NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

Sore itu, suasana di ruang kelas masih terasa hening setelah Bu Ratna mengumumkan nilai tugas kelompok mereka. Meskipun tugas itu selesai tepat waktu, nilai yang didapat belum mencapai yang diharapkan—bukan nilai jelek, tapi juga belum maksimal seperti yang dijanjikan.

Laras menunduk dalam, rasa bersalah memenuhi dadanya. Ia melangkah mendekati Rara, Aisyah, dan Dimas yang sedang membereskan barang.

"Maaf ya semuanya..." ucap Laras pelan, suaranya terdengar sungguh-sungguh menyesal. "Aku tahu ini sebagian besar gara-gara kecerobohanku kemarin. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, aku sungguh-sungguh minta maaf sudah menyusahkan kalian semua."

Aisyah tersenyum lembut, lalu menepuk pelan bahu Laras. "Sudah, Laras. Yang penting tugas selesai dan kita selamat. Lain kali lebih teliti saja ya, kita sudah memaafkanmu kok."

Rara hanya mengangguk singkat, meski belum sepenuhnya akur, ia tidak lagi menyimpan dendam. "Iya, sudahlah. Anggap saja pelajaran buat kita semua."

Setelah Rara dan Aisyah berpamitan duluan, tinggal Laras dan Dimas yang masih berada di sana. Laras menarik napas panjang, memberanikan diri menatap Dimas dengan senyum yang ia usahakan terlihat manis.

"Dim..." panggilnya lembut. "Sebagai permintaan maafku yang tulus, aku boleh nggak mengajak kamu makan malam nanti? Aku yang traktir semuanya."

Dimas tertegun sejenak, alisnya perlahan terangkat sedikit ke atas, menatap Laras dengan tatapan bingung sekaligus heran.

"Eh? Kenapa tiba-tiba begitu, Ras?" tanyanya pelan.

Di dalam hatinya, Dimas bergumam tak habis pikir: Aneh-aneh saja perempuan yang satu ini. Baru saja minta maaf sama satu kelompok, eh malah langsung mengajak aku berdua saja. Sedikit agak agresif juga caranya, ya...

Namun di luar ia tetap berusaha bersikap sopan. "Terima kasih tawarannya, tapi mungkin lain kali saja ya. Hari ini aku sudah ada janji pulang lebih awal sama orang tua. Lagian kan kita satu kelompok, permintaan maafnya sudah diterima kok, nggak perlu sampai traktir makan malam khusus buat aku."

Wajah Laras sedikit kecewa, namun ia berusaha menyembunyikannya. "Oh... begitu ya. Ya sudah nggak apa-apa deh kalau begitu. Lain kali saja kalau ada kesempatan ya."

"Iya, nanti kita lihat waktunya," jawab Dimas singkat, lalu tersenyum tipis sebelum berjalan menuju pintu kelas.

***

Langkah kaki Dimas terasa ringan namun pikirannya masih berputar pada kejadian di kelas tadi. Langit sore mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, angin sepoi-sepoi berhembus pelan menyapu halaman sekolah yang mulai sepi. Arga dan Bima sudah menunggunya di bawah pohon beringin besar dekat gerbang, tempat biasa mereka bertiga berkumpul sebelum pulang.

Melihat Dimas berjalan mendekat dengan wajah yang tampak bingung setengah gelisah, Arga langsung menyenggol lengan Bima dengan siku. "Lihat tuh muka sahabat kita. Kayaknya ada yang mau diceritakan nih," bisiknya sambil menahan senyum jahil.

Begitu Dimas sampai di hadapan mereka, ia langsung menghela napas panjang dan duduk di atas rumput yang masih agak lembap.

"Kenapa muka lo kusut banget, Dim? Baru habis ketemu hantu ya?" canda Bima sambil menyodorkan sebotol air minum.

Dimas menerima botol itu, meminumnya seteguk, lalu menatap kedua sahabatnya bergantian. "Bukan ketemu hantu, tapi tadi ada kejadian yang bikin gue bingung sendiri. Aneh deh rasanya."

Arga dan Bima langsung duduk lebih rapat, wajah mereka berubah penasaran. "Kejadian apa? Cepat ceritain, jangan bikin penasaran gitu," desak Arga.

Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu mulai bercerita. "Tadi setelah nilai tugas kita diumumkan, Laras minta maaf ke kita semua karena nilainya belum maksimal gara-gara kesalahannya kemarin. Udah gitu, pas Rara sama Aisyah pulang duluan, tinggal kita berdua di kelas. Eh tiba-tiba dia ngajak gue makan malam berdua, dia yang mau traktir katanya sebagai ganti rugi."

Belum selesai Dimas bicara, Arga dan Bima langsung tertawa terbahak-bahak sampai menepuk-nepuk tanah di sebelah mereka. Suara tawa mereka menggema memecah kesunyian sore itu, bahkan ada beberapa siswa yang masih lewat menoleh heran ke arah mereka.

"Waduh waduh, kasihan banget deh Laras ditolak mentah-mentah!" ucap Arga di sela tawanya. "Lo ini kenapa sih, Dim? Padahal Laras kan cantik, anak orang kaya juga, sopan. Kenapa harus ditolak? Lo malu apa gimana sih? Nggak biasa ditembak cewek ya?"

