NovelToon NovelToon
MASIH TANDA TANYA

MASIH TANDA TANYA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:49.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeojawriting

Linia adalah seorang pegawai biasa di sebuah perusahaan pangan harus bertemu dan bekerja bersama seorang manajer baru yang tampan bernama Jhonathan. seorang pria yang gila kerja dan hampir merampas pekerjaan yang harus dilakukan Linia. namun, dibalik sifatnya yang pekerja keras itu, Linia juga harus terlibat dengan trauma masa lalu Jhonathan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeojawriting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 10

“haaahhh!!!!” Jhonathan hampir saja terjatuh dari sofa tempat ia tidur semalaman ini.

Lelaki ini sedikit kaget karena suara alarm hari minggu mengejutkannya. Kepalanya terasa pusing dan perutnya sakit. Jhonathan benar-benar gila semalam.

Semalam? Bukankah ia di klub malam bersama Dheo? Dan sepupu menyebalkannya itu malah meninggalkannya sendiri. Jhonathan benar-benar buruk terhadap alcohol. Jadi, siapa yang mengantarnya semalam????

Baiklah, Jhonathan sedikit memutar otaknya untuk mengingat kejadian semalam.

Itu sia-sia sebab semua nya blur. Ia tidak mengingat apa-apa.

“hey!!! Udah sadar??” Jhonathan sedikit kaget dengan suara Dheo dari arah dapur dengan membawa sekotak susu. Nampak dari rambutnya yang basah, pria itu baru saja selesai mandi.

Barulah yang Jhonathan pikirkan bahwa Dheo lah yang membawanya pulang. Kalau begitu siapa lagi? Terlebih pria ini pagi-pagi sudah berada di apartemen miliknya.

“lu masih pusing?” tanya Dheo saat ia bertanya Jhonathan malah diam seperti orang bodoh.

“isshhh… pagi-pagi udah berisik.” Ujar Jhonathan sembari bangkit pergi menuju dapurnya dan mendengar suara desis seseorang seperti sedang memasak sesuatu.

“selamat hari minggu pak Jho.” Sapaan selamat pagi dari seorang wanita yang sedang menggunakan apron milik Jhonathan dan sedang menggoreng telur membuat Jhonathan syok di pagi hari.

Kenapa Linia bisa ada didapurnya pagi minggu ini dan sedang memasak makanan???? Pertanyaan itu benar-benar memenuhi kepala Jhonathan. Kepalanya benar-benar sakit untuk memikirkan apa yang terjadi semalam.

“itu benar…. Linia lah yang membawa mu semalam dan sekarang memasakkan sarapan untuk kita.” Tiba-tiba saja Dheo masuk ke dapur dan merangkul Jhonathan, memberikan semua jawaban yang sedang Jhonathan cari.

Dan dengan tatapan iblisnya Jhonathan menatap Dheo. Merasa tidak nyaman Dheo terkekeh sembari melepas rangkulannya dan menghampiri Linia.

“saya hanya membantu sebentar… saya sudah selesai menyiapkan sarapan maka saya akan langsung pulang.” Ujar Linia pada Jhonathan.

Wanita itu pun sudah selesai memasak tepat ia menyelesaikan ucapannya dan langsung pamit pulang.

“waahh terima kasih Linia!!!” ujar Dheo sembari langsung menyerbu makanan dengan lahap.

Namun berbeda dengan Jhonathan, pria itu masih belum menerima apa yang ia dengar dan terjadi. Tanpa pikir panjang Jhonathan langsung menyusul langkah Linia yang sudah di ambang pintu apartemennya.

“Linia… tunggu sebentar… kamu ngga sarapan dulu??” ucapan Jhonathan langsung menahan langkah Linia dan membuat wanita itu memutar tubuhnya.

“tidak pak… saya hanya ingin pulang. Terima kasih…” ujar Linia datar.

