Aku tahu mencintainya salah.
Dia suami kakakku-setidaknya, itu yang semua orang pikirkan.
Dirgantara Sebastian selalu terlihat tenang, dewasa, dan terlalu sempurna untuk dimiliki. Tapi semakin aku berusaha menjauh, semakin hatiku justru menolak lupa.
Cinta ini salah, beracun, dan menyakitkan... tapi aku tetap terjebak di dalamnya.
Sampai suatu hari, aku tahu kebenarannya.
Pernikahan Dirga dengan kakakku hanyalah pernikahan kontrak, kebohongan besar yang dijaga rapat demi nama keluarga.
Dan di antara rahasia itu, kami saling menemukan-dalam cara yang seharusnya tak pernah terjadi.
Sekarang aku tak tahu mana yang lebih menakutkan...
mencintai seseorang yang salah,
atau menyadari bahwa cinta ini mungkin satu-satunya hal yang benar.
"Cinta ini beracun, tapi aku tetap meneguknya."
LOVE TOXIC - karena tidak semua cinta pantas, tapi beberapa terlalu kuat untuk dilawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Humble
Saat pulang sekolah Sena sengaja menunggu Dirga di halte sekolah tapi pria itu masih belum juga memperlihatkan batang hidungnya, pria satu itu benar-benar membuat Sena kesal jika di tunggu tak kunjung datang, jika ia tidak pernah menunggu pasti tiba-tiba kedatangannya muncul begitu saja.
“Kemana sih, si tua itu kalau di tungguin enggak datang-datang,” gerutunya.
Tiinn.. Suara klakson motor mengagetkan Sena yang sedang berdiri sendirian di halte ternyata Juan datang bersama motor sportnya.
“Hei pasti mau pulang kan? Ayo gue anterin,”
“Makasih tapi maaf ya gue bisa pulang sendiri naik angkot,” ujarnya dan Juan turun menghampirinya.
“Ayolah Sen, gue anterin ya?” ujarnya memelas berhasil membuat Sena tak enak hati.
“Enggak ngerepotin nih?”
“Enggak tenang aja, gue anterin lo ya,”
“Iya udah ayo anterin gue balik,”
“Siap! Gue anterin sampe ke tempat tujuan.” katanya berhasil membuat Sena ikut tertawa renyah.
Akhirnya Juan berhasil mendekatinya walaupun baru permulaan tapi rasanya sudah berhasil membuat Juan merasa senang. Juan sudah tertarik kepada Sena sejak pertama kali mereka berkenalan baginya Sena berbeda dengan gadis lainnya, dia tidak pernah sesuka itu kepada seorang gadis dan ini untuk pertama kalinya bagi Juan.
Bukannya mengambil jalan arah ke rumahnya tapi Juan memilih jalan yang berbeda membuat Sena kebingungan.
“Ini bukan jalan pulang arah rumah gue,”
“Pulangnya nanti aja, kita makan dulu,”
“Enggak usah deh Juan, gue masih kenyang,”
“Tenang aja gue yang traktir.”
Sena tidak bisa menolak lagian ia juga merasa malas pulang lebih cepat, jika sudah berada di rumah ia pasti hanya akan menghabiskan waktunya di kamar.
Mereka sampai di sebuah tempat makan siap saji, disini semua makanan Juan yang memilihkan sedangkan Sena hanya bisa duduk santai.
“Sori gue belum bisa ajak lo makan di tempat mahal,”
“It’s oke enggak apa-apa kok, ini aja udah bikin gue ngerasa ngerepotin lo banget,”
“Gue rasa lo orangnya cepat beradaptasi juga ya,”
“Iya, kalau enggak cepat beradaptasi nanti gue ketinggalan jaman,”
“Iya juga sih ya.”
Juan kagum dengan kecantikan Sena, akhirnya ia bisa melihat dengan sekat wajaj gadis pujaannya, Juan bisa menebak Sena gadis yang suka berdandan tapi dandanan Sena tidak terlalu berlebihan.
“Lo terpesona ya sama gue?” Sena selalu percaya diri.
“Iya, lo itu cantik.. cantik banget malah,” ucap Juan.
“Makasih pujiannya.” Sena yang tersenyum manis.
***
Dirga meregangkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Pekerjaannya begitu sangat padat berhasil membuat kepalanya terasa penat. Dirga melirik ponselnya ia sejenak membuka aplikasi berwarna hijau, ia baru ingat bahwasanya ia tidak memiliki nomor gadis kecil itu, gadis kecil yang sudah berhasil membuatnya terus memikirkannya.
“Ah, gila!”
Suara pintu terbuka berhasil membuatnya langsung menatap pintu, dan ia sudah bisa menebaknya siapa yang akan datang, siapa lagi kalau bukan Sarah yang membawakannya makanan.
“Kamu.. aku kira siapa?”
“Mas aku bawain makanan buat kamu sekalian aku mau minta persetujuan dari kamu,” ujarnya seraya mengeluarkan satu persatu dari rantang.
