Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN SINGKAT
Setelah mendapatkan pedang Bharadasura dari Mpu Sura, perjalanan Sena membawanya kembali ke desa Tugaran. Ia menyusuri jalan setapak yang familier hingga tiba di kediaman Nyai Purnama lalu ketempat Mpu Pala.
Kunjungan ini murni untuk melepas rindu. Keduanya menyambut Sena dengan suka cita, takjub melihat pemuda itu kini tumbuh menjadi sosok berusia dua puluh satu tahun yang tegap dan berwibawa.
Sena menghabiskan waktu beberapa jam duduk di beranda, minum teh hangat, dan berbincang ringan untuk memastikan kedua sosok yang merawatnya sejak bayi itu dalam keadaan sehat.
Setelah dirasa cukup memastikan keadaan mereka, Sena berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Sena kemudian melanjutkan perjalanan menuju padepokan Mpu Parwa. Berkat Sandi Kasar dan Panglimunan Batin, hawa mengerikan dan aura kanuragannya tertutup rapat, membuatnya terlihat seperti pemuda pengembara biasa. Namun, perubahan fisik dan kedewasaannya tetap mencolok.
Begitu menginjakkan kaki di pelataran padepokan, beberapa cantrik menatapnya asing. Dari dalam, muncul sosok Rabu Tilawang, teman seperjuangannya dulu.
Rabu menyipitkan mata, menatap curiga ke arah pemuda tinggi dengan sorot mata tajam di hadapannya. Ia nyaris saja menegur Sena sebagai tamu tak diundang, sampai pandangannya terkunci pada satu benda kecil cincin penanda yang melingkar di jari Sena.
"Cincin itu" gumam Rabu, matanya perlahan membelalak. "Sena. Gila, ini beneran kamu, Astaga, auramu sangat berbeda, hampir saja tidak kukenal kalau bukan karena cincin itu"
Sena tertawa lepas, menepuk bahu sahabat lamanya itu dengan keras hingga Rabu meringis tertahan.
Sena memutuskan menetap di kediaman Mpu Parwa selama beberapa hari. Waktu ini ia gunakan untuk mencairkan ketegangan urat sarafnya setelah digembleng mati-matian oleh Mpu Ranajaya.
Ia menghabiskan waktu bernostalgia dengan Rabu Tilawang, melihat perkembangan padepokan, dan yang paling penting: mengikuti kajian-kajian malam.
Setelah selesai kajian kembali membahas geopolitik di singhasari secara rahasia dengan mpu Parwa.
Di tengah masa tinggalnya yang damai, takdir akhirnya mempertemukan garis darah yang terpisah. Rombongan kecil datang ke padepokan. Itu adalah Anusapati, sang pangeran singhasari, yang datang dalam jadwal kunjungan rutinnya untuk menemui Mpu Parwa.
Saat melintasi pelataran, langkah Anusapati mendadak terhenti. Matanya terpaku pada pemuda yang sedang duduk santai mengobrol bersama Rabu.
Lebih tepatnya, pandangannya terkunci pada cincin di jari Sena. Ia mengingat kembali kejadian saat pertama kali tahu tentang kebenaran itu cincin yang sama dengan dipakai orang waktu itu
Anusapati menghampiri pemuda itu lalu "Sena?."
Karena menghormati pangeran singhasari Sena dan Rabu berdiri, lalu Anusapati memeluk Sena membuat yang lain kebingungan, Sena juga membalasnya dan "Mari bicara ditempat yang lebih sunyi."
Setelah itu mereka pergi meninggalkan yang lainnya menuju pondok saat pertama kali Sena membuka kebenaran.
"Jadi bagaimana Raden apakah sekarang kamu sudah menerima takdirmu"
Anusapati menceritakan secara singkat ketika dia tahu kebenaran itu dia tidak bisa tidur nyenyak dan terus mencari-cari kebenaran bertanya diam-diam kepada pelayanan-pelayanan tua tetapi tidak juga mendapati apa yang dicarinya, hingga akhirnya dia memberanikan diri bertanya ke ibundanya, setelah ibundanya memberitahu kebenaran itu Anusapati sudah tahu lebih dulu, dan dia membahas Sena, Dedes akhirnya tahu kalau Anusapati ingin mencari tahu kebenarannya yang selama ini dikubur karena Sena, setelah itu Dedes menceritakan siapa Sena dan apa hubungannya dengan Anusapati, serta cincin itu yang khas dan tidak dimiliki oleh orang lain"
"Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?."
