Ketika dua orang dengan budaya berbeda bertemu, Bonar Siregar perantauan dari Tapanuli dengan Zulaikha gadis Minang nan cantik jelita. Takdir mempertemukan mereka dan memutuskan membina rumah tangga bersama.
Namun, pihak ketiga muncul di kehidupan mereka, ia adalah Putri Sakinah. Putri Mahkota kerajaan Padang Nunang.
Putri Sakinah yang juga atasan dari Bonar Siregar sebagai Pengawal pribadinya, jatuh cinta padanya. Berbagai cara dilakukan oleh Putri Sakinah untuk mendapatkan cinta dari Pemuda tampan dan baik hati itu.
Di lain sisi, pihak Kerajaan sedang terjadi kekacauan, akibat dari Kerajaan Majapahit melakukan penaklukan terhadap daratan Sumatera.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Pantengin terus ya, ada banyak sejarah abad ke 14 di Sumatera yang diselipkan dalam Novel ini.
#Season Dua
Putri Sakinah diculik oleh anak buah Patih Prawiranegara dan dibawa ke Majapahit.
Bagaimana nasibnya selanjutnya? atau tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bonar Siregar?
Pantengin terus, ya. Karena alur ceritanya akan berbeda dengan season satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Regar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prajurit Hulubalang
"Uda Bonar hati-hati di sana ya, jangan lupa sering-sering kemari, ini rumah kamu juga lho," seru Zulaikha pada Bonar Siregar yang akan pergi menuju kantor Nagari Sumpur Setia melamar sebagai Prajurit Hulubalang.
"Iya ... sejauh-jauhnya bangau terbang, pasti kembali ke sarang kok," jawab Bonar Siregar.
"Cih ... sok pujangga kau," sahut Alfian, kawannya yang juga ikut melamar Prajurit Hulubalang. "Zulaikha ... Uda pergi dulu ya, nanti kalau Uda sukses, akan kulamar engkau." Alfian menggodanya, namun Zulaikha hanya senyum-senyum saja menanggapinya.
"Ehemmmmm!" Bonar Siregar menatap tajam Alfian, sebab mereka sudah sering bertaruh. Siapa yang kalah dalam pertarungan silat, maka tak boleh mendekati Zulaikha.
"Apa? Hah!" balas Alfian menatap tajam juga, "Aku ini kemenakan disini, kau itu cuma penumpang! Jangan sok keras kau ya!" Alfian menantangnya.
"Sudah ... jangan ribut-ribut mulu!" Zulaikha melerai mereka, "Ini Uda Bonar, bekal makan siangmu." Zulaikha memberikan nasi dengan gulai rendang ayam dibungkus pakai daun pisang.
"Makasih ya, hati-hati disini. Kalau ada apa-apa kirim saja pesan pakai merpati itu!" Bonar Siregar menunjuk dua ekor merpati peliharaannya yang sudah jinak. "Nanti aku akan kemari segera," seru Bonar Siregar lagi.
"Iya Uda ..." jawab Zulaikha sambil melambaikan tangannya pada mereka.
Bonar Siregar sebenarnya merasa khawatir meninggalkannya, karena selalu ada saja orang yang berdatangan untuk melamarnya. Kadang-kadang ia harus turun tangan menghajar orang yang bersikap tak sopan itu.
Bonar Siregar dan Alfian berkuda kesana. Beberapa bulan yang lalu ia membeli kuda hasil penjualan kursi rotan dan ikan salai yang ditabungnya dua tahun ini. Mereka kemudian memacu kuda masing-masing menelusuri beberapa pematang sawah dan sungai kecil sebelum berakhir di kantor Ketua hulubalang Nagari Sumpur Setia. (Nagari adalah semacam kadipaten/distrik di kerajaan lain. Karena saya mengambil kesimpulan dari pepatah Minang ini, Dari Taratak menjadi Dusun, dari Dusun manjadi Koto, dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu.)
"Salam tuan, kami utusan dari Perguruan Silat Harimau Rao ingin memenuhi undangan dari Datuk Rimbo Berangin," seru Alfian pada Prajurit Hulubalang yang berjaga di gerbang masuk.
"Oh, kalian ya orangnya ... mari ikuti aku!" sahut salah satu Prajurit Hulubalang. Mereka kemudian mengikuti Prajurit Hulubalang itu masuk kedalam rumah panggung, yang mirip dengan 'rumah gadang' yang merupakan kantor Nagari Sumpur Setia.
"Datuk ...." Prajurit Hulubalang itu mengetuk pintu ruangan kepala Hulubalang Nagari Sumpur Setia.
"Iya masuk," sahut Datuk Rimbo Berangin. "Ada apa?"
"Utusan dari Perguruan Silat Harimau Rao telah datang, ini mereka." Prajurit Hulubalang itu mempersilahkan Alfian dan Bonar Siregar masuk.
"Baiklah, kau kembali ke posmu! Kalian silahkan duduk!" seru Datuk Rimbo Berangin.
"Ba-baik," sahut Bonar Siregar gugup. Mereka kemudian duduk bersila di tikar yang ada didepan mereka.
"Aku sudah mendengar kehebatan kalian dari Pak Idal. Beliau itu adalah sahabatku, aku yang dulu mengajaknya merantau kemari. Dia kemudian menikah dengan seorang gadis dikampung kalian dan menetap di sana. Tak kusangka ia dapat memoles pesilat tangguh seperti kalian," seru Datuk Rimbo Berangin.
"Datuk terlalu memuji kami, hahaha ...." Alfian merendah karena dipuji.
"Baiklah mulai sekarang kalian resmi menjadi Prajurit Hulubalang disini, dengan upah 50 keping emas sepekan dan akhir pekan libur. Boleh bekerja di akhir pekan dengan bayaran lembur 10 keping emas, bagi yang mau dan tak dipaksakan." Datuk Rimbo Berangin menjelaskan sistem kerja Hulubalang.
"Wah ... upahnya besar juga." Bonar Siregar senang.
"Kalian besok berangkat ke Koto Tinggi ikut pertandingan pencak silat yang diadakan oleh Kerajaan Padang Nunang. Nanti acara itu juga dihadiri oleh perwakilan dari Kerajaan Pagaruyung. Kalau beruntung, kalian akan direkrut menjadi Prajurit Hulubalang di ibukota," seru Datuk Rimbo Berangin lagi.
"Siap! Datuk!" sahut mereka serempak.
"Bagus aku suka semangat membara kalian, buktikan kalau Nagari Sumpur Setia ini memiliki pesilat tangguh!" Datuk Rimbo Berangin memuji mereka. "Kalian bergabunglah bersama pasukan lain, nanti mereka yang akan menunjukkan kemana kalian berpatroli," serunya lagi dan merekapun keluar dari ruangan itu.
Bonar Siregar ditugaskan mengawal Pedagang, sedangkan Alfian berpatroli ke beberapa kampung.
Bersambung ...
*********************************************
Catatan: Uda adalah Abang
Kemenakan adalah keponakan
Datuk adalah gelar adat
Si Malin (Kundang) bangkit lg..
jd sobatny si Bonar nih ..🤣
Semangat Bang!!!
ini hanya saran dan masukan.
bagus sekali ceritanya. lucu dan seru. sangat menghibur.👍