Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Arga menatap cangkir kopi hitamnya yang mulai hangat. Perlahan, jemarinya terulur memegang cangkir itu, menyesapnya satu tegukan. Sensasi pahit dan hangat mengalir di kerongkongannya, diiringi suara riuh hujan yang mendadak terdengar jelas di telinganya.
Melihat Arga yang mulai bisa lebih santai, Kinan tersenyum tipis. Rasa bosan membuat jemari Kinan bergerak ke dalam tas yang dibawanya, ia mengeluarkan sebuah buku sketsa dan pensil gambar yang selalu ia bawa ke mana-mana. Jemarinya mulai bergerak lincah di atas kertas putih.
Arga yang menyadari pergerakan itu melirik dari sudut matanya. "Kamu sedang apa?"
"Merekam momen," sahut Kinan santai tanpa mengalihkan pandangan dari kertas gambar.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi Kinan untuk menyelesaikan goresan cepatnya. Ia kemudian menaruh buku sketsa itu tepat di depan Arga.
Arga meneliti gambar di kertas itu.
Itu adalah karikatur dirinya sendiri yang duduk menggunakan jas dengan bagian telinganya diarsir sangat tebal. Dahi Arga berkerut. "Kamu mengejek saya?"
"Ini karya seni, Pak CEO. Harganya mahal kalau dijual ke klien," kekeh Kinan. "Lagipula, saya cuma menggambar fakta. Telinga Anda itu selalu berwarna merah tiap kali kesal. Lucu saja lihat manusia kayak anda punya indikator emosi di kupingnya."
Arga terdiam. Tatapannya tertahan pada sketsa itu, lalu tanpa sadar jemarinya terulur menyentuh daun telinganya sendiri. Refleks emosi yang bahkan tak pernah ia sadari sebelumnya.
Ting... Dreet...
Suara nada dering dari ponsel Arga mendadak terdengar di antara mereka. Hujan di luar yang mereda rupanya berhasil memunculkan satu bar sinyal di sudut layar.
Arga refleks meraih ponselnya di atas meja, menduga telepon pekerjaan yang masuk. Namun, begitu matanya melihat nama yang tertera di layar, Arga mendadak terdiam kaku.
Kinan yang duduk tepat di sebelahnya menyadari perubahan drastis itu. "Pak CEO?" panggil Kinan pelan. "Kenapa enggak diangkat? Sinyalnya sudah ada, tuh."
Arga tidak menjawab. Ibu jarinya yang berada di atas layar tampak gemetar. Dering ponsel itu terus bergetar di atas meja, hingga akhirnya panggilan itu berhenti, berganti menjadi sebuah pesan singkat yang terlihat di layar.
'Arga, kamu di mana... aku butuh kamu sekarang.'
Arga mengepalkan tangannya rapat-rapat. Tatapannya tertuju pada layar itu selama beberapa detik, hingga akhirnya ia menekan tombol di samping ponselnya untuk mematikan layar.
Pria itu mengembuskan napas berat. Ia memejamkan mata sejenak, lalu perlahan membukanya kembali dan menatap Kinan.
"Telepon tidak penting. Hanya salah sambung." Arga perlahan berdiri dari kursinya, meraih kunci mobil dan menyambar jasnya. "Hujan sudah agak reda dan banjir di depan tampaknya mulai surut. Ayo pulang. Saya antar kamu."
Selama perjalanan pulang, Arga tetap fokus menyetir dalam keheningan. Tak ada obrolan apa pun di antara mereka. Kinan melirik dari sudut mata, menyadari ada tatapan gelisah yang mendadak terlihat pada pria di sebelahnya itu.
**
Hari Pernikahan
Hari yang paling dihindari sekaligus ditunggu itu akhirnya tiba.
Di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap megah bagai taman kerajaan, memperlihatkan kemewahan dengan musik klasik yang terdengar lembut mengiringi ratusan tamu undangan berbusana mahal yang memadati ruangan.
Di atas pelaminan yang ditata penuh dengan hiasan bunga mawar putih, Kinan berdiri dengan gaun pengantin rancangan desainer ternama pilihan Tante Mira. Gaun itu melekat sangat anggun di tubuh rampingnya. Wajahnya dipoles dengan riasan yang membuat Kinan tampak cantik berkali-kali lipat dari hari biasanya.
