"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: TRAUMA SEBUTIR RENDANG
Arman menurunkan tas pakaian di genggamannya perlahan. Gertakan tegas dari Aini barusan benar-benar menghantam telak egonya.
Namun, alih-alih menyadari kesalahannya yang sering pulang larut malam dan tidak becus menafkahi, Arman justru merasa harga dirinya sebagai seorang suami telah diinjak-injak hingga berkeping-keping oleh istrinya sendiri. Dia merasa menjadi pihak yang paling tersakiti sore itu.
Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar. Tidak ada pintu yang dibanting keras. Arman hanya berjalan gontai, lalu terduduk terpaku di tepi tempat tidur. Matanya menatap lurus keluar jendela kamar, memandangi langit senja yang mulai temaram seolah menggambarkan hatinya yang sedang mendung penuh tekanan dan frustrasi.
Aini tidak tinggal diam melihat suaminya yang mendadak melow. Dia menyusul masuk, berdiri di ambang pintu kamar sambil bersedekap dada.
"Kenapa tidak jadi pergi, Mas? Pergilah. Bukankah dari dulu kamu selalu lari ke rumah ibumu setiap kali kita ribut?" tanya Aini, suaranya terdengar datar namun menantang.
Arman tetap diam membisu, membungkus dirinya dalam jubah keheningan yang dingin.
Jelang magrib, Bapak Farhan, Ibu Naya, dan sang adik, Natan, akhirnya pulang ke rumah. Begitu orang tua dan adiknya tiba, atmosfer di rumah itu mendadak berubah fungsional. Baik Aini maupun Arman langsung memasang topeng, bersikap biasa saja seolah tidak terjadi badai apa pun di antara mereka berdua.
Bapak Farhan dan Ibu Naya sebenarnya bukanlah orang buta. Sebagai orang tua, mereka bisa merasakan ketegangan yang kaku di antara anak dan menantunya. Namun, orang tua Aini memilih bersikap bijak. Sesuai prinsip mereka, selama anak dan menantu tidak datang meminta bantuan, mereka memilih diam dan tidak ingin ikut campur terlalu dalam demi menjaga wibawa rumah tangga anaknya sendiri.
Seminggu pun berlalu dalam kesunyian yang mencekam, hingga kalender mendekati Hari Raya Iduladha. Di pesisir selatan, tepatnya di desa x tempat mereka tinggal, ada sebuah adat istiadat yang sangat kental bernama batandang. Sebuah tradisi di mana seorang istri harus mengantarkan rantang berisi nasi, gulai daging, dan lauk-pauk ke rumah mertua serta kerabat dekat suaminya.
Bagi istri lain, hari raya adalah fajar yang dinanti. Namun bagi Aini, Iduladha adalah monster trauma yang mengerikan. Otaknya langsung memutar kembali pita memori tahun lalu, saat Ibu Rosita—ibu mertuanya—mencibir isi rantangnya kecil, murah, dan tidak pantas.
Aini mendadak dirayapi ketakutan yang hebat. Dia trauma jika harus batandang ke rumah saudara-saudara ibu mertua dan kakak-kakak iparnya hanya untuk mendengarkan ocehan dan hinaan yang merendahkan mentalnya lagi.
Aini bukannya menolak adat. Dia sama sekali tidak masalah harus batandang ke semua rumah kerabat Arman, asalkan uangnya ada.
Namun, dengan uang nafkah delapan ratus ribu rupiah seminggu yang diberikan Arman, dari mana dia bisa menutupi biaya membeli bahan membuat gulai daging dalam jumlah besar? Otomatis, secara logika, uang itu hanya cukup untuk batandang ke rumah ibu mertuanya saja.
"Mas, kita tidak bisa memaksakan batandang ke semua saudaramu," ujar Aini malam itu, mencoba berbicara baik-baik di dalam kamar.
"Tidak bisa bagaimana, Ai? Itu adat! Saudara ibuku dan kakak-kakakku harus ditandangi semuanya. Aku tidak mau dibilang menantu yang tidak tahu adat di rumah ini!" jawab Arman egois, tidak mau tahu kesulitan istrinya.
Aini menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak. Dia mengambil selembar kertas dan pulpen, lalu mulai mengurai rincian keuangan mereka secara logis.
"Coba kamu hitung sendiri, Mas. Ini uang delapan ratus ribu dari kamu. Potong untuk uang bensin kamu seminggu, uang rokok kamu sehari sebungkus, lalu kebutuhan pokok kita sehari-hari, sabun, dan beras. Berapa sisanya? Tidak ada, Mas! Jadi kalau mau dipaksakan membeli gulai daging untuk kakak-kakakmu, kita mau makan apa?" cecar Aini sambil menunjuk angka-angka di kertas.
Melihat rincian yang begitu nyata, Arman akhirnya terdiam. Lembaran kertas itu berhasil menampar logikanya. Dia akhirnya mengerti dan terpaksa menyetujui bahwa Iduladha kali ini mereka hanya akan batandang ke rumah ibunya saja.