Linia lelah ia butuh istirahat tidur, bukan makan. Jhonathan dengan wajah polosnya malah menahan Linia untuk tidak pulang. Padahal semalaman ini saat ia mengantar Jhonathan pulang ke apartemen pria itu dengan selamat. Tentu saja, banyak yang tidak bisa Linia duga dengan kebiasaan mabuk Jhonathan dan Dheo yang datang mencegahnya untuk pulang agar tidur saja di apartemen Jhonathan sampai pagi. Mengingat malam sudah larut dan bahaya untuk membiarkan wanita pulang sendirian. Tentu Linia tidak akan membiarkan dirinya terlelap diruang dimana hanya dirinya terkurung dengan dua pria dewasa yang Linia tidak tahu kapan ia akan diserang.

Mengerti akan aura Linia yang tidak mengenakkan, Jhonathan langsung membantu membukakan pintu untuk Linia. Wanita itu memang agak sulit untuk dipahami, pikir Jhonathan.

*

*

*

Tiga hari berlalu, Jhonathan masih saja merasa canggung untuk berbicara santai seperti yang lalu. Tetapi, disisi lain Jhonathan adalah atasan Linia. Ia berhak untuk memberi pekerjaan tambahan untuk wanita itu.

“Linia, tolong salin ini sampai 50 rangkap.” Ujar Jhonathan sembari meletakkan lembaran dokumen di atas meja Linia.

Tanpa wanita itu menatap Jhonathan, ia mengiyakan tugas dari Jhonathan dan langsung melaksanakan tugas dari atasannya itu. Ingin mengatakan sesuatu, namun Jhonathan bingung ingin berkata apa. Linia tidak ada melakukan apapun dan yang seperti orang bodoh adalah Jhonathan.

Srrrrr…..

Lamunan Linia benar-benar bercampur dengan bunyi mesin fotokopi yang sedang ia operasikan sekarang. Sejalan dengan mesin yang sibuk mengkopi selembar dokumen dari Jhonathan, pikiran Linia juga sedang melayang kemana-mana.

“fyuhhh~~ kurasa aku agak berlebihan…” ujar Linia.

Ia sengaja, menjaga sedikit jarak antar dirinya dan Jhonathan. Linia tidak bisa membiarkan kejadian malam itu terjadi lagi. Sebagai seorang pekerja yang professional, mengaitkan perasaan dalam hubungan sebagai rekan kerja, Linia rasa itu tidak perlu. Wanita itu sadar dengan posisi nya, ia tidak ingin terlalu terlibat dengan Jhonathan lebih dari atasan dan bawahan.

“nampaknya aku terlalu membuatnya merasa bersalah.” Tutur Linia.

Linia tidak bermaksud…

Ia tidak bermaksud membuat Jhonathan sadar akan kesalahannya lalu meminta maaf pada Linia. Sudah cukup dengan tidak mengingat kejadian memalukan malam itu Linia sudah merasa aman. Baiklah, sekali lagi Linia harus tegaskan bahwa ia bukanlah wanita yang ramah pada orang.

Karena semua sekedar formalitas semata. Tidak lebih dan tidak kurang….

*

*

Tak lama bagi Linia untuk mengkopi dokumen yang diberikan Jhonathan padanya, hingga wanita itu mengantar tumpukan dokumen ke ruangan Jhonathan.

Entah kenapa pria itu sedikit kaget dengan kedatangan Linia. Ini semua efek dari sikap bodohnya beberapa hari ini yang merasa canggung pada Linia. Tidak ada yang salah dari Linia, bahkan wajah wanita itu lebih serius dibanding sebelumnya.

Apa ia kesal?? Marah?? Haruskah Jhonathan minta maaf dan mentraktir wanita itu makan malam seperti biasanya?

“Linia… tunggu sebentar.” Jhonathan pun berhasil mencegah wanita itu keluar dari ruangannya.

“ada apa pak?” tanya Linia sekadarnya.

