Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sore harinya, di ruang kerja yang sunyi dan sakral itu, Duke Arthur kembali berdiri diam memandang keluar jendela kaca yang luas. Tak lama kemudian, bayangan gelap bergerak pelan, sosok kepala pasukan rahasianya muncul tanpa suara.
"Yang Mulia..." sapanya rendah.
"Bagaimana hasil penyelidikan yang kuperintahkan kemarin?" tanya Arthur tanpa memalingkan wajah, namun matanya penuh harap sekaligus ketegasan.
Pria berpakaian serba hitam itu maju selangkah sambil menyerahkan berkas tebal yang berisi bukti nyata. "Kami menemukan kebenaran yang tersembunyi, Tuan. Laporan tentang kekayaan tambang itu memang palsu buatan tangan orang yang disogok. Lebih dari itu... ternyata Duke Harold sendiri menanggung beban utang yang luar biasa besar. Jika Yang Mulia bersedia menyalurkan dana investasi itu, seluruh uang itu takkan pernah menyentuh tanah tambang, melainkan langsung diserap untuk menutupi kekurangan miliknya sendiri."
Sorot mata Duke Arthur perlahan membeku menjadi tajam dan dingin seperti es. Segalanya persis sama, tak ada satu pun yang berbeda dari apa yang pernah terlintas dalam pemikiran putrinya. Perlahan ia menutup berkas itu seolah menyimpan harta yang paling berharga.
"Mulai detik ini juga," ucapnya tegas tanpa ragu, "Putuslah segala bentuk kerja sama dan urusan dagang dengan Duke Harold selamanya. Dan awasi setiap langkahnya, jangan sampai ia bisa menyusup kembali dengan cara lain yang lebih jahat."
"Siap dilaksanakan," jawab singkat itu, lalu sosok itu lenyap kembali ke dalam kegelapan.
Arthur duduk perlahan di kursi kebesarannya, merasakan napas lega yang begitu dalam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai kepala keluarga yang hebat ini... ia merasa diselamatkan, dijaga, dan dibimbing oleh putrinya sendiri yang dulu ia anggap hanya gadis manja yang tak tahu apa-apa.
Sementara itu, di kamarnya yang terang benderang, Aruna dengan santai menikmati potongan kue manis yang lezat tanpa tahu betapa besar keberhasilan yang baru saja ia raih.
[Hari ini sungguh hari yang luar biasa! Satu bahaya besar yang mengancam nyawa dan masa depan berhasil kusingkirkan! Jika terus begini, mungkin benar-benar aku bisa mengubah kisah kelam ini menjadi kisah bahagia yang abadi] batinnya penuh harapan.
***
Keesokkan harinya, Aruna melangkah santai menyusuri lorong luas menuju perpustakaan keluarga, pelukannya penuh dengan tumpukan buku yang baru dipilihnya.
Batinnya bergema penuh semangat, [Satu bahaya maut sudah berhasil kusingkirkan. Kini saatnya aku membangun pondasi hidup yang damai dan aman. Harus mulai tekun mempelajari tata krama bangsawan yang luhur, sejarah panjang kerajaan yang penuh pelajaran, hingga seluk-beluk urusan perniagaan. Siapa tahu kelak aku benar-benar bisa pergi meninggalkan ibu kota ini dan hidup tenang di tempat yang jauh.]
Namun di beberapa langkah di belakangnya, sepasang mata jeli tak lepas mengawasi setiap gerak-gerik sosok itu. Adrian diam-diam mengikuti, mengamati dengan saksama sejak beberapa hari terakhir.
Bukan niatnya ingin membatasi kebebasan adiknya, melainkan karena semakin lama ia melihatnya, perubahan yang terjadi terasa begitu luar biasa dan nyaris tak masuk akal, seolah ada jiwa berbeda yang kini bersemayam di sana.
"Evelyne..." panggilnya pelan namun tegas.
Aruna segera memutar tubuhnya, wajahnya ramah. "Ah, Kak Adrian."
"Apa yang sedang kau lakukan dengan membawa buku sebanyak itu?" tanyanya ingin tahu.
Aruna sedikit mengangkat tumpukan di pelukannya sambil tersenyum tulus. "Ingin membaca dan menambah wawasan."
Alis Adrian langsung berkerut tak percaya. "Membaca?" ulangnya seolah mendengar hal yang sulit dipercaya.
"Iya," jawabnya tenang.
[Mengapa wajahnya seolah melihat penampakan hantu? Apakah dulu Evelyne benar-benar sangat membenci hal-hal berbau tulisan dan ilmu?] batinnya bertanya heran.
Adrian terdiam sejenak merenung. Memang benar yang ia rasakan. Dulu, adiknya itu adalah orang yang paling benci sekadar melangkahkan kaki masuk ke ruangan yang penuh buku ini.
Jangankan membaca sampai selesai satu bab, sekadar membuka lembar pertama saja sudah membuatnya mengeluh sekujur tubuh terasa bosan dan penat. Namun kini... gadis itu justru datang atas kemauan sendiri, bersemangat seolah menemukan harta karun.
"Kau kini mulai menyukai buku?" tanyanya sekali lagi memastikan.
Aruna menyunggingkan senyum manis. "Aku ingin belajar banyak hal yang belum kutahu," jawabnya lembut, sementara suara tulusnya terus terdengar jelas bagi telinga Adrian.
[Daripada membuang waktu hanya mengejar pria yang tak pernah benar-benar mencintaiku, bukankah lebih berguna mengisi kepala dengan pengetahuan?]
Sudut bibir Adrian hampir terangkat membentuk senyum tipis yang tak disadari.
Keduanya pun melangkah masuk ke dalam perpustakaan yang hening itu. Ruangan yang begitu luas dengan deretan rak kayu kokoh yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit, memancarkan aroma khas kertas tua yang menenangkan hati siapa saja yang mencintai ilmu. Mata Aruna seketika berbinar terang, wajahnya memancarkan kekaguman tulus.
[Wah... tempat ini sungguh seperti surga ketenangan yang indah!]
Tanpa menunggu lama, ia segera bergerak gesit meraih buku tebal tentang sejarah kerajaan yang penuh kisah, lalu buku lain yang membahas ilmu ekonomi, hingga peta besar yang menggambarkan setiap sudut wilayah kekuasaan kerajaan ini. Adrian hanya berdiri di dekat rak, diam mengamati ketertarikan yang begitu tulus itu.
"Kenapa Kak Adrian belum pergi melanjutkan urusan?" tanyanya pelan, membuat Adrian pura-pura sibuk menyentuh punggung buku di hadapannya.
"Aku juga... ingin membaca sebentar," jawabnya singkat.
Aruna hanya tersenyum dalam hati, [Bohong sekali... jelas sekali matanya tak lepas dariku. Dia sedang mengawasiku dengan teliti.]