Sebelum membaca ini, mohon pahami Novel yang berjudul "PERFECT PARADISE" Bisa langsung baca di bab ke 350+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhewhy M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas
Cindy sangat terlihat cari perhatian dengan selalu datang membawakan masakan hasil kerja kerasnya. Memang Rebecca akui jika makanan yang dibuat Cindy begitu lezat. Tapi, semua itu membuat Rebecca muak dan tangannya sudah gatal ingin menghajarnya.
"Yusuf, Fatur.. lihatlah apa yang aku bawa. Aku memasak krecek untuk kalian!" sengaja Cindy meninggikan nada bicaranya agar Rebecca mendengar.
"Dia pikir, aku tidak bisa masak kali, ya. Masak krecek aja sombongnya minta ampun. Belum tau siapa Rebecca Anastasya yang sebenarnya dia," gerutu Rebecca mencengkram sapu ijuk nya hingga ganggangnya patah.
"Kuat juga aku, bisa matahin gagang sapu, mau nyapu pakai apa? Hah, kenapa aku masih sulit kontrol emosi, sih?"
Rebecca bingung sendiri karena sapu yang baru saja Fatur beli dipatahkan olehnya. Karena tidak mau menambah hukuman lagi, Rebecca memungut sampah menggunakan kedua tangannya. Yusuf yang mengetahui itupun mendekatinya.
"Assalamu'alaikum, ada apa cantik?" nada Yusuf sudah berbeda.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ya calon imamku. Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja mematahkan gagang sapu ijuk ini, dan sebagai bentuk rasa tanggung jawab saya, saya menyerok dedaunan yang bertaburan di tanah, menggunakan kedua tangan mungil saya...." jawab Rebecca dengan merendah.
"Udah?"
"Hah?"
"Udah aktingnya? Makan dulu, nanti lanjut lagi. Asal udah kumpulin sampahnya, jadi nggak papa tinggalin aja dulu," ucap Yusuf.
"Sendiko dawuh, Mas calon imamku.. haih...." jawab Rebecca.
"Geli, Re. Geli! Udah ayo masuk!"
Tanpa sengaja atau memang Yusuf lupa dengan kata 'mahram', ia menyentuh bahu Rebecca yang membuatnya terus berdebar. Sentuhan tangan Yusuf bagaikan salju yang menempel pada dahi Rebecca. Menyejukkan hati dan membuatnya nyaman.
Akan tetapi, haluan itu pudar saat Cindy memberikan wadah kotor kepadanya. Cindy menyuruh Rebecca untuk segera mencucinya, sementara dirinya ingin menghabiskan makanan itu bersama dengan Yusuf dan Fatur.
"Kamu hanya bawa segini? Untuk Rere?" tanya Fatur.
"Oops, sorry.. I thought it was just you and Yusuf here. So, I didn't bring any more. Mianhae, Re?" ucap Cindy dengan manis.
"Aku sudah kenyang mendengar ucapan manismu," jawab Rebecca meninggalkan meja.
Namun, Yusuf menahan lengan Rebecca. Ia memintanya untuk duduk dan berbagi makanan dengannya. Tentu saja membuat Cindy emosi, ia sudah payah memasak untuk mendapat pujian dari Yusuf, tapi malah melihat hal yang tidak seharusnya terjadi dalam pikirannya.
"Yusuf, tapi kamu... aku udah buatin ini untukmu, loh," ucap Cindy.
"Sebenarnya, aku sudah makan. Rere aja yang makan, pasti dia lelah karena menyapu halaman seluas itu, boleh, 'kan?" tanya Yusuf.
Mau tidak mau, Cindy mengiyakan dan menyiapkan makanan itu kepada Rebecca. Sedangkan Yusuf tengah menerima telpon dari Adam yang mengeluh soal Airy karena berbohong kepadanya.
"Haha, benarkah? Lalu, hukuman apa yang akan Mas Adam berikan kepada, Kakak?" tanya Yusuf.
"Mas mau kakakmu mencuci piring di restoranmu. Lusa sudah buka, 'kan? Jadi, kamu pekerjakan dia selama tiga hari di sana ya?" jawab Adam.
"Haha, Ya Allahu Ya Rabb... Apa yang dilakukan kakak, sih? Bohong apa?" tanya Yusuf.
"Dia menyuruh anak orang bolos sekolah, terus mengajak Ayanna ke pasar sampai siang dan bolos sekolah pula. Mana dia bohong katanya kerumah Uti, nyatanya nggak pergi ke rumah Uti sama sekali," keluh Adam.
Sementara Yusuf sibuk telpon, Cindy menginterogasi identitas Rebecca kepada Rebecca di depan Fatur. Dengan lahapnya Rebecca malah tidak menggubris pertanyaan Cindy hingga membuatnya kesal.
"Kamu ini sebenarnya siapa, sih? Datang-datang, terus sok akrab banget sama Yusuf, mana nemplok mulu lagi kek laler, kamu tuh cewek, nggak baik nemplok mulu gitu, hargai agamanya Yusuf, dong!" seru Cindy.
"Biarpun aku belum menjadi orang muslim, tapi aku tahu mana yang baik dan buruk dalam orang muslim. Aku dekat dengan Bos Yusuf, sebab...." Rebecca menghentikan ocehannya. Ia kembali menyantap makanannya tanpa melihat Cindy dan Fatur.
"Sebab.. sebab apa?" tanya Fatur.
"Kamu ngomong yang jelas, dong!" bentak Cindy dengan seluruh emosinya.
"Sebab, kami dekat saja. Gitulah, hehehe," jawab Rebecca menimbulkan kecurigaan.
Yusuf kembali ke meja, dan menanyakan hafalan Rebecca. Fatur dan Cindy terkejut, mereka masih mengira jika Rebecca tidak memiliki agama karena kebanyakan pada umumnya, gadis Tionghoa dan memiliki darah orag barat seperti Rebecca tidak memiliki kepercayaan.
"Aku lahir di Australia, ayahku mix Australia dan Chinese. Ibuku, orang Australia mix Indonesia, Jogja. Jadi.. aku mutusin untuk ikut agama Bos Yusuf, karena memang semua itu adalah keputusanku, jadi.. aku mohon kalian jangan tanya tentang asal usulku, terima kasih," ungkap Rebecca sedikit sedih. Ia langsung masuk ruangan Yusuf dengan menundukkan kepala.
"Ada apa dengannya? Kalian nanyain hal pribadi kepadanya? Ck, gimana, sih?" terlihat Yusuf sangat kesal dan mengikuti Rebecca masuk.
Bagaimana tidak sedih, ia lahir tidak dalam ikatan pernikahan orang tuanya. Ibunya harus meninggal saat melahirkannya. Lalu, ayahnya mencampakkan dengan meninggalkannya dengan Nenek (ibu dari pihak ibu) dan pergi dengan perempuan lain.
Sejak kecil, ia tinggal bersama dengan Nenek pihak Ibu sampai usianya menginjak 10 tahun, lalu di ambil paksa hak asuhnya oleh Nenek pihak ayah dan menduduki gengster Kakeknya. Ia diasuh tanpa kasih sayang dari siapapun, ia dibesarkan dengan alasan bisnis di dunia Mafia. Selama ini, ia berbohong kepada Yusuf jika Ibunya lah yang dari Tiongkok, demi menyembunyikan identitas lainnya.
"Aku bahkan tidak ada yang menyayangi, salahkah jika aku berharap di sayangi oleh, Bos Yusuf? Dia orang pertama yang tulus membantuku, memberiku nasehat dan memberiku harapan untuk hidup lebih baik. Kenapa orang selalu mempertanyakan siapa aku?" emosi Rebecca mulai kacau.
"Huaa, apakah karena rambut pirangku ini? Aku sudah menyemirnya, tapi luntur terus. Merk apa yang seharusnya aku gunakan? Apakah karena mata biruku ini? Jika aku bisa memilih dari rahim mana aku dilahirkan, aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan di dunia ini. Semua ini bukan kemauanku.. huhuhu...."
Baru kali itu Yusuf melihat Rebecca menangis dan begitu lemah. Yusuf tak menyangka jika dirinya dijadikan sandaran hidup olehnya. Tidak heran jika Nenek dari pihak Ibu Rebecca menyerahkan hak walinya kepada Yusuf.
Tok.. tok..
Pintu diketuk.
"Assalamu'alaikum, boleh aku masuk?" ucap Yusuf.
"Wa'alaikumsalam, masuklah, Bos!" jawab Rebecca menyeka air matanya, ia berusaha menyembunyikan kesedihan ya di depan Yusuf.
Yusuf duduk di samping Rebecca dan memandang wajah Rebecca yang sendu. Mata cantiknya selalu mengalihkan dunia Yusuf. Jarang sekali gadis bermata biru muncul dalam kehidupan Yusuf. Kecuali memang ketika di luar negri.
"Kamu mau ikut agamaku?" tanya Yusuf.
Rebecca menatap Yusuf, kemudian mengangguk.
"Apa yang membuatmu ingin masuk ke agamaku? Bukan karena aku, 'kan?" tanya Yusuf kembali.
"Bolehkah aku jujur?" tanya Rebecca.
Yusuf mengangguk pelan.
"Saat aku menyentuh tasbih digital itu, hatiku seperti di tarik kuat olehnya. Saat aku membuka kitab, dan mulai menghafal juz 30 lewat internet, jantungku mulai berdebar. Sejak saat itu, aku merasa takut ketika aku membunuh orang, mencuri dan merampok sesama gengster. Apakah, itu yang di namakan hidayah?" ungkap Rebecca.
Yusuf tidak mengiyakan dan tidak mengatakan tidak. Misi Rebecca dalam dunia Mafia masih banyak setelah 2 bulan syarat dari Neneknya berlalu. Ia akan kembali membunuh dan melukai orang lagi dengan mudah. Jadi, Yusuf mengatakan jika Rebecca akan bisa berubah secara perlahan.
bagus
semangat
cerita yang unik
cerita islami+ mafia
siip lahhh
the best pokok e