NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

Rafael mengepalkan tangannya hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tegang. Rahangnya berkerat rapat. Sifat tenang dan dingin yang biasanya ia agungkan runtuh seketika, digantikan oleh kilat amarah yang membakar sepasang mata elangnya.

​"Mendidik, kau bilang?!" suara bariton Rafael meninggi, menggema sarat akan kemarahan yang tertahan di dalam kamar. "Mencambukmu hingga berdarah bukan cara mendidik seorang istri, Freya! Itu kegilaan! Dan kau... kau masih berdiri di sini untuk membelanya?!"

​Freya tersentak, tubuhnya kian menciut melihat kemarahan pria berkuasa di hadapannya. Ia menangis tersedu-sedu, merapatkan kemeja ke dadanya. Di dalam benaknya, bayangan wajah ayahnya yang ringkih di balik jeruji besi seketika berkelebat. Ancaman Sean terlalu nyata dan mengerikan untuk ia pertaruhkan. Ia tidak boleh membiarkan Rafael tahu tentang pemerasan itu.

​"Iya, Paa! Aku yang bersalah!" seru Freya histeris, menyela sebelum Rafael melangkah lebih jauh. "Sean hanya khilaf karena tekanan pekerjaannya! Kumohon jangan campuri urusan rumah tangga kami!"

​Rafael melangkah maju satu kali lagi, mencengkeram kedua bahu Freya dengan kuat, memaksanya menatap langsung ke dalam matanya yang menghunus. "Katakan padaku, Freya. Apa yang dia gunakan untuk mengancammu? Apa yang membuatmu begitu ketakutan sampai rela menjadi keset kaki di rumah ini?!"

​"Tidak ada ancaman, Papa! Tidak ada!" bohong Freya dengan suara melengking parau. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia harus meyakinkan pria ini, apa pun caranya.

​"Lalu kenapa?!" bentak Rafael frustrasi. "Kenapa kau terus melindunginya setelah semua siksaan ini?!"

​Freya memejamkan mata rapat-rapat, menarik napasnya yang terasa sesak sebelum melontarkan kalimat yang paling menyakitkan bagi dirinya sendiri.

​"Karena aku mencintainya, Paa!" teriak Freya, suaranya pecah di tengah tangisan. "Aku mencintai Sean! Aku rela menerima apa pun yang dia lakukan padaku karena aku mencintai suamiku! Jadi kumohon... lepaskan aku, dan jangan pernah hukum dia!"

​Kamar itu mendadak hening seketika.

​Rafael terpaku. Cengkeraman tangannya di bahu Freya perlahan mengendur, lalu terlepas sepenuhnya. Kata 'cinta' yang keluar dari bibir menantunya terasa seperti hantaman keras yang membakar ego dan hasrat liarnya. Wajah Rafael kembali mengeras, bertransformasi menjadi topeng sedingin es yang tak tersentuh.

​"Kau mencintainya?" tanya Rafael datar, suaranya kembali rendah namun sarat akan kekecewaan dan teka-teki yang mematikan.

​"I-iya, Papa..." bisik Freya parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak sanggup melihat tatapan menghunus dari mertuanya.

​Rafael mundur selangkah, merapikan kembali kemeja hitamnya yang sedikit kusut. Ia menatap Freya yang masih menangis sesenggukan dari ketinggian dengan pandangan yang tak lagi bisa dibaca.

​"Cinta yang bodoh," desis Rafael dingin. "Kita lihat saja, Freya... seberapa lama cintamu itu bisa bertahan di dalam neraka yang diciptakan oleh putraku."

​Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Rafael berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kamar, menutup pintu ek besar itu dengan dentuman keras yang menyisakan keheningan mencekam bagi Freya.

*

Meja makan panjang itu telah terhidang rapi. Asap tipis mengepul dari sup hangat, namun kursi di seberang Rafael tetap kosong. Rafael melirik jam dinding, lalu menatap Bi Sofi yang berdiri di dekat meja.

​"Di mana Freya?" tanya Rafael singkat.

​Bi Sofi menunduk, meremas celemeknya. "Nyonya Freya tidak mau keluar, Pak. Siang tadi saya antar makan ke atas, tapi hanya disentuh sedikit. Katanya ingin istirahat saja."

​Rafael meletakkan sendoknya dengan dentang keras. Tanpa sepatah kata, ia beranjak dari kursi dan melangkah menuju lantai atas. Langkahnya mantap, mengabaikan ketegangan yang merambat di udara.

​Sesampainya di depan pintu kamar utama, Rafael langsung mendorongnya terbuka. "Freya, jangan bersikap kekanak—"

​Kalimatnya tertelan. Pemandangan di depannya menghentikan langkahnya. Kamar luas itu terasa kosong, namun di sudut ruangan, di atas lantai kayu yang dingin, Freya terbaring. Ia tidak di ranjang. Gadis itu meringkuk di balik selimut tipis, beralaskan kain seadanya.

