"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Calon Istri Kangmas Wira!
Tanpa sepengetahuan Dinda, rupanya dari tadi Wira berdiri tidak jauh dari sana. Pria itu melihat dan mendengarkan dengan jelas seluruh rentetan protes Dinda yang mengeluh malu untuk mandi di sungai terbuka.
Melihat ekspresi panik di wajah gadis itu, sudut bibir Wira perlahan tertarik naik, membentuk segaris senyuman tipis yang sangat langka.
Memang dasar anak saudagar kaya yang manja, batin Wira berkata.
Melihat penampilan, barang-barang aneh yang dibawa, serta perangainya yang serbaputih dan halus, Wira berasumsi kalau Dinda kemungkinan besar adalah putri dari seorang saudagar kaya raya yang entah bagaimana bisa tersesat sampai ke tengah hutan liar ini.
Sementara itu, Dinda masih memasang wajah lesu. Dengan berat hati, ia terpaksa mengiyakan ajakan Mbok Ginem untuk pergi ke sungai. Namun, saat menatap kain jarik dan kemben di tangannya, Dinda kembali meringis bingung.
"Mbok... tapi aku tidak tahu cara memakai baju ini," ucap Dinda pelan dengan wajah polos tanpa dosa.
Mbok Ginem menoleh, lalu tersenyum maklum. "Walah, sini, biar si Mbok yang bantu pakaikan, Nduk. Si Mbok malah merasa senang sekali, rasanya serasa punya anak perempuan yang manja..." ucap Mbok Ginem tulus sembari tangannya bergerak telaten melilitkan kain ke tubuh Dinda.
Gerakan tangan Mbok Ginem mendadak memelan, lalu wanita tua itu menghela napas lirih. "Tapi sayang, Dewata hanya menitipkan satu anak pria saja untuk si Mbok. Itupun cuma Wira yang kaku begitu..." tambahnya dengan nada sendu.
Dinda terdiam. Ia merenungkan kalimat Mbok Ginem yang terdengar kesepian. Kasihan juga si Mbok, di usia senjanya cuma tinggal berdua sama Wira yang irit ngomong kayak tripleks, ucap Dinda dalam hati.
"Mbok, jangan sedih ya," hibur Dinda lembut, mencoba membesarkan hati wanita tua itu. "Mulai sekarang, si Mbok bisa anggap aku sebagai anak perempuan si Mbok sendiri. Lagipula... sekarang aku juga bingung mau ke mana. Aku sudah tersesat jauh dan mungkin enggak akan pernah bisa menemukan jalan pulang lagi ke tempat asalku."
Mendengar ucapan sendu Dinda, Mbok Ginem langsung menepuk pundak Dinda pelan, mencoba mengusir kabut kesedihan di antara mereka. "Walah, kok kita jadi melow dan sedih-sedih begini? Yo wis Nduk, mari kita berangkat ke sungai. Ini kainnya sudah terpasang rapi dan kencang."
Dinda tersenyum lega lalu mengangguk mengiyakan. Mereka berdua berjalan bersama menuju pintu luar untuk turun.
Namun, begitu sampai di ambang pintu, Dinda dibuat tertegun. Entah karena Wira diam-diam peduli pada keselamatannya atau bagaimana, tangga kayu yang kemarin terlihat sangat ekstrem dan mengerikan, kini sudah berubah. Di sepanjang sisinya telah terpasang kayu pegangan yang kokoh sampai ke bawah, membuat siapa saja yang lewat bisa berpegangan langsung dengan aman.
Eh? Wira yang pasang ini? batin Dinda, hatinya mendadak menghangat.
Setelah berhasil menuruni tangga dengan mudah berkat pegangan baru tersebut, Dinda langsung berpapasan dengan Wira di bawah rumah pohon. Langkah kaki Wira mendadak terkunci. Pria itu menatap Dinda tanpa berkedip sedikit pun.
Apalagi saat Dinda mendongak, lalu melemparkan sebuah senyuman lembut yang kalem ke arahnya. Wira benar-benar terpesona di tempat.
Pasalnya, Dinda yang sekarang mengenakan kain jarik penutup kaki dan lilitan kemben usang itu justru terlihat jauh lebih alami, anggun, dan teramat menawan. Ditambah lagi, proporsi tubuh Dinda terbilang sangat indah dan berisi untuk ukuran wanita di Desa Rejo. Bentuk dadanya yang sintal membuat kain kemben milik Mbok Ginem yang kekecilan itu seolah tertekan berat dan tampak hendak merosot dari tempatnya.
Dinda yang awalnya tersenyum, mendadak menyadari arah tatapan intens Wira yang langsung tertuju lurus pada aset berharganya.
Mata Dinda seketika melotot sempurna. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi bagian sensitifnya dari pandangan si pemburu.
"Apa yang kamu lihat, Wira?!" tanya Dinda dengan suara yang mendadak gugup dan wajah yang memerah padam sampai ke telinga.
Kesadaran Wira seperti ditampar. Ia tersentak, langsung salah tingkah sendiri karena ketahuan memandangi area pribadi seorang gadis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri, Wira dengan langkah seribu langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Dinda dan Mbok Ginem, melesat masuk ke dalam rumah pohon dengan telinga yang ikut memerah.
Dinda mendengus pelan, menurunkan tangannya sembari menatap kepergian pria itu dengan ngeri.
