Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009
Mimpi Kedua
Tanah mulai bergetar.
Awalnya hanya seperti dengung jauh di bawah lantai, halus, hampir tidak terasa. Dalam mimpi itu, Sekar berdiri di halaman belakang rumah Kakek Nenek, masih memakai pakaian tidur, kaki telanjangnya menyentuh tanah lembap.
Daun mangga bergerak tanpa angin.
Lalu getaran itu naik.
Tanah di bawah kakinya menggulung seperti napas raksasa. Dinding rumah tua berderak. Genteng bergeser satu per satu, jatuh, pecah di teras. Sekar ingin berlari masuk untuk menyelamatkan foto Kakek dan buku resep Nenek, tapi kakinya terhuyung. Sumur di sudut halaman retak, airnya muncrat keruh.
"Keluar! Keluar dari rumah!"
Suara orang-orang terdengar dari jalan desa. Bukan suara biasa. Suara itu penuh ketakutan sampai membuat udara terasa tajam.
Sekar berlari ke pagar.
Desa Lembah berubah menjadi tempat yang ia kenal dan tidak kenal sekaligus. Jalan kecil terbelah panjang. Tiang listrik miring. Seekor ayam berlari tanpa arah. Dari rumah Bu Sari, genteng berjatuhan seperti batu hujan.
Bu Sari berdiri di depan pintu sambil menggendong Dek Bayu.
"Sekar! Jangan dekat tembok!"
Pak Darman menarik Bu Sari ke halaman. Mas Eko dan Mbak Ratna keluar dengan wajah pucat. Sekar ingin menjawab, tapi suara bumi menelan semuanya.
Getaran kedua datang lebih keras.
Pohon mangga tua di halaman Kakek Nenek patah salah satu cabangnya. Debu naik dari tembok-tembok rumah. Di kejauhan, bukit yang biasanya hijau mengeluarkan suara gemuruh panjang. Tanah di lereng bergerak, pelan dulu, lalu runtuh seperti kain basah ditarik dari atas.
Longsor.
Sekar melihat jalan keluar desa tertutup tanah dan batu.
Lalu mimpi itu menariknya jauh, seperti matanya dipaksa terbang melewati sawah, jalan raya, dan sungai menuju Kota Angin.
Di kota, gedung-gedung bergoyang. Jembatan retak di tengah. Mobil berhenti saling bertabrakan. Orang-orang berlarian sambil memegang ponsel yang tidak lagi punya sinyal.
Di depan sebuah minimarket, pintu otomatis macet setengah terbuka. Lampu di dalamnya berkedip, lalu mati. Dalam gelap singkat itu, Sekar melihat tangan-tangan merobek plastik air mineral dan menarik karung beras dari rak paling bawah.
Air sungai tiba-tiba surut.
Dasarnya terlihat, hitam, penuh sampah, ikan menggelepar di lumpur. Beberapa orang berdiri di tepi, bingung, bahkan ada yang turun untuk mengambil ikan. Sekar ingin berteriak agar mereka pergi. Ia tahu, entah dari mana, bahwa air yang mundur bukan kabar baik.
Kemudian suara itu datang.
Lebih besar daripada gempa.
Lebih dalam daripada guntur.
Air laut masuk dari arah muara, mendorong sungai kembali ke kota dengan warna cokelat kehitaman. Perahu kecil terbalik. Tanggul pecah. Gelombang membawa lumpur, papan, drum minyak, dan potongan atap. Air itu tidak hanya naik dari laut, tapi juga menyusup lewat selokan, parit, dan jalan rendah, seperti kota sedang ditelan dari semua lubang.
Sekar melihat orang-orang memanjat atap. Melihat seorang ibu mengangkat anaknya ke atas mobil. Melihat pria memukul pintu toko yang terkunci. Melihat rak-rak minimarket kosong dalam hitungan detik, bukan karena air, tapi karena tangan manusia.
Mimpi itu semakin tajam.
Ia melihat pasar grosir tempat ia membeli beras. Lorong belakangnya tergenang. Kardus mie instan mengapung, lalu robek. Karung beras basah mengembang dan pecah. Orang-orang berebut apa pun yang masih bisa dibawa.
Seseorang jatuh.
Orang lain tidak berhenti menolong.
Sekar merasakan kuku-kukunya sendiri menancap ke telapak tangan.
Lalu ia kembali ke Desa Lembah.