​Rafael menghampirinya dengan langkah lebar. "Freya? Bangun."

​Freya tak bergeming. Hanya ada helaan napas berat. Rafael berlutut, menyentuh bahu istrinya itu. "Freya, bangun. Makan malam sudah siap."

​Gadis itu hanya menggeliat kecil, jemarinya mencengkeram kain selimut lebih erat. Rafael yang merasa ada yang tidak beres, menempelkan telapak tangannya ke dahi Freya.

​Dahi itu panas luar biasa.

​"Sial," umpat Rafael pelan. Ia segera menangkup wajah Freya, mendapati pipinya merona merah karena panas tubuh yang merambat tinggi. "Freya? Hei, bangun!"

​Freya hanya mengerang pelan, matanya tetap terpejam rapat.

​Rafael segera berdiri dan menekan interkom di meja nakas. "Dimas! Panggil dokter pribadi sekarang! Jangan buang waktu!"

​Setelah memutuskan sambungan, Rafael kembali berlutut. Dengan gerakan hati-hati namun tegas, ia menyibakkan selimut tipis itu dan mengangkat tubuh Freya yang terasa lemas ke dalam pelukannya. Tubuh mungil itu terasa seringan kapas, namun panasnya terasa membakar dada Rafael.

Ia membaringkan Freya di ranjang besar, menarik selimut tebal menutupi tubuh yang menggigil itu, lalu menatap wajah Freya dengan tatapan tajam yang menyimpan kecemasan tersembunyi.

*

Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dengan tergesa-gesa. Dimas masuk bersama seorang dokter paruh baya yang membawa tas medisnya.

​"Tuan Besar, Dokter Hendra sudah datang," lapor Dimas, lalu mundur selangkah untuk memberikan ruang.

​"Periksa dia," perintah Rafael, suaranya dingin namun bernada mutlak. Ia berdiri di sisi ranjang, melipat tangan di dada sambil mengawasi setiap gerak-gerik dokter.

​Dokter Hendra segera memeriksa denyut nadi Freya, menempelkan stetoskop, dan memeriksa suhu tubuhnya. Saat dokter hendak membalik tubuh Freya untuk memeriksa punggungnya, kain kemeja Freya sedikit tersingkap, memperlihatkan noda darah kering yang menembus serat kain.

 Dokter Hendra sempat tertegun, namun tatapan tajam Rafael seolah memberi isyarat agar ia tetap fokus pada tugasnya tanpa banyak bertanya.

​Setelah memberikan suntikan penurun panas dan memasang infus di pergelangan tangan Freya, Dokter Hendra berbalik menghadap Rafael.

​"Bagaimana kondisinya?" tanya Rafael datar.

​"Nyonya Freya mengalami demam tinggi akibat infeksi pada luka di punggungnya, Tuan Besar. Ditambah lagi, kondisi fisiknya sangat lemah karena dehidrasi dan kurang nutrisi. Saya sudah menyuntikkan antibiotik dan penurun panas. Ini resep obat yang harus diminum setelah beliau sadar," jelas Dokter Hendra, menyerahkan secarik kertas kepada Dimas.

​"Apakah dia harus dibawa ke rumah sakit?"

​"Tidak perlu, Tuan Besar. Perawatan di sini sudah cukup, asalkan lukanya rutin dibersihkan dan beliau harus dipastikan makan dengan teratur. Tubuhnya tidak akan kuat menerima obat keras jika perutnya kosong."

​Rafael mengangguk sekilas. "Dimas, antar dokter keluar dan tebus obatnya."

​"Baik, Tuan."

​Setelah kamar kembali sunyi, Rafael melangkah mendekati ranjang. Ia menatap wajah pucat Freya yang kini tampak sedikit lebih tenang setelah mendapat obat. Napas gadis itu masih terasa hangat, namun badannya tidak lagi menggigil hebat.

​Rafael duduk di tepi ranjang. Jemari tangannya yang kokoh terulur, menyentuh kening Freya yang masih terasa hangat, lalu turun mengusap rambut yang menempel di pipinya.

​"Mencintainya sampai mengorbankan nyawamu sendiri, hm?" bisik Rafael rendah, suaranya terdengar seperti embusan angin malam yang dingin namun sarat akan kegetiran.

*

*

*

1
ina
buatlah freya rafael happy end
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
sean keterlaluan kejamnya 🤨🤨🤨 Freya mending kabur aja
Mita Paramita
kasian banget Freya 😭
Mita Paramita
seru baru episode pertama
MissSHalalalal: terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!