NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELUARGA BARU

Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, menyinari wajah seorang gadis yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Perlahan, kelopak matanya terbuka.

"Eugh..." ia melenguh pelan.

Ia menatap langit-langit kamar berwarna abu gelap dengan tatapan kosong.

"Kepala gue..."

Rasa nyeri berdenyut memenuhi kepalanya. Ia mengangkat tangan untuk memijat pelipis, lalu perlahan duduk di tepi ranjang.

"Di mana ini...?"

Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Kamar itu terasa asing. Kamar itu didominasi warna hitam dan abu-abu. Dindingnya polos tanpa banyak hiasan. Tirai tebal membuat cahaya matahari sulit masuk. Sebuah meja belajar berada di dekat jendela, sementara lemari kayu berwarna gelap berdiri di sudut ruangan. Suasananya terasa sunyi dan dingin. Gadis itu mengernyit.

"Ini bukan kamar gue..." Ia segera turun dari ranjang. Saat hendak berjalan ke arah pintu, ia dikejutkan oleh seorang pelayan yang masuk.

"Eh, Nona Keira sudah bangun?" sapa Wati, kepala pelayan.

"Iya."

"Ayo sarapan dulu Non, Bibi sudah siapkan sarapan. Tuan muda juga sudah menunggu di meja makan," ucap Wati.

Sebelum Keira sempat menjawab, tiba-tiba...

Drrtttt... drrtttt...

Ponsel di atas nakas tiba-tiba bergetar. Keira segera mengambilnya. Terpampang nama ibunya di sana, ia pun segera mengangkat telepon itu.

"Keira! Apa yang telah kau lakukan semalam? Berhenti mencari masalah dengan Tuan Ravian! Jangan sampai kau membuatnya membatalkan pertunangan kalian! Jika sampai itu terjadi, Ibu akan menjual mu pada pria tua yang kaya raya!" bentak ibunya dari seberang sana.

Tut... tut... tut...

Setelah mengatakan semua itu, Ibunya langsung memutuskan panggilan telepon.

"Halo? Ibu? Ibu!"

"Non, sebaiknya Nona turun dulu ya. Kasian Tuan muda sudah menunggu dari tadi. Benar kata Nyonya Sarah, jangan membuat Tuan muda marah," ucap Wati.

"Huft... Baiklah, kita turun."

Wati mempersilakan Keira untuk berjalan terlebih dahulu. Keira menuruni tangga dengan anggun berbeda dari biasanya. Sesampainya di bawah, keduanya mendapati Ravian sudah selesai makan.

Wati menatap heran majikannya itu.

'Ada apa dengan Tuan Ravian? Biasanya dia akan menunggu Nona Keira agar bisa sarapan bersama. Bahkan jika Nona Keira tidak mau makan, Tuan juga tidak akan makan.'

Keira berjalan ke arah meja makan, lalu duduk. Ravian menatapnya dingin.

"Tumben mau makan? Biasanya harus di bujuk dulu, di beliin Lamborghini dulu, dan Vi–"

"Gue mau makan karena selera makan gue lagi bagus," potong Keira.

"Baguslah. Sebaiknya lo sadar diri, berada di sini cuma untuk melunasi hutang-hutang orang tua lo dengan menjadi tunangan gue. Gue masih berbaik hati dengan nggak jadiin lo sebagai salah satu pelayan di sini," ucap Ravian dingin sambil berdiri.

"Buatlah masalah sebanyak-banyaknya sampai gue muak nampung lo, biar gue punya alasan buat ngusir lo dari rumah ini." Ravian berbalik membelakangi Keira.

'Tapi sebelum itu... Gue bakal nyiksa lo terlebih dahulu. Seperti yang lo lakuin ke gue dulu. Gue bukan laki-laki yang mencintai seseorang hanya karena parasnya. Untuk apa wanita cantik yang hanya bisa menyakiti.'

Ravian perlahan menjauh. Keira menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Gue gak akan pernah biarin lo buang gue. Gue bakal bikin lo cinta dan semakin cinta sama gue, hingga melebihi cinta Lo terhadap nyawa lo sendiri. Pria tampan kayak lo, nggak akan gue sia-siain," gumam Keira lalu tersenyum jahat.

...****************...

Bus sekolah akhirnya berhenti tepat di halaman Alexander School. Pintu bus perlahan terbuka. Begitu para siswa turun satu per satu, suasana yang semula hening langsung berubah menjadi riuh.

"Anakku!"

"Syukurlah..."

"Ya Tuhan, akhirnya anak ku kembali!"

Para orang tua yang sejak pagi menunggu langsung berlari menghampiri anak-anak mereka. Tangis haru pecah di berbagai sudut halaman sekolah. Ada yang