Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
"Tentu." Lin Xiao tersenyum tipis. "Nyonya Tua sudah hidup lebih dari separuh abad. Orang seperti apa yang belum pernah ia temui? Ia tidak akan menganggapku suci hanya karena sekali menolak jatah bulanan. Namun setidaknya, ia akan berpikir bahwa aku bukan orang bodoh."
Pei Yanzhi tertawa pelan, begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.
Namun Lin Xiao mendengarnya.
Itu adalah pertama kalinya ia mendengar Pei Yanzhi tertawa sejak dirinya datang ke dunia ini.
"Memang, kau tidak bodoh," katanya.
"Marquis datang malam ini hanya untuk memujiku karena tidak bodoh?"
Pei Yanzhi menggeleng.
"Aku datang untuk memberitahumu sesuatu." Ia meletakkan cangkirnya dan menatap mata Lin Xiao. "Siang tadi, aku menyelidiki masalah bubur itu."
Jari Lin Xiao yang menyentuh pinggir cangkir langsung terdiam.
"Marquis sudah menemukan sesuatu?"
"Aku sudah menemukannya." Pei Yanzhi berkata, "Bubur itu dikirim atas perintah Bibi Kedua. Ia menyuruh seorang pelayan mengambil bubur sarang burung dari dapur dan mengatakan bahwa itu adalah perintah Nyonya Tua untuk diantarkan ke halaman barat. Orang-orang di sisi Selir Zhou tidak curiga dan langsung menerimanya."
"Bibi Kedua..."
Lin Xiao mengulang pelan.
"Benar." Alis Pei Yanzhi sedikit berkerut. "Aku tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Hubungannya dengan Selir Zhou cukup dekat. Tidak masuk akal jika ia ingin mencelakainya."
Lin Xiao terdiam sesaat.
"Bisa jadi targetnya bukan Selir Zhou."
Pei Yanzhi menatapnya.
"Maksudmu?"
"Saat bubur itu diantarkan, Selir Zhou tidak tahu siapa pengirimnya. Ia mengira bubur itu berasal dari Nyonya Tua." Lin Xiao menjelaskan. "Jika bubur itu benar-benar bermasalah, reaksi pertamanya tentu adalah berpikir bahwa Nyonya Tua ingin mencelakakannya."
Ia berhenti sejenak.
"Dengan menyeret Nyonya Tua ke dalam masalah dan mengacaukan keadaan, Nyonya Tua akan mulai mencurigai bahwa Selir Zhou sedang memfitnahnya. Orang yang sebenarnya ingin disingkirkan Bibi Kedua bukanlah Selir Zhou, melainkan Nyonya Tua."
Ekspresi Pei Yanzhi berubah.
Ia duduk diam, cangkir arak di tangannya tak lagi disentuh. Wajahnya mula-mula menunjukkan kebingungan, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, seolah Lin Xiao baru saja merangkai butiran-butiran yang selama ini berserakan di benaknya menjadi satu benang yang utuh.
"Bibi Kedua ingin menjatuhkan Nyonya Tua?"
"Belum tentu." Lin Xiao menggeleng. "Namun ia membutuhkan hubungan antara Nyonya Tua dan halaman barat untuk retak. Selama Nyonya Tua mulai mencurigai Selir Zhou, Selir Zhou akan kehilangan pelindung terbesarnya. Jika Selir Zhou jatuh, siapa yang paling diuntungkan?"
Pei Yanzhi menatapnya tanpa menjawab.
Namun Lin Xiao tahu bahwa ia sudah mengerti.
Lawan terbesar Bibi Kedua di dalam kediaman Marquis adalah Selir Zhou. Selama Selir Zhou masih disayangi, posisi Bibi Kedua di hadapan Nyonya Tua selalu lebih rendah. Jika Selir Zhou tersingkir, Bibi Kedua akan menjadi orang yang paling berpengaruh di bagian dalam kediaman.
"Kau tidak punya bukti," kata Pei Yanzhi setelah beberapa saat.
"Memang tidak." Lin Xiao mengangguk. "Tapi aku punya petunjuk."
Ia mengeluarkan surat itu dari lengan bajunya dan mendorongnya ke depan Pei Yanzhi.
Pei Yanzhi menunduk membaca tulisan di atas kertas itu untuk waktu yang lama. Kerutan di dahinya semakin dalam. Jari-jarinya yang memegang surat itu perlahan mengencang, seolah ingin memaksa nama pelaku keluar dari lembaran kertas tersebut.
"Siapa yang memberimu surat ini?"
"Aku tidak tahu." Lin Xiao menjawab. "Seseorang menyembunyikannya di bawah tembok halaman."
"Di bawah tembok?"
"Di dinding belakang Halaman Timur, di dekat pintu samping yang pernah diperbaiki. Seseorang mencabut batu bata dan menyelipkan surat itu di sana."
