NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Jebakan Proyek bernilai Triliunan

Sinar matahari pagi menyinari ruang kerja baru Alya di lantai sepuluh gedung Perusahaan Zena. Di atas meja kayunya yang luas, tertumpuk puluhan cetak biru, peta zonasi wilayah, dan dokumen perencanaan pengembangan kawasan pesisir. Sebuah proyek raksasa bernilai triliunan rupiah yang kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.

Alya menarik napas dalam, merapikan kemeja kerjanya, lalu mengulas senyum tipis. Rasa bangga menyusup di dadanya. Ia memegang dokumen pengangkatan resminya sebagai Manajer Proyek Utama dengan erat. Ini adalah pembuktian pertamanya—bukan hanya kepada industri, tetapi juga kepada Reno bahwa ia tidak lagi menjadi wanita lemah yang pasrah dibodohi situasi.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Pintu ruang kerjanya terketuk tergesa-gesa. Sekretaris barunya, Maya—seorang staf muda yang cekatan—masuk dengan raut wajah panik.

"Nona Alya, ada masalah besar!" ujar Maya dengan napas memburu, menyerahkan tablet digital ke hadapan Alya. "Seluruh vendor dan pemasok bahan bangunan utama di kota ini mendadak membatalkan kontrak kerja sama kita secara sepihak!"

Alya tersentak, alisnya berkerut tajam. "Membatalkan? Bagaimana mungkin? Kontrak awal dengan pemasok semen, baja, dan beton sudah ditandatangani minggu lalu. Apa alasan mereka?"

"Mereka tidak memberikan alasan yang jelas, Nona. Mereka hanya bilang suplai bahan baku mendadak kosong dan sanggup membayar penalti pembatalan kontrak," jelas Maya dengan suara gemetar. "Tetapi tim lapangan kami mendapati bahwa pasokan bahan baku dari para vendor tersebut justru dialihkan secara besar-besaran ke proyek milik klan lain."

Alya berdiri dari kursi kerjanya, matanya meneliti grafik penghentian pasokan pada layar tablet. "Klan mana yang mengambil alih pasokan itu?"

"Keluarga Surya, Nona," jawab Maya pelan. "Randy Surya—putra mahkota Grup Surya—baru saja mengumumkan pembangunan kawasan komersial baru di seberang lokasi proyek kita. Dialah yang memborong seluruh pasokan material di kota ini dan menekan para vendor lokal agar mengisolasi Perusahaan Zena."

Darah Alya berdesir. Semburat kemarahan membakar dadanya. Ia tahu betul reputasi Keluarga Surya. Klan penguasa bisnis tingkat atas itu tidak hanya memiliki jaringan ekonomi yang gurita, tetapi juga dikenal kejam dalam menyingkirkan pesaing. Terlebih setelah kegagalan Dion—kerabat mereka—di ruang wawancara kemarin, ini jelas merupakan bentuk aksi balas dendam yang terencana.

"Lakukan panggilan ke vendor sekunder," perintah Alya tegas, berusaha menjaga ketenangannya sebagai seorang pemimpin proyek. "Cari pemasok dari luar wilayah kota jika perlu. Kita tidak boleh membiarkan pemancangan tiang pertama tertunda."

"Sudah saya coba, Nona," cicit Maya dengan wajah makin pucat. "Tetapi Randy Surya telah menyebarkan peringatan ke seluruh asosiasi kontraktor regional. Siapa pun yang berani menjual satu truk semen atau satu batang baja ke Perusahaan Zena untuk proyek pesisir ini, akan dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh Keluarga Surya."

Alya mengepalkan tangannya di atas meja. Ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa, ini adalah boikot total! Randy Surya memanfaatkan kekuasaan dan pengaruh klannya untuk mengunci mati seluruh rantai pasokan bahan baku Alya. Tanpa material, proyek triliunan rupiah itu akan terbengkalai, dan reputasinya di hari pertama bekerja akan hancur lebur.

"Tinggalkan saya sendiri sebentar, Maya. Biar saya cari jalan keluarnya," kata Alya pelan.

Setelah sekretarisnya keluar, Alya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya melayang pada sosok Reno. Ia tahu, dengan satu jemari Reno yang bergerak melalui kekuasaan Konsorsium Naga Hitam, masalah boikot ini bisa diselesaikan dalam sekejap mata.

