NovelToon NovelToon
Laba-Laba Hitam

Laba-Laba Hitam

Status: tamat
Genre:Action / Badboy / Mafia / Kriminal / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: cilamici

Terlahir dari isteri kedua seorang pengusaha besar, tersisih, terasing, bahkan terbuang membuat Leo merasa hidupnya begitu memuakkan.

Hingga ia bertemu Aleena dan mulai merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Sayangnya, Aleena yang begitu Leo cintai itu tak lama mendampingi Leo.

Dalam frustasi nya, Leo yang terasing sekian lama akhirnya memaksa kembali ke Indonesia dan justeru menemukan begitu banyak rahasia yang terungkap atas Ayahnya Ibunya dan juga kekasihnya.

Rahasia apakah gerangan? Yuk ikuti kisah Leo... 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Wajah Itu

Luna turun dari mobil Rose dengan malas, seharian mengikuti sang kakak nyatanya sangat membosankan.

Kakaknya itu hanya mengurus pekerjaan saja, sama sekali tidak ada hasrat untuk mencari hiburan barang sebentar.

Tapi, dari ketiga kakak perempuan yang Luna miliki, nyatanya ia hanya bisa dekat dengan Rose meskipun ia sangat kaku dan jarang becanda.

Dengan Hana dan Cindy, yang sebetulnya hidup nya lebih santai, justru Luna tak bisa dekat. Mungkin karena Luna tahu kedua kakaknya itu diam-diam memakai narkoba.

Ah tidak!

Bagaimanapun bandelnya Luna, ia tak mau ikut-ikutan mengonsumsi barang itu.

Luna berjalan menuju ke dalam rumah, saat kemudian ia berpapasan dengan seorang laki-laki muda berpenampilan rapih.

Laki-laki muda itu melemparkan senyuman ke arah Luna, tapi Luna malas membalas.

Dia pasti mainan Mamih yang baru. Batin Luna jijik.

Rose yang berjalan di belakang Luna juga sama saja, ia bahkan memalingkan muka dan tak mau bersitatap dengan laki-laki muda yang kini keluar dan masuk ke salah satu mobil yang parkir di halaman rumah mereka.

"Mainan Mamih yang baru."

Kata Luna pada Rose yang langsung mendelik ke arahnya.

Mereka kemudian masuk beriringan dan akan menuju tangga untuk naik ke lantai atas, ketika Mamih mereka tiba-tiba memanggil keduanya.

Wanita itu berjalan mendekat dengan segelas anggur yang masih tersisa sedikit.

"Kapan Mamih pulang dari Bali?"

Tanya Rose.

Mamih tampak tersenyum.

"Siang tadi."

Sahutnya.

"Kalian tahu Daddy di mana?"

Tanya Mamih.

"Mamih kan bisa telfon sendiri, kenapa harus selalu nanya kita."

Sungut Luna, meskipun ia sendiri tidak tahu Daddy nya di mana.

Mamih mendengus.

Dari dulu Luna memang tak pernah mau dekat dengannya, terutama sejak ia tanpa sengaja memasuki kamar yang lupa dikunci dan Mamihnya sedang bersama laki-laki.

Sejak itu Luna selalu memandang Mamihnya dengan kesal.

Rose yang tak ada keinginan menjawab pertanyaan Mamihnya meneruskan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Luna segera menyusul.

Mamih mereka menatap kedua anaknya itu dengan sebal.

"Mereka selalu saja mengabaikan ku, dasar anak tak tahu diri, apa mereka lupa bahwa surga di bawah telapak kaki ibu."

Mamih mengomel sambil membawa gelas anggurnya ke ruangan besar yang ada di tengah rumahnya.

Melempar tubuhnya di sofa yang ada di sana, wajahnya ditekuk, matanya menatap dinding di mana foto keluarga mereka yang berukuran hampir satu dinding penuh digantung.

"Keluarga, keluarga macam apa yang bahkan tidak tahu di mana masing-masing anggota keluarganya."

Kesal Mamih ke arah foto Daddy yang duduk sambil mengembangkan senyuman.

Luna melempar tas nya begitu sampai di kamar, lalu ia merebahkan tubuhnya pula di sana.

"Mamih, mau sampai kapan dia bermain dengan laki-laki yang lebih muda, dan kenapa harus membawanya ke rumah ini, benar-benar menjijikan."

Kata Luna seolah bicara dengan angin.

Sementara itu Rose di kamarnya sendiri tampak duduk di depan meja rias.

Ia menatap pantulan wajahnya yang cantik meskipun usianya kini mulai menginjak angka 32 tahun.

Rose menghela nafas.

Mengingat usianya yang tak lagi muda saat ini, rasanya ia ingin mengasihani diri sendiri karena belum juga menikah.

Tapi, apa yang bisa dilakukan Rose, saat hampir semua urusan perusahaan orangtua menjadi tanggungjawabnya.

Mamih dan Daddy-nya juga tak pernah ingat menanyakan apa keinginan Rose tentang pernikahan.

Mereka seolah tak peduli, atau bahkan mungkin menganggap bahwa hidup anak-anaknya sesungguhnya tidak penting bagi mereka.

Rose mengusap kedua pipinya, yang mungkin kelak akan segera keriput.