Eugh, Jhonathan merasa aura Linia saat ini tidak mengenakkan. Wajah wanita itu begitu datar dan tidak seperti biasanya.

Sementara itu disisi Linia, ia tidak tahan seperti ini lama-lama. Melihat ekspresi Jhonathan yang kadang serba salah untuk mengucapkan kata-kata membuat humor Linia sedikit meningkat. Ia ingin tertawa sekarang.

“salinkan ini lagi.”

Ah, tebakkan Linia keliru. Ternyata Jhonathan memberinya pekerjaan lagi. Ya sudahlah, apa yang Linia harapkan. Dengan wajah poker face nya, wanita itu mengambil dokumen dari tangan Jhonathan dan pergi ruangan kerja pria itu secepatnya. Seketika rasa kesal itu datang lagi pada Linia.

Sedetik setelah Linia keluar dari ruangannya, Jhonathan malah menggosok wajahnya kasar. Rupanya pria itu kebingungan. Ia ingin mengutarakan maaf pada Linia, namun malah pekerjaan yang keluar dari mulutnya.

Ting!

Hingga di tengah-tengah kegusarannya, Jhonathan mendapati sebuah pesan masuk pada ponselnya dari neneknya.

Entah, raut wajah pria itu terlihat bingung tentang pesan yang dikirimkan oleh neneknya.

*

*

*

Drrttt…..

Linia pun selesai dengan tugas mengkopi dokumen yang diminta Jhonathan. Hingga saat ia ingin berbalik…

“waa!!! Kaget aku!!! hey!! Dheo! Kau ingin membunuhku??”

Linia ingin saja menampar Dheo jika mengingat tempat nya berada banyak sekali orang. Bahkan dengan suara kagetnya, Linia sudah menjadi pusat perhatian orang-orang.

Dheo benar-benar terlihat semakin menyebalkan dimata Linia saat pria itu terkekeh geli melihat ekspresi Linia yang nampak lucu.

“sorry, aku ngga sengaja. Habis kau terlihat lucu dengan ekspresi serius mu.”

Secepat kilat Linia langsung mengubah air mukanya menjadi datar dan dingin.

“oke. Baiklah aku bercanda…. Kau menatapku begitu tajam dan menyeramkan. Kupikir aku akan mati.” Ujar Dheo sembari menyeret Linia kembali kedalam ruangan tempat wanita itu kerja.

Tentu interaksi antara Dheo dan Linia menjadi pusat perhatian seisi kantor. Bahkan Jhonathan yang sedang berbicara masalah pekerjaan dengan Fitri juga mendapatkan interaksi yang nampak menyenangkan itu. masalahnya ada di senyuman Linia. Wanita itu bisa tersenyum lebar dan nampak lebih santai dengan Dheo daripada dirinya.

Sadar tidak sadar, Jhonathan merasa tidak adil. Tidak tahu kenapa, hanya saja sedikit mengusik dirinya.

“lho, lho… pak… saya belum selesai menjelaskan….” Tanpa pikir panjang Jhonathan langsung pergi ditengah-tengah penjelasan yang diberikan oleh Fitri terkait pekerjaan yang amat ia puja itu.

Nyatanya suara seruan Fitri terdengar sekilas oleh Linia. Sebentar ekor mata Linia mengikuti langkah Jhonathan yang pergi dan disusul Fitri dibelakangnya.

*

*

*

Dirumah keluarga besar Jhonathan.

Nampak seorang asisten rumah tangga melangkah santai mengantar sepiring berisi potongan buah-buahan pada sang nyonya rumah. Ratna, nenek Jhonathan sedang menikmati suasana kolam renang dirumah mereka yang menyediakan pemandangan menyejukkan.

“bagaimana persiapan acara nya??” tanya Ratna pada asisten rumah tangga nya yang berdiri tepat di sisi kirinya itu.

“semua sudah rangkum nyonya… sesuai dengan permintaan.” jawab sang asisten.

