Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Lorong Bawah Tanah
Dinding-dinding lorong menuju ruang kerja bawah tanah mansion Ardiansyah terbuat dari beton tebal berpemanas otomatis yang dilapisi panel kayu jati gelap.
Udara di lorong ini selalu dingin, sunyi, dan terisolasi dari keriuhan dunia atas, di tempat inilah keputusan-keputusan besar yang menggetarkan peta kekuasaan kota diambil tanpa pernah terendus publik.
Kimberly berjalan perlahan melintasi lorong tersebut, kedua tangannya memegang erat nampan kayu berisi tiga botol kaca jamu kunyit asam segar, dua gelas bening berisi pecahan es batu, dan piring kecil berisi camilan singkong renyah buatan Bi Minah.
Langkah kakinya yang bersandal rumahan empuk hampir tidak menimbulkan suara di atas karpet tebal yang membentang sepanjang koridor.
Di depan pintu besi tempa ganda bernuansa hitam mat yang menjadi akses utama ruang kerja Justin, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi berdiri sigap.
Begitu melihat sosok Kimberly melangkah mendekat, aura tegang di wajah kedua pengawal itu seketika melunak. Mereka segera membungkuk hormat dengan gerakan yang sangat patuh.
"Selamat siang, Nyonya Besar," sapa salah satu pengawal dengan suara yang ditahan agar tetap sopan.
"Selamat siang," balas Kimberly tersenyum ramah.
"Mas Justin masih di dalam dengan Marco?"
"Masih, Nyonya. Tuan Besar sedang mengulas dokumen logistik bersama Tuan Marco. Apakah perlu saya bukakan pintunya?"
"Tolong ya, terima kasih," ucap Kimberly halus.
Pengawal itu dengan sigap menempelkan kartu akses magnetik dan memindai sidik jarinya pada panel digital di samping pintu.
Suara dentung halus terdengar, disusul bunyi desisan udara ketika pintu besi yang berat itu terdorong membendung ke dalam secara perlahan.
Suasana di dalam ruang kerja bawah tanah itu sangat megah namun dingin, pencahayaan bersumber dari lampu gantung bergaya industrial elegan yang memancarkan sinar hangat di atas meja kayu solid berukuran rapi.
Dinding-dindingnya dipenuhi rak buku berisikan dokumen penting dan jajaran layar monitor pengawas yang menayangkan pemantauan perimeter mansion secara real-time.
Justin duduk di kursi kulit berkerangka besi di balik meja kerjanya, kemeja abu-abu gelapnya masih terpasang rapi, namun gulungan lengannya kini disingkap hingga sebatas siku, memperlihatkan otot lengan dan guratan uratnya yang menonjol tegas.
Wajahnya sangat datar, tanpa ekspresi sedikit pun, dengan sepasang mata hitam yang menatap tajam ke arah lembaran kertas yang tersebar di atas meja.
Di samping mejanya, Marco berdiri tegap dengan pena dan papan jalan di tangan, pria bertubuh kekar itu menyimak setiap instruksi singkat dari bosnya dengan raut wajah yang sama kaku dan seriusnya.
"Pengiriman dari pelabuhan timur harus melewati pemeriksaan jalur dua sebelum tengah malam. Jangan biarkan ada celah untuk faksi lokal bermain di sana," ucap Justin, suaranya terdengar begitu dingin, dalam, dan berwibawa.
"Baik, Tuan Besar. Kael sudah menempatkan tim tambahan di titik transit," jawab Marco mantap.
Ketegangan diskusi bisnis itu mendadak terhenti ketika aroma manis kunyit, gula jawa, dan wangi segar kayu manis berembus masuk menguasai ruangan, mengalahkan bau kertas dan interior kulit yang kaku.
Justin menengadahkan kepalanya. Pandangan matanya yang semula begitu menusuk seketika melunak saat menangkap sosok Kimberly yang masuk sambil membawa nampan.
Kendati wajah tampannya tidak menunjukkan perubahan drastis untuk menjaga wibawa dinginnya, tatapan mata Justin yang terkunci pada istrinya memancarkan kehangatan yang tak terselubung.
"Aku mengganggu tidak?" tanya Kimberly pelan, menyembulkan senyum manisnya di ambang pintu sebelum melangkah masuk.
"Tidak," jawab Justin singkat.
Pria itu langsung meletakkan pulpen di tangannya, mendorong tumpukan berkas logistik ke tepi meja untuk melapangkan ruang.
"Kenapa kau turun ke sini sendiri? Kau bisa menyuruh pelayan untuk membawakannya."
Kimberly meletakkan nampan kayu itu tepat di tengah meja kerja Justin yang bernilai ratusan juta rupiah.
"Bi Minah sedang sibuk menyiapkan bahan makan siang di atas, Mas. Lagi pula, kalau bukan aku yang mengantarkannya langsung, Mas Justin pasti cuma menaruh botolnya di sudut meja sampai es batu di dalam gelasnya mencair."
Marco yang berdiri di dekat meja segera melangkah mundur satu langkah dan membungkuk hormat.
"Selamat siang, Nyonya Besar."
"Siang, Marco. Ini, aku juga bawakan satu botol untukmu. Dari tadi pagi berdiri terus mendampingi Mas Justin, pasti tenggorokanmu haus kan?" kata Kimberly seraya menyerahkan sebuah gelas kosong dan satu botol jamu dingin kepada Marco.
Marco sempat tertegun sejenak, dia melirik ke arah Justin secara refleks untuk meminta izin terselubung. Justin hanya memberikan lirikan mata yang datar sebuah tanda bahwa perintah istrinya adalah hukum yang wajib dipatuhi di rumah ini.
