NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Sidat sudah dirundung kepanikan yang luar biasa. Butiran keringat dingin tampak membanjiri pelipisnya, dan seluruh anggota tubuhnya mulai gemetaran hebat.

Kepungan sorot mata para pengunjung mall ditambah kenyataan pahit bahwa dirinya baru saja dipermalukan habis-habisan oleh seorang anak sekolah sukses membuatnya kehilangan akal sehat.

Ia benar-benar merutuki kebodohannya sendiri karena telah nekat menantang Repan.

'Sialan! Aku harus segera angkat kaki dari tempat ini! Anak sekolah itu jelas bukan remaja biasa! Kalau sampai berita ini menyebar, bisa jadi aib nasional buat keluargaku!' batin Sidat panik sembari melangkah mundur secara perlahan.

Dengan pergerakan yang diatur selambat mungkin, ia mencoba menyelinap di antara kerumunan orang yang mulai memfokuskan pandangan ke arahnya. Namun, baru saja ia hendak melangkah menjauh, langkah kakinya terpaksa terhenti seketika begitu sebuah vokal yang teramat tenang terdengar menusuk tajam dari arah belakang.

"Eh... mau kabur ke mana kamu, Gembrot?"

Sidat mendadak membeku di posisinya. Batang lehernya terasa sangat kaku, sampai-sampai ia nggak punya keberanian sedikit pun untuk menolehkan wajahnya ke belakang.

Nada suara Repan yang terdengar kelewat santai itu entah kenapa justru menyebarkan hawa intimidasi yang jauh lebih mengerikan.

Seolah sanggup membaca dengan jelas apa yang berputar di dalam isi kepalanya, Repan tetap berdiri tenang di posisinya. Namun, kalimat lanjutan yang dilemparkannya sukses membuat seluruh otot tubuh Sidat menegang kaku.

"Mo-mohon maaf, Tuan... Sepertinya mendadak ada urusan bisnis yang sangat krusial yang harus segera saya tangani. Jadi, saya terpaksa harus pamit sekarang juga," dalih Sidat dengan vokal yang terbata-bata, sementara rona wajahnya sudah memucat pasrah laksana mayat.

Repan menyipitkan sepasang matanya tajam.

"Kamu belum saya izinkan untuk pergi dari sini. Apa kamu mendadak amnesia, hah? Bukankah tadi kamu sendiri yang sesumbar bilang mau berguling-guling seperti babi di lantai mall ini kalau sampai menelan kekalahan?"

Sepasang mata Sidat langsung membelalak lebar. Seluruh harga diri yang selama ini ia agung-agungkan runtuh seketika dalam hitungan detik.

'Sialan! Posisiku benar-benar terkunci dan nggak bisa membalas argumennya! Situasi gila ini... rasanya jauh lebih menyiksa daripada neraka!' rutuk Sidat di dalam hatinya, mendidih di dalam balutan rasa malu bercampur amarah yang tertahan.

Namun, realitasnya memang sudah nggak ada lagi celah atau jalan untuk meloloskan diri.

"B-baik, Tuan... saya akan menepati janji saya," jawab Sidat akhirnya dengan nada suara yang terasa tercekat, berpasrah diri di tengah rasa putus asa yang mendalam.

Tanpa perlu menunggu aba-aba lanjutan dari Repan, Sidat langsung menjatuhkan tubuh tambunnya ke atas permukaan lantai.

Tubuhnya yang kekar dan tambun itu mulai berputar dan berguling secara perlahan di atas lantai gerai perhiasan yang terasa dingin dan bersih.

Seketika itu juga, riuh tawa kecil langsung terdengar bersahut-sahutan dari area sekelilingnya. Ratusan pengunjung mall mulai merogoh saku, mengaktifkan kamera ponsel mereka untuk mengabadikan momen langka tersebut. Beberapa di antaranya bahkan terlihat tertawa terpingkal-pingkal sambil spontan membekap mulut mereka sendiri.

"Ya ampun... ini beneran nyata terjadi?"

"Astaga, lihat itu! Pria borjuis itu beneran rela berguling-guling di lantai..."

'Mampus! Ini benar-benar memalukan setengah mati! Video ini pasti bakal viral di media sosial!' batin Sidat dengan rona wajah yang sudah memerah padam menanggung aib.

