"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kilas Balik Tragis.
***
Satu bulan telah berlalu sejak malam kelam yang merenggut seluruh kebahagiaan hidup Freya.
Selama satu bulan itu pula, Freya perlahan mulai membiasakan diri hidup di bawah atap kediaman keluarga Danendra.
Meskipun suasana rumah itu sangat asing dan megah, kehadiran Kirana yang penuh kasih sayang bertindak sebagai pelipur lara yang menenangkan jiwa kecilnya.
Freya juga sudah resmi terdaftar disekolah barunya dan mulai menjalani hari-harinya sebagai siswi baru.
Namun, pagi ini suasana di rumah terasa sedikit berbeda. Pukul enam pagi, Baskoro Danendra sudah harus bergegas pergi ke bandara untuk terbang ke luar kota.
Sebagai pemegang amanat, Baskoro kini harus mengurus dan mengkonsolidasikan seluruh perusahaan serta aset peninggalan mendiang papa Freya yang tersebar dibeberapa daerah.
Urusan itu sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi.
Di ruang makan, keheningan yang kaku kembali menyelimuti meja sarapan. Freya sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya duduk disebelah Kirana.
Sementara di seberangnya, Galen duduk dengan tegap, menikmati kopi hitamnya sembari menatap tablet kerja dengan kening berkerut.
"Galen”. Panggil Kirana memecah kesunyian, menatap putra sulungnya dengan pandangan memohon. "Pagi ini, Mama minta kamu mengantarkan Freya kesekolah sebelum kamu pergi ke kantor, bisa kan?”.
Mendengar permintaan ibunya, gerakan tangan Galen yang hendak meraih cangkir kopi langsung terhenti. perlahan menurunkan tabletnya, lalu menatap sang mama dengan helaan napas berat yang sarat akan penolakan.
"Ma, aku ada rapat penting jam setengah delapan”. Jawab Galen, suaranya berat dan dingin. Ia melirik sekilas ke arah Freya yang langsung menundukkan kepala begitu mata mereka beradu.
“Biarkan anak itu naik taksi saja. Dia bukan bayi lagi."
"Galen! Jangan keterlaluan”. Tegur Kirana, nadanya sedikit meninggi. "Sekolah Freya itu searah dengan kantor. Hanya lima belas menit untuk berbelok ke sana. Mama mohon, antarkan adikmu."
Mendengar kata 'adikmu' disebut oleh ibunya, rahang Galen mengeras. Namun, ia tahu tidak ada gunanya mendebat Kirana jika wanita itu sudah mengeluarkan perintah mutlak.
Dengan perasaan dongkol yang amat sangat, Galen berdiri dari kursinya, merapikan jas abu-abu mahalnya, lalu menyambar kunci mobil diatas meja.
"Lima menit. Jika dalam lima menit dia belum masuk ke mobil, aku akan meninggalkannya”. Ucap Galen dingin, lalu melangkah pergi ke arah garasi tanpa menunggu jawaban.
***
Suasana di dalam mobil sedan mewah milik Galen terasa begitu mencekam dan menyesakkan. Freya duduk di kursi penumpang bagian depan, merapatkan tubuh mungilnya pada pintu mobil, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari pria dingin di sebelahnya.
Tangannya mencengkeram erat tali tas ranselnya, sementara matanya menatap lurus ke arah jalanan ibu kota yang mulai padat.
Galen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun aura kekesalan terpancar jelas dari cara tangannya mencengkeram kemudi.
Ia merasa harga dirinya jatuh pagi ini. Seorang CEO muda berdarah dingin seperti dirinya terpaksa harus menjadi sopir pribadi untuk anak kecil yang paling ia benci rengekannya.
"Kenapa duduk menempel di pintu seperti itu?". Tanya Galen tiba-tiba, suaranya memecah keheningan kabin mobil dengan nada menyindir. "Kau pikir aku ini monster yang akan menggigitmu?".
Freya menoleh sedikit, menatap wajah tampan Galen dengan tatapan kesal yang tidak ditutup-tutupi. Rasa berani yang sempat muncul di malam pertengkaran mereka tempo hari kembali membakar dada kecilnya.
