NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bicara dan Mendengar

Pagi datang pelan lewat celah gorden kamar kos yang tipis.

Cheyrin mengerjap beberapa kali sebelum sadar ia sudah berada di atas kasur.

Tubuhnya ringan, tapi kepalanya masih berat. Bekas air mata semalam membuat kelopak matanya sedikit bengkak.

Ia menatap plafon kamar sebentar, lalu duduk pelan.

Jaketnya sudah dilipat rapi di kursi, sepatu dilepas, dan selimut menutupi tubuhnya sampai dada.

Bukan dirinya yang melakukan itu semua.

Ingatan semalam kembali pelan-pelan. Motor, pelukan di pinggang Jayden, lalu gelap.

Cheyrin menggigit bibirnya. Malu sekaligus lega.

“Dia yang nganterin gue pulang…” gumamnya pelan.

Ia meraih ponselnya. Membuka layar itu. Dan melihat pesan dari mama nya yang sejak semalam belum ia balas.

Ia menatap layar itu lama. Dada nya terasa sesak. Lalu Cheyrin mengunci layar itu, dan meletakkan ponselnya kembali.

Pintu kamar diketuk pelan dari luar.

Belum sempat Cheyrin menjawab, suara Jayden terdengar dari balik pintu, datar seperti biasa tapi ada nada hati-hati.

“Udah bangun? Gue taruh bubur di meja. Makan dulu entar dingin.”

Cheyrin terdiam. Ia menatap mangkuk bubur hangat yang sudah ada di atas meja kecil dekat pintu.

Uapnya masih naik pelan. Ada taburan bawang goreng dan seiris telur di atasnya.

Cheyrin menatap mangkuk bubur itu lama.

Hangatnya masih terasa, padahal ia baru sadar kalau Jayden pasti datang jauh sebelum matahari naik.

Pintu diketuk lagi, kali ini lebih pelan.

“Chey.”

Suara Jayden terdengar rendah dari luar.

“Gue masuk ya.”

Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka pelan.

Jayden masuk membawa tas kecil berisi obat dan air mineral. Rambutnya masih sedikit berantakan, jaketnya belum dilepas, jelas dia baru datang. Di tangannya juga ada plastik kecil berisi sendok.

Cheyrin buru-buru menarik selimut sampai dagu, pura-pura masih ngantuk.

“Ngapain pagi-pagi udah di sini…” gumamnya, suaranya serak bekas nangis.

Jayden meletakkan tas dan plastik sendoknya di meja, lalu duduk di ujung kasur. Kasur sempit itu langsung ambles sedikit.

“Kuncinya di gue. Gue nggak tenang kalau ninggalin lo semalaman sendirian dalam keadaan pintu gak di kunci, abis nangis gitu lagi.”

Cheyrin menghindar tatapan matanya.

“Lebay. Gue nggak apa-apa.”

Jayden mendengus pelan.

“Lebay-lebay. Tuh liat mata lo.”

Ia menunjuk pelan ke arah mata Cheyrin, lalu buru-buru menurunkan tangannya lagi.

“Makan dulu. Nanti dingin. kebiasaan lo selalu gak sarapan kalau ke kampus.”

Cheyrin diam sebentar, lalu menghela napas.

Tangannya meraih sendok pelan, tapi matanya tetap tertunduk. Suapan pertama masuk. Hangat.

Jayden memperhatikan itu. Ia tidak buru-buru bertanya.

Hanya duduk di sana, menyender pelan ke dinding, tangannya masuk ke saku jaket. Postur kepalanya sedikit terangkat.

“Kalau udah siap cerita, gue dengerin,” katanya pelan.

“Kalau belum, gue tunggu. Tapi jangan kelamaan. Nanti buburnya abis.”

Cheyrin nyaris tersenyum. Hampir.

Ia mengaduk buburnya pelan, lalu akhirnya bersuara, pelan banget.

“...Kemarin di restoran. Ada yang kenal gue.”

Gerakan Jayden yang tadinya santai langsung berhenti.

Ia menoleh, tapi suaranya tetap datar.

“Siapa?”

Cheyrin menunduk, mengaduk buburnya pelan.

“Pak Heri... rekan bisnis bokap gue.”

Jayden menegakkan tubuh nya. Ia hanya menjawab “hmm” pelan sambil menganggukkan.

Cheyrin menghela napas. Suaranya pelan, hampir membisu.

“Jay... menurut lo tindakan gue ini salah nggak sih? Apa gue mempermalukan harga diri keluarga gue?”

Jayden masih diam. Matanya menatap uap bubur di mangkuk Cheyrin, bukan ke wajahnya.

Beberapa detik kemudian ia baru bicara, suaranya rendah.

“Menurut gue jalan hidup itu nggak bisa diatur orang lain. Benar atau salah, tepat atau nggak, itu pilihan. Dan lo ngambil langkah ini karena ada sebabnya.”

Cheyrin mengangkat wajah. Mata bengkaknya ketemu mata Jayden.

“Tapi orang-orang liatnya beda. Mereka liat anak direktur kerja jadi pelayan. Pasti diketawain.”

