NovelToon NovelToon
The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / TimeTravel / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Chicklit / Tamat
Popularitas:142.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Pipit_vie

Devita Bina Dheandita, gadis biasa yang berusia tujuh belas tahun, tiba-tiba terbangun di tubuh Sirena Stylanie Asthropel, seorang Putri yang terasing di Kerajaan Willamette. Sirena adalah tokoh antagonis dinovel yang berjudul Hiraeth. Parahnya, Devita terbangun di tubuh Sirena saat hendak dieksekusi mati, ending dari novel Hiraeth. Tidak ada alur yang bisa dia ubah agar dirinya tak dihukum mati.

Akhirnya Devita yang berada di tubuh Sirena itu terbebas dari hukuman mati. Disinilah perjuangannya untuk bertahan hidup serta mencari tahu alasan dia masuk ke tubuh Sirena. Hidup Devita sebagai Sirena rumit tatkala semua orang menyalahkan dirinya atas bangkitnya Raja Iblis Canopus karena simbol mawar hitam di keningnya yang merupakan simbol kutukan. Kutukan yang membuat dirinya menjadi target sang Raja Iblis. Dirinya dipaksa untuk menemukan Zifgrid, sang pengendali untuk mengendalikan Iblis Canopus yang terus membuat kekacauan di Vulcan, nama dunia yang dihuni oleh Sirena.

Semuanya semakin rumit bagi Sirena tatkala dia menerima surat lamaran dari seorang Pangeran dari Kekaisaran Alioth yang dia anggap 'psikopat ganteng'.

Mampukah Devita menjalani kehidupannya sebagai Sirena? Mampukah dia meraih impiannya juga impian Sirena untuk bisa menemukan arti kebahagiaan?

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10: Teman

...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...

...         Selamat Membaca...

...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...

Manor Chysanthemum, tempat yang ditinggali Sirena asli sedari kecil bersama ibundanya. Tahu sendiri, hanya anggota keluarga kerajaan bermasalah yang ditempatkan di Manor Chysanthemum. Ada banyak cerita suka dan duka Sirena asli di Manor Chysanthemum yang dilaluinya bersama sang ibu.

Hal pertama kali yang dirasakan Sirena saat menginjakkan kakinya di Manor Chysanthemum ini adalah rasa sesak di dadanya. Terasa menyakitkan, seolah-olah ditikam oleh ribuan pisau.

Sirena memegang sebelah dadanya dengan air mata yang turun tanpa sadar. Melihat suasana Manor yang tak seramai biasanya karena dua luster setianya sudah tiada. Dia hanya sendirian di Manor Chysanthemum sebesar ini. Namun secepat mungkin dia menghapus air mata itu.

Manor Chysanthemum ini dikelilingi oleh pagar kayu yang menjulang tinggi dengan dua gerbang di depan Manor. Di gerbang pertama, disanalah para legion berjaga begitu banyak. Alasan Raja memberi penjagaan begitu ketat karena tingkah Sirena yang selalu membuat ulah dan kekacauan hanya untuk mencari perhatian atau sekedar mencelakai saudaranya. Lalu di Manor Chysanthemum sendiri terdapat dua bangunan. Bangunan utama yamg disebut Minor, dimana Sirena dan luster pribadinya tinggal, lalu ada bangunan kedua, dimana para luster yang bekerja di Manor tinggal. Sebelumnya hanya ada empat luster di Manor miliknya, namun kini tinggal dua karena luster pribadinya sudah tiada.

"Astaga! Putri Sirena benar-benar dibebaskan dari hukumannya, Agda!"

"Kukira dia akan benar-benar mati, ternyata masih hidup. Hfft ... Aku mengira akan bebas dari sikap menyebalkan miliknya, Adelphie."

"Agda ... Ucapkan selamat tinggal atas impianmu itu,"

Sirena menoleh ke sumber suara, disana ada dua luster yang tengah menatap terkejut ke arahnya.

"Tak usah hiraukan mereka, Putri ... Hei kalian berdua! Dimana hormatmu untuk Putri Sirena?" Disampingnya, Achilles Aindrea berbicara. Achilles Aindrea adalah orang pertama yang menyambut kedatangan Sirena di Manor miliknya.  **( Achilles \= Kepala Legion Manor)

Sirena mendengus, tak di dunianya tak disini, perghibahan akan selalu ada.