“Persetujuan apa?” kata Dirga ketus.
Sarah menyiapkan nasi beserta lauknya untuk Dirga, “Dua minggu lagi Maudy ulang tahun, jadi aku mau minta persetujuan dari kamu, boleh kan kalau aku ngerayain ulang tahun Maudy di rumah?” ujarnya.
“Enggak!”
“Kenapa?”
“Jangan di rumah nanti aku sewain gedung , ngapain sih bikin acara di rumah,”
“Iya udah kalau emang menurut kamu baiknya sewa gedung.”
Sebenarnya Sarah hanya berpura-pura meminta izin membuat acara di rumah pasalnya ia tidak berani menggunakan uang Dirga semaunya sendiri, jadi ia ingin berpura-pura agar Dirga menyuruhnya menyewakan gedung untuk acara ulang tahun Maudy nanti.
Dirga paling tidak suka dengan keramaian hidupnya sudah terbiasa dengan zona nyaman flatnya, apalagi kedua orang tuanya yang dari dulu sudah menetap di luar negeri dan ia sudah terbiasa hidup mandiri.
Selesai dari pekerjaannya Dirga langsung memutuskan untuk pulang bersama Sarah karena wanita itu sedari tadi kekeh tidak mau pulang, dan hanya ingin menemani Dirga yang sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Sesampainya di rumah ia hanya mendapati Maudy dan tidak melihat Sena, ia pikir Sena mungkin berada di kamarnya.
“Sena di kamarnya?”
“Enggak Mas dari tadi aku belum ngeliat dia pulang,”
“Belum pulang?” kata Dirga dengan raut kesalnya.
“Kamu udah hubungi dia?”
“Belum,”
“Kamu hubungi dia coba, suruh dia cepat pulang!”
“Mas kamu kenapa sih sampai keras-keras gitu ngomongnya,” ujar Sarah yang tidak suka dengan nada bicara Dirga pada adiknya.
Dirga menatap Sarah tegas, “Kamu taukan ini tuh Jakarta, dia pasti belum tau betul lingkungan sini kayak apa,” ucapnya ketus.
“Lagian kamu juga Maudy, kamu selalu berangkat dan pulang diantar supir kamu enggak pernah ngajak Sena berangkat dan pulang bareng kan, harusnya kamu sebagai saudaranya jangan terlalu bersikap egois!” cerca Dirga pada Maudy.
“Maaf Mas, tapi Sena nya sendiri yang enggak mau bareng sama aku,”
“Udahlah Mas jangan pakai emosi gitu ngomongnya, ini pasti efek karena kamu kecapean kerja jadi pasti kamu capek kan.. tapi kamu juga jangan kayak gitu melampiaskan kecapean kamu ke Maudy, lagian Sena itu emang dari dulu suka kelayapan Mas jadi maklumi aja,” tutur Sarah membela adiknya.
“Udah ngomongnya, kalian berdua yang buat saya tambah capek!” kata Dirga selepas itu ia langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan Maudy yang merasa kesal karena Dirga menyalahkannya ia tidak terima.
Malamnya Sena masih juga belum pulang, Juan benar-benar mengajaknya berkeliling melihat keindahan ibu kota.
Sudah sangat lama Sena merindukan angin malam dan hari ini Juan mengajaknya, ia tidak perduli dengan nasibnya nanti ketika pulang telat.
“Lo dulu di kampung.. suka keluar malam enggak?”
“Sering banget malah tapi sekarang di Jakarta udah jarang keluar sih,”
“Kenapa?” tanya Juan dengan nada sedikit meninggi karena mereka sedang berada di atas motor.
“Di kampung.. gue banyak temennya disini cuma Flo temen gue sekarang,”
“Lo enggak anggap gue temen lo gitu?”
“Iya lo juga temen gue.”
Mereka terus melihat keindahan daerah senayan sampai tiba dimana Sena melihat jam tangan di pergelangan Juan, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan ia harus segera pulang.
“Juan cepetan putar balik gue harus balik udah malem,”
“Baru juga jam segini,”
“Udah ayo balik!”
“Iya-iya.”
Motornya semakin melaju kencang ia harus mengantarkan Sena pulang, bagaimana pun juga pasti Sena akan terkena omelan kakaknya seperti cerita yang pernah Sena ceritakan berhasil membuatnya kasihan, dimana kakaknya selalu memarahinya. Sampai di depan rumah megah Juan hanya berani mengantar Sena sampai depan gerbang.
“Thanks ya buat hari ini,”
“Iya makasih juga ya,”
“Kalau lo pengen keluar malam lo jangan sungkan buat kabarin gue, gue bakalan nemenin lo keliling kota lagi,”
“Makasih ya,”
“Gue balik,”
“Lo hati-hati ya.” Katanya yang berhasil membuat Sena tersenyum ia paham maksud Juan barusan.
Saat kakinya memasuki area pekarangan rumah, perasaannya sudah siap mendengar cercahan yang akan keluar dari mulut saudaranya itu.