Setelah berputar dan berguling dengan jarak yang cukup jauh hingga melewati batas pintu keluar toko, Sidat langsung buru-buru bangkit berdiri dan melesat kabur secepat kilat laksana sedang dikejar oleh setan.

Sementara itu, atmosfer di dalam gerai perhiasan mewah perlahan-lahan mulai berangsur kembali tenang. Sang manajer toko tampak berjalan menghampiri posisi Repan berdiri sembari menyodorkan sebuah bingkisan kotak eksklusif yang tampak sangat mewah.

"Tuan, ini adalah seluruh inventaris perhiasan yang baru saja Anda borong secara tunai," ucap sang manajer dengan sikap yang sangat santun dan penuh rasa takzim.

Repan meraih kotak beludru yang berisi unit kalung berlian paling mahal di antara semuanya. Ia kemudian memutar poros tubuhnya, menatap lurus ke arah Vina.

"Vina, perhiasan yang ini khusus aku berikan untukmu," ucap Repan pelan. Kemudian dengan gerakan tangan yang teramat lembut, ia memasangkan kalung berlian berkilau itu mengitari leher jenjang sang primadona sekolah.

"Ta-tapi Pan... nominal harga kalung ini terlampau mahal! Aku nggak mungkin bisa menerimanya begitu saja!"

Vina mendadak diserang rasa gugup yang hebat, dengan sepasang kelopak mata yang melebar sempurna karena takjub.

"Nggak apa-apa. Kamu sangat layak untuk mendapatkannya," sahut Repan lempeng, namun tersirat sebuah keyakinan absolut yang kuat dari penuturannya.

Wajah Vina seketika memerah merona akibat tersipu. Suara detak di dalam dadanya berpacu berkali-kali lipat lebih cepat dari ritme normal. Ia sama sekali nggak pernah menduga kalau Repan—sosok pria yang selama ini menjadi buah bibir di sekolah sebagai murid dengan latar belakang paling prasejahtera—ternyata merupakan figur miliarder misterius yang memiliki kekayaan luar biasa.

Seluruh pasang mata pengunjung mall yang sedari tadi menonton dinamika mereka berdua sama sekali nggak sanggup menyembunyikan rasa takjub mereka yang mendalam.

"Coba lihat pasangan di seberang sana... gila, mereka berdua kelihatan serasi banget ya."

"Beruntung banget itu cewek bisa punya cowok yang bukan cuma tajir melintir, tapi juga perhatiannya nggak main-main."

"Duh, aku juga mau punya pacar modelan begitu..."

Barisan gadis-gadis remaja di sekitar lorong mulai berbisik dipenuhi rasa iri, sementara para siswa pria yang ikut menonton hanya bisa menggigit bibir bawah mereka menanggung rasa cemburu yang membakar ego.

"Sialan... pantas saja selama ini si Vina terkenal teramat sulit untuk didekati oleh cowok mana pun."

"Iya... ternyata di belakang semua orang, dia sudah punya gandengan cowok yang kalau beli perhiasan seharga 4 miliar rupiah saja gayanya santai banget kayak lagi beli tahu goreng pinggir jalan!"

"Asli... tajir mampus itu cowok..."

Repan hanya menanggapi keriuhan sekitar dengan seulas senyuman tipis di wajahnya.

"Ya sudah, ayo kita pergi dari gerai ini," ajaknya lembut sembari kembali menggenggam jemari tangan Vina.

Entah karena alasan apa, Vina secara refleks langsung patuh menuruti ajakan tersebut. Mereka berdua berjalan berdampingan dengan jemari yang saling bertautan erat melangkah keluar dari toko perhiasan mewah tersebut, meninggalkan kerumunan massa yang posisinya masih mematung karena tercengang.

Setelah menempuh jarak berjalan yang dirasa cukup jauh membelah koridor mall, mereka berdua akhirnya menemukan sebuah fasilitas bangku panjang yang kosong di salah satu sudut koridor yang agak lengang.

Repan langsung mengambil posisi duduk di sana, lalu secara perlahan melepaskan kaitan genggaman tangannya dari jemari Vina.

Atmosfer kemesraan yang sedari tadi terjalin erat di antara mereka berdua mendadak menguap begitu saja ke udara tanpa bekas. Ekspresi di wajah Repan langsung kembali berubah menjadi datar dan lempeng seperti semula.

