tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Kata Sah Terdengar
Hari ini adalah acara penikahan ku. Aku nggak tahu apa keputusan yang aku ambil benar atau tidak. Yang jelas aku menikahi Bintang karena rasa tanggung jawab aja. Lagian aku juga tahu kalau Bintang memang calon istri yang sudah dipersiapkan oleh mommy. Maka dari itu aku menerima saja keputusan deddy dan tak berkomentar sama sekali.
Setelah kata sah terdengar di ruangan ini, aku melihat Bintang datang menuju ketempat aku duduk dengan dituntun oleh mommy dan mama. Aku sempat terpana dan terpesona dengan Bintang. Aku nggak tahu kenapa ada getaran di hati ku, tapi aku tepis semua nya. Aku nggak mau jatuh cinta sama Bintang, karena Bintang menurut ku adalah calon istri pilihan mommy ku. Aku merasa selalu di atur oleh mommy. Tak bisa kah aku menentukan sendiri pasangan hidup ku, karena aku yang akan menjalaninya.
Apa aku egois, aku juga tidak tahu. Jika saja Bintang bukan wanita yang dijodohkan oleh mommy. Mungkin aku akan menerima pernikahan ini dengan senang hati. Tapi karena pilihan mommy aku menolak dengan tegas.
“Nah Bin, kamu duduk sebelah Aksa.”
“Iya mom.” Ucap ku dengan nada datar ku tanpa ada senyuman diwajah ku.
“Nak Bintang silahkan cium tangan suami mu.” Ucap pak penghulu.
Dan kucium tangan kak Aksa dengan takzim beriringan dengan air mata ku yang jatuh dipipi ku. Aku menangis karena menertawakan nasib pernikahan ku. Aku mencium tangan kak Aksa, kak Aksa juga mencium kening ku. Dan setelah itu, kak Aksa memasangkan cincin pernikahan dijari manis ku dan aku juga memasangkan cincin pernikahan dijari manis kak Aksa.
Setelah itu kami berdiri untuk mengambil foto pernikahan dan foto keluarga. Di dalam foto itu baik aku dan kak Aksa tak ada senyum sama sekali. Mungkin karena pernikahan ini terjadi karena insiden bukan karena ada cinta diantara kami.
Malam pun tiba. Kami berkumpul di ruang keluarga. Dan disana orang tua kami memberikan nasehat kepada kami. Agar kami bisa mengontrol ego kami masing-masing dan agar pernikahan kami langgeng sampai kami menua dan menutup mata nantinya. Aku hanya diam aja mendengar apa yang orang tua kami ucapkan. Karena apa yang merka harapkan tak akan jadi kenyataan.
“Karena kalian sudah menikah, maka Bintang boleh tidur di kamar Aksa.” Ucap mommy dengan nada yang menggoda ku.
“Mom, bisa kah Bintang untuk sementara tidur dikamar Bintang saat ini. Soalnya Bintang kan masih sekolah dan harus belajar, Bintang nggak bisa kalau satu kamar dengan orang lain meski pun dengan suami Bintang sekali pun. Bintang harus berkosentrasi belajar mom, kan Bintang dalam minggu besok mau ujian kenaikan kelas dan kak Aksa juga harus belajar untuk mempersiapkan ujian kelulusannya.” Ucap ku dengan nada memohon.
“Baiklah jika itu keputusan Bintang deddy setuju aja. Benar kata Bintang mom, jangan terlalu terburu-buru, semua butuh proses. Apa lagi Bintang masih sekolah.’
“Baiklah ded. Kali ini mommy yang akan mengalah. Benar juga sih, mereka kan mau ujian. Dan harus belajar.”ucap mommy pasrah.
“Bintang mama dan papa kemungkinan besok balik lagi ke Singapore. Papa harus ketemu dengan klien papa lusa nya. Jadi nggak bisa lama-lama disini. Ingat pesan papa, kamu harus menurut apa kata suami kamu jangan membantah. Jadilah istri yang patuh.”
“Iya pa. Bintang akan dengarkan nasehat papa.”ucap ku setengah hati.