Ratna mengangguk menandakan kerja bagus untuk mereka yang sudah bekerja.

“bagus… aku tidak mau peringatan perusahaan yang telah kubangun bertahun-tahun tidak dipersiapkan dengan matang. Tidak boleh ada satupun kolega bisnis yang terlewat.” Ujar Ratna sembari menyeruput teh hangatnya.

*

*

*

Linia masih tidak paham, kini situasi malah sebaliknya. Jhonathan yang nampak tidak acuh padanya. Baru saja ia ingin memperbaiki suasana antar dirinya dan Jhonathan. Sekarang tanpa Linia tahu sebabnya apa, suhu dingin saat ia masuk kedalam ruangan Jhonathan untuk mengantar dokumen mengalahkan dinginnya pendingin ruangan yang sudah di setel pada suhu yang paling rendah.

Oke, Linia cukup berlebihan.

Tuk!

“ini surat yang bapak minta….” Ujar Linia pelan lalu keluar dari ruangan Jhonathan secepatnya.

“haaahhh… baiklah. Aku tidak tahu apa yang terjadi.” Ujar Jhonathan sembari memijit perlahan pelipisnya.

Ia terlalu bingung dengan dirinya yang bisa-bisanya bersikap seperti ini. bukannya memperbaiki hubungannya dengan Linia, malah semakin memperburuk suasana. Jhonathan pun tidak mengakui bahwa dirinya adalah seseorang yang mudah berinteraksi.

Baiklah, berlama-lama diruangan kerja membuat Jhonathan tidak dapat berpikir jernih. Ia harus keluar dari zona yang mengekang ini. pria itu pun melangkah keluar menuju rooftop.

Nyatanya, angin dan suasana rooftop lebih bebas dan menyejukkan pikirannya saat ini terlepas dari masalah yang bisa dibilang tidak jelas namun begitu mengganggu pikirannya.

Haahh… kenapa hubungan sekretaris dan atasan menjadi repot seperti ini??

Dan satu lagi yang mengganggu pikiran pria itu. undangan dari neneknya yang mengharuskannya datang ke anniversary perusahaan yang akan diadakan besok. Bukan perusahaan tempat ia bekerja saat ini, melainkan cabang perusahaan milik keluarganya. Jhonathan hampir melupakan status nya sebagai anak dari konglomerat negeri ini.

Kenapa undangan itu malah membuat Jhonathan kalut??

Betapa bencinya Jhonathan dengan statusnya sendiri. Menjadi seorang anak dikeluarga terkenal membuat dirinya menjadi salah satu pusat perhatian orang-orang. Terlebih dirinya yang harus mengikuti pandangan orang lain.

“aku kurang yakin Jhonathan yang akan memimpin kelak. Pengalamannya jelas belum ada.”

“untuk seorang dengan temperamental yang belum matang sepertinya, kurasa tidak.”

Dan masih banyak ucapan yang mengganggu Jhonathan disetiap acara perusahaan seperti ini. haruskah ia hidup mengikuti ucapan orang lain?? menjadi seorang yang bukan dirinya. Bahkan untuk berekspresi, Jhonathan tidak bisa semaunya.

Klek!

Jhonathan terperanjat kaget dan langsung menyembunyikan dirinya saat mendengar suara pintu terbuka. Ternyata dua orang karyawati yang datang dan nampak tak asing. Jelas saja, mereka berdua adalah dua orang karyawati dari divisi tempat Jhonathan dan Linia bekerja. Tunggu dulu, kenapa mereka bisa ada disini dan bukannya bekerja?? Bukankah harus ditegur?? Namun, niat Jhonathan terhenti saat mendengar pembicaraan mereka.

“kemarin aku melihat Linia di klub malam bersama pak Jho.” Kalimat awalan sudah membuat Jhonathan penasaran kemana arah pembicaraan ini dibawa.

“hee… benarkah? Seakrab itukah mereka berdua? Kurasa mereka tidak mungkin…” timpal yang satu.

