Novel ini dalam tahap revisi.
Seorang wanita yang d tinggalkan saat sedang mengandung oleh pacar nya. Sampai akhirnya bertemu kembali 10 tahun kemudian yang membuat nya harus memulai perjalanan cinta nya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat tinggal putri(ku)
Pagi ini begitu cerah...
Dokter Doni sudah bersiap dengan jas putihnya untuk pemeriksaan.
Kamar pertama yang akan dia kunjungi adalah kamar 107 tempat dimana Putri berada.
Dia berjalan dengan langkah penuh semangat, berjalan menuju kamar 107,dia sangat bersemangat karena akan bertemu dengan Putri kecilnya.
Tapi saat dia tiba di sana dia terkejut mendapati kamar itu sudah kosong.
Tinggal seorang suster yang sedang membereskan tempat tidur.
'"Suster... Pasien yang berada di sini kemana ya?'' Tanya Dokter Doni dengan nada terbata bata.
''Maaf dok pasien ini baru saja keluar,mereka izin pulang Karena keadaan pasien sudah membaik'' Jawab suster tersebut.
"Apa...?" Dokter Doni terkejut lalu berlari keluar.
Dia terus berlari,menuruni tangga dan menabrak apapun yang menghalangi jalan nya.
Dia hanya ingin bertemu dengan putri untuk terakhir kalinya. Akhirnya sampai juga ia di jalan depan rumah sakit,mata nya mencari cari keberadaan Putri, Iren ataupun Bayu.
Nafas nya ter engah engah,tangan nya pun gemetar,setelah sekian lama mencari,akhirnya Dokter doni melihat Bayu sedang masukan koper ke dalam bagasi taxi.
Sontak Dokter Doni berteriak memanggil Bayu,akan tetapi Bayu tidak mendengar sama sekali dan akhirnya dia masuk ke dalam taxi tersebut.
Dokter Doni dengan sekuat tenaga berlari mengejar Taxi yang di tumpangi Bayu beserta istri nya,dan akhirnya dia berhasil mengejar Taxi tersebut.
Dokter Doni mengetuk kaca jendela mobil.
"Putri...putri...''
Dokter Doni memanggil manggil putri,tapi Taxi terus melaju dan tak menghiraukan teriakan Dokter Doni yang terus memanggil nama Putri.
Dokter Doni pun terjatuh dan terduduk di aspal dan menangis
"Putri...." Panggil nya lagi.
Tanpa di sangka akhirnya Taxi tersebut berhenti tak jauh dari tempat Doni terjatuh.
Bayu keluar dari dalam Taxi dan menghampiri Dokter Doni.
"Bayu gue mohon izinin gue bertemu dengan putri untuk terakhir kalinya,gue janji ga bakalan ngeganggu keluarga kalian lagi'' Pinta Doni sembari menangis.
Akhirnya Bayu pun merasa iba dan memperbolehkan Dokter Doni untuk bertemu dengan putri untuk terakhir kalinya.
Doni pun bergegas berlari menuju Taxi yang terparkir di depan tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dokter doni masuk ke dalam Taxi dan mengucapkan perpisahan dengan darah daging nya tersebut.
"Putri...'' Sapa Dokter Doni.
"Hati hati di jalan ya sayang,om bakalan kangen deh sama kamu'' Ucapnya lagi sembari menangis.
"Om Dokter kenapa nangis?'' Tanya Putri.
"Om cuma sedih tidak bisa bertemu lagi dengan kamu,kamu baik baik ya sama ibu,sama papah,ga boleh nakal,jangan lupa obat nya di minum biar cepat sembuh" Tambah nya lagi.
"Ia om Dokter Putri janji bakalan minum obat biar bisa cepat sembuh, tapi om Dokter jangan nangis, Putri sedih melihat om nangis" Jawab Putri sambil mengusap air mata di pipi Dokter Doni.
"Ia sayang om gak bakalan nangis lagi"
Dokter Doni memeluk putrinya tersebut, tangan nya terasa berat untuk melepaskan pelukan Putri hingga akhirnya Iren berkata.
"Maaf Don tapi kita Harus harus segera berangkat'' Ucap Iren dengan wajah sedih.
Doni pun melepas pelukannya,dan berkata
"Aku titip Putri ya, jaga dia baik baik..''
Iren hanya mengangguk, karena sejujurnya dia sendiri tidak bisa menahan kesedihan nya menyaksikan perpisahan Dokter Doni dengan Putri.
Dokter Doni keluar dari dalam taxi,
Bayu hanya terdiam menyaksikan perpisahan Dokter Doni dengan putri,dia menyadari betapa tulusnya kasih sayang Dokter Doni kepada putri nya.
"Gue titip Putri yu,gue juga bentar lagi mau menikah, jadi gue gak bakalan ganggu keluarga lo lagi'' Ucap Dokter Doni.
