Apa yang terjadi jika hubungan yang dibina sejak lama hancur dalam sekejap mata ?
Itulah yang dirasakan oleh Aira. Ia sungguh tak menyangka jika suami tercintanya akan membawa wanita lain masuk ke dalam rumah tangganya.
Lalu, akankah Aira mempertahankan rumah tangganya ? Atau mengakhiri semua yang telah dibangun ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepenggal Asa
" Tuan Yuda sudah kembali ke rumah, nona. Sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang " lapor seseorang dari sebrang telepon.
" Lalu bagaimana dengan Mba Aira dan Bayu ? " tanya Tasya.
" Sepertinya mereka berdua tidak ikut kembali bersama Tuan Yuda, nona. Mereka sepertinya tinggal di rumah orang tua nona Aira " jawabnya lagi
" Baiklah... Terima kasih infonya " ucap Tasya lalu mematikan sambungan telepon.
" Mengapa jadi begini ? Maafkan aku, mba... Maafkan aku, mas..." gumam Tasya dengan raut wajah yang penuh penyesalan.
Tasya terduduk lesu di sofa, ia tidak pernah membayangkan sedikitpun kehidupannya akan berjalan seperti ini. Menjadi wanita kedua sekaligus wanita perusak rumah tangga orang lain.
" Ya, Tuhan... Apakah aku ini termasuk dalam golongan pelakor ? " tanya Tasya dalam hati.
Ah... Seandainya saja waktu bisa ia putar kembali, tentunya ia akan memilih untuk tidak pergi ke pesta saat ada di Bali waktu itu. Ia akan memilih untuk tinggal saja di dalam kamar hotelnya. Akan tetapi, semua sudah terjadi. Tidak ada jalan terbaik selain menghadapi semuanya. Mencoba berdamai dengan keadaan demi sang buah hati yang tak sengaja hadir dalam rahimnya.
Berpikir terlalu keras membuat Tasya lelah, hingga akhirnya ia tertidur di sofa.
Tak lama kemudian, Yuda tiba di rumah. Ia melihat Tasya yang tertidur di sofa saat masuk ke dalam rumah. Yuda menghela nafasnya, bagaimanapun wanita yang tengah tertidur di sofa itu adalah istrinya juga. Walau ia tidak mencintai wanita itu, tapi ada tanda cintanya yang tumbuh dalam dirinya.
Yuda berjalan melewati sofa, lalu masuk ke dalam kamar miliknya dan Aira. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia menghampiri Tasya. Ia berniat untuk menggendong Tasya dan memindahkannya ke kamar. Yuda berjongkok mendekati Tasya. Dari dekat ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik milik Tasya. Namun ia tak memiliki rasa lebih saat ini, Yuda hanya menghormati wanita yang sedang mengandung anaknya itu bahkan sebelum mengetahui kehamilan wanita itu ia bahkan berencana untuk menceraikannya. Tapi takdir berkata lain, ia harus meneruskan pernikahan ini demi status anaknya nanti.
Tasya membuka matanya saat merasakan ada yang menyentuhnya dan ia begitu terkejut saat menyadari Yuda tengah menggendongnya menuju ke kamar.
" Turunkan aku, mas " lirih Tasya.
" Aku akan membawamu ke kamarmu, kau jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan hal aneh padamu " sahut Yuda tanpa menuruti ucapan Tasya.
Hingga akhirnya, mereka tiba di kamar Tasya.Yuda membawa Tasya ke ranjangnya lalu membaringkan Tasya disana.
" Terima kasih, mas " lirih Tasya.
" Beristirahatlah, kau harus bisa menjaga diri. Ingat, ada nyawa lain dalam dirimu " tutur Yuda membuat Tasya tersadar jika Yuda melakukan itu hanya karena darah dagingnya.
" Kau sudah makan ? " tanya Yuda membuyarkan pikiran Tasya.
Tasya menggeleng lemah.
" Nanti aku bawakan makan untukmu. Tadi aku sudah membeli makanan untuk kita di jalan " ucap Yuda lalu segera beranjak dan berjalan menuju pintu.
" Mba Aira sama Bayu kemana mas ? " tanya Tasya pura-pura tidak tahu.
Mendengar pertanyaan Tasya membuat Yuda berhenti melangkahkan kakinya.
" Aira dan Bayu untuk sementara tinggal dirumah Ibunya Aira " jawab Yuda tanpa melihat Tasya, lalu kembali melangkahkan kakinya ke luar dari kamar Tasya.
" Bagaimana mungkin kamu memintaku hidup bersamanya, Aira... Sementara aku tak dapat hidup tanpamu " lirih Yuda saat berdiri di depan pintu kamar Tasya.
Yuda beranjak, ia menuju ke meja makan. Menyiapkan makanan dan susu khusus ibu hamil untuk Tasya. Kemudian, ia kembali lagi ke kamar Tasya dengan membawakan makanan dan segelas susu.
Pintu kamar terbuka, Yuda masuk dengan membawa nampan yang berisikan sepiring nasi juga segelas susu.
Tasya begitu bahagia saat melihat Yuda membawakan makanan dan susu untuknya. Sesaat ia amat berharap jika Yuda memang sangat memerhatikan dia dan juga bayi mereka. Tapi kemudian ia hempas semua asanya. Ia tahu betul betapa besar Yuda mencintai Aira dan nyaris tak ada kesempatan untuknya bisa memperoleh cinta Yuda. Mungkin perhatian yang diterimanya saat ini, hanya karena ada sang jabang bayi yang mengikat keduanya.