"Terima kasih banyak, Nyonya Besar. Saya sangat menghargainya," ucap Marco penuh rasa hormat.
Pria kaku itu menerima botol jamu tersebut dengan kedua tangannya, bersikap sesopan mungkin.
"Sama-sama. Minum di luar saja tidak apa-apa kalau mau istirahat sebentar," tambah Kimberly ramah.
Marco mengangguk paham, dia tahu kapan harus memberikan ruang pribadi untuk pasangan suami istri tersebut.
"Saya permisi keluar sebentar untuk memantau laporan luar, Tuan Besar, Nyonya."
Dengan langkah tegap dan tanpa suara, Marco berjalan keluar ruangan dan menutup kembali pintu besi tempa itu dengan rapat, meninggalkan Justin dan Kimberly dalam privasi yang tenang.
Setelah pintu tertutup, suasana ruang kerja yang tadinya dipenuhi aura persaingan bisnis bawah tanah seketika berubah menjadi lebih hangat.
Kimberly memutar botol kaca di atas nampan, lalu menuangkan cairan kuning keemasan yang dingin itu ke dalam gelas berisi pecahan es batu milik Justin.
Suara gemerincing es yang beradu dengan dinding gelas kaca terdengar sangat memanjakan telinga di tengah sunyinya ruangan.
"Coba diminum dulu, Mas," pinta Kimberly, menyodorkan gelas itu tepat ke depan tangan suaminya.
"Ini pakai resep temulawak dan kunyit dari Pakde Darmo kemarin. Rasanya lebih segar dan tidak terlalu pekat."
Justin meraih gelas tersebut. Jemari kekarnya yang biasa memegang senjata api kini menggenggam gelas kaca berisi minuman tradisional buatan istrinya.
Dia mendekatkan gelas itu ke bibirnya dan menyesapnya dalam satu tegukan yang cukup panjang.
Sensasi dingin, asam yang pas dari asam jawa, serta manisnya gula kelapa alami berpadu sempurna mengalir menyegarkan tenggorokannya yang hangat.
Rasa lelah di pelipis Justin yang sempat tegang akibat menatap angka-angka logistik sejak pagi mendadak mengendur.
Justin meletakkan gelas yang kini sisa separuh itu ke atas meja, wajahnya tetap datar tanpa senyuman yang berlebihan, namun tatapan matanya menatap Kimberly dengan intensitas cinta yang mendalam.
"Bagaimana, Mas? Enak?" tanya Kimberly antusias, menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja kerja Justin.
"Sangat segar," jawab Justin pendek. Suaranya yang serak dan berat terdengar jauh lebih rileks dari sebelumnya.
"Kau selalu tahu cara membuat pikiran kaku di kepala ini berhenti berdenyut." Kimberly tertawa renyah, matanya menyipit indah.
"Tentu saja. Istri Mas Justin ini kan mantan pembuat jamu terbaik di desa. Mas Justin jangan terlalu tegang bekerja di bawah tanah begini. Tempat ini gelap sekali, seperti tidak ada kehidupan."
Justin tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, pria bertubuh jangkung itu mengulurkan tangan kirinya, merengkuh pinggang ramping Kimberly dan menarik tubuh istrinya pelan agar berdiri lebih dekat di samping kursi kerjanya, Kimberly menurut tanpa ragu, menyandarkan samping tubuhnya pada bahu kekar Justin.
Justin menyandarkan kepalanya sejenak di perut ramping Kimberly, menikmati aroma wangi melati dan bedak dingin yang selalu menguar dari tubuh istrinya.
Bagi seorang pria yang dibesarkan di tengah ancaman bahaya dan pengkhianatan, pelukan sederhana di ruang kerja bawah tanah ini terasa seperti benteng kedamaian paling kokoh di dunia.
"Nanti siang Mas Justin mau makan apa?" tanya Kimberly lembut, jemari tangannya bergerak pelan menyisir rambut hitam pendek suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Terserah padamu, Kim," gumam Justin datar di balik dekapannya, matanya terpejam menikmati usapan tangan istrinya.
"Apa pun yang kau masak di dapur, aku akan memakannya sampai habis."
"Ya sudah, nanti aku buatkan sayur bening bayam dan sambal tomat tidak terlalu pedas ya, biar perut Mas tidak kaget," kata Kimberly tersenyum hangat.
"Sekarang habiskannya dulu jamunya, setelah itu selesaikan kerjamu sebentar lagi lalu naik ke atas untuk makan siang."
Justin melepaskan dekapannya perlahan, mendongak menatap wajah polos Kimberly dengan tatapan tegas namun lembut.
"Baik. Naiklah ke atas dulu. Jangan dekat-dekat dengan area tangga tanpa mengawasi langkahmu."
"Iya, Mas Justin yang posesif," goda Kimberly tertawa kecil, dia mengecup singkat pipi suaminya yang dingin sebelum mengambil nampannya kembali.
"Aku tunggu di meja makan atas ya!"
Kimberly melangkah keluar ruangan dengan riang. Justin menatap punggung istrinya hingga pintu besi itu kembali tertutup rapat.
Begitu ruangan kembali sunyi, raut wajah dingin sang Tuan Besar kembali terpasang sempurna, dia mengambil pulpennya kembali, menatap berkas di meja dengan fokus yang kini jauh lebih jernih dan tenang.
Di bawah kendali sang gadis desa, kegelapan dunia bawah tanah milik Justin tak lagi terasa kelam.
Kehadiran Kimberly dengan segelas jamu kunyit asam dan kasih sayangnya yang tulus telah menjadi penerang abadi yang menjaga jiwa sang penguasa kegelapan tetap berada di jalan yang hangat.