Bima ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Iya bener kata Arga. Udah jelas-jelas dia naksir sama lo, kok lo malah bingung kayak gitu? Kebanyakan cowok lain pasti udah terima senang hati lho kalau ditawarin makan malam sama cewek secantik dia."

Dimas menatap mereka berdua tak percaya, alisnya berkerut makin dalam. Ia pun ikut tertawa kecil tapi lebih karena gemas melihat tingkah sahabatnya yang berlebihan.

"Ya ampun kalian ini kok bisa-bisanya sih ngomong begitu?" seru Dimas sambil menepuk pelan bahu Arga dan Bima bergantian. "Gue kan cuma cerita doang ke kalian, bukannya berarti gue polos atau nggak paham atau kayak gimana-gimana! Itu kan masalah biasa doang, lo tau sendiri kan? Kita kan baru kenal sebentar, terus tiba-tiba dia ngajak makan malam berdua begitu... ya wajar dong kalau gue kaget dan nggak enak kalau langsung terima."

Arga masih menyisakan senyum jahil di bibirnya, lalu mencondongkan badan mendekat ke arah Dimas seolah ingin berbisik rahasia besar. "Eh jangan salah paham dulu, Dim. Ini bukan masalah biasa di mata kita lho. Itu tandanya dia tuh kasih kode keras banget ke lo. Dia tuh naksir berat sama lo, lo-nya aja yang bego nggak ngerti-ngerti!"

"Betul banget," timpal Bima. "Cewek nggak akan sembarangan ngajak makan malam berdua ke cowok kalau cuma sekadar teman biasa. Apalagi tadi dia baru saja merasa bersalah, tapi bukan minta maaf ke satu kelompok, eh malah minta maaf lewat traktiran khusus buat lo doang. Itu udah kode paling jelas sedunia, Dim. Lo-nya aja yang kagak paham!"

Dimas terdiam sejenak, menatap wajah mereka berdua bergantian. Perlahan bingungnya berubah menjadi senyum malu-malu. Ia menggelengkan kepala pelan.

"Kalian berdua ya... selalu saja bikin hal sederhana jadi rumit begini," keluhnya namun nada bicaranya terdengar santai. "Gue tahu perempuan itu punya perasaan, tapi gue nggak mau asal ambil kesempatan begitu saja. Lagian sikap Laras kan kadang masih agak agresif dan berubah-ubah, gue belum yakin benar niatnya murni cuma minta maaf atau memang ada maksud lain. Gue cuma mau bersikap sopan dan menjaga jarak yang pas aja."

"Nah itu dia!" seru Arga. "Justru karena lo bersikap dingin dan nggak gampang tergoda, makin bikin cewek-cewek makin penasaran sama lo. Termasuk Laras itu. Kalau lo langsung terima mentang-mentang, mungkin dia malah nggak tertarik lagi."

Bima mengangguk setuju. "Tapi hati-hati juga ya, Dim. Kalau ditolak terus-terusan nanti dia malah sakit hati atau malah jadi berubah sikap. Kita kan sekelas, satu kelompok juga. Nanti malah jadi canggung lagi. Pelan-pelan aja lah kalau emang belum siap."

Dimas tersenyum tulus, merasa lega bisa berbagi cerita dengan sahabat yang sudah ia kenal sejak lama ini. "Gitu dong ngomongnya, nggak usah ngejek gue nggak paham kode segala. Gue cuma mau fokus sekolah dulu, menjaga hubungan baik sama semua teman tanpa membeda-bedakan. Kalau soal perasaan, itu urusan belakangan. Yang penting kita semua bisa lulus dengan nilai bagus dan akur kita tetap terjaga sampai kapan pun."

"Siap, Kapten!" seru Arga sambil memberi hormat lucu. Bima pun ikut tertawa.

Mereka bertiga akhirnya berdiri dan melanjutkan perjalanan pulang. Di sepanjang jalan pulang, obrolan mereka terus berlanjut ke hal-hal lain yang lebih ringan, mulai dari tugas yang menumpuk, guru yang galak, sampai rencana liburan sekolah nanti. Namun di sudut hati Dimas, kata-kata sahabatnya tadi masih sempat terngiang pelan. Ia mulai berpikir, mungkin memang benar apa kata mereka, tapi ia tetap pada pendiriannya: semuanya harus berjalan wajar, tidak perlu terburu-buru, dan tidak perlu memaksakan keadaan.

Sementara itu, di dalam mobil yang sedang melaju perlahan menjauhi sekolah, Laras masih menatap ke luar jendela dengan wajah yang tak bisa tersenyum lebar. Penolakan halus dari Dimas tadi membuatnya sedikit kecewa, tapi di sisi lain rasa penasaran dan keinginan untuk mendekati Dimas justru makin besar. Ia belum menyerah begitu saja, tapi mulai menyadari bahwa cara yang ia pakai tadi mungkin terlalu cepat dan terkesan mendesak. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mencari cara lain yang lebih halus dan tepat waktu, agar Dimas bisa melihat sisi baiknya tanpa merasa terganggu.

Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya, menyisakan langit berwarna ungu gelap yang menandakan malam akan segera tiba. Di antara mereka bertiga sahabat dan Laras, benih-benih persahabatan, rasa suka, dan pemahaman yang lebih dalam mulai tumbuh perlahan, menanti waktu yang tepat untuk mekar sepenuhnya di masa depan.

 

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!