••••••••••••
Dinda dan Mbok Ginem berjalan beriringan menuju sungai. Rupanya, semakin jauh mereka melangkah masuk ke area dalam desa, pemandangan mulai berubah. Dinda mulai melihat deretan rumah panggung kayu yang lebih rapat dan ramainya aktivitas warga. Anak-anak kecil yang sedang asyik berlari dan bermain mendadak menghentikan tawa mereka. Seluruh pekerjaan para warga pun seolah membeku seketika begitu Mbok Ginem lewat bersama Dinda.
"Walah, Mbok! Siapa toh gadis ayu di sebelahmu ini? Kulitnya putih men, mulus seperti awan di langit!" seru salah seorang ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya di pelataran rumah.
Mbok Ginem menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Dinda yang mulai tersenyum kikuk karena menjadi pusat perhatian.
"Iya, Tik. Dia ini anak sahabatku. Orang tuanya menitipkannya padaku untuk sementara waktu. Baru kemarin sore tiba dijemput oleh Wira," jawab Mbok Ginem, wanita tua itu sedikit berbohong. dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan, sembari mengusap lembut lengan mulus Dinda.
"Aduh, ayu tenan, Mbah... Membuat gemas yang melihat," sahut warga yang lain, ikut berkerumun.
"Namamu sopo, Cah Ayu?" tanya seorang wanita tua yang sedang berdiri bersandar di dekat pagar bambu.
"Dinda, Mbah," jawab Dinda dengan suara yang dibuat sekalem dan sesopan mungkin.
Mereka semua serempak menyunggingkan senyuman lebar mendengar jawaban Dinda. Pujian demi pujian tentang kecantikannya terus mengalir tanpa henti dari mulut para warga.
Padahal kalau di duniaku yang dulu, tampangku ini biasa-biasa saja. Tapi di sini, kenapa aku serasa jadi idola kelas kakap, ya? ucap Dinda penuh rasa bangga di dalam hati, menahan diri agar tidak kelepasan senyum jemawa.
Setelah perjalanan yang terasa panjang akibat dicegat ibu-ibu, akhirnya mereka berdua sampai di tepi sungai yang jernih. Di sana, rupanya sudah ada beberapa rombongan ibu-ibu dan para gadis desa yang sedang asyik mencuci pakaian sembari bersenda gurau.
"Si Mbok baru datang tah?" sapa salah satu dari mereka begitu menyadari kehadiran Mbok Ginem.
Mbok Ginem hanya mengangguk ramah. Ia kemudian menuntun tangan mulus Dinda, mengajaknya ikut bergabung mendekati tempat perkumpulan ibu-ibu tersebut.
"Walah, Mbah. Bawa-bawa wanita cantik... Siapa dia?" tanya seorang ibu bernama Lik Nik. Anggota perkumpulan yang lain mendadak terdiam, memasang telinga lebar-lebar menunggu jawaban dari Mbok Ginem.
"Anak sahabatku, Nik. Baru kemarin datang, kebetulan dijemput oleh Wira," jawab Mbok Ginem, mengulang skenario yang sama agar tidak memicu kecurigaan.
"Walah, ayu yo... Putih, mulus sekali..." puji mereka berbondong-bondong. Dinda hanya bisa melemparkan senyum kikuk, bingung harus merespons apa selain pamer gigi.
Namun, di bagian hulu sungai yang arusnya sedikit lebih tenang, sekelompok gadis desa yang sedang mencuci tampak memperhatikan kedatangan Dinda dengan tatapan penasaran yang intens. Mereka adalah Ayu, Laras, Vita, dan Nilam.
"Siapa wanita itu? Cantik! Sekali, kenapa datang bersama Mbok Ginem" tanya Ayu dengan dahi mengernyit dalam, menatap tidak suka pada saingan baru yang visualnya di atas rata-rata itu.
"Yu, jangan-jangan... dia itu calon istrinya Kangmas Wira," bisik Laras pelan, bermaksud memprovokasi.
Mendengar hal itu, wajah Ayu langsung berubah ketus. "Jaga mulutmu, Ras! Kangmas Wira tidak mungkin memiliki calon istri secepat itu. Pria itu... hanya akan menjadi milikku!" ucap Ayu tajam penuh ambisi.
"Sudah, sudah. Lebih baik kita samperi saja mereka daripada menebak-nebak tidak jelas," ujar Vita mencoba menengahi agar suasana tidak semakin panas.
Nilam yang sejak tadi menyimak hanya bisa mengembuskan napas jengah. "Kalian ini... yang diributkan dari pagi sampai siang cuma Kangmas Wira terus. Lagipula, apa Kangmas Wira mau denganmu, Yu?"
Kalimat telak dari Nilam sukses membuat Ayu bungkam seketika. Gadis itu langsung membalikkan tubuh dan menatap tajam ke arah Nilam dengan mata berapi-api.
"Cangkemmu, Lam! Kau bicara begitu karena sebenarnya kau juga menyukai pria itu, kan?!" semprot Ayu jengkel setengah mati.
Nilam lagi-lagi hanya bisa menghela napas lelah. "Yo wis lah, karepmu... Terserah apa katamu. Sudah, aku mau ke bawah saja, mencuci dekat ibu-ibu. Ikut bergabung dengan kalian yang dibahas cuma laki-laki terus, muak aku," ucap Nilam dengan nada datar tanpa ekspresi.
Ia bangkit berdiri, mengangkat keranjang anyaman berisi cuciannya, lalu melangkah pergi menuju perkumpulan Mbok Ginem di bagian bawah sungai.
"Nilam aneh!" cibir Lastri pelan, yang langsung diangguki setuju oleh Ayu dan Laras.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