"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Tamparan Kakak
"Angkat, Dik."
Suara Dewi Prasetyo terdengar serak dari pengeras kecil handphone. Di belakang suaranya ada deru kendaraan, napas terburu-buru, dan kepanikan yang ia paksa agar tidak pecah.
Surya menatap layar itu beberapa detik sebelum ibu jarinya bergerak.
"Kak..."
Hanya satu kata. Setelah itu tenggorokannya terkunci.
"Kamu di mana?" tanya Dewi. "Jangan bohong. Lokasi HP kamu berhenti di dekat sungai dari tadi malam. Kakak sudah di Jakarta."
Surya memejamkan mata.
Ternyata kakaknya sudah datang.
Sejak Surya menikah dengan Nadia, Dewi jarang meminta apa pun. Ia tetap tinggal di Solo, bekerja di pabrik, mengirim pesan singkat setiap akhir pekan, dan selalu bertanya apakah Surya makan cukup. Tetapi dulu, setelah handphone Surya pernah hilang di terminal, Dewi memaksa memasang fitur berbagi lokasi.
"Biar kalau kamu kenapa-kenapa, Kakak bisa cari," katanya waktu itu.
Surya pernah menertawakan itu.
Sekarang tawa itu terasa seperti dosa.
"Di bawah jembatan kecil," bisik Surya. "Dekat jalan masuk kompleks."
Telepon langsung mati.
Lima belas menit kemudian, suara langkah terburu-buru memecah pagi yang masih kelabu. Dewi muncul dari ujung trotoar dengan jaket tipis, tas kain pabrik tersampir di bahu, dan wajah pucat karena perjalanan malam. Rambutnya berantakan. Matanya merah.
Ia berhenti ketika melihat Surya.
Adiknya, lulusan hukum UNAIR yang dulu menjadi kebanggaan seluruh kampung, terbaring di beton sungai seperti orang buangan. Celananya kotor. Bibirnya pucat. Di sampingnya ada kantong belanja basah yang isinya sudah rusak.
Dewi berjalan cepat.
PLAK!
Tamparan itu mendarat di pipi Surya.
Suara kerasnya memantul di bawah jembatan.
Surya tidak menghindar. Kepalanya miring, pipinya panas. Namun, rasa sakit itu justru membuat matanya kembali fokus.
"Kamu mau mati di sini?" suara Dewi pecah. "Lalu aku gimana? Aku yang sudah korbankan segalanya supaya kamu bisa kuliah!"
Surya menatap kakaknya.
Dewi mencengkeram kerah bajunya, mengguncangnya sekali. "Jawab, Surya! Kamu pikir hidupmu cuma punya kamu? Kamu pikir kalau kamu hancur, Kakak bisa pulang ke Solo dan kerja seperti biasa?"
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tamparan.
Dalam kepala Surya, gambar lama muncul beruntun. Dewi yang masih berseragam SMA, menangis diam-diam di depan kepala sekolah karena harus berhenti. Dewi yang pulang dari pabrik dengan tangan penuh luka kecil karena mesin jahit. Dewi yang menyembunyikan uang lembur di dalam kaleng biskuit supaya Surya bisa membayar biaya kos di Surabaya. Dewi yang tersenyum saat ia diterima di Fakultas Hukum UNAIR, padahal sandal yang dipakainya sudah hampir putus.
"Dik," kata Dewi lebih pelan. Namun, lebih sakit. "Kakak nggak membesarkan kamu supaya kamu kalah di depan orang-orang seperti mereka."
Surya menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, air matanya jatuh.
Bukan karena Nadia.
Karena ia hampir membuang hidup yang dibayar Dewi dengan masa mudanya.
"Nadia selingkuh," katanya.
Dewi membeku.
Surya menarik napas. Suaranya masih parau. Namun, setiap kata mulai menemukan bentuk. Ia menceritakan sepatu laki-laki di depan pintu. Suara dari kamar. Mobil yang hampir menabraknya. Polis asuransi jiwa Rp 5 miliar. Surat persetujuan donor ginjal untuk ayah Nadia.
Makin lama Dewi makin diam.
Di akhir cerita, tangan kakaknya gemetar. Bukan karena takut. Karena marah.
"Kita lapor polisi," katanya.
Surya menggeleng.
"Belum."
"Belum?" Mata Dewi melebar. "Mereka mau bunuh kamu, Dik!"
"Aku tahu." Surya mengusap pipinya yang masih panas. "Tapi yang aku punya sekarang cuma omongan yang aku dengar sendiri dan salinan dokumen yang belum aku pegang. Mereka punya uang, rumah, koneksi, dan alasan untuk bilang aku suami miskin yang stres karena masalah rumah tangga."
Dewi menggigit bibir.