Hari raya yang dinanti pun tiba. Pagi-pagi sekali, Ibu Naya dengan penuh kasih sayang membantu Aini di dapur. Beliau ikut memasak gulai, menyiapkan nasi, dan sambal untuk mengisi rantang hantaran Aini.
Setelah semua masakan matang dan disusun rapi ke dalam rantang, Aini bersiap-siap. Dengan mengendarai sepeda motor yang disetir oleh Arman, keduanya berangkat menuju rumah orang tua Arman.
Setibanya di sana, awal mulanya Ibu Rosita menyambut mereka dengan senyuman hangat. Namun, senyuman itu langsung lenyap seolah disapu angin malam, berganti raut wajah masam saat menyadari Aini hanya membawa satu set rantang saja. Ibu Rosita tahu bahwa menantunya tidak membawa hantaran untuk kakak-kakak ipar dan saudara-saudaranya yang lain.
"Lho, Ai? Kok cuma satu rantang? Rantang untuk kakak-kakak iparmu dan bibikmu mana?" tanya Ibu Rosita, nadanya langsung berubah sinis, setajam sembilu.Ibu Rosita mulai bersungut-sungut dan mengumal kesal.
"Kalau begini caranya, Ibu jadi malu sama keluarga besar! Kamu ini kok membeda-bedakan saudara Ibu? Kakak-kakakmu yang lain semuanya mengantar rantang besar ke semua rumah saudara!"
Aini meremas jemarinya, mencoba berbicara sesopan mungkin demi menjaga wibawa suaminya.
"Uang belanja kita belum cukup untuk membuat semuanya sekarang, Bu. Kalau besok-besok ada rezeki lebih, insyaallah Aini bikin untuk semuanya. Ibu kan tahu sendiri berapa gaji Mas Arman seminggu..."Mendengar nama anaknya diseret, Ibu Rosita langsung melotot.
"Makanya kamu itu jadi perempuan harus hemat! Uang pemberian suami itu disisain, ditabung! Biar kalau ada acara adat begini bisa batandang ke semuanya! Jangan apa-apa disalahkan ke gaji suamimu!" Cerca ibu Rosita mertuanya.
Melihat situasi yang semakin memanas, Arman yang berdiri di samping Aini akhirnya membuka suara, mencoba membela istrinya meski dengan nada ragu.
"Sudahlah, Bu... Tidak usah diributkan lagi soal rantang itu."
Bukannya mereda, pembelaan kecil itu justru menyulut api kemarahan Ibu Rosita.
"Kamu diam, Arman! Ibu itu mau bicara sama istrimu yang boros ini! Ini semua juga demi kebaikan kamu, biar uangmu tidak habis sia-sia!" sembur Ibu Rosita, memotong kalimat anaknya dengan telak.
Kata-kata mertuanya kali ini benar-benar menyentuh batas akhir kesabaran Aini. Bendungan air mata yang sejak tadi ditahannya kini pecah, digantikan oleh kobaran amarah yang membakar dada. Aini tidak tahan lagi menelan belati penghinaan itu bulat-bulat.
"Kalau uangnya saja tidak cukup untuk kebutuhan pokok sehari-hari, bagaimana aku mau menyisakan untuk orang lain, Bu?!"
potong Aini, suaranya melengking tinggi, menatap lurus mata mertuanya tanpa rasa takut lagi.
"Aku ini terlantar oleh anak Ibu! Aku kurus, aku tertekan, bahkan untuk beli bedak saja aku tidak mampu! Aku hidup sesusah ini juga gara-gara anak Ibu yang tidak becus menafkahi! Kok Ibu malah tega ngomong begitu sama aku?!"Wajah Ibu Rosita seketika merah padam akibat syok mendapatkan hantaman badai perlawanan yang begitu telak.
Dia menunjuk wajah Aini dengan jari gemetar. "Oh... mulai kurang ajar ya kamu sekarang! Berani kamu membentak mertwamu sendiri?!"
Aini tidak sudi lagi mendengarkan makian berikutnya. Dia berbalik badan, menatap Arman yang berdiri dengan wajah pias.
"Mas! Antarkan aku pulang sekarang! Aku tidak mau di sini!" seru Aini tegas. Arman sebenarnya enggan untuk langsung mengantarkan Aini pulang karena merasa tidak enak pada ibunya.
Namun, melihat dada Aini yang naik turun dan kilat kemarahan di mata istrinya, Arman sadar jika mereka tetap di sana, ledakan yang lebih besar akan meruntuhkan rumah itu. Demi mencegah mereka berdua terlibat cekcok yang lebih hebat di depan sang ibu, Arman akhirnya melangkah keluar, menyalakan motor, dan membiarkan Aini naik di boncengan belakang dalam keheningan yang sedingin es sepanjang jalan pulang.