Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Srat!
Pria pertama mengayunkan tongkat besinya dengan sekuat tenaga ke arah kepala Sony.
Sony tidak bergeser dari tempatnya, dia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
Tongkat besi itu meleset jauh dari sasarannya dan hanya membelah angin.
Bugh!
Sony meninju perut pria itu dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata biasa.
"Argh!" Pria itu memuntahkan darah segar dari mulutnya dan langsung ambruk ke tanah tak sadarkan diri.
Dua pria lainnya langsung berhenti melangkah karena terlalu terkejut melihat temannya tumbang.
Mereka sama sekali tidak melihat pergerakan tangan Sony barusan.
"Sekarang giliran kalian berdua," ucap Sony sambil melangkah maju satu langkah.
"Sialan, jangan sombong dulu kau!" teriak pria kedua yang memegang pemukul bisbol.
Dia mengayunkan pemukul kayunya secara horizontal mengarah ke perut Sony.
Sony tidak menghindar, dia malah menangkap pemukul bisbol itu hanya dengan satu tangan kosong.
Brak!
Pemukul bisbol kayu itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil hanya dengan satu remasan tangan Sony.
Mata pria kedua langsung melotot seakan mau keluar dari tempatnya melihat kejadian mustahil itu.
"Monster macam apa kau ini sebenarnya?" teriak pria itu dengan suara panik dan bergetar.
"Aku? Aku adalah dewa kematianmu malam ini," bisik Sony yang tiba-tiba sudah berada tepat di telinga pria itu.
Sebelum pria itu sempat sadar apa yang terjadi, Sony sudah memelintir dan mematahkan kedua tangannya.
Krek! Krek!
"Aaaaargh!" Jeritan kesakitan yang melengking menggema memecah kesunyian area pemakaman.
Pria botak yang merupakan pemimpin kelompok kecil itu langsung gemetar ketakutan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kakinya menjadi sangat lemas hingga dia jatuh terduduk di atas tanah yang becek.
Sony berjalan mendekatinya dengan langkah yang sangat perlahan dan terukur.
Langkah demi langkah yang diambil Sony terdengar seperti hitungan mundur kematian bagi pria botak itu.
"Ampun, Tuan! Ampun, saya mohon jangan bunuh saya!" mohon pria botak itu sambil bersujud mencium tanah.
"Jawab pertanyaanku, siapa yang menyuruh anjing seperti kalian menjaga tempat ini?" tanya Sony dengan suara yang mengintimidasi.
"Ka-kami hanya preman rendahan biasa, kami dibayar setiap bulan oleh Grup Dimas untuk menakuti siapa saja yang berani datang ke makam ini!" jawab pria botak itu dengan suara terbata-bata karena menangis.
Sony sedikit menaikkan alisnya karena terkejut mendengar nama perusahaannya disebut.
"Grup Dimas? Maksudmu perusahaan raksasa milik Dimas Pratama?" tanya Sony memastikan.
"Benar, Tuan! Dimas Pratama sekarang adalah penguasa bisnis nomor satu di kota ini!"
Sony tertawa pelan mendengarnya, tapi tawanya terdengar sangat menyeramkan di telinga preman itu.
"Ternyata si keparat itu benar-benar sudah mengambil alih semua jerih payah keluargaku."
"Tuan, saya sudah menjawab semua pertanyaan Anda dengan jujur, tolong lepaskan saya pergi!" mohon preman botak itu lagi.
Sony menatap pria botak yang bersujud itu dengan pandangan jijik yang luar biasa.
"Kalian berani menginjak tanah suci tempat orang tuaku beristirahat dengan kaki kotor kalian."
Bugh!
Sony langsung menendang wajah pria botak itu dengan keras hingga dia pingsan seketika.
Darah segar mengalir keluar dari hidung preman tersebut bercampur dengan air hujan.
Sony mengeluarkan selembar kain bersih dari saku celananya dan mengelap tangannya dengan teliti.
"Dimas, kau ternyata sangat waspada sampai repot-repot menyewa preman untuk menjaga makam orang tuaku."
Sony membuang kain yang sudah kotor itu ke atas tubuh preman yang sedang pingsan.
"Tapi persiapan kecil seperti itu tidak akan cukup untuk menghentikan langkahku sedikitpun."
Sony berbalik dan kembali menatap makam kedua orang tuanya untuk yang terakhir kalinya malam ini.
"Aku pamit pergi dulu, Ayah, Ibu, aku akan membawa kepala mereka berdua saat aku kembali ke sini nanti."
Sony berbalik arah dan berjalan santai keluar dari area pemakaman.
Malam ini adalah awal dari mimpi buruk tanpa akhir bagi orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Saat dia tiba di luar gerbang pemakaman, sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat tiba-tiba berhenti tepat di depannya.
Pintu kemudi mobil terbuka dan seorang pria berjas rapi keluar menerjang gerimis.
