Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Kesal
Laluna membeku ketika membaca pesan tersebut. Nama yang muncul di layar membuat alisnya langsung berkerut.
"Nathan..." gumamnya pelan.
Rina yang berada di sampingnya langsung menoleh. "Siapa Nathan?"
Laluna tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya dengan ekspresi tidak percaya. Pria itu benar-benar datang ke apartemennya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia segera mengambil tas kecil yang tak jauh dari arahnya dan bergegas keluar dari apartemen itu.
"Rina, aku mau pulang kerumah. Kamu tinggal disini aja dulu. Byee Byee sampai jumpa besok pagi," teriaknya sambil berlari ke arah luar pintu.
Rina yang melihat itu hanya menghela nafasnya, ia tahu pasti Laluna tengah menyembunyikan sesuatu kepadanya. Namun, ia tidak akan menekan wanita itu untuk memberinya penjelasan yang terpenting bagi dirinya adalah melihat wanita itu kembali ceria setelah mendapatkan pengkhianatan dari orang yang ia percaya.
"Hati hati," sahutnya.
Sesampainya di lantai paling bawah apartemen mewahnya, Laluna celingak celinguk. Hingga pandangannya tertuju ke seorang pria yang tengah berdiri di dekat mobil mewah. Ia tahu pria itu adalah suami kontraknya. Ia buru buru memakai masker hitam untuk menutupi wajahnya dan berlari ke arah parkiran.
"Kenapa kamu tiba tiba kemari? Kenapa kamu tidak bilang dahulu, jika ada wartawan yang lihat bagaimana."
Nathan yang melihat wanita cerewet di depannya hanya menatapnya dingin, ia melemparkan rokok ke arah bawah dan menginjaknya. Ia menarik tangan gadis itu, yang membuat jarak di antara mereka begitu dekat. Hingga pandangan mereka bertemu sejenak, sebelum Laluna menarik tangannya dan mundur beberapa langkah.
"Kenapa kamu diam saja! Cepat katakan," tegasnya.
Nathan tetap diam. Tatapannya masih tertuju pada Laluna yang terlihat kesal di depannya. Berbeda dengan wanita itu yang terlihat panik karena takut ada orang yang mengenali mereka, Nathan justru terlihat sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar.
"Saya datang karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan," jawabnya akhirnya dengan suara rendah.
Laluna mengerutkan kening. "Sesuatu apa? Tidak bisa dibicarakan lewat telepon?"
"Tidak."
Jawaban singkat itu membuat Laluna semakin kesal.
"Kamu selalu seperti ini? Datang tiba-tiba, membuat orang lain terkejut, lalu bertindak seolah semuanya bukan masalah besar? Jika ada yang tahu hancur sudah reputasiku nanti! "
Nathan hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Kamu terlalu banyak bicara. Cepat masuk."
Nathan segera menarik tangan Laluna untuk segera masuk ke dalam mobil. Nathan segera menggoyangkan tangannya memberi isyarat agar mobil itu segera berjalan. Suasana mobil terasa hening untuk beberapa saat, Laluna dengan perasaan kesalnya memilih untuk menatap ke arah jendela. Sedangkan, Nathan sedang fokus dengan ponselnya.
"Cepat katakan! Apa yang perlu kita bicarakan!" ujar Laluna, yang tidak bisa jika suasana hening.
"Sudah tidak marah?" Nathan mendongakkan pandangannya, menatap ke arah Laluna yang tengah menatapnya.
Laluna terdiam. Ia tidak menyangka pertanyaan sederhana itu keluar dari mulut Nathan. Selama ini pria itu selalu terlihat dingin dan tidak peduli dengan perasaannya.
"Aku tidak marah," jawab Laluna cepat, meskipun nada suaranya jelas menunjukkan kebalikannya.
Nathan menaikkan sebelah alisnya. "Kamu berbohong."
Laluna langsung menoleh ke arahnya. "Apa maksudmu?Aku tidak marah ya tidak, kenapa kamu menjengkelkan sekali."
"Jika tidak marah, kamu tidak akan mengomel sejak turun dari apartemen sampai masuk mobil."