Surya berdiri perlahan. Lututnya hampir menyerah. Namun, ia menahan. Sungai di belakangnya terus mengalir, membawa bau lumpur dan sisa hujan.
"Kalau aku datang ke polisi sekarang tanpa bukti lengkap, mereka akan bersih-bersih. Polis dipindahkan. Surat donor hilang. Orang yang mau menabrakku kabur. Laki-laki itu menghilang." Tatapan Surya berubah dingin. "Aku nggak mau mereka takut. Aku mau mereka yakin aku masih bodoh."
Dewi menatapnya lama.
Ia mengenal adiknya. Surya yang dulu selalu menunduk jika dimarahi orang tua Nadia. Surya yang memilih diam saat dipermalukan di arisan keluarga. Surya yang memasak, mencuci, dan berkata semua baik-baik saja agar Dewi tidak khawatir.
Pria di depannya masih kurus dan basah.
Tetapi matanya berbeda.
"Apa rencanamu?" tanya Dewi.
Surya mengambil kantong belanja itu. Tomat pecah di dalam plastik. Ia menatapnya sebentar, lalu membuangnya ke tempat sampah dekat jembatan.
"Aku pulang."
"Apa?"
"Aku pulang ke rumah Nadia," kata Surya. "Aku minta maaf. Aku pura-pura takut. Aku biarkan mereka berpikir aku masih bisa dikendalikan."
Dewi mencengkeram lengannya. "Itu berbahaya."
"Lebih berbahaya kalau aku lari tanpa bukti." Suara Surya rendah. "Pertama, aku harus tahu semua dokumen mereka. Polis asuransi itu harus diubah. Surat donor itu harus jadi senjata balik. Setelah itu, aku cari rekaman CCTV kompleks. Mobil laki-laki itu pasti pernah masuk."
Dewi menatapnya seperti baru melihat seseorang yang tumbuh di depan matanya.
"Kamu yakin bisa menahan diri?"
Surya terdiam.
Bayangan Nadia dan suara laki-laki itu kembali menusuk kepalanya. Sampah. Bersihkan hidupmu dari sampah itu.
Jari Surya mengepal.
"Aku sudah menahan tiga tahun," katanya. "Sekarang aku menahan untuk menang."
Dewi menarik napas dalam. Lalu ia merapikan kerah baju Surya dengan tangan yang masih gemetar.
"Kalau kamu jatuh lagi, telepon Kakak. Jangan hilang seperti semalam."
Surya mengangguk. "Iya, Kak."
"Dan satu lagi." Dewi menatapnya tajam. "Jangan pernah lagi berpikir hidupmu murah. Bahkan kalau seluruh keluarga Kusuma bilang kamu nggak berharga, buat Kakak, kamu tetap adik yang Kakak besarkan dengan darah sendiri."
Dada Surya sesak.
Ia tidak memeluk Dewi. Kalau ia memeluknya sekarang, ia takut seluruh pertahanan yang baru ia bangun akan runtuh.
Maka ia hanya menunduk.
"Aku akan buat mereka semua berlutut," katanya pelan.
Dewi tidak menjawab.
Tetapi kali ini, ia tidak menamparnya.
Matahari mulai naik ketika Surya kembali ke rumah keluarga Kusuma. Dewi tidak ikut masuk. Ia berdiri di seberang jalan, mengawasi sampai Surya membuka pagar.
Di teras, sepatu laki-laki itu sudah tidak ada.
Nadia muncul dari ruang tamu dengan rambut rapi dan wajah kesal. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Seolah ia bukan perempuan yang baru saja menghitung harga nyawa suaminya.
"Kamu kemarin ke mana?" bentaknya. "HP ditelepon nggak diangkat. Kamu pikir kamu siapa bikin aku repot?"
Surya menunduk.
"Maaf," katanya.
Nadia menyipitkan mata, puas melihat kepalanya kembali rendah. "Drama banget. Cepat cuci piring. Dapur berantakan dari semalam."
Di meja dekat sofa, Surya melihat map cokelat yang sama. Di sebelahnya ada berkas lain dengan sampul putih.
Perjanjian pranikah.
Dokumen yang dulu dibuat keluarga Kusuma untuk memastikan Surya tidak berhak atas harta apa pun. Dulu, kertas itu adalah rantai di lehernya.
Sekarang, mungkin kertas itu juga bisa menjadi pisau yang membebaskannya dari utang mereka.
Surya berjalan ke dapur.
Air keran menyala. Piring kotor menumpuk. Nadia masih mengomel di ruang tamu, suaranya tajam seperti biasa.
Surya mencuci piring satu per satu.
Kepalanya tetap tertunduk.
Namun di sudut bibirnya, muncul senyum yang sangat tipis.
Itu bukan senyum seorang suami yang menyerah.
Itu senyum pemburu yang baru memilih mangsa pertama.