“segala sesuatu mungkin terjadi. Mereka selalu berdua… melibatkan perasaan sadar tidak sadar, mereka pasti mereka melakukannya…”.

“bagaimana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu Fit? Nampaknya kau tahu banyak.”

Fitri nampak tersenyum mendengar pertanyaan penasaran dari rekan kerjanya itu.

*

*

*

Jhonathan baru pergi dari rooftop setelah Fitri dan rekan kerja yang Jhonathan tidak ketahui namanya itu pergi dari rooftop. Walau Jhonathan nampak tidak seperti orang yang peduli, ia memikirkan apa yang dibicarkan oleh kedua rekan kerjanya tadi. Terlebih kalimat Fitri sebelum mereka meninggalkan tempat itu.

“bagaimana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu Fit?”

Fitri tersenyum ringan.

“Linia bukan tipe orang yang mau diajak datang ke klub malam.”

Ucapan Fitri tentu membuat prasangka apa saja bisa terjadi, entah itu baik atau buruk.

“kau mengatakannya setengah-setengah.”

“jika kemarin, kulihat dari pakaian santainya ia tidak mungkin datang bersama dengan pak Jho. Tapi ia menjemputnya… kau tahu apa itu??” tanya Fitri.

“setahuku Linia tidak pernah peduli dengan orang… bahkan teman akrabnya seperti Dheo…” timpal rekan kerja Fitri itu.

“kupikir kau bisa menyimpulkan itu.”

Jhonathan berterima kasih pada Fitri yang sudah membicarakan hal itu. walau ia mendengarnya secara diam-diam. Betapa buruknya sikapnya hari ini, pikir Jhonathan. Ia pikir, kedua wanita tadi akan berbicara hal buruk tentang ia dan Linia. Hal itu bisa saja jadi gossip yang tidak mengenakkan di lingkungan kantor, terlebih jika sampai ibunya mendengar hal tersebut. Membayangkannya saja Jhonathan tidak sanggup.

Ternyata, sesuatu yang ia tidak ketahui tentang Linia. Wanita itu… benar-benar membuatnya penasaran dan merasa bersalah sekaligus. Ia penasaran kenapa Linia mau menjemputnya sekaligus ia merasa tidak enak karena malah merepotkan wanita itu.

Ting!

Tap!

“eh??” ujar Jhonathan dan Linia saat mereka bersamaan bertemu di lift.

Wanita itu nampak baru mengambil dokumen untuk Jhonathan dan harus bersama dengan pria itu di lift berdua. Oke, ini cukup canggung dan tidak enak. Rasanya ingin Linia berteriak karena merasa terlalu sesak.

Sementara itu, Jhonathan cukup banyak memikirkan masalahnya dibanding pekerjaannya. Tentu ini tidak biasa, rasanya ia harus menyelesaikan secepatnya daripada suasana canggung ini terus berlanjut tanpa adanya ujung.

“ehem…”

Heningnya Jhonathan dan Linia harus dipecahkan oleh suara Jhonathan.

Namun, nampaknya Linia tidak terlalu peduli dan hanya diam, bahkan suasananya lebih parah.

“hmmm… itu….”

Ting!

“ahh.. sudah sampai… saya permisi pak.” Ujar Linia saat lift yang membawa mereka tiba di lantai tempat divisi penjualan berada.

Oke, Jhonathan gagal berkomunikasi dengan wanita itu untuk hari ini. dinding yang dipasangkan Linia benar-benar kokoh, bahkan untuk mengintip Jhonathan kesulitan. Se-cuek inikah wanita ini???

“eh Lin, apa kau tidak merasa jika ada seseorang yang berusaha ingin berbicara denganmu?” tanya Fitri yang peka terhadap Jhonathan yang seringkali melihat Linia melalui ruangannya.

“benarkah?? Kurasa tidak… karena seharian ini aku sering mengobrol dengan mu.” Ujar Linia cuek sembari sibuk bekerja.

