Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19_Rumah penuh kenangan
"Aku kembali ke rumah ini lagi... rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan... sekaligus luka." batin Elvara lirih saat mobil yang dikendarai Berry berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.
Tatapannya terpaku pada bangunan dua lantai yang sudah dua minggu ia tinggalkan. Bibirnya tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menyimpan banyak cerita yang belum sepenuhnya selesai.
Berry mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Elvara.
"Nyonya, kita sudah sampai." ucap Berry pelan sambil tersenyum tipis. Ia memperhatikan wajah atasannya yang sejak tadi hanya memandangi rumah itu tanpa berkedip.
"Iya... akhirnya sampai juga." Elvara mengembuskan napas panjang. Bahunya yang semula tegang perlahan mengendur.
Berry keluar lebih dulu dari mobil, kemudian membuka bagasi.
"Biarkan saya yang menurunkan koper Nyonya." katanya sambil mengangkat koper berukuran besar. Gerakannya sigap seperti biasa.
"Terima kasih, Berry. Merepotkan kamu lagi." Elvara ikut turun dari mobil sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin.
"Tidak merepotkan sama sekali, Nyonya. Sudah menjadi tugas saya." Berry tersenyum ramah sambil membawa koper hingga ke teras rumah.
Elvara mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Jemarinya sempat berhenti beberapa detik di depan lubang kunci.
Berry memperhatikannya.
"Nyonya... apa Anda baik-baik saja?" tanyanya dengan nada penuh perhatian. Alisnya sedikit bertaut.
Elvara tersadar dari lamunannya.
"Hah? Oh... aku baik-baik saja." Ia tersenyum kecil, berusaha terlihat tenang.
"Kalau memang masih ingin beristirahat lebih lama, saya bisa mengatur ulang jadwal kantor." Berry menatap Elvara dengan wajah serius.
Elvara menggeleng pelan.
"Tidak perlu." katanya mantap
"Yakin, Nyonya?" Berry kembali memastikan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Iya." jawab Elvara singkat. Ia menganggukkan kepala kecil untuk menegaskan ucapannya.
"Benar-benar yakin?" tanya Berry sekali lagi. Nada suaranya terdengar lembut, namun penuh perhatian.
Elvara terkekeh pelan.
"Kamu ini seperti Daddyku saja." Ia menggeleng sambil tersenyum geli.
Berry ikut tersenyum.
"Saya hanya khawatir. Dua minggu memang tidak lama, tapi saya tahu alasan Nyonya pergi bukan sekadar ingin liburan." ucapnya pelan. Senyumnya memudar, berganti dengan ekspresi yakin.
Senyum Elvara perlahan memudar.
"Aku hanya ingin menenangkan diri." Suaranya terdengar pelan. Tatapannya kembali mengarah ke rumah di hadapannya.
Berry mengangguk mengerti.
"Dan sekarang?" tanyanya hati hati. Ia memberi waktu Elvara untuk menjawab tanpa ingin mendesaknya.
Elvara menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Sekarang aku jauh lebih baik." jawabnya sambil tersenyum tipis. Ada ketenangan yang mulai terlihat di wajahnya.
"Syukurlah." Berry tersenyum lega.
"Dua minggu di Amerika memberiku banyak waktu untuk berpikir." Elvara memandang langit sore yang mulai berubah jingga. Tatapannya terasa lebih damai dibanding sebelumnya.
"Mengenai masa lalu?" tanya Berry hati-hati.
"Iya." jawab Elvara singkat sambil mengangguk pelan.
"Apa semuanya sudah selesai?" Berry kembali bertanya, tatapannya penuh harap.
Elvara tersenyum tipis.
"Mungkin luka itu tidak akan pernah benar-benar hilang." ucapnya pelan. Senyumnya menyiratkan keikhlasan yang lahir dari proses panjang.
Berry hanya diam mendengarkan.