"Kakak memang mirip monster! Selalu marah-marah dan tidak punya hati!". Balas Freya ketus, memalingkan wajahnya kembali ke jendela. "Kalau tidak ikhlas mengantarku, harusnya tadi biarkan aku naik taksi saja! Aku juga tidak mau semobil dengan Kakak jahat!".
"Jaga bicaramu, Anak Kecil!". Galen mendengus kasar, rahangnya mengetat mendengarkan kelancangan Freya. "Jika bukan karena perintah Mama, aku tidak akan pernah sudi membiarkan anak cengeng sepertimu mengotori jok mobilku. Kau harusnya bersyukur, bukan malah bertingkah melonjak seperti ini!".
"Aku tidak minta disopiri oleh kakak! Dan aku bukan anak cengeng!". Teriak Freya tidak terima, suaranya melengking tinggi di dalam mobil.
"Kau memang cengeng! Setiap malam aku harus menahan telinga karena suara tangisanmu yang mengganggu di kamar sebelah!". Skakmat Galen, melayangkan tatapan membunuh sekilas ke arah Freya sebelum kembali fokus ke jalan raya yang mulai menurun di area perempatan lampu merah.
"Itu karena aku kangen Papa dan Mama! Kakak tidak akan pernah paham karena kakak tidak punya perasaan!". Raung Freya, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sesak yang kembali menyerang dadanya.
Pertengkaran sengit di dalam kabin mobil itu mendadak terhenti..
Tepat di depan mata mereka, sebuah truk fuso bermuatan berat dari arah jalur kanan mendadak kehilangan kendali akibat pecah ban.
Truk raksasa itu berbelok mendadak, menghantam sebuah mobil minibus hitam di depannya hingga terpental hebat dan berguling beberapa kali di atas aspal.
Suara hantaman besi yang beradu keras terdengar menggelegar, disusul suara decitan rem berbaur pecahnya kaca yang berdenting tajam membelah jalanan.
BRAKKKK!!!
"Astaga!". Galen tersentak kaget, matanya membelalak sempurna. Refleksnya sebagai pengemudi handal langsung mengambil alih.
Dengan cepat, Galen menginjak pedal rem sedalam mungkin dan membanting setir ke kiri untuk menghindari puing-puing tabrakan yang berhamburan.
Mobil sedan Galen berhenti dengan sentakan keras hanya beberapa meter dari lokasi truk yang terguling.
Napas Galen memburu cepat, jantungnya berdegup kencang menyaksikan kecelakaan maut yang terjadi tepat di depan matanya sendiri.
Namun, kejutan yang dirasakan Galen tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi pada kursi di sebelahnya.
Begitu mendengar suara hantaman besi dan melihat kaca-kaca yang pecah berhamburan, seluruh pertahanan diri Freya runtuh seketika.
Visual kecelakaan tragis di depannya bertindak sebagai pemicu yang sangat kejam, melemparkan jiwa kecilnya kembali ke malam mengerikan satu bulan lalu saat mobil orang tuanya hancur dihantam kontainer.
"MAMA!!! PAPA!!!".
Freya menjerit histeris dengan suara yang melengking penuh kepanikan. Tubuh mungilnya seketika bergetar hebat seperti orang yang tersengat listrik.
Tas ranselnya terlepas begitu saja ke lantai mobil. Gadis kecil itu menutup kedua telinganya dengan sangat rapat, meringkuk di atas jok dengan posisi lutut menekuk ke dada
"Tidak mau... hiks... takut... Papa, tolong Freya... Jalannya licin, Papa... Takut!!!". Raung Freya dengan nafas yang memburu putus-putus.
Keringat dingin bercucuran dikeningnya, dan wajahnya berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Ia mengalami serangan panik akibat trauma mendalam (PTSD) yang mendadak bangkit kembali.
Galen yang tadinya masih syok akibat kecelakaan, langsung menoleh cepat begitu mendengar jeritan histeris Freya.