Di balik semua keanggunan itu, Energi Kinan sudah hampir habis. Tumitnya mulai terasa pegal akibat heels yang ia kenakan.
"Tersenyum, Kinan. Ada direktur bank swasta yang sedang berjalan ke arah kita," bisik Arga pelan dari sampingnya. Pria itu tampil sangat gagah berbalut tuksedo hitam yang terlihat sempurna dengan postur tubuhnya. Wajahnya tetap tenang dengan senyum formal yang sudah biasa ia gunakan.
"Bibir saya sudah kaku, Pak CEO," balas Kinan berbisik dari sela giginya yang mengapit senyum manis buatan. "Bisa tidak, sesi salaman ini dipercepat?"
Arga melirik sekilas ke arah Kinan. "Sabar. Sisa lima puluh tamu lagi."
"Lima puluh?" Kinan meringis pasrah.
Sebelum Kinan sempat meratapi nasibnya lebih jauh, gelak tawa familiar dari arah tangga pelaminan mendadak menarik perhatiannya. Dua orang sahabat terdekatnya sedang berjalan mendekat dengan wajah penuh godaan.
"Astaga, Kinan! Ini beneran kamu? aku benar-benar gak nyangka, ternyata kamu yang pertama menikah di antara kita berempat?" seru Mia, sahabatnya yang paling heboh, langsung memeluk Kinan gemas.
"Pangling banget, demi apa!" timpal Rian, sahabatnya yang lain. "Ternyata kalau digosok pakai uang, bersinar juga kamu, Nan."
Kinan terkekeh, memeluk mereka satu per satu. Namun, matanya sempat secara refleks mengedarkan pandangan ke belakang dua temannya itu.
"Kamu cari Danu, ya?" bisik Mia pelan. "Dia enggak bisa ikut, Nan. Tadi dia cuma kirim pesan di grup bilang ada urusan mendesak yang enggak bisa ditinggal."
Kinan tertegun sejenak. Ia mengambil ponselnya yang berada di samping kursi pelaminan, membaca pesan singkat dari Danu yang masuk beberapa menit lalu.
'Selamat atas wedding-nya ya, Nan. Maaf banget gue enggak bisa datang hari ini. Semoga lu bahagia. Hadiah pernikahannya menyusul!'
Kinan menatap layar itu beberapa detik. Sikap Danu terasa terlalu formal dan berjarak, tidak seperti Danu yang biasanya. Namun, Kinan menepis perasaan itu, menyunggingkan senyum tipis, lalu menyimpan kembali ponselnya.
Mia yang berdiri di depan Kinan kini menyipitkan mata, menatap Kinan dan Arga bergantian dengan tangan bersedekap.
"Ngomong-ngomong, Nan... jahat banget kamu ya," celetuk Mia dengan nada menyindir yang dibuat-buat. "Dulu siapa yang sesumbar cuma mau nikah di KUA, pakai baju biasa, bahkan enggak usah pakai pesta resepsi yang merepotkan?"
"Iya, nih!" sahut Rian ikut memanasi. "Dulu ngomongnya idealis banget, katanya benci keramaian pesta. Lah sekarang? Resepsi di ballroom terbesar se-Jakarta, bahkan ngundang tamu sampai ratusan?"
Kinan meringis, bingung harus menjawab apa. Tentu saja ia tidak bisa membongkar bahwa ini semua adalah skenario pernikahan yang sudah disepakati demi memuaskan harapan keluarga.
Sebelum Kinan sempat menyusun kebohongan, mata Mia dan Rian beralih pada sosok pria di samping Kinan. Arga berdiri dengan postur tegap sempurna, memperlihatkan aura ketampanan yang memikat.
Seketika itu juga, Mia dan Rian mengangguk-angguk penuh pemahaman.
"Oke, pantesan aja!" bisik Mia dengan mata berbinar ke arah Kinan. "Kalau suaminya bentukan spek dewa kayak begini sih... mau disuruh resepsi tiga hari tiga malam juga aku bela-belain! Pantesan kamu luluh, Nan."
Arga yang mendengar percakapan itu hanya menguraikan senyum tipis, lalu mengulurkan tangannya pada teman-teman Kinan. "Terima kasih sudah datang. Makanan di area VIP sudah disiapkan, silakan dinikmati."