Fitri tahu ada yang tidak beres.

“apa kau sedang marah?? Kau bisa ceritakan padaku jika kau mau.” Tawar Fitri.

“aku akan menceritakan betapa banyaknya pekerjaan yang aku lakukan hari ini…”

“isshhh… benar-benar tidak asik…”

Linia hanya terkekeh dengan matanya yang selalu focus pada monitor. Bukannya tidak merasa, justru Linia sedikit tidak nyaman karena ia juga merasa jika Jhonathan memasang mata untuk dirinya beberapa kali dalam hari ini. ia tidak tahu kenapa, pria itu memiliki sikap kekanakan yang sulit untuk Linia tebak. Geram rasanya Linia untuk menegur, namun ia harus mempertahankan harga dirinya untuk tidak terlalu santai pada atasannya.

Apakah akan terus seperti ini?? sedikit, Linia merasa jika ia kekanakan.

Linia bertekad akan berbicara sepulang kerja saja. Itu lebih baik.

*

*

*

Jam dinding diruangan kerja tempat Linia berada sudah menunjukkan pukul 6 sore dan sudah 30 menit yang lalu jam pulang kantor. Linia sedikit lebih lambat keluar kantor karena ingin menunggu Jhonathan dan berbicara serta meminta maaf pada laki-laki itu. namun, Linia sedikit lengah karena saat ia pergi ketoilet dan kembali ke ruang kerja, Jhonathan sudah tidak ada ditempat. Apa laki-laki itu baru saja pergi?? Menyadari itu, Linia bergegas mengejar karena ia merasa Jhonathan belum lama meninggalkan ruangannya. Seharusnya jika ia berlari, Linia dapat menemukan atasannya di lift atau di basement. Setidaknya begitu…

Namun, Linia tidak menemukan Jhonathan di lift maupun di basement. Bahkan mobil milik pria itu masih terparkir. Itu tanda pemiliknya belum meninggalkan kantor. Namun, kenapa Linia tidak dapat menemukan manusia itu?? apa Jhonathan pergi ke toilet??

Linia menarik napas dalam dan mengumpulkan kembali tenaganya. Berlari dan mencari orang itu cukup melelahkan. Ia tidak pernah mau repot seperti ini sebelumnya. Linia pun tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan ini.

Tenaganya ia habiskan untuk mencari seorang pria hanya untuk meminta maaf atas ketidakjelasan akhir-akhir ini. jujur saja, hal ini juga membebani Linia ketika bekerja. Makadari itu, ia ingin menyelesaikannya secepatnya.

Akan tetapi, nampaknya bukan hari ini…

Itu karena Linia tidak menemukan orangnya!

Daripada merasa kesal sendiri, Linia memutuskan untuk pulang. Ia tidak merasa sia-sia, hanya saja… kesempatannya belum tiba.

Hingga saat Linia tiba di halaman gedung tempat ia bekerja. Tak jauh darinya, dua manusia sedang berhadapan dan nampak dalam suasana serius dan menegangkan. Linia tidak paham…

Hanya saja, ia tidak asing dengan kedua orang itu…

Jhonathan… laki-laki yang ia cari kemana-mana itu…

Dan seorang wanita blasteran dengan surai pirang yang panjang… kalau tidak salah….

Linia baru ingat…. Wanita yang disiram air oleh Jhonathan tempo lalu!!!!!

Bagaimana ini???!!!!