Perkataan Nathan membuat Laluna terdiam. Ia ingin membantah, tetapi tidak bisa menemukan alasan yang tepat. Pria di sampingnya memang selalu bisa membaca dirinya meskipun mereka tidak pernah benar-benar dekat.
"Aku hanya khawatir," gumam Laluna akhirnya sambil kembali melihat keluar jendela. "Kamu tidak tahu betapa sulitnya aku membangun kembali reputasiku setelah kejadian itu. Sekarang semua orang masih mencari kesalahanku. Kalau mereka tahu aku punya hubungan denganmu, pasti akan muncul berita baru."
Nathan memperhatikan wajah wanita itu yang terlihat lebih tenang. Berbeda dari biasanya, kali ini Laluna tidak sedang marah, melainkan benar-benar takut akan dirinya kembali hancur.
"Kamu terlalu memikirkan pendapat orang lain," ucap Nathan.
"Tentu saja aku memikirkannya. Aku seorang aktris. Jika semua orang menandai ku buruk, aku akan lebih mudah ditendang oleh industri hiburan."
Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Saya ingin mengajakmu, untuk menemui kakek dan nenekku."
Laluna yang mendengar itu terkejut, "Apa? Menemui nenek dan kakek Adikara? Dengan pakaian ku yang lusuh ini?"
Nathan hanya mendengus, ia segera mengambil kotak berwarna hitam dan menyerahkannya kepada gadis itu.
"Saya sudah membelikan pakaian untukmu."
Laluna menatap kotak hitam yang berada di tangannya dengan tatapan tidak percaya. Ia kemudian menatap Nathan bergantian, seolah memastikan bahwa pria di depannya benar-benar melakukan hal itu.
"Kamu membelikanku pakaian?"
Nathan hanya mengangguk singkat.
"Kenapa?" tanya Laluna penasaran.
"Kamu akan bertemu keluargaku. Saya tidak ingin kamu datang dengan pakaian sembarangan dan akan mempermalukan saya."
Laluna langsung mengerutkan kening. Nada bicara Nathan memang terdengar seperti kritik, tetapi ia tahu pria itu tidak bermaksud merendahkannya.
"Kamu bisa saja bilang aku harus berganti pakaian, tidak perlu repot-repot membelikannya."
"Saya tidak punya waktu untuk menunggu kamu memilih pakaian selama berjam-jam."
Laluna membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Ia tidak tahu harus merasa tersinggung atau mengakui bahwa perkataan Nathan ada benarnya.
"Jadi kamu pikir aku akan membutuhkan waktu berjam-jam?"
Nathan menatapnya datar. "Saya tahu kamu."
Jawaban itu membuat Laluna terdiam sesaat. Aneh. Mereka memang sudah menikah, tetapi hubungan mereka masih terasa seperti dua orang asing. Namun, pria ini sepertinya cukup memperhatikannya sampai tahu kebiasaan kecilnya.
Dengan penasaran, Laluna membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah gaun elegan berwarna hitam dengan desain sederhana namun terlihat mahal. Tidak berlebihan, tetapi mampu membuat siapa pun yang memakainya terlihat anggun.. Di bawah gaun itu juga terdapat beberapa aksesori kecil yang senada.
"Ini..." Laluna menyentuh kain tersebut perlahan. "Bagaimana kamu tahu ukuranku?"
Nathan kembali menatap ponselnya. "Saya punya data tentangmu."
Laluna langsung menatap curiga. "Data?Kamu memata mataiku?"
"Informasi dasar tentang istri saya. Saya juga dapat dari mamamu."
Kalimat itu membuat Laluna sedikit terdiam. Mendengar kata istri yang dilontarkan Nathan entah kenapa membuatnya salah tingkah, bahkan kedua pipinya kembali memerah. Ia buru buru memalingkan wajahnya.
" Kalau begitu aku harus berganti pakaian dimana? Lebih baik cari hotel untuk aku bisa berganti pakaian," jelasnya.
Nathan yang mendengar itu hanya menatapnya datar. "Tidak usah repot repot, kamu bisa berganti pakaian disini."