*Tidak,* bisik Alya pada dirinya sendiri, menepis pikiran lemah itu. *Reno sudah memberi kepercayaan ini berdasarkan kualifikasiku. Jika di ujian pertama ini aku lari meminta perlindungannya, lalu apa bedanya aku dengan Alya yang dulu? Aku harus menyelesaikan ini dengan caraku sendiri.*

Alya mengambil ponselnya, mulai menyusun daftar kontak pengusaha logistik alternatif dan mencoba menghubungi mereka satu per satu. Ia bernegosiasi secara gigih, menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi demi mendapatkan komitmen pasokan. Namun, satu per satu dari mereka menolak dengan halus karena takut pada bayang-bayang ancaman Keluarga Surya.

Jam dinding terus berdetik. Tiga jam berlalu dengan penolakan beruntun yang menguras stamina dan emosinya.

Tepat saat Alya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri, ponsel di atas mejanya berdering nyaring dari nomor yang tidak dikenal. Alya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo?"

"Selamat siang, Manajer Alya yang cantik," suara pria di seberang telepon terdengar begitu arogan, diiringi tawa terkekeh yang santai. "Bagaimana rasanya duduk di kursi Manajer Proyek Utama Perusahaan Zena? Apakah kursinya cukup empuk untuk wanita elegan sepertimu?"

Alya mengenali nada bicara yang penuh kesombongan itu seketika. "Randy Surya."

"Hahaha, cerdas sekali!" Randy terkekeh puas dari seberang saluran. "Aku dengar proyek pesisirmu sedang mengalami sedikit... masalah logistik? Kasihan sekali. Ribuan ton semen dan baja yang kamu butuhkan sekarang menumpuk di gudang-gudang milik keluarga kami."

"Randy, tindakanmu ini melanggar hukum persaingan usaha yang sehat!" tegas Alya dengan nada dingin menekan. "Kamu sengaja memanipulasi pasar demi menjatuhkan proyek Zena!"

"Hukum?" Randy tertawa semakin keras, menyuarakan kepuasan yang tidak tertutup. "Di kota ini, Keluarga Surya adalah hukum itu sendiri, Alya! Kamu pikir dengan berlindung di balik Perusahaan Zena kamu bisa bertindak sewenang-wenang dan mempermalukan kerabatku, Dion? Kamu terlalu naif!"

Alya menahan napasnya, mencoba mempertahankan profesionalismenya. "Sampaikan keinginanmu, Randy. Jangan berputar-putar seperti penjelajah penakut."

Tawa Randy mendadak terhenti, berganti menjadi nada bicara yang penuh dominasi dan pemerasan yang kejam.

"Sederhana saja, Alya," ujar Randy lambat-lambat. "Proyek pengembangan pesisir itu bernilai triliunan rupiah. Wanita tanpa latar belakang klan besar sepertimu tidak pantas memegangnya. Serahkan hak kelola dan pengawasan utama proyek itu kepada Grup Surya sebelum matahari terbenam hari ini."

"Dan jika aku menolak?" tanya Alya tajam.

"Jika kamu menolak..." Randy memberi jeda yang sarat ancaman, "...aku pastikan tidak ada satu batu bata pun yang bisa terpasang di lokasi proyekmu. Dalam waktu tiga hari, Perusahaan Zena akan mengalami kerugian penalti miliaran rupiah per hari karena keterlambatan jadwal. Pemilik baru Zena—siapa pun Penguasa Naga Hitam yang misterius itu—pasti akan menganggapmu sebagai manajer tidak berguna dan memecatmu secara tidak hormat!"

Randy memajukan ancamannya dengan nada licik. "Pikirkan baik-baik, Alya. Serahkan proyek itu padaku, atau kariermu yang baru seumur jagung ini akan hancur total, dan namamu akan membusuk di industri properti selamanya!"

*Tut... tut... tut...*

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Randy.

Alya mematung di tempatnya. Genggaman tangannya pada ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Hawa dingin merambat di tengkuknya. Waktu terus berjalan, dan jebakan yang dipasang oleh Randy Surya benar-benar dirancang untuk mencekik lehernya dari segala arah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!