Ia mencondongkan badan sedikit ke depan, siku bertumpu di lutut.

“Chey. Harga diri itu bukan diukur dari lo kerja di mana. Tapi dari cara lo jalanin itu dengan kepala tegak. Kemarin lo. Dimarahi manager, dipermalukan Pak Heri, tapi lo tetep senyum, tetep nganter makanan. Itu bukan mempermalukan. Itu justru...”

Jayden berhenti. Ia menggigit pipi dalamnya.

“...Itu sikap yang paling kuat yang pernah gue liat.”

Cheyrin terdiam. Air matanya yang sudah kering rasanya akan naik lagi.

Ia mengangkat wajah, menatap Jayden bingung.

“Tunggu...”

Suara Cheyrin pelan. “Jay. Lo tau dari mana gue dimarahin manager?”

Jayden langsung terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya sempat melirik ke arah lain sekilas.

Anjir. Keceplosan.

Beberapa detik ia tidak menjawab. Tangannya mengusap tengkuk, mencari alasan.

Lalu ia menghela napas, menatap Cheyrin lagi dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa.

“Gimana gue gak tau. Kan gue nganter lo telat, karena jalan nya macet.”

Cheyrin mengernyit.

“Emang nganter telat \= tau gue dimarahin?”

“Ya...” Jayden berdehem, pura-pura santai. “Ya-ya kali gak di marahi, itukan restoran besar dan disiplin,”

Kebohongan yang buruk.

Tapi Cheyrin terlalu lelah untuk membongkarnya. Ia hanya mengangguk pelan, walau di dalam hati bertanya-tanya.

Jayden buru-buru mengalihkan topik. Ia mengambil sendok dan menyodorkannya lagi ke Cheyrin.

“Udah. Makan lagi. Daripada mikirin gue tau dari mana, mending mikirin bubur lo keburu dingin.”

Cheyrin menerima sendok itu. Bibirnya nyaris tersenyum.

Dasar...

Cheyrin menatapnya lama. Jari-jarinya masih memegang sendok tetapi tidak disuapkan.

“Jay...”

Jayden mengangkat kepalanya.

“Kenapa?”

Cheyrin mengaduk buburnya pelan. Suaranya datar, tapi ada getir di ujungnya.

“Mama chat semalam... Mama bilang, mereka mau bercerai.”

Sendok di tangan Jayden berhenti. Ia menatap Cheyrin.

“Serius? Jadi, lo kenapa nggak pulang?”

Cheyrin mendongak. Matanya kosong.

“Buat apa?” jawabnya pelan. “Buat nyaksiin perceraian mereka? Gue males.”

Keheningan turun sebentar.

“Gue udah kabur dari rumah karena capek, Jay. Capek denger mereka berantem tiap hari. Gue kira... kalau gue pergi, mereka sadar. Dan mereka bakal baikan.”

Suara Cheyrin mulai pecah.

“Tapi ini apa? Bukan nya baikan. Malah cerai.”

Cheyrin tertawa kecil, kering. “Rumah segede itu, tapi nggak ada yang nanya gue udah makan apa belum. Pulang jam berapa. Lagi stres apa nggak.”

Ia mengaduk buburnya perlahan.

“Papa direktur perusahaan besar. Iya. Tapi buat apa? Gue di rumah cuma jadi pajangan. Kalau ada tamu baru disuruh senyum. Kalau nggak ada tamu, ya udah. Sendiri.”

Jayden menghela napas panjang. Ia menyender ke dinding, tangannya mengusap wajah.

“Nggak nyangka aja. Anak Pak Mahendra milih kerja di dapur karena di rumah nggak ada yang peduli.”

“Memalukan ya?” tanya Cheyrin cepat, nadanya defensif.

“Enggak.”

Jawaban Jayden spontan. Tegas.

“Yang memalukan itu orang tua yang punya anak, tapi nggak tau anaknya lagi kenapa.”

Cheyrin mendongak kaget.

Jayden menatapnya lurus. Matanya tidak berkedip.

“Lo kerja bukan buat nyari duit. Lo kerja buat nyari tempat yang nganggep lo manusia. Bener nggak?”

Cheyrin menggigit bibir. Air matanya sudah di ujung lagi.

Ia hanya mengangguk kecil.

Jayden mendesah. Ia meraih mangkuk bubur dari tangan Cheyrin, lalu menyuapinya sendiri.

“Makan. Jangan banyak mikir.”

“Gue bisa sendiri—”

“Bisa. Tapi hari ini gue yang nyuapin.”

Potong Jayden, datar tetapi tidak dapat dibantah.

Cheyrin menurut. Suapan pertama masuk. Hangat.

Jayden melanjutkan sambil tetap menyuapi.

“Terus denger ya. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa itu, Lo bisa bilang ke gue. Lo gak usah diem. Cape gue nebak-nebak.”

“Jay gue...”

“Gue serius.” Suaranya pelan tetapi berat. “Lo nggak sendirian lagi. Titik.”

Keheningan kembali turun. Kali ini tidak canggung.

Hanya ada suara sendok beradu dengan mangkuk, dan napas Cheyrin yang perlahan-lahan menjadi lega.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!