Pria itu langsung menundukkan setengah badannya untuk membungkuk hormat kepada Sony.
"Selamat malam Tuan Sony, saya Leo, bawahan yang diutus langsung dari markas luar negeri untuk melayani Anda selama berada di sini," ucap pria berjas itu dengan sangat profesional.
"Aku kan sudah bilang di telepon tadi tidak perlu mengirim orang untuk menjemputku," kata Sony menegur pelan.
"Mohon maaf Tuan, tapi ini adalah perintah mutlak langsung dari guru besar Anda," jawab Leo dengan tetap menunduk sopan.
Sony menghela nafas pasrah karena tidak bisa membantah gurunya.
"Terserah kau saja, cepat bawa aku ke tempat istirahat yang sudah kau siapkan," perintah Sony pada akhirnya.
"Baik, Tuan. Silakan masuk lewat sini," ucap Leo sambil segera membukakan pintu belakang mobil mewahnya.
Mobil mewah itu pun melaju dengan mulus membelah jalanan malam kota Jakarta yang mulai sepi.
Di dalam mobil yang hangat, Sony melihat tumpukan dokumen tebal yang sudah disiapkan oleh Leo di kursi sebelahnya.
"Tuan, itu adalah laporan investigasi intelijen terbaru tentang Grup Dimas dan keluarga Rina yang Anda minta," kata Leo menjelaskan sambil menyetir.
Sony mengambil map teratas dan membuka halaman pertama dokumen itu.
Di sana terdapat foto Dimas yang sedang tersenyum lebar berjabat tangan dengan beberapa pejabat pemerintahan.
"Perusahaannya berkembang dengan sangat pesat dan agresif dalam tiga tahun terakhir ini, Tuan," jelas Leo.
"Tentu saja bisa begitu, karena dia menggunakan seluruh aset keluargaku yang dicurinya sebagai modal dasar," balas Sony tersenyum sinis.
"Dan mengenai Nona Rina, dia sekarang sudah menjabat sebagai direktur keuangan utama di perusahaan tersebut," tambah Leo memberikan informasi.
"Mereka berdua benar-benar menikmati hidup mewah di atas penderitaan dan darah keluargaku," gumam Sony meremas dokumen itu.
"Informasi tambahan Tuan, besok malam Grup Dimas akan mengadakan pesta lelang amal besar-besaran di Hotel Bintang Lima," lapor Leo lagi.
Sony menutup dokumen itu dan menatap ke arah Leo melalui kaca spion dalam mobil.
"Pesta lelang amal ya? Ini benar-benar kebetulan yang sangat menyenangkan," ucap Sony dengan senyum miring yang mematikan.
"Apakah Tuan ingin saya mengatur akses agar Anda bisa hadir ke sana besok?" tanya Leo siap sedia.
"Tentu saja kau harus mengaturnya, aku harus datang memberikan hadiah kejutan spesial untuk sahabat lamaku," jawab Sony tenang.
Mobil terus melaju kencang menembus malam yang semakin dingin.
"Buka panel status sistem," perintah Sony dalam batinnya.
Sring!
Sebuah layar hologram transparan berwarna biru langsung muncul melayang di depan wajahnya.
[Sistem Dewa Kematian Aktif]
[Nama: Sony]
[Gelar: Sang Dewa Kematian]
[Kekuatan Fisik: Tahap Dewa]
[Kecepatan: Tahap Dewa]
[Keterampilan Medis: Akupuntur Sembilan Surga Maksimal]
[Seni Bela Diri: Tinju Penghancur Bintang Maksimal]
Sony membaca deretan teks status itu dengan wajah tanpa ekspresi sedikitpun.
Sistem inilah yang selalu membantunya mengukur batas kekuatannya selama dia menantang para petarung terkuat di berbagai belahan dunia.
Semua statistik pertarungannya sudah lama mencapai tingkat maksimal.
Di dunia manusia biasa ini, hampir tidak ada senjata atau orang yang bisa melukainya.
[Pemberitahuan: Misi Utama Baru Terdeteksi]
[Tujuan Misi: Hancurkan fondasi Grup Dimas dan rebut kembali semua apa yang menjadi milikmu]
[Hadiah Penyelesaian: Tidak diketahui]
Sony hanya mendengus geli melihat misi yang baru saja muncul di layarnya.
"Tanpa sistem ini memberiku misi pun, aku pasti akan menghancurkannya sampai ke akar-akarnya," ucap Sony pelan pada dirinya sendiri.
Dia hanya mengayunkan tangannya dengan santai, dan layar biru itu langsung menghilang dari pandangannya seolah tertiup angin.
Sony menyandarkan punggungnya dan menatap ke luar jendela memandangi gedung pencakar langit.
"Nikmatilah malam terakhir kalian dengan tertidur nyenyak, Dimas, Rina," batin Sony.
Besok, dewa kematian sungguhan akan datang mengetuk pintu mereka.