"Tapi sekarang aku sudah belajar hidup berdampingan dengan luka itu." Elvara menatap Berry dengan sorot mata yang jauh lebih kuat dibanding dua minggu lalu.
Berry menganggukkan kepala pelan.
"Itu berarti Ibu sudah menang." katanya dengan senyum bangga.
Elvara tersenyum tulus.
"Mungkin.",balasnya singkat.
Berry menyerahkan koper kepada Elvara.
"Kalau begitu saya pamit." ujarnya sopan. Ia memundur selangkah memberi ruang bagi Elvara.
"Sebentar." panggil Elvara. Tangannya sedikit terangkat menghentikan langkah Berry.
Berry menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Nyonya?" tanyanya sambil kembali menoleh.
"Terima kasih." ucapnya tulus.
Berry tampak bingung.
"Terima kasih karena selama ini selalu ada saat aku membutuhkannya." lanjut Elvara.
Berry tersenyum canggung.
"Jangan membuat saya malu, Bu." katanya sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Aku serius." balas Elvara.
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya." ujar Berry merendah
"Bukan." potong Elvara sambil menggeleng pelan.
Elvara menggeleng pelan.
"Banyak orang bekerja karena gaji. Tapi tidak semua orang bekerja dengan hati seperti kamu." lanjutnya. Nada suaranya penuh penghargaan.
Berry menundukkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Itu karena Ibu juga memperlakukan semua karyawan dengan baik." jawabnya rendah hati.
"Kamu tetap terlalu rendah hati." ucap Elvara sambil terkekeh pelan.
Berry terkekeh pelan.
"Kalau begitu saya benar-benar pamit." katanya sambil melangkah mundur.
"Hati-hati di jalan." pesan Elvara.
"Siap, Nyonya." jawab Berry mantap.
Berry masuk ke mobil.
Namun sebelum menjalankan mobilnya, ia kembali menurunkan kaca jendela.
"Oh iya, Nyonya." panggilnya
"Iya?" sahut Elvara
"Besok rapat pertama dimulai pukul delapan." ingat Berry. Ia membuka agenda kecil di tangannya untuk memastikan jadwal.
Elvara mengangguk.
"Aku ingat." jawab Elvara mantap
"Banyak klien yang menunggu Ibu kembali." lanjut Berry
"Aku akan datang tepat waktu." ucap Elvara penuh keyakinan.
Berry tersenyum puas.
"Itu baru Nyonya Elvara yang saya kenal." kata Berry sambil tersenyum puas.
Elvara ikut tersenyum.
Mobil Berry perlahan meninggalkan halaman rumah.
Elvara masih berdiri memandangi mobil itu hingga menghilang di tikungan jalan. Barulah ia memasukkan kunci ke lubang pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
Ruangan yang bersih dan rapi langsung menyambutnya.
"Halo... rumah." gumam Elvara sambil tersenyum tipis. Tatapannya menyapu setiap sudut ruangan yang terasa begitu akrab.
Ia melangkah masuk. Suara langkah kakinya menggema di dalam rumah yang sunyi.
"Sepi sekali," gumamnya pelan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang terasa begitu sunyi.
Ia meletakkan koper di dekat tangga dengan gerakan perlahan. Lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Huft..." embusnya panjang seraya menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Matanya terpejam sejenak, menikmati keheningan yang selama ini begitu ia rindukan.
"Akhirnya pulang juga," bisiknya lirih dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
Ia memejamkan mata beberapa saat. Anehnya, kali ini dadanya tidak lagi terasa sesak seperti dulu. Ia justru merasa damai.
"Rumah ini memang penuh kenangan," ucapnya pelan sambil menatap langit-langit rumah. Sorot matanya dipenuhi ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tatapannya beralih ke bingkai foto yang masih tersusun rapi di atas rak.
"Dulu aku selalu ingin lari dari semua ini," katanya lirih, jemarinya perlahan menyentuh bingkai foto tersebut.