To Be Continue***

1
cahya.rien
segala yg dirasa rumit semakin rumit jika selalu menghindar. 😁😁😁
linia adl salah satu yg rumit itu.. 🤭
cahya.rien
waw..
᯽ᗩᗬᗴᘂᛙᚤ᯽
lanjut....
᯽ᗩᗬᗴᘂᛙᚤ᯽
awal yang baik
Rosnita Zainal Zen
lanjut thor...mantap...
Ery Fajar
Mohon ijin promote --LOVE IN A CUP OF BUBBLE TEA--🥤🍹🍵🍩🥛

Jujur, baru kali ini aku nulis genre romance. Ceritanya ga jauh-jauh dari kuliner. Buat kamu yang suka kulineran sekaligus ngayal punya pasangan romantis, wajib banget baca novelku.🤪😎


*Butuh pencerahan dan masukan dari kakak-kakak sekalian.😎😎🎉🎉
Farhan Khoiruddin
terlalu ber tele tele
dionyzeus
Hai kak! Cerita yg bagusss.. aku kasih like + rate bintang 5 loh!

Aku akan mampir lagi klo kakak mampir di karyaku "THE COLD CEO"

Aku tunggu feedback nya

Terimakasih kak!
b.e.f
hai kak, dapet salam dari Sasha & Mas Herdi di novel ^^RASANYA MENIKAH^^ 🎬🥀

kuy ah kak langsung intip ! 💨
gabung yuk sama readers lain, udah pada melting loh disana.. buruaaannnn 😍 tinggal klik profil ini kak gampang bgt hihi.. big thanks! 🥰

#izinpromoyathor.tq
b.e.f
hai ka author aku mampir bawa rate dan vote buat karya ini.. hihi 😁
ditunggu juga feedbacknya di novel aku yah 🥰

salam dari Sasha sama Mas Herdi, RASANYA MENIKAH 🎬⚘

kaka2 readers lain intip juga yuk... kop khun ma na ka.. 💕
Lindaindut
pantes dikit chapter x , trnyata panjang bnget isi nya😆😆😆
b.e.f: hai kak, dapet salam dari Sasha & Mas Herdi di novel ^^RASANYA MENIKAH^^ 🎬🥀

kuy ah kak langsung intip ! 💨
gabung yuk sama readers lain, udah pada melting loh disana.. buruaaannnn 😍 tinggal klik profil ini kak gampang bgt hihi.. big thanks! 🥰

#izinpromoyathor.tq
total 1 replies
Aldy Sylvian
segala sesuatunya dibikin rumit dan linia adalah karakter yg rumit
b.e.f: hai kak, dapet salam dari Sasha & Mas Herdi di novel ^^RASANYA MENIKAH^^ 🎬🥀

kuy ah kak langsung intip ! 💨
gabung yuk sama readers lain, udah pada melting loh disana.. buruaaannnn 😍 tinggal klik profil ini kak gampang bgt hihi.. big thanks! 🥰

#izinpromoyathor.tq
total 1 replies
Aldy Sylvian
linia terlalu bodoh dengan perasaannya sendiri
Aldy Sylvian
yaelan cepet sadar ngapa kasian pak jo nya tar kumat lagi depresinya cuma kamu yg bisa nyembuhin depresi pak jo lin
Aldy Sylvian
owalah mau nembak aja pake nangis gegeruan🙈🙈🙈
Aldy Sylvian
itu ceritanya masih didalam mobil kan ya thir tapi udah minggir belum ya takut ditabrak mobil dari belakang kalo belum minggir
Nayla Husna: permisi izin promo ya kak

aku baru aja belajar bikin cerita,jadi maaf banget kalau ceritanya kurang menarik

kalau ada kritik dan saran boleh ditulis di komentar ya,nanti sebisa mungkin aku bakal ganti ceritanya sesuai dengan kritik dan saran kalian semua

"Kisah Cinta Yang Bertepuk Sebelah Tangan"

terimakasih kakak kakak
total 1 replies
Aldy Sylvian
kapan sadarnya kalo emosian mulu nih hadeuuh 🙈🙈🙈
Aldy Sylvian
setelah dapet 10 chapter saya baru ngeh kalo surai itu artinya rambut🙈🙈🙈
Aldy Sylvian
kayaknya sudah ada kapal yg mulai berlayar nih
Aldy Sylvian
Wow 1 chapter isinya puanjaaaaang buanget mantep thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!