Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Menantu yang dibeli
Derit roda kereta kayu memecah kesunyian pagi.
Lian Yue, nama pemilik tubuh itu, duduk diam di sudut kereta yang sempit. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sementara tatapannya mengikuti pemandangan yang perlahan berganti.
Jalan tanah yang bergelombang, lalu petak-petak sawah yang mengering. Rumah-rumah beratap jerami yang tampak rapuh diterpa angin. Beberapa anak kecil berlarian tanpa alas kaki. Pakaian mereka dipenuhi tambalan, namun tawa mereka terdengar begitu lepas.
Pemandangan sederhana itu membuat dada Lian Yue terasa hangat. Di dunia asalnya, suara tawa anak-anak telah lama menghilang. Yang terdengar setiap hari hanyalah sirene darurat, letusan senjata, dan jeritan orang-orang yang kehilangan keluarga.
"Hei." Suara pria tua yang mengendalikan kereta kuda membuyarkan lamunannya.
"Kau menyesal?"
Lian Yue mengangkat kepala. Pria itu menatapnya sekilas sebelum kembali mengayunkan cambuk ke udara.
"Menjadi menantu keluarga Han." Lian Yue menggeleng pelan. "Apa gunanya menyesal?"
Pria tua itu terkekeh. "Benar juga."
"Hidup orang miskin memang tidak punya banyak pilihan."
Tak lama kemudian ia kembali bersuara. "Keluarga Han memang miskin. Rumah mereka paling ujung desa. Ladangnya juga yang paling tandus. Tapi mereka bukan orang jahat. Mereka hanya terlalu sial."
Lian Yue tidak menjawab. Ingatan pemilik tubuh sebelumnya perlahan muncul. Keluarga Han terdiri dari empat orang. Han Zheng. Putra sulung, berusia sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi dan tegap karena terbiasa bekerja di ladang dan berburu di pegunungan.
Konon, ia sudah beberapa kali menolak menikah. Bukan karena sombong. Melainkan karena keluarganya terlalu miskin hingga tak ada gadis yang bersedia datang.
Ibunya, Nyonya Han, harus meminjam uang ke sana-sini agar dapat "membeli" seorang menantu. Sedangkan ayahnya menderita cedera kaki akibat tertimpa pohon saat menebang kayu beberapa tahun lalu.
Sejak itu, beban keluarga hampir seluruhnya berada di pundak Han Zheng.
Lian Yue memejamkan mata. Mereka miskin. Sangat miskin. Namun tetap berusaha hidup bersama.
Baginya, itu sudah lebih dari cukup. Kereta kuda berhenti di depan sebuah gerbang kayu sederhana.
Pria tua itu turun lebih dulu. "Kita sudah sampai."
Lian Yue ikut turun. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia memperhatikan halaman rumah itu.
Pagar bambunya hampir roboh, atap rumah tampak bocor di beberapa bagian, kayu bakarnya tinggal sedikit, sebuah sumur tua berada di sudut halaman dan di dekat kandang, hanya ada dua ekor ayam kurus yang sibuk mematuk tanah.
Sangat miskin.
Tetapi... Halamannya bersih, tidak ada sampah berserakan. Peralatan pertanian juga disusun rapi.
Lian Yue langsung menarik kesimpulan. "Penghuninya rajin."
Rumah miskin yang bersih jauh lebih menjanjikan daripada rumah kaya yang malas.
Pintu rumah terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dengan wajah gugup.
"Itu... menantuku?" Tatapan wanita itu dipenuhi rasa canggung. Seolah takut gadis yang baru dibeli itu akan kabur.
Lian Yue menundukkan kepala sedikit. "Ibu."
Nyonya Han tertegun. Ia tidak menyangka gadis itu akan langsung menyapanya.
Wajahnya yang semula tegang perlahan melunak. "Masuklah... rumah kami memang sederhana."
Lian Yue melangkah masuk. Matanya memindai ruangan kecil itu, hanya ada sebuah meja kayu tua, empat bangku. Dapur sederhana di sudut rumah, tak ada barang mewah.
Namun semuanya bersih. Ia mengangguk pelan. "Bagus." bisiknya pelan dengan senyum kecil. Ucapan itu keluar begitu saja.
Nyonya Han yang tak sengaja mendengarnya, mengira dirinya salah dengar. "Bagus?"
"Ya. Rumah ini nyaman."
Wanita paruh baya itu hampir menitikkan air mata. Mendengar ucapan dari menantu yang dia dapatkan dengan membelinya itu. Seumur hidupnya, tak pernah ada yang memuji rumah mereka.
Saat itulah langkah kaki berat terdengar dari luar. Seorang pria tinggi membawa ikatan kayu bakar memasuki halaman. Keringat membasahi dahinya, lengannya dipenuhi goresan kecil akibat semak belukar. Tatapannya langsung berhenti pada Lian Yue. Keduanya saling diam beberapa saat.
Han Zheng. Lian Yue mengenalinya dari ingatan tubuh ini. Di sisi lain Han Zheng tampak kikuk.
Ia menggaruk belakang kepalanya. "Aku...aku tidak pandai bicara.Tapi selama kau tidak membenciku... aku akan berusaha menjadi suami yang baik."
Ucapan sederhana itu membuat Lian Yue sedikit terkejut. Tidak ada janji muluk, tidak ada rayuan. Hanya kalimat jujur.
Lian Yue tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Itu sudah cukup."
Han Zheng mengembuskan napas lega. Nyonya Han diam-diam tersenyum. Suasana yang semula canggung perlahan mencair.
Menjelang sore, Lian Yue meminta izin berjalan mengelilingi halaman. Ia memperhatikan tanah yang retak-retak, daun-daun sayuran menguning. Bahkan pohon buah di belakang rumah hampir mati.
"Kondisinya cukup parah..." Ia berjongkok. Mengambil segenggam tanah.
Kering dan keras. Hampir tak memiliki kelembapan.
Tiba-tiba...
"Cuit... cuit..." Seekor burung pipit hinggap di pagar bambu.
Lian Yue menoleh. Entah mengapa, suara burung itu terdengar begitu jelas di telinganya.
["Kasihan manusia itu..."]
["Sudah tiga musim ladangnya gagal panen."]
Lian Yue membeku. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Burung itu kembali berkicau.
["Di balik bukit timur masih ada mata air."]
["Tapi manusia bodoh tidak pernah mencarinya."]
Lian Yue perlahan berdiri. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Itu...Aku...mengerti?"
Burung pipit itu memiringkan kepalanya. ["Eh?"]
["Manusia itu mendengarku?"]
Sesaat kemudian, burung itu terbang terbirit-birit sambil terus berkicau panik. ["Gawat! Gawat! Ada manusia yang bisa mengerti bahasa burung!"]
Lian Yue hanya bisa menatap ke arah langit dengan wajah terpaku. Jika yang baru saja ia dengar bukan halusinasi...
Maka kehidupan keduanya di dunia ini mungkin akan jauh lebih luar biasa daripada yang ia bayangkan.
di otak saya🤣🤣
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang