"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Panas di Ruang Rapat
Gedung pencakar langit milik Grup Arkananta berdiri dengan angkuh di pusat distrik bisnis ibu kota, mencerminkan kekuasaan absolut pemiliknya. Di lantai paling atas, tepatnya di dalam ruang rapat utama, atmosfer terasa begitu mencekam. Udara dingin yang diembuskan oleh pendingin ruangan sentral seolah membeku, kalah oleh ketegangan yang mendidih di antara belasan direksi dan pemegang saham yang duduk melingkari meja oval panjang dari kayu mahoni.
Di kursi utama, duduklah Arthur Arkananta. Pria berusia tiga puluh tahun itu mengenakan setelan jas hitam custom-made yang membungkus tubuh tegap atletisnya dengan sempurna. Wajahnya yang rupawan bak pahatan dewa Yunani tampak datar tanpa ekspresi, sepasang mata elangnya yang tajam menatap dingin ke arah jam dinding digital di ujung ruangan. Kurang dari satu menit sebelum waktu yang dijanjikan untuk presentasi tender proyek mega-resor di Bali.
"Apakah perwakilan dari firma Milan itu selalu tidak menghargai waktu?" suara Arthur rendah, berat, dan berwibawa, bergaung di ruangan yang sunyi. Nada bicaranya mengandung intimidasi yang membuat beberapa manajer senior spontan menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung sang CEO berdarah dingin.
Tepat ketika angka di jam digital berganti menunjukkan pukul sembilan tepat, pintu ganda ruang rapat yang terbuat dari kayu jati tebal diketuk dari luar, lalu terbuka lebar.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter menggema ritmis di atas lantai marmer yang mengkilap. Seseorang melangkah masuk dengan anggun, memecah keheningan yang sempat mencekam.
Arthur, yang awalnya bersedekap dada dengan posisi angkuh, seketika membeku di kursinya. Pena emas yang berada di sela jemarinya terlepas begitu saja, berdenting pelan di atas meja kaca sebelum berhenti bergerak. Sepasang mata elangnya melebar sempurna. Napas pria itu tertahan di tenggorokan, seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu mendadak lenyap ditelan bumi.
"Maaf membuat Anda semua menunggu, Tuan-Tuan," sebuah suara wanita yang merdu, jernih, namun sedingin es terdengar memenuhi ruangan.
Wanita itu melangkah maju tanpa ragu. Setelan blazer merah marun yang ia kenakan melekat indah di tubuh semampainya, memancarkan aura seorang pemimpin wanita yang tangguh dan mandiri. Rambut cokelat madunya bergoyang indah seiring dengan langkah kakinya. Ketika dia melepaskan kacamata hitam besarnya, seluruh orang di ruangan itu menahan napas. Wajahnya begitu cantik, dengan sorot mata yang tajam dan bibir merah merona yang melengkung membentuk senyuman formal yang sangat berjarak.
Itu Elena.
Jantung Arthur berdegup kencang secara tidak beraturan. Gemuruh di dadanya begitu hebat hingga tangannya yang berada di bawah meja mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Elena...? Bagaimana mungkin? batin Arthur menjerit frustrasi.
Wanita yang lima tahun lalu dia usir ke jalanan di tengah badai hujan, wanita yang dikabarkan oleh ibu tirinya telah meninggal kelaparan bersama janin di kandungannya di luar negeri, kini berdiri tegak di hadapannya. Elena tidak lagi tampak menyedihkan atau menangis tersedu-sedu memohon keadilan seperti dulu. Dia berdiri bagai seorang ratu yang siap menaklukkan dunia.
"Selamat pagi, Tuan Arkananta yang terhormat," ucap Elena lurus, menatap tepat ke sepasang mata Arthur yang tampak bergetar hebat. Tidak ada ketakutan, tidak ada kebencian yang meledak-ledak di mata wanita itu. Hanya ada kekosongan yang teramat dalam, seolah Arthur hanyalah orang asing yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan.
Elena mengulurkan tangannya yang lentik dan putih bersih secara profesional di depan Arthur. "Saya Eleanor Vance, perwakilan utama dan direktur kreatif dari firma desain interior Milan. Senang bisa bertemu dengan klien sebesar Grup Arkananta."
Arthur bangkit dari kursi kebesarannya dengan sentakan kasar, hingga kursi kulit mewah itu bergeser ke belakang dan menimbulkan suara decitan yang memekakkan telinga. Para direksi di sekitarnya saling pandang dengan wajah bingung, heran melihat bos mereka yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini tampak kehilangan kendali hanya karena melihat seorang desainer baru.
"Kamu... kamu masih hidup?" suara Arthur terdengar serak, sarat akan emosi yang campur aduk antara syok, rasa bersalah, dan kerinduan yang mendalam yang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi. Matanya memerah, menatap lekat-lekat wajah mantan istrinya, mencari tahu apakah ini semua nyata atau hanya ilusi belaka.
Elena menarik kembali tangannya dengan santai karena tidak disambut oleh Arthur. Dia melipat tangannya di depan dada, mempertahankan senyum formalnya yang menusuk.
"Tentu saja saya hidup, Tuan Arthur. Mengapa saya harus mati sebelum melihat kesuksesan proyek besar Anda?" Elena terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar begitu meremehkan di telinga Arthur. "Saya di sini untuk melakukan bisnis profesional dengan Anda. Kecuali... Anda berniat membatalkan kontrak bernilai ratusan miliar ini hanya karena masalah pribadi yang tidak penting?"
Kata-kata Elena mendarat telak bagai tamparan di wajah Arthur. Mengingat para pemegang saham asing juga ada di ruangan ini, Arthur terpaksa menelan kembali semua pertanyaan pribadi yang ingin dia muntahkan. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debaran jantungnya, lalu kembali duduk dengan gestur kaku.
"Silakan mulai presentasi Anda, Nona Vance," ucap Arthur dingin, sengaja menekankan nama belakang baru Elena dengan nada tidak suka.
Elena tersenyum sinis. Dia memberi kode kepada asistennya untuk menyalakan proyektor. Selama tiga puluh menit berikutnya, Elena mendominasi ruangan. Suaranya yang tegas memaparkan konsep desain resor mewah yang belum pernah dipikirkan oleh siapa pun di Indonesia. Dia memadukan unsur budaya lokal dengan kemewahan modern Eropa yang sangat berkelas. Para direksi dan investor asing berkali-kali mengangguk kagum, terpesona oleh kecerdasan dan visi bisnis yang dipaparkan Elena.
Arthur sendiri hampir tidak fokus pada materi presentasi. Matanya terpaku pada bibir Elena yang bergerak, pada ekspresi wajahnya yang penuh percaya diri. Ada rasa bangga, namun di sisi lain, ada rasa sakit yang menusuk hatinya saat menyadari bahwa wanita sehebat ini pernah dia sia-siakan.
"Jadi, Tuan Arkananta," Elena menutup presentasinya, berjalan mendekat ke arah meja Arthur dan meletakkan sebuah draf kontrak baru di hadapan pria itu. "Ini adalah klausul kerja sama kita. Saya meminta kendali penuh atas pemilihan material dan pekerja, serta hak veto seratus persen jika ada pihak internal perusahaan Anda yang mencoba mencampuri desain saya. Jika Anda tidak setuju, saya bisa membawa konsep ini ke kompetitor utama Anda, Grup Wijaya, yang kemarin juga menawarkan kerja sama."
Suasana kembali menegang. Elena terang-terangan memberikan ancaman bisnis dan memojokkan Arthur di depan para pemegang sahamnya sendiri. Jika Arthur menolak, dia akan kehilangan proyek masa depan perusahaan sekaligus mempermalukan dirinya sendiri di mata investor. Namun jika dia menerima, artinya dia harus membiarkan Elena memegang kendali penuh atas dirinya selama proyek ini berlangsung.
Arthur menatap kontrak itu, lalu mendongak menatap mata Elena yang berkilat menantang. Sudut bibir Arthur terangkat tipis, membalas tatapan itu dengan binar mata yang kembali berbahaya.
"Menarik," bisik Arthur, suaranya terdengar seksi sekaligus mengancam. Dia mengambil pena emasnya yang sempat terjatuh, lalu dengan cepat menandatangani kontrak tersebut tanpa ragu. "Saya menerima semua syarat Anda, Nona Vance. Mari kita lihat, seberapa jauh Anda bisa mengendalikan saya di proyek ini."
Elena menerima kembali dokumen yang sudah ditandatangani itu dengan senyum kemenangan. "Pilihan yang cerdas, Tuan CEO. Sampai jumpa di hari pertama kerja saya... besok pagi."
Elena berbalik, melangkah keluar dari ruang rapat dengan kemenangan mutlak di tangannya, meninggalkan Arthur yang menatap punggungnya dengan sejuta rencana untuk mengulik kembali rahasia lima tahun lalu yang terkubur rapat.