Keningnya berkerut dalam saat melihat kondisi anak perempuan di sebelahnya. Freya tidak sekadar menangis cengeng seperti biasanya; anak ini sedang ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar luar biasa dengan mata yang terpejam rapat seolah sedang melihat hantu paling mengerikan.
“Apa dia sedang trauma”. Batin Galen tertegun.
Melihat Freya yang tersengal-sengal dan nyaris kehabisan nafas karena histeris, entah mengapa, dinding es di dalam hati Galen mendadak retak untuk pertama kalinya.
Ada rasa iba dan dorongan protektif yang aneh yang tiba-tiba menyergap dada sang CEO muda. Rasa benci dan jengkelnya menguap, digantikan oleh rasa tidak tega melihat penderitaan jiwa anak sekecil itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Galen melepas sabuk pengamannya dengan cepat. Ia menggeser tubuhnya mendekat, lalu menjangkau tubuh mungil Freya yang sedang meringkuk ketakutan.
Galen menarik tubuh Freya ke dalam dekapan dada bidangnya yang kokoh. Ia memeluk anak perempuan itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajah pucat Freya di ceruk lehernya agar anak itu tidak bisa lagi melihat pemandangan kecelakaan di luar kaca mobil.
"Ssst... tenang. Dengar suaraku, Anak Kecil”. Ucap Galen. Untuk pertama kalinya, suara bariton yang biasanya dingin dan kejam itu berubah menjadi begitu lembut—dalam—menenangkan.
Tangan besar Galen bergerak mengusap rambut panjang Freya dengan konstan, mencoba menyalurkan rasa aman ke dalam tubuh mungil yang masih bergetar hebat tersebut.
"Jangan melihat ke luar. Tutup matamu. Kau aman di sini”.
Melihat tubuh Freya yang masih bergetar hebat di dalam dekapannya, Galen melirik jam tangan dipergelangan tangannya.
Jarum jam sudah menunjuk angka tujuh lewat lima menit. Waktu rapat direksi tersisa dua puluh lima menit lagi, dan kondisi jalanan didepan mereka dipastikan akan mengalami kemacetan total akibat proses evakuasi kecelakaan tersebut.
Galen menghembuskan napas panjang. Di situasi normal, ia akan bersikap tegas.
Namun, melihat kondisi psikologis Freya yang hancur karena trauma, tidak mungkin baginya untuk menurunkan anak ini di sekolah dalam keadaan menangis histeris seperti ini.
Guru-guru di sana pasti akan mengira Galen telah melakukan hal buruk padanya. Mengulur waktu untuk menenangkan Freya di pinggir jalan pun akan membuat rapat pentingnya berantakan.
"Duduk di kursimu dan pasang sabuk pengamanmu”. Perintah Galen setelah melepaskan pelukannya dengan perlahan. Suaranya kembali berat, namun tidak sekejam tadi.
Freya yang matanya masih basah hanya menurut pasrah, menghapus air matanya dengan lengan baju seragamnya.
Galen kembali beralih ke kursi kemudi, menginjak pedal gas, dan memutar balik mobilnya mencari jalur alternatif.
Tujuannya pagi ini bukan lagi gedung sekolah SMP Freya, melainkan langsung menuju gedung pencakar langit milik Danendra Group.
Soal surat izin absen sekolah Freya? Baginya, itu urusan sepele yang bisa diselesaikan hanya dengan satu telepon dari sekretarisnya nanti.
***
Dua puluh menit kemudian, mobil milik Galen memasuki area parkir khusus direksi di ruang bawah tanah gedung perkantoran mewah setinggi empat puluh lantai.
Suasana sunyi di dalam mobil mendadak pecah saat Freya tersadar dari lamunannya. Begitu melihat ke sekeliling, ia tidak menemukan gerbang sekolah atau halaman bermain, melainkan deretan mobil-mobil mewah dan pilar-pilar beton yang dingin.
Freya langsung menoleh cepat ke arah Galen, matanya membelalak bulat sempurna.