Bayu pun berjalan sambil menepuk pundak Doni,seolah meng iya kan apa yang di katakan Dokter Doni.
Akhirnya Taxi pun berjalan menjauh, Putri melambaikan tangan dari dalam Taxi seolah mengucapkan salam perpisahan
Doni membalas melambaikan tangan dan berucap.
''Selamat jalan Putri ku,buah hati ku,semoga suatu saat kita bisa berjumpa kembali'' Air mata nya terus berlinang.
Akhirnya dia melangkah masuk kedalam Rumah sakit,dan badan nya pun terasa lemas seolah telah kehilangan semangat dalam diri nya
***
Akhir nya Dokter Doni kembali pulang ke rumah nya, rasa nya sudah tidak ada lagi alasan bagi nya untuk terus bermalam di Rumah sakit,karena selama ini dia bermalam di sana hanya karena ingin tetap dekat dengan buah hatinya.
Sekarang Putri sudah tidak berada lagi di sana, membuat nya tidak lagi bersemangat dalam melakukan apapun.
Doni melangkah kan kaki ke dalam rumah megah nya,dia melihat Nyonya Fatma sedang duduk santai di sopa sembari menonton Televisi.
"Doni...'' Sapa Nyonya Fatma dengan senyum lebar.
Dia sangat senang akhirnya putra satu satu nya kembali ke rumah.
Doni hanya menoleh dingin tanpa menghiraukan panggilan mamih nya.
Nyonya Fatma mengikuti Doni sampai ke kamar nya,di lihat nya anaknya sedang duduk termenung di ranjang,dia menghampiri anak nya sembari berkata
"Maafkan mamih nak,mamih sadar apa yang mamih lakukan dahulu itu salah, mamih menyesal'' Ucap nya dengan nada lembut.
"Penyesalan mamih terlambat Dan tidak ada gunanya mih, Sekarang aku tidak bisa bertemu kembali dengan anak aku,dia sudah pulang" Jawab Doni.
"Maksud kamu apa? dia sudah keluar dari Rumah sakit?''
"Iya... Dan dia juga pulang ke kampung halaman Iren, aku juga tidak tahu dimana, karena aku tidak sempat menanyakan alamat mereka'' Doni kembali meneteskan air mata.
Hingga kemudian Nyonya Fatma memeluk putranya tersebut, Doni pun menangis di pelukan ibu nya.
"Andai saja dulu mamih tidak melakukan hal seperti itu pada Iren, kejadian nya tidak akan seperti ini'' Ucap Doni sambil menangis.
"Tinggalin aku sendiri mih,aku capek, aku ingin istirahat" Ucapnya lagi sembari melepaskan pelukan ibu nya.
Nyonya Fatma meninggal kan putranya sendiri di kamar nya.
Sementara Doni berbaring di ranjangnya, badan nya terasa tidak bertenaga, fikiran nya kacau,Lelah dan tidak karuan hingga akhirnya dia memejamkan mata nya dan tertidur.
***
Sementara itu akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 5 jam iren,putri serta suaminya Bayu sampai juga di kampung halaman tempat mereka tinggal.
Iren membuka pintu rumah nya, rumah peninggalan orang tua nya yang meninggal 3 tahun lalu, hanya rumah ini satu satu nya tempat nya berteduh, dia tidak ingin meninggalkan satu satu peninggalan dari orang tua nya.
Itu sebabnya Iren selalu menolak jika suami nya minta nya untuk ikut kemanapun dia bekerja.
Iren menuntun Putri untuk berbaring di kamarnya,di lihat nya Putri nya terus terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Sayang kamu kenapa? kamu tidak senang kita kembali pulang ke rumah?'' Tanya Iren pada anaknya.
"Tidak kok Bu,aku hanya memikirkan om Dokter, kenapa tadi dia menangis?'' Tanya Putri.
" oh.... Ga usah terlalu di fikirin,om Dokter cuma sedih karena harus berpisah dengan kamu, yang selama ini merawat kamu di sana kan dia, jadi wajar kalau dia bersedih karena Harus berpisah dengan kamu'' Iren mencoba untuk menenangkan kan Putri.
"Aku juga sedih harus berpisah dari om Dokter,semoga aku bisa bertemu dengan dia lagi ya Bu'' Ucap Putri pada ibu nya.
Bayu yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Putri dengan istri nya,hanya bisa terdiam membisu.
...'...
...''ternyata ikatan batin antara ayah dan anak tidak bisa berbohong''...
Gumam Bayu dalam hatinya,lalu dia
melangkah keluar untuk merokok,duduk di teras rumah sembari menikmati pemandangan desa dengan angin sepoy sepoy yang terasa sejuk,udara nya pun masih asri tanpa polusi, membuat Bayu merasa nyaman,dan terus menghembuskan asap rokok nya.
*****
komplit mendukungmu thor