Kedua luster itu lantas berlari tergopoh-gopoh menuju arah Sirena berada, kemudian menunjukkan salam hormat pada Sirena.

"Kami memberi salam untuk Tuan Putri Sirena Stylanie Asthropel ... Semoga Tuan Putri diberikan umur panjang dan kebahagiaan." Dua luster itu menundukkan separuh tubuhnya dengan telapak tangannya diletakkan di dahi dan tangan kirinya berada di atas punggung.

'Anjay! Cara ngasih salam hormatnya antimainstream dong, haha ...' Dalam hati Sirena tertawa.

"Ya, terima kasih." Ucap Sirena yang membuat kedua luster itu dan Achilles Aindrea terkejut. Sirena sangat anti mengucapkan terimakasih untuk seorang rendahan seperti mereka.

"Kalian mau sampai kapan membungkuk seperti itu? Apa tidak lelah? Bangunlah!"

Agda dan Adelphie, luster muda yang bekerja di Manor Sirena itu segera berdiri tegap namun kepalanya tertunduk.

"Kalian sudah makan malam?"

Pertanyaan Sirena membuat ketiga orang itu sontak menatap Sirena tak percaya. Apa benar di depannya adalah Putri Sirena? Putri Sirena yang mereka kenal tidak seperti ini.

"S-sudah, Putri ..." Sahut Agda dan Adelphie bersamaan.

"Sudah, Putri ... Apakah Putri sudah makan malam?"

Sirena menatap ke samping dimana Achilles Aindrea berada, "Sebenarnya aku ingin makan, hanya saja aku terlalu lelah karena baru saja melakukan perjalanan panjang. Jadi, aku ingin segera tidur, hoamm ..." Sirena menguap lebar-lebar, melupakan bahwa dia adalah seorang Putri yang tidak boleh menguap selebar itu.

"Kalau begitu, kalian beristirahatlah! Aku tahu kalian lelah karena harus berhadapan dengan orang sepertiku." Tatapan Sirena tertuju pada Agda dan Adelphie saat mengatakan itu, "Kalau kalian ingin tahu, sebenarnya takdir belum mengijinkanku mati. Jadi, aku masih hidup sekarang. Tapi, tenang saja, aku tak akan merepotkan kalian." Setelah mengatakan itu Sirena melenggang pergi meninggalkan mereka dengan keterkejutan masing-masing.

Sirena memasuki Manor miliknya yang disambut keheningan.

"Sepi banget!" Sirena berpikir, haruskah dia meminta pada Raja Monachus untuk mencarikannya seorang luster? Setidaknya agar dia tak merasa kesepian di Manor sebesar ini. Tapi sepertinya tidak perlu, Sirena yang sekarang adalah Sirena yang bisa hidup mandiri.

Sirena mengelilingi Minor, dimulai dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan, dan yang terakhir adalah kamar tidur. Tujuannya berkeliling adalah untuk mengingat-ingat seluk beluk Minor ini, agar tak menimbulkan kecurigaan bahwa dia bukanlah Sirena yang asli.

Kamar tidur Sirena berada di lantai atas. Saat memasuki kamar, Sirena segera mencari lilin dan korek api untuk menerangi kamarnya yang gelap. Sirena mengira kamarnya akan sebagus Putri-putri kerajaan dalam film Barbie, tapi dugaannya salah.

Sirena segera merebahkan diri di kasur yang tak terlalu empuk seperti spring bed miliknya di dunianya. Rasa kesal masih belum hilang dari hatinya karena Nervilia.

"Kampret banget si Nervilia! Kalau bisa teleportasi pakai portal kekaisaran, kenapa malah milih perjalanan panjang sampai makan dua hari buat sampai kerajaan? Emang goblok si Nervilia itu!" Sirena menghentak-hentakkan kakinya kesal ke kasur, tak peduli dia masih mengenakan gaun mengembang yang membuatnya gerah.