Bagaiman mau nurut coba. Sedangkan pernikahan kami ini hanya sementara. Tak ada niat untuk menikah sampai kami menua. Dan baut apa juga aku harus menurut padanya. Kenapa sih wanita selalu yang harus patuh pada suami. Suami kan juga harus patuh pada istrikan. Aneh-aneh aja.
“Pa, ma, mom, ded, Aksa mau ngomong. Karena Aksa sudah menikah dengan Bintang, Aksa mau hidup mandiri. Aksa mau nanti setelah selesai ujian Bintang, Aksa mau mengajak Bintang tinggal di apartemen Aksa aja. Aksa ingin mandiri juga mom, ded, ma ,pa.”
“Kalau itu mommy nggak setuju. Mommy ingin Bintang tinggal disini. Jika Bintang nggak ada disini, nanti mommy kesepian lagi dong Aksa.”
“Biar Aksa yang memutuskan mom. Aksa sekarang sudah jadi kepala rumah tangga. Dia bebas menentukan kemana dia akan membawa istrinya. Ya sudah, deddy terserah kamu aja Aksa. Karena yang berhak dengan Bintang saat ini hanya kamu.”
“Papa dan mama juga gitu Aksa, kamu bisa membawa Bintang kemana kamu tinggal. Karena Bintang sekarang adalah tanggung jawab kamu. Cuma satu yang papa minta sama kamu. Sayangi dan perlakukan anak papa dengan baik seperti papa dan mama menyayangi dan memperlakukan Bintang dengan baik dari dia dilahirkan kedunia ini sampai saat ini. Jika nanti kamu sudah nggak cocok atau nggak inginkan Bintang lagi, maka pulangkan lah Bintang ke papa dan mama dengan baik-baik, sebagimana papa menyerahkan Bintang pada mu saat ini.”ucap papa ku ke kak Aksa dan kata-kata papa itu membuat ku mengeluarkan air mata dan kupeluk papa ku dengan erat seolah enggan untuk berpisah dengan papa dan mama.
“Baik pa, Aksa akan ingat kata-kata papa. Dan insyaallah Aksa akan menyayangi dan memperlakukan Bintang dengan baik.”
Setelah itu aku dan kak Aksa berjalan ke atas menuju kamar kami masing-masing. Tanpa ada kata ucapan selamat malam, aku langsung membuka kamar ku dan menutupnya dengan pelan. Aku rebahkan tubuh ku ini karena aku sudah sangat lelah sekali. Ya aku lelah jiwa dan raga ku.
Tak ada namanya dikamus ku malam pertama. Kami tetap merasa seperti orang asing. Yang hanya menyapa begitu aja. Dan untungnya kak Aksa tak menuntut aku jadi istri yang harus menyiapkan keperluan dia. Contohnya aja hari ini, pas bangun tidur aku mempersiapkan diri ku sendiri tanpa harus ada embe-embel mempersiapkan pakaian sekolah kak Aksa. Aku aja nggak pernah masuk ke kamarnya kak Aksa. Dan aku berharap nggak akan pernah masuk kekamar itu.
“Pagi semuanya.”ucap ku kepada orang tua dan mertua ku dengan senyuman. Meski pun kamarin aku menikah, tapi hari ini aku tetap harus sekolah. Aku merasa kejadian kemarin nggak pernah ada. Aku lihat kak Aksa turun dengan pakaian yang sudah rapi pula. Dan kami siap-siap untuk menuju ke sekolah.
“Bintang, papa dan mama pamit dulu ya. Karena pesawatnya nanti jam 10.00. Jadi papa rasa kamu nggak akan bisa antar papa dan mama ke bandara.”
“Iya pa, ma. Hati-hati dan selalu jaga kesehatan. Kapan-kapan Bintang kesana ya.”
“ya belajarlah yang rajin nak. Kejarlah cita-cita mu, mama akan menunggu kamu di Singapur.”
Dengan air mata aku pergi ke sekolah. Sebelum pergi aku menyalami tangan orang tua ku dan mertua ku. Aku berangkat sekolah dengan mobil yang di bawa oleh mang Ujang. Karena itu adalah permintaan ku. Aku nggak ingin orang tahu aku tinggal satu rumah dengan kak Aksa. Karena kata ku ke mommy, kalau kak Aksa banyak yang suka. Aku takut nanti banyak musuhnya. Dan mommy menyetujui permintaan ku.