Hujan turun deras. Jalan ke kota tertutup longsor. Radio di satu rumah menyala putus-putus, menyebut gempa besar di pesisir, air laut masuk ke beberapa wilayah rendah, jalur bantuan belum bisa dibuka.
Di halaman Bu Sari, orang-orang berkumpul dengan wajah kosong.
"Makanan tinggal berapa?"
"Obat ada?"
"Jalan putus. Kita tidak bisa turun."
Suara-suara itu bertumpuk. Mata mereka mencari sesuatu untuk dipegang. Dalam mimpi itu, Sekar berdiri di antara mereka dengan ruang penyimpanan ajaib penuh barang, tapi bibirnya terkunci. Ia tahu jika semua orang tahu terlalu cepat, ruang itu bukan lagi penyelamat. Ruang itu bisa berubah menjadi alasan orang-orang mencabik dirinya.
Tiba-tiba, tanah di bawahnya retak.
Sekar jatuh.
Ia terbangun sambil mencengkeram kasur.
Napasnya tersengal. Tenggorokannya sakit seperti baru berteriak lama. Kamar tua itu gelap, hanya diterangi kilat tipis dari luar jendela. Hujan benar-benar turun, tidak deras, tapi cukup untuk membuat genteng berbunyi.
Sekar menempelkan telapak tangan ke lantai.
Tidak bergetar.
Ia menunggu.
Masih tidak.
Baru setelah beberapa menit, ia sadar seluruh tubuhnya gemetar sendiri. Keringat dingin membasahi punggungnya. Tusuk konde mutiara masih terselip di rambut, menekan kulit kepala dengan rasa dingin yang aneh.
Ketukan terdengar dari pintu.
"Sekar? Kamu tidak apa-apa?"
Suara Bu Sari.
Sekar memaksa diri berdiri. Lututnya lemas. Ia membuka pintu sedikit, cukup untuk menampakkan wajah.
Bu Sari berdiri di teras sambil membawa payung. "Bu Sari dengar kamu seperti teriak."
Sekar menyentuh lehernya. "Saya mimpi buruk, Bu."
"Mukamu pucat sekali. Mau tidur di rumah Bu Sari saja?"
Keinginan untuk mengangguk datang begitu cepat sampai Sekar takut pada dirinya sendiri. Ia ingin ada orang lain di dekatnya. Ia ingin seseorang mengatakan bahwa semua itu hanya mimpi.
Tapi ia tidak bisa membawa rahasia itu ke rumah Bu Sari.
"Tidak apa-apa, Bu. Maaf membuat khawatir."
Bu Sari menatapnya lama. "Kalau ada apa-apa, panggil. Pintu rumah Bu Sari tidak dikunci."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Setelah Bu Sari pergi, Sekar menutup pintu dan langsung duduk di lantai. Ia membuka buku catatan dengan tangan gemetar. Halaman baru. Tanggal baru.
Mimpi kedua.
Gempa besar.
Air laut masuk.
Longsor menutup jalan.
Pasar rusak.
Orang berebut makanan.
Ia berhenti di baris terakhir. Tinta pena menggumpal karena ujungnya terlalu lama menekan kertas.
Selama ini ia membeli barang untuk bertahan hidup. Makanan, obat, alat, energi. Tapi mimpi barusan menunjukkan hal lain yang lebih buruk daripada air dan tanah retak.
Orang lapar.
Orang panik.
Orang yang tidak punya apa-apa dan melihat orang lain punya sesuatu.
Pagi datang dengan lambat. Sekar tidak tidur lagi. Ketika ayam mulai berkokok dan langit memucat, ia keluar untuk mengambil air. Mas Eko lewat membawa cangkul, berhenti saat melihat wajahnya.
"Sekar, kamu sakit?"
"Tidak, Mas. Kurang tidur saja."
"Kalau butuh obat, bilang. Di rumah ada."
Sekar hampir tertawa. Di ruang penyimpanannya, obat jauh lebih banyak daripada yang bisa ia jelaskan.
"Terima kasih, Mas."
Mas Eko melanjutkan langkah. Sekar menatap cangkul di bahunya, lalu teringat orang-orang dalam mimpi yang memukul pintu toko. Cangkul bisa menjadi alat. Bisa juga menjadi senjata di tangan orang panik.
Ia kembali ke rumah, membuka halaman daftar baru.
Tangannya masih gemetar, tapi tulisannya jelas.
Senapan berburu.
Pisau berburu.
Golok.