Sirena kembali bangkit, dia harus mandi terlebih dahulu karena selama dua hari dia tidak mandi. Itu lebih baik daripada mandi di sungai seperti yang dilakukan Nervilia. Entah kenapa berdekatan dengan Nervilia membuatnya tak nyaman. Mungkin perasaan asli Sirena masih tertinggal di raganya, meskipun raganya ditempati oleh jiwa Devita.

Sirena tak membutuhkan waktu lama untuk mandi. Kini, dia sudah selesai mandi, menggosok rambutnya dengan handuk agar segera kering.

Tok tok tok

Sirena menghentikan aktivitasnya, "Siapa?"

"Ini hamba, Agda Lamina, Putri ..."

Sirena berjalan menuju pintu lalu membukanya, terpampanglah Agda yang membawa nampan berisi makanan.

"Maaf mengganggu istirahat, Putri Sirena ... Hamba membawakan sup ikan untuk Putri," Agda menundukkan kepalanya.

"Mengapa kau membawakanku makanan?" Sirena bersidekap dada, "Bukankah aku sudah mengatakannya tadi, aku hanya ingin istirahat." Sebenarnya Sirena ingin tertawa sekarang, melihat wajah takut Agda. Namun, kalau tidak bersikap seperti ini, mereka akan semakin bersikap semena-mena terhadapnya.

"M-maafkan hamba, Tuan Putri Sirena ... Hamba mengaku bersalah!" Agda meletakkan nampan itu di lantai dan langsung bersimpuh di kaki Sirena.

"Maafkan hamba juga, Tuan Putri Sirena ..."

"Eh?" Sirena semakin terkejut dengan kedatangan Adelphie yang ikut bersimpuh di kakinya.

"Kami mengaku bersalah! Maafkan dosa besar kami, Tuan Putri Sirena ... Kami sudah lancang membicarakan Tuan Putri, kami pantas dihukum!" Adelphie yang berbicara.

"Kalian berdua, bangunlah! Jangan bersujud kepadaku! Kalian pikir aku Dewa, ha?" Sirena berkacak pinggang, kemudian tangannya mencoba membangunkan dua lusternya, "Cepat bangun! Berdiri lagi!"

Agda dan Adelphie pun bangun, lalu menundukkan kepalanya yang membuat Sirena berdecak kesal, "Hei! Sekarang tatap aku! Jangan menundukkan kepala terus menerus! Aku muak melihatnya!"

Dengan gerakan takut-takut, mereka mendongakkan kepalanya lalu bersitatap dengan Sirena.

"Sekarang dengarkan aku baik-baik! Sebenarnya aku tak seharusnya mendapat maaf dari kalian karena memang itu adalah hal yang pantas aku dapatkan. Aku tak peduli kalian akan menganggap apa ke depannya, tapi yang jelas, aku secara pribadi ingin meminta maaf kepada kalian, maaf bila selama ini aku membuat sebal kepada kalian. Ada banyak hal yang membuatku bertahan hidup dari kematian, salah satunya adalah kalian berdua."

"K-kami?"

"Ya. Meskipun aku tahu, kalian terpaksa bekerja melayaniku di Manor Chysanthemum ini karena terpaksa, tetapi aku merasa senang. Setidaknya, dengan kehadiran kalian, membuatku tidak benar-benar merasakan sepi dan terlupakan."

Sirena meneteskan air matanya tanpa sadar. Apa yang dia ucapkan adalah bagian terdalam perasaan seorang Sirena.

"Meskipun pada dasarnya aku memang kesepian sekarang karena ..." Sirena menyeka air matanya, "Ibunda, Aysun dan Norma. Mereka orang-orang yang tulus menyanyangiku sudah tiada. Aku sudah tak punya siapa-siapa yang benar-benar menganggapku ada dan menyanyangiku."

Agda tanpa sadar ikut meneteskan air matanya. Memang sebelumnya, dia pernah menyaksikan sendiri bagaimana seorang Putri Sirena menangis terisak-isak di taman sebelah Manor saat mendekati hari ulang tahunnya.

Berbeda dengan Adelphie yang hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk. Selama ini, dia hanya melihat Sirena adalah seseorang yang angkuh, dingin dan jahat.

Sirena menghapus air matanya, menjadi seorang Putri Sirena sudah membuatnya terlalu banyak menangis.