Pei Yanzhi meletakkan surat itu dan menatapnya dengan ekspresi yang semakin rumit.
Ia mengenal tembok itu. Tembok tersebut sudah ditutup sejak sebelum Lin Xiao menikah masuk ke kediaman. Dahulu ada pintu kecil yang terhubung ke luar. Sangat sedikit orang yang tahu bahwa batu bata di sana longgar, kecuali orang yang mengetahui urusan perbaikan tembok itu.
"Berapa banyak orang yang mengetahui hal ini?"
"Selain kita berdua, tidak ada." jawab Lin Xiao. "Bahkan Qingxing pun tidak tahu isi surat ini."
Pei Yanzhi mengangguk dan mendorong surat itu kembali.
"Simpan baik-baik."
Lin Xiao melipat surat itu dan menyelipkannya kembali ke dalam lengan bajunya.
Ruangan itu kembali sunyi.
Keduanya duduk berhadapan di bawah cahaya lampu yang hangat, dipisahkan oleh satu guci arak dan dua cangkir yang masih setengah penuh. Angin malam di luar menggoyangkan tirai bambu, menimbulkan suara gemerisik halus.
Tiba-tiba, Pei Yanzhi berkata,
"Apa kata-katamu siang tadi sengaja ditujukan kepadaku?"
"Yang mana?"
"Soal jatah bulanan." Ia menatap Lin Xiao. "Kau menolaknya bukan semata-mata agar Nyonya Tua menganggapmu bijaksana, bukan?"
Lin Xiao memandangnya beberapa saat, lalu mengaku,
"Separuh alasannya memang begitu."
"Separuh lagi?"
"Separuh lagi..." Lin Xiao tersenyum tipis. "Aku ingin melihat bagaimana reaksi Bibi Kedua."
"Aku menolak jatah bulanan, artinya ia akan tahu bahwa aku bukan orang yang mudah dibeli. Orang yang sulit dibeli akan dihadapi dengan cara lain. Dan semakin banyak cara yang dipakai, semakin mudah ia meninggalkan jejak."
Pei Yanzhi menatapnya lama sekali.
"Kau menjadikan dirimu sendiri sebagai umpan."
"Benar."
"Kau tidak takut?"
"Takut." Lin Xiao menjawab terus terang. "Tapi takut tidak ada gunanya. Jika aku diam, dia tetap akan bergerak. Lebih baik aku melangkah lebih dulu dan memaksanya ikut bergerak."
Pei Yanzhi menghabiskan araknya, meletakkan cangkir kosong itu, lalu berdiri.
"Besok aku akan menemui Bibi Kedua."
Lin Xiao mengangkat kepala.
"Apa yang akan Marquis katakan padanya?"
"Tidak banyak." jawab Pei Yanzhi. "Hanya beberapa pertanyaan."
Ia berjalan ke pintu. Sebelum menyingkap tirai, ia menoleh dan melirik Lin Xiao. Cahaya rembulan dari luar jatuh di sisi wajahnya, memperjelas garis-garis tegas pada alis dan matanya.
"Apa yang sedang Marquis pikirkan?" tanya Lin Xiao.
Pei Yanzhi menatapnya dan mengucapkan satu kalimat sebelum berbalik pergi.
"Aku sedang berpikir, kalau tiga tahun lalu kau sudah seperti sekarang, mungkin aku tidak akan melewatkanmu selama ini."
Tirai kembali jatuh.
Suara langkah Pei Yanzhi perlahan menjauh di pelataran, lalu pintu terbuka dan sosoknya lenyap ditelan malam.
Lin Xiao duduk di depan meja, memandangi pintu yang masih sedikit bergoyang. Setelah sekian lama, barulah ia mengangkat cangkirnya dan meneguk arak yang tersisa.
Arak itu sudah dingin dan sedikit pahit.
Saat menelannya, tenggorokannya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang tersangkut di sana, tak bisa naik dan tak bisa turun.
Ia sendiri tidak tahu alasannya.
Di luar, bunga-bunga begonia bergoyang diterpa angin malam. Beberapa kelopak gugur ke tanah, putih pucat di bawah sinar rembulan, seperti embun beku.
Lin Xiao meletakkan cangkirnya dan meniup padam lampu.
Dalam kegelapan, sebelum memejamkan mata, hal terakhir yang ia pikirkan adalah suara langkah Pei Yanzhi ketika pergi malam ini.
Malam sebelumnya, langkah itu penuh kehati-hatian dan keraguan.
Namun malam ini, langkah itu terdengar mantap, seolah membawa sesuatu yang tak mampu ia jelaskan.
Ia tidak tahu apa itu.
Tetapi ia tahu, ada sesuatu yang telah berubah.