Rose tertunduk sedih.

Ia merasa benar-benar malang.

**--------**

Doni mengajak Viera turun dari motor saat akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah calon majikan Viera yang baru.

"Untuk sementara kau akan aman tinggal di sini, jangan sampai keluar sebelum kita menemukan Roy."

Kata Doni pada Viera yang mengangguk mengerti dan tampak menyapukan pandangan ke seluruh bangunan rumah calon majikannya.

Kevin keluar dari rumah dan menyambut mereka. Mempersilahkan mereka masuk dan menunggu sebentar Tuannya yang sedang mandi.

Doni dan Viera duduk di salah satu ruangan yang cukup besar.

Kevin mengajak mereka berbincang sejenak agar tak terlalu jenuh menunggu si Tuan Muda.

"Sebelumnya pernah bekerja kan?"

Tanya Kevin basa basi pada Viera yang tampak langsung mengangguk.

Kevin tersenyum lega.

"Bisa masak?"

Tanya Kevin lagi.

"Yaj sedikit,"

Sahut Viera.

"Yah baguslah, Tuan muda kami ingin tak banyak orang masuk ke dalam rumah, jadi usahakan semua yang harus dikerjakan di rumah ini kamu bisa kerjakan."

Kata Kevin.

"Baik."

Viera mengangguk.

Tak lama berselang, Leo tampak turun dari lantai dua, ia berjalan dengan tenang menuju ruangan di mana kedua tamunya berada.

Kevin segera berdiri menyambut.

Begitu juga Doni dan Viera.

Leo tampak mengangguk kecil pada Kevin dan Doni, namun begitu ia bersitatap dengan Viera tiba-tiba ia tampak seperti terkejut.

Viera yang melihat Leo juga sama terkejutnya.

Ah, bukankah dia pemuda yang ada di video viral di media sosial? Batin Viera.

Sedangkan Leo yang kini duduk tanpa mengalihkan pandangan dari Viera jatungnya tiba-tiba seperti bergedup kencang.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia begitu mirip dengan Aleena? Batin Leo menatap wajah Viera yang jadi salah tingkah karena Leo terus menatapnya nyaris tanpa berkedip.

"Perkenalkan Tuan, saya Doni, dan ini saudara sepupu saya dari pihak isteri yang akan membantu Tuan di rumah, namanya Saviera, panggil saja dia Viera."

Kata Doni mencairkan suasana yang sekian detik jadi membeku.

Viera memberi salam pada Leo.

Leo yang tersadar cepat membuang wajahnya ke arah lain, lalu meminta Kevin mengambilkan air.

Malam itu, tak banyak yang Leo bisa tanyakan pada Viera selain menyuruhnya mencoba membuatkan satu piring omelet saja.

Leo mencicipinya dan entah kenapa rasanya mirip dengan buatan Ibunya dulu saat ia masih tinggal bersamanya.

"Viera, itu kan namamu?"

Tanya Leo di sela makannya.

Viera mengangguk saja.

Ia berdiri di samping Leo yang sedang makan dengan tegang.

"Istirahatlah setelah ini, besok pagi aku mau sarapan jam tujuh pagi."

Kata Leo.

Viera mengangguk.

Doni dan Kevin yang memperhatikan dari kejauhan ikut lega saat Viera memberikan mereka isyarat dengan ibu jari begitu omelet buatannya habis tanpa sisa.

Sepertinya Leo orang yang sangat dingin, sekali saja melakukan kesalahan Viera pasti akan langsung ditendang, maka Viera merasa harus melakukan semuanya semaksimal yang ia bisa agar bertahan tinggal di sana.

Yah, selain ia butuh tempat sembunyi hingga kakaknya ditemukan, ia juga jelas butuh makan dan mendapatkan uang.

**---------**

1
Dhod Hendry
krya yg bagus.. m
prasty sakura
Bagus cerinya suka suka
Anaknya Baba: coba baca novel Poppen kak, siapa tahu sesuai selera kakak.
total 1 replies
phAntom
preeet
amilia indriyanti
di negara api 🔥 masih adakah hukum,...
apalagi untuk kaum papa
amilia indriyanti
mosok.....
phAntom
jangan bilang Riki in mainan istri pertama ayah Leo,, trus dia d suruh nyari karlita serta anakx oleh si istri pertama ini..
amilia indriyanti
pelakor jaluk enak rak Ono ceritane
Eka Kurnia Sari
luar biasa kereen bgt ceritanya
gempi
v
Tri Wulandari
Luar biasa
szwarc
bolee
szwarc
sepertinya menarik...
Veri Andrian
Luar biasa
Inonk_ordinary
orang² yg aneh
dewi_nie
Luar biasa
Usmi Usmi
Leo ini emosi aja terus lebih cerdas Sindi dan analisa nya bagus
Usmi Usmi
kenapa si lea cuma emosi aja Thor tidak membangun kekuatan sdh tau musuh sangat kuat mask nunggu mati semua orng di samping nya hadeh
Usmi Usmi
tidak bisa tinggal diam harus buat markas juga jangan cuma emosi d pelihara si Leo
Usmi Usmi
blm bisa di katakan kuat kl masih cengeng dan kalah taktik sama musuhnya
Eckho Mbahkokz
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!