"Aku akan memakan sup ikan ini," Sirena mengambil nampan yang tergeletak di lantai, "Kalian berdua bisa pergi. Dan, Agda, terimakasih untuk sup ikan ini."

Agda mengangguk, "Kalau begitu, kami pergi, selamat malam, Putri Sirena,"

Agda dan Adelphie pun berjalan pergi. Sirena sendiri segera masuk ke dalam kamar, namun saat hendak menutup pintu, Adelphie tiba-tiba menahan pintu.

"Mohon ampun, Putri ..."

"Kenapa kau kembali? Aku ingin segera istirahat!"

Adelphie menundukkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap Sirena, "H-hamba memiliki permintaan, P-putri ..."

Sirena mengernyitkan keningnya, "Permintaan apa? Jangan meminta yang aneh-aneh! Aku tak sehebat Nervilia yang bisa memberimu batu berlian."

"I-ijinkan hamba menjadi luster pribadimu, Putri ... Hamba akan mengabdi dengan setia sampai akhir hayat hamba untuk Putri ..."

Sirena terkejut tentu saja. Dalam ingatan Sirena asli, Adelphie adalah sosok luster yang sangat tak menyukai Sirena.

"Apa kau yakin?" Sirena menatap mata Adelphie untuk memastikan.

"Hamba yakin, Tuan Putri!" Sahut Adelphie dengan sungguh-sungguh.

Sirena terdiam sebentar, 'Boleh juga nih orang gue jadiin temen di dunia Sirena. Siapa tau Adelphie bisa bantu gue nyari sosok Zifgrid itu.'

"Sebenarnya aku sudah tak membutuhkan luster pribadi lagi. Aku bisa melakukan apapun sendiri tanpa bantuan luster pribadi. Tetapi, bila kau mau, bisakah kita berteman saja?"

"Ha? T-teman?"

Sirena mengangguk, "Ya, teman. Selama ini aku tak pernah memiliki teman selain Aysun dan Norma. Kau tahu sendiri kan simbol di dahiku ini?" Sirena memperlihatkan simbol mawar hitam di keningnya.

Adelphie begitu terkejut melihat simbol itu, "S-simbol terkutuk ..."

"Jadi, apakah kau ingin membatalkan permintaanmu itu setelah tahu siapa aku?"

Adelphie menggeleng, "T-tidak. Hamba mau menjadi teman untuk Putri,"

"Kenapa?"

"Untuk menjalin sebuah pertemanan tidak membutuhkan alasan, Putri ... Hamba sendiri bukanlah orang baik-baik, ada banyak kekurangan dalam diri hamba. Perkataan Putri tadi menyentil hati hamba dan membuat hamba sadar." Adelphie menyunggingkan senyum tipis.

Sirena mencoba mencari kebohongan di mata Adelphie, namun hanya mata menahan kantuk yang terlihat. Senyum tipis juga muncul di bibir Sirena, "Jadi, kita teman?" Sirena mengacungkan jari kelingkingnya kepada Adelphie.

"Teman." Adelphie menautkan jari kelingkingnya dengan milik Sirena.

"TUAN PUTRI! HAMBA JUGA INGIN MENJADI TEMAN TUAN PUTRI!"

Adelphie dan Sirena menoleh, mendapati Agda yang tiba-tiba muncul dengan nafas yang terengah-engah.

"Kau kira Minor ini hutan, heh? Teriakanmu bisa membuat kerbau terbangun!" Adelphie memarahi Agda.

"Hahahaha ... Bagus! Bertengkarlah! Aku tak suka melihat kalian berdamai! Hahaha ..." Sirena tertawa.

Agda nampak melongo melihat Sirena tertawa yang tak menunjukkan sikap seorang Putri bangsawan. Melihat itu, Sirena segera berdehem.

"Ehm, jadi kau ingin menjadi temanku, Agda?"

Agda mengangguk antusias, "Ya, Putri!"

"Baiklah! Sekarang kalian berdua adalah temanku, tolong anggaplah aku sebagai teman kalian, bukan seorang Putri, apa bisa?"

Agda dan Adelphie saling melirik, lalu keduanya mengangguk kompak, "Tentu saja. Karena sekarang kita adalah teman!" Adelphie menyunggingkan senyum.