"Aku sudah membulatkan tekadku untuk membalas semua perlakuan yang aku terima, tentang ayahanda yang dibunuh, dan ibunda yang dipaksa untuk menikah, akan aku kembalikan berkali-kali lipat." ucap Anusapati penuh amarah
"Tenang Anusapati kita akan membalaskan dendam ayahanda tetapi kita harus menyusun rencana terlebih dahulu."
"Ken Arok itu paranoid, Anusapati. Selama dia mendekam di balik tembok istana dengan pengawal berlapis, peluangmu menembus jantungnya sangat tipis" ucap Sena dengan nada rendah namun tajam. "Kita tidak bisa menyerangnya di dalam. Kita harus memancingnya keluar. Buat sebuah kondisi palsu sebuah ancaman atau umpan yang memaksanya turun tahta sejenak untuk memimpin langsung"
Belum sempat Sena menyelesaikan rancangan strateginya, sebuah suara lembut dan merdu mendadak memotong dari kejauhan "Kangmas Anusapati"
Sena dan Anusapati sontak menoleh. Di sana, berdiri seorang gadis dengan paras yang luar biasa ayu, mengenakan kemben sutra halus dengan selendang yang menjuntai anggun. Dia adalah Dewi Rimbu, adik dari Anusapati.
Gadis bangsawan itu mendekat dengan senyum lembut, berniat mencari kakaknya yang tiba-tiba menghilang dari rombongan pengawal.
Namun, senyum di bibir Dewi Rimbu perlahan memudar, tergantikan oleh raut wajah yang membeku sesaat. Langkah kakinya terhenti.
Mata indahnya tak sengaja saling pandang dengan tatapan tajam Sena.
Meski Sena telah menekan habis aura kanuragannya dengan Sandi Kasar, penampilan fisiknya tak bisa berbohong. Di usia dua puluh satu tahun, setelah ditempa neraka oleh Mpu Ranajaya dan bertahan dari kerasnya alam, Sena memancarkan karisma yang sangat maskulin dan liar.
Postur tubuhnya tegap, kulitnya kecokelatan sehat, dan ada sorot mata percaya diri khas pria yang tahu persis seberapa mematikan dirinya yang tidak pernah Dewi Rimbu temui pada pangeran atau ksatria mana pun di keraton Tumapel.
Jantung Dewi Rimbu tiba-tiba berdebar satu ketukan lebih cepat. Ada desir aneh yang mendadak mengalir di dadanya.
Selama ini, ia selalu bersikap anggun dan tak acuh setiap kali melihat pria-pria bangsawan atau senopati yang berusaha menarik perhatiannya. Namun, menatap pemuda asing yang duduk di sebelah kakaknya ini... rasanya benar-benar berbeda. Pipi Dewi Rimbu perlahan merona merah tipis.
"Ah... Dinda Rimbu," Anusapati langsung berdiri, sedikit gelagapan karena obrolan kudeta berdarahnya nyaris saja bocor. Ia berdeham pelan, mencoba menetralkan suasana. "Sedang apa kau menyusul ke mari?"
Dewi Rimbu mengerjap pelan, seolah baru tersadar dari lamunannya. "I-itu... para pengawal mencari Kangmas karena kita harus segera kembali sebelum malam turun," jawabnya dengan suara yang sedikit tertahan, matanya diam-diam melirik kembali ke arah Sena. "Dan... siapa ksatria ini, Kangmas? Aku belum pernah melihatnya."
Sena, dengan insting modernnya yang peka, langsung menangkap gelagat salah tingkah dari sang putri keraton.
Sena ikut berdiri, merangkapkan tangannya di depan dada, dan menunduk hormat dengan gestur ksatria yang sangat luwes. "Hamba hanya pengembara biasa, Gusti Putri. Kebetulan singgah untuk bertukar sapa dengan Pangeran Anusapati."
Mendengar suara Sena yang berat dan tenang, rona merah di pipi Dewi Rimbu semakin menjadi. Ia mengangguk pelan, menyembunyikan senyum kecilnya di balik ujung selendang.
Anusapati menatap Sena dengan isyarat mata yang jelas "Pembicaraan kita tunda dulu."
Sena membalas tatapan itu dengan anggukan singkat. Rencana besar memancing Ken Arok keluar terpaksa ditunda dibahas untuk sementara waktu, digantikan oleh perkenalan canggung yang dipenuhi letupan asmara sepihak dari sang putri keraton.