" Kamu bisa makan sendiri kan ? " tanya Yuda sambil meletakkan nampan di atas nakas.
Tasya mengangguk lemah. Bagaimana mungkin ia mengatakan jika ia begitu ingin disuapi oleh Yuda. Tasya terlalu malu untuk mengutarakan keinginannya dan terlalu takut kecewa bila mendapati penolakan dari Yuda.
Tasya mengusap-usap perutnya yang masih rata itu, lalu meraih piring yang ada di nakas. Sementara Yuda hanya menatap Tasya, dan tak lama ia beranjak keluar kamar.
Baru saja Yuda sampai didepan pintu, Tasya kemudian bangkit dari ranjangnya dan sedikit berlari menuju kamar mandi. Ia memuntahkan apa yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
" Hoek... oek... "
Yuda melangkah menuju kamar mandi. dilihatnya Tasya yang sedang berjongkok di depan toilet, memuntahkan isi perutnya. Yuda merasa sedikit khawatir, ia lalu memijit-mijit tengkuk Tasya.
Seperti obat, sentuhan dari Yuda membuat Tasya tidak merasakan mual lagi. Mungkin karena sang jabang bayi yang menginginkan sentuhan dari sang ayah.
Yuda memapah tubuh lemah Tasya menuju ranjang.
" Biar aku buatkan air jahe madu hangat untukmu. Dulu saat Aira hamil, aku selalu membuatkannya untuk Aira agar rasa mualnya berkurang " tutur Yuda.
" Bahkan kamu begitu hafal apa yang baik untuknya. Sungguh betapa beruntungnya mba Aira bisa dicintai kamu, mas... Apa aku juga bisa kamu cintai sedalam itu ? " batin Tasya saat menatap punggung Yuda yang sudah berada di balik pintu.
" Sadar Tasya... Jangan pernah berharap lebih. Kamu hanyalah orang asing yang terdampar di peraduan orang lain. Kamu bukan siapa-siapa... " Tasya bermonolog dengan hati kecilnya.
Kecewa ? Ya, sudah barang tentu Tasya kecewa. Bagaimanapun juga ia seorang wanita yang ingin dikasihi oleh lelaki yang menjadi suaminya. Tapi lagi-lagi, Tasya hanya bisa berpasrah diri. Semenjak awal, Yuda sudah memberitahunya jika ia adalah seorang pria beristri yang sangat mencintai istrinya. Jadi, Tasya harus rela berbagi cinta dengan istri pertama Yuda.
Mengharap cinta Yuda sama saja seperti pungguk merindukan bulan... Hatinya begitu sulit digapai, walaupun raganya begitu dekat.
Tasya tersadar dari lamunannya saat Yuda memberikan segelas air jahe madu hangat. Yuda bahkan membantunya untuk meminum air jahe itu.
" Berbaringlah... Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku " seru Yuda sambil membetulkan posisi bantal agar nyaman untuk Tasya menyandarkan kepalanya.
Hati Tasya menghangat dengan perlakuan Yuda. Tasya tahu, jika laki-laki di hadapannya ini adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab.
" Mas... Bolehkah aku meminta sesuatu ? " tanya Tasya ragu.
Kening Yuda berkerut, ia menatap Tasya dengan tatapan penuh tanya.
" Tentu saja, apa yang kau inginkan ? Kau ingin sesuatu untuk kau makan ?" tanya Yuda.
" Emm... Bisakah mas mengelus perutku sebentar saja. Sepertinya, ia menginginkan sentuhan dari ayahnya " jawab Tasya sambil melihat ke arah perutnya.
Yuda menghela nafasnya, lalu ia menyentuh perut Tasya yang masih rata itu.
" Kamu, baik-baik ya nak. Jangan membuat ibumu kesulitan... " ucap Yuda lembut, lalu meraih selimut dan menutupi tubuh Tasya.
" Kau beristirahatlah... Jika perlu sesuatu, hubungi saja aku. Aku ada di kamar bawah " ucap Yuda lalu berlalu keluar kamar.
" Terima kasih, mas... " ucap Tasya penuh rasa bahagia.
Aira
Menurut aku Aira hanya wanita bisa (tidak spesial tidak juga jahat), suaminya menikah lagi dia merasa dikhianati dan dia tidak bisa menerima itu dan dia memilih berpisah, dan mencari kebahagiaannya yang lain
Tasya
Korban opsesi pria, dan terjebak pernikahan dengan wanita beristri dan dia dicap pelakor yang mengakibatkan rumah tangga hancur, dia menerima status istri kedua untuk lelaki yang tida ia cinta tapi dia berusaha menerima lelaki itu, kebesaran hati seorang istri yang melihat suaminya masih berharap dan mngejar2 manta istrinya, dia berkali2 menahan sakit melihat suaminya mengharapkan wanita lain dan berjuang untuk wanita lain itu langsung dihadapannya, ingat tasya wanita kaya, dia tidak perlu suami kayak yuda, tapi karena tasya sangat menghormati pernikahan dan statusnya sebagai istri dia iklas menerima Yuda apa adanya dan selalu berjuang menahan sakit hati lihat suami mengejar wanita lain)
Coba poling pada lelaki pilih mana sosok Aira atau tasya pasti saya yakin 100℅ pilih tasya udah kaya, iklas, tidak banyak nuntut, berjuang,
selamat ya Thor... makin sukses dengan karya-karya lainnya😘🤗🤗