Ia bangkit, mengambil salah satu bingkai foto, lalu menatapnya beberapa detik.
"Tapi sekarang..." gumamnya dengan tatapan yang jauh lebih tenang.
Senyum kecil terukir di bibirnya.
"Aku tidak akan lari lagi," ucapnya mantap sambil menganggukkan kepala pelan.
Perlahan ia menyimpan kembali foto itu ke tempat semula.
"Aku sudah cukup kuat untuk menghadapi semuanya," katanya penuh keyakinan. Tatapan matanya memancarkan keberanian yang dulu pernah hilang.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan dari Berry muncul.
"Jangan lupa istirahat, Nyonya. Besok jangan terlambat."
Elvara tersenyum geli.
"Kamu benar-benar seperti Daddy yang cerewet," ujarnya sambil terkekeh pelan. Kepalanya menggeleng kecil, tetapi senyum hangat masih menghiasi wajahnya.
Ia membalas singkat.
"Baik, Berry. Terima kasih. Hati-hati di jalan."
Tak lama kemudian balasan datang.
"Siap, Nyonya. Selamat beristirahat."
Elvara meletakkan ponselnya di atas meja.
Ia berjalan menuju dapur.
Membuka kulkas.
"Hm... kosong," gumamnya sambil menghela napas kecil.
Ia tertawa kecil.
"Wajar saja. Dua minggu ditinggal," katanya geli seraya menutup pintu kulkas.
Perutnya tiba-tiba berbunyi.
"Nah, sekarang baru terasa lapar," ucapnya sambil memegang perutnya yang mulai keroncongan.
Ia menggeleng geli.
"Baiklah. Malam ini pesan makanan saja," putusnya sambil mengambil kembali ponselnya.
Beberapa menit kemudian makanan datang.
Elvara makan sendirian di meja makan yang dulu sering dipenuhi berbagai kenangan pahit.
"Selamat makan, Elvara," ucapnya pelan kepada dirinya sendiri sambil tersenyum hangat. Sorot matanya kini dipenuhi rasa syukur.
Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi rasa sesak. Yang tersisa hanyalah keheningan yang kini terasa menenangkan.
Selesai makan, ia membereskan meja, mencuci piring yang digunakan, lalu naik ke lantai dua. Masuk ke kamar yang masih tertata rapi.
Ia membuka jendela.
Angin malam berembus lembut menerpa wajahnya, membuat rambut panjangnya bergoyang perlahan.
Elvara menatap langit yang dipenuhi bintang.
"Besok aku kembali bekerja," ucapnya pelan dengan senyum penuh semangat.
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar," lanjutnya sambil memejamkan mata sesaat.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan," bisiknya lirih.
"Tapi kali ini..." katanya sembari mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya berubah tegas.
"...aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan hidupku lagi," ucapnya mantap. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Malam semakin larut.
Elvara menutup jendela, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baru beberapa menit memejamkan mata, ponselnya kembali bergetar.
Nomor yang muncul tidak tersimpan di kontak.
Kening Elvara langsung berkerut.
"Siapa malam-malam begini?" gumamnya heran sambil meraih ponsel.
Ia ragu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo?" sapanya hati-hati. Namun, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara napas seseorang di seberang telepon.
"Maaf, ini siapa?" tanya Elvara sekali lagi. Wajahnya mulai tegang, sementara jemarinya menggenggam ponsel lebih erat.
Masih hening.
Beberapa detik kemudian, sambungan telepon terputus begitu saja.
Elvara menatap layar ponselnya dengan perasaan tidak enak.
Belum sempat ia meletakkan ponselnya, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
"Selamat datang kembali, Nyonya Elvara. Besok akan menjadi hari yang sangat menarik."
Senyum di wajah Elvara perlahan menghilang.
Dadanya kembali berdebar, bukan karena takut, melainkan karena firasat bahwa seseorang telah mengetahui kepulangannya.