumah dan kantor Kandara tidak terlalu jauh. Hanya 15 menit, jika menggunakan ojek. Kalau menggunakan mobil bisa 25 menit, karena harus memutar arah. Itulah sebabnya jika sedang terburu-buru, Kandara lebih suka menggunakan ojek ke kantor.^^^
Hari ini dia mengenakan kemeja, blazer dan celana panjang, karena akan menggunakan ojek ke kantor. Semua ole-ole untuk teman kantornya sudah di masukan ke paper bag. Setelah rapi dan berdoa, dia keluar mencari Mamanya untuk berpamitan.
Bu Selvine sedang menyiapkan mobil. "Dara, ngga usah pesan ojek. Mama akan mengantarmu ke kantor. Ini sudah mulai gerimis, sebentar lagi akan deras." Ucap Bu Selvine saat Kandara memegang ponsel untuk mengirim pesan kepada tukang ojek langganannya.
Kandara jadi mengintip keluar untuk melihat cuaca. Ternyata bukan cuma mendung, tetapi sudah mulai gerimis. "Makasiii, Ma." Kandara memeluk sayang Mamanya.
Bu Selvine balas memeluk putrinya, mengusap punggung dengan sayang sambil dan berucap : "Semoga harimu tidak seperti cuaca pagi ini. Kalau demikian, kiranya payung perlindungan-Nya melindungimu."
"Amiiin...!" Kandara mengaminkan doa dan harapan Mamanya dengan sepenuh hati.
...°-° Harapan terbaik dari seorang Ibu, kiranya anaknya dalam keadaan baik °-°...
Setelah tiba di kantor, Kandara membagikan ole-ole yang telah di bawanya. Demikian juga dengan Mala dan Toby. Ternyata mereka bertiga membawa ole-ole untuk teman-teman satu ruangan sesuai dengan pilihan masing-masing.
Setelah itu mereka berbagi cerita kepada rekan-rekannya selama mereka bekerja di Seoul. Kemudian mereka disibukkan kembali oleh pekerjaan masing-masing.
Begitu pun Kandara, Mala dan Toby yang mulai sibuk membuat laporan kerja mereka selama tugas di Perusahan Inte'Q, Seoul. Karena semua laporan akan dibahas dalam pertemuan dengan pimpinan mereka, Pak Ari.
Tiba-tiba, ponsel Kandara bergetar dan nama Lucha tertera di sana. Kandara menarik nafas perlahan sebelum menerimanya. Hal itu menjadi perhatian Mala dan Toby.
Sebenarnya ada beberapa karyawan kantor yang jatuh hati padanya. Mereka suka mengatakan : 'Kandara paket komplit, seorang wanita idaman untuk dijadikan istri.'
Tetapi hampir setahun yang lalu, banyak yang kecewa, ketika mengetahui Kandara telah berpacaran dengan orang yang bernama Lucha. Meskipun begitu, secara diam-diam mereka masih berharap bisa berpacaran dengannya.
Walaupun Kandara dan Lucha tidak semesra orang pacaran pada umumnya, tetapi mereka terlihat baik-baik saja. Karena Kandara orangnya ramah, lembut dan hangat. Dia sering mengalah untuk meredam sifat pemarah dan cendrung arogan dari Lucha.
Mereka pernah melihat Kandara dipelototin, hanya gara-gara waktu di jemput, dia masih asyik berbicara dengan rekan-rekannya. 'Sangat tidak sabaran dan mungkin juga cemburuan.' Pikir Mala.
Kandara menerima telpon dari Lucha dengan hati yang was-was. Karena dia belum siap untuk bertemu dengannya. "Hallo, Mas." Kandara merespon panggilan Lucha.
"Hallo, Dara. Kau masuk kerja hari ini?" Tanya Lucha.
"Iyaa, Mas. Ini sudah di Kantor dan lagi buat laporan. Gimana, Mas?" Kandara balik bertanya.
"Nanti aku jemput untuk makan siang." Ucap Lucha
"Yaaa... Maaf, Mas. Hari ini aku makan siang di rumah, tadi pagi sudah janjian dengan Mama. Mama masak untukku." Ucap Kandara.
"Ooh, baiklah kalau begitu. Padahal, rencananya mau makan siang denganmu, karena nanti sore aku mau ke Surabaya." Ucap Lucha kecewa.
"Maaf, ya, Mas. Kalau kasih tau tadi pagi, aku bisa bilang Mama ngga usah masak, biar ke Butik saja." Ucap Kandara lagi.
"Its ok, nanti setelah kembali dari Surabaya saja baru kita makan bersama." Ucap Lucha.
"Ok, Mas. Hati-hati." Kandara mengakhiri pembicaraan dan menghembuskan nafas lega.
Hal itu pun menjadi perhatian Mala dan Toby dalam diam.
Menjelang waktu makan siang, Kandara pamit kepada kedua rekannya untuk pulang makan siang di rumah. Karena hujan telah redah, dia menghubungi tukang ojek langganannya untuk menjemput.
Mala dan Toby berjalan ke kantin, karena mereka akan makan siang di sana. Sedangkan Kandara ke tempat tukang ojek yang sudah menunggunya.
Setelah tiba di kantin, Mala dan Toby pesan makanan kesukaan mereka. "Toby, apakah tadi kau melihat Dara berbicara dengan pacarnya?" Tanya Mala, mengingat wajah Kandara.
"Iyaa... Tadi aku perhatikan juga, sepertinya dia tidak happy." Ucap Toby.
"Iyaa... Tadi dia berusaha untuk tenang, tetapi wajahnya seperti langit mendung. Saat tidak jadi bertemu pacarnya, wajahnya terlihat sedikit lega." Ucap Toby, sambil mengingat Kandara.
Mereka berhenti berbicara ketika makanan yang dipesan telah diantar oleh pelayan dan diletakan di atas meja, depan mereka.
"Iyaa, kadang-kadang aku kasihan juga melihat dia, kalau mau dijemput pacarnya itu. Dia sudah duduk tunggu di lobby dan tidak bercengkrama lagi dengan kita atau teman lainnya. Sangat berbeda kalau dia pulang sendiri atau pulang di antar kita." Ucap Mala.
"Iyaa... Dia akan becanda riang. Kadang mengajak kita untuk mampir ke rumahnya untuk sekedar minum teh atau kopi dengan kue-kue buatan Mamanya."
"Dan juga, semoga kejadian di Seoul kemaren tidak membuat dia kehilangan keceriaannya." ucap Toby, mengingat kondisi Kandara di Bandara Incheon.
"Iyaa... Semoga dia lekas kembali ceria. Agar ruang kerja kita tidak menjemukan. Bisa-bisa wajah kita semua menjadi kotak-kotak seperti laptop." Ucapan Mala membuat Toby hampir tersedak.
...°-° Wajah seseorang bisa menceritakan kondisi hatinya °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...