"Aku rasa bantuan barusan sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalahmu, kan? Kalau memang begitu fungsinya... saya izin pamit duluan ya," pamit Repan santai sembari kembali menegakkan tubuhnya bersiap untuk melangkah pergi.

"Tunggu dulu, Pan! Lalu nasib kalung berlian yang menempel di leherku ini... bagaimana?" tanya Vina kebingungan sembari memegangi perhiasan di lehernya.

"Kalung itu resmi jadi milikmu sekarang. Anggap saja sore ini kamu lagi beruntung mendapatkan rezeki nomplok," jawab Repan santai tanpa sudi membalikkan kepalanya untuk menoleh lagi.

Vina langsung mematung di tempatnya berdiri, menatap lekat-lekat ke arah punggung Repan yang perlahan-lahan mulai berjalan menjauh membelah keramaian mall.

"Apa-apaan sih itu cowok?! Masa tega-teganya dia meninggalkan gadis secantik aku sendirian di sudut mall begini?!" gerutu Vina jengkel sembari mengerucutkan bibir cantiknya dengan ekspresi sebal.

Namun, sepasang matanya sama sekali nggak sanggup dialihkan dari kilau indah kalung berlian yang kini melingkar sempurna menghiasi lehernya.

'Tapi si Repan itu... dia beneran sosok pria yang sangat aneh. Penuh dengan misteri. Seluruh anak sekolah mengira kalau dia itu miskin, tapi dia malah dengan mudahnya memborong perhiasan senilai 4 miliar rupiah tanpa ada keraguan sedikit pun. Sebenarnya siapa sih identitas asli yang dia sembunyikan?'

Sorot pandangan mata Vina perlahan-lahan berubah menjadi sangat serius.

"Aku harus menyelidiki dan mencari tahu siapa sebenarnya identitas asli dari seorang Repan..." gumam Vina lirih, kali ini dengan sepasang netra yang tampak berbinar dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang teramat besar.

Terselip sebuah rasa penasaran yang mendalam... sekaligus percikan ketertarikan emosional yang mulai tumbuh di dalam hatinya.

Sementara itu, Repan terus mengayunkan kaki berjalan santai membelah hiruk-pikuk keramaian mall, dengan satu tangannya yang masih setia menjinjing kantong belanja berisi sisa perhiasan mewah yang baru saja diborongnya untuk sang adik.

'Oke... selanjutnya ayo kita berburu barang mahal yang lainnya lagi,' batin Repan diiringi senyuman kecil penuh kepuasan.

Di dalam benaknya saat ini, target utamanya bukanlah soal kuantitas uang yang habis, melainkan perolehan poin atribut dari sistem yang menjadi prioritas tertingginya.

Repan terus berjalan santai membelah area Mall Botani Square. Suasana malam di dalam pusat perbelanjaan itu lambat laun mulai merambat lengang, namun pendar lampu-lampu neon yang terang masih setia menghiasi setiap sudut koridor. Langkah kakinya stabil, namun roda pikirannya terus berputar menganalisis strategi.

'Sistem, tampilkan visual grafik status ku saat ini,' titah Repan dengan volume suara yang sangat lirih.

Seketika itu juga, sebaris baris tulisan bernuansa hologram transparan mendadak terapung nyata tepat di ruang pandang matanya.

Nama: Repan Kusuma

Visual/Ketampanan: 7.2 (+)

Fisik/Kekuatan: 50 (+)

Kecerdasan/Pemikiran: 35 (+)

Sisa Poin: 165

Kompetensi/Keahlian: (+) [Kick Boxing Lv.2]

Sepasang mata Repan menyipit tajam, menganalisis barisan angka yang mencuat di hadapannya. '

Atribut ketampanan? Nilai skornya berada di angka 7.2? Apa parameter yang satu ini juga bisa ditingkatkan secara instan lewat poin? Kalau beneran bisa... berarti aku punya peluang untuk mengubah penampakan fisikku jadi jauh lebih tampan daripada penampilanku yang sekarang dong?' gumamnya dalam hati, dirundung rasa penasaran bercampur rasa nggak percaya.

Namun, ia memilih untuk mengalihkan fokus utamanya terlebih dahulu ke parameter yang lain. 'Untuk langkah awal, lebih baik aku mendongkrak kapasitas pemikiranku terlebih dahulu.'