"Oke sip! TOS dulu kita!" Sirena mengangkat tangan kanannya.

"TOS?" Beo Adelphie dan Agda tak mengerti.

Sirena menepuk jidatnya lupa, " Kalian, angkat tangan kanan kalian seperti yang ku lakukan."

Agda dan Adelphie menurut.

TOS

TOS

"Ini yang namanya, TOS! Paham?"

Agda dan Adelphie mengangguk, lalu tertawa. Menurut mereka hal ini sangatlah lucu.

"Sudah-sudah! Jangan tertawa terus! Kalian kembalilah ke tempat masing-masing! Aku lapar, ingin makan!"

"Tadi saja bilangnya kau hanya ingin istirahat," Agda menyindir.

"Terserah! Bye!"

BLAM

Tanpa menunggu jawaban mereka, Sirena menutup pintu kamarnya dengan kencang yang membuat kedua orang itu mengumpat tertahan.

Sementara di dalam kamar, Sirena tak henti-hentinya menunggingkan senyumanny, "Akhirnya gue punya temen di dunia antah berantahnya si Sirena ..."

...•───────•°•❀•°•───────•...

Terimakasih sudah membaca.

Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)

Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?

...(Adelphie Larissa)...

...(Agda Lamina)...

1
Rana Syifa
aku suka ceritax author... cara penulisanx jg bagus... jd bisa d bedaiin yg lg ngomong langsung sama yg ngomong d hati....intix gk buat bingung,,tanda bacax jg tepat
makasih thor udh menghibur kami...tetap semangat untuk berkarya/Good//Good//Good//Heart//Heart//Heart//Heart/
Rana Syifa
kasian si raja iblis udh rela dia mau jadi manusia untuk sirena
Faizah Faizah
ini cerita fantasi paling keren yg pernah ku baca sejauh ini sih,,,,,
Sita Sit
kerennnn bgt ceritanya,aku sampai maraton dari semalam baca
Kagome01
perfect
Dede Mila
mulai
Kagome01
bagus banget ceritanya thor
cuma ada beberapa keadaan yg ga sinkron jadi membuat pembaca sedikit males untuk lanjut/mencari tahu lebih banyak. contohnya adalah ketika di satu pihak sedang darurat dan pihak lain meminta bantuan tapi masih terselip lelucon jadi rasa serius membaca puncak cerita jadi hilang.
terus fokus utama atau pemeran wanita utama lebih bagus memiliki cukup banyak andil pas puncak menegangkan dari cerita.
karna jika kelamaan itu menyebab emosi pembaca terkuras dan berakhir tidak tertarik untuk sekedar memberi like.
its real ya dari aku
terlepas dari itu aku suka ceritanya
slamat berkarya Author
untuk cerita ketiga sudah the best!
stay focus ya
Risya_cute
gue udah nebak lho klo itu Ayana 😁
Rina Setiana
Luar biasa
Rina Setiana
Lumayan
Riskiati Nurkafi
tanbahin extra part dunk kak irene sama sirakusa balik lagi ke vulcan gitu biar bisa kumpul sama yg lain
Gian Ganevan
bagus ih awal cerita udah diceritakan tokoh yg punya kekurangan, konsep awalnya bagus yaa.. ga selalu tokoh itu sempurna
Arisa Nandini
setahun skli yaa kk update nya
Arisa Nandini: ku kira gk update lgi smpe lupa aq jln crtanya
total 2 replies
lilyrose
up up up
lilyrose
marathon baca sampai episode ini, thanks thor ceritanya keren
awal baca sempet ga connect dengan alurnya ditambah nama tokoh yg panjang dan agak susah di eja 😁 tp aku tetap baca akhirnya nyambung juga🤭
good job thor🤗
pipit_vie: terimakasih, ajak temenmu mampir ceritaku yaaaa🥰
total 1 replies
pembaca novel
masih nyimak
Gigih Tyas
lanjut dong thor selalu nungguin kelanjutan ep ny ya
Anonim
lanjut dong thor sampe endig ditunggu pokoknya!
Ros Ita
Kren sumpah
Rana Syifa: suka banget ceritax thor
total 1 replies
Ros Ita
waduh siapah nih yang akan di pilih sirene
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!