"Kak! Ini bukan sekolahku!". Protes Freya dengan suara serak yang cempreng. Rasa takut akibat trauma tadi perlahan mulai berganti dengan rasa kesal karena merasa dibohongi. "Kenapa kakak membawaku kesini? Aku sudah terlambat sekolah, kakak jahat!".
Galen mematikan mesin mobil, lalu melepas sabuk pengamannya dengan gerakan gusar. "Kau pikir dengan keadaanmu yang menangis meraung-raung seperti orang kesurupan tadi, kau bisa masuk kelas? Guru-gurumu akan mengira aku menyiksamu."
"Tapi aku mau sekolah! Hari ini ada tugas mengumpulkan buku gambar!". Freya tidak mau kalah, ia berteriak kencang dari atas jok mobilnya sambil memukul lengan tegap Galen menggunakan tas ranselnya yang kecil. “Kakak sengaja, kan? Sengaja membuatku dihukum guru!".
"Diam, Anak Kecil!". Galen menggeram kesal, rahangnya mengeras menahan amarah yang kembali tersulut akibat pukulan tas tersebut. Ia menangkap pergelangan tangan mungil Freya, menguncinya dengan tatapan elang yang mengintimidasi.
"Aku sedang dikejar waktu untuk rapat penting yang menyangkut hidup ribuan karyawan. Jangan membuang waktu berhargaku dengan rengekan tidak bermutu itu!".
Galen melepaskan tangan Freya dengan sedikit hentakan, lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu di sisi penumpang. "Turun sekarang. Ikut aku ke atas."
"Tidak mau! Aku mau pulang saja kalau begitu!". Freya merajuk, melipat kedua tangannya di depan dada dan menolak untuk bergeser dari posisinya.
Melihat keras kepalanya anak itu, Galen benar-benar sudah pusing setengah mati.
Tanpa ba-bi-bu lagi, lengan kekarnya langsung menyusup ke kabin mobil, menarik paksa tubuh mungil Freya, dan mendudukannya secara paksa di atas lantai parkir sebelum menggandeng tangan anak itu dengan cengkraman yang kuat namun tidak menyakiti.
"Ikut atau aku kunci kau di dalam basement ini sendirian”. Ancam Galen dingin.
Ancaman itu sukses membuat Freya menciut ketakutan, terpaksa melangkah cepat mengikuti hentakan kaki lebar Galen menuju lift khusus direksi.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai paling atas, menampilkan lantai marmer yang mengkilap dan lobi ruang kerja CEO yang sangat mewah.
Seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun dengan setelan jas rapi dan kacamata bertengger di hidungnya langsung berdiri tegak menyambut kedatangan Galen.
Dia adalah pimpinan asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Galen.
"Selamat pagi, Tuan Galen. Ruang rapat sudah siap, para direksi sudah menunggu di dalam—".
Ucapan sang asisten mendadak terhenti saat matanya turun ke bawah, mendapati bosnya yang terkenal dingin sedang menggandeng seorang anak kecil berseragam sekolah dengan mata bengkak dan memerah.
Galen mengembuskan napas pendek, lalu mendorong pelan tubuh Freya ke arah asisten pribadinya. "Urus anak ini. Bawa dia ke dalam ruang kerja pribadiku."
"Baik, Tuan. Lalu... apa yang harus saya lakukan dengan nona Freya?". Tanya sang asisten bingung, sedikit gugup memandang anak kecil yang menatapnya dengan pandangan bermusuhan itu.
"Kasih dia cemilan, es krim, cokelat, atau apapun yang ada di kantin lantai bawah agar mulut berisik itu diam dan tidak menangis lagi”. Perintah Galen dengan nada ketus yang sarat akan rasa frustrasi. Ia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. "Kepalaku sudah mau pecah mendengar suaranya sejak di mobil tadi. Aku masuk ke ruang rapat sekarang."
Tanpa menoleh lagi ke arah Freya yang masih menatapnya dengan cemberut dan penuh dendam, Galen membalikkan badannya dengan cepat, melangkah lebar menuju ruang rapat meninggalkan Freya yang kini terpaksa mendengus kesal di bawah pengawasan asisten pribadinya yang kebingungan.
***