"Sistem, alokasikan poin untuk mendongkrak atribut pemikiran sebesar 15 poin," perintah Repan tegas di dalam hatinya.

[Apakah Anda Mengonfirmasi Tindakan untuk Meningkatkan Parameter Pemikiran Sebanyak 15 Poin Atribut?]

"Ya, konfirmasi prosesnya."

Ting!

[Proses Peningkatan Atribut Sukses!]

[Statistik Parameter Pemikiran Anda Kini Telah Menyentuh Angka 50. Skema Kenaikan Selanjutnya Akan Memerlukan Konsumsi 5 Poin Atribut untuk Setiap 1 Poin Stat.]

Detik itu juga, Repan bisa merasakan efek transformasinya secara instan merasuk ke dalam biologisnya. Rongga kepalanya mendadak terasa menjadi sangat ringan, dan jalan pikirannya berubah menjadi berkali-kali lipat lebih jernih serta fokus.

Kemampuan memorinya menajam drastis, ditambah alur analisis berpikirnya berkembang menjadi sangat cepat, taktis, dan presisi tinggi.

'Luar biasa... Aku bisa merasakan dengan sangat jelas kalau kapasitas analisis otakku berubah menjadi jauh lebih tajam sekarang!' bisik Repan penuh takjub atas keajaiban sistem tersebut.

Namun, rasa puas itu rupanya belum sanggup menghentikan hasrat eksperimennya. Pandangan matanya kini kembali tertuju lurus pada baris atribut bertuliskan "Ketampanan".

 Repan menimbang ego mudanya.

Didorong oleh rasa ingin tahu yang membubung tinggi, ia langsung menyentuh tombol plus di samping kolom Ketampanan di panel hologramnya.

[Berapa Kuantitas Indeks Atribut Ketampanan yang Ingin Anda Donasikan ke Dalam Struktur Fisik Anda?]

"Suntikkan poin sampai statistiknya menyentuh angka 8.1," titah Repan, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang walau rasa penasarannya sudah berada di ubun-ubun.

[Proses Peningkatan Tersebut Memerlukan Konsumsi Sebesar 100 Poin Atribut. Apakah Anda Yakin dengan Pilihan Ini?]

"Ya, naikkan sekarang juga."

Ting!

[Proses Modifikasi Atribut Sukses!]

Begitu notifikasi emas itu berkedip, Repan langsung refleks meraba dan memegangi permukaan kulit wajahnya sendiri. 'Lho, apa penampilanku sekarang beneran sudah berubah jadi lebih tampan? Tapi kok rasanya... biasa-biasa saja ya di tangan.'

Ia pun melangkah mendekati salah satu jendela kaca besar milik tenant toko di dekatnya yang memantulkan bayangan wajahnya dengan jelas.

'Nggak ada perubahan struktur wajah yang drastis tuh. Apa jangan-jangan sistem misterius ini cuma mau menipuku saja ya?' gumamnya bingung begitu memperhatikan pantulan dirinya di kaca yang dirasanya masih sama dengan wajahnya yang tadi pagi.

Ia mengembuskan napas panjang dengan raut yang dipenuhi rasa kecewa. 'Sialan... ternyata memodifikasi tingkat ketampanan secara instan itu memang cuma bualan kosong. Nggak mungkin ada hal gaib yang sanggup mengubah genetika wajah semudah itu.'

Ia pun membalikkan badannya, melangkah dengan ritme pelan menuju ke arah pintu keluar mall. 'Ya sudahlah, malam juga sudah semakin larut. Lebih baik aku segera pulang ke rumah baru dan tidur. Besok pagi aku harus memutar otak lagi untuk mencari strategi membelanjakan sisa dana raksasa ini.'

Sembari membawa benak yang dipenuhi oleh rentetan pertanyaan yang belum terjawab, Repan melangkah meninggalkan area Mall Botani Square dengan jemari yang erat menjinjing kantong belanja perhiasan mewah di tangannya.

Hari ini memang berjalan dengan sangat aneh dan sarat akan kejutan, namun entah karena alasan apa... Repan memiliki firasat kuat kalau lembaran petualangan barunya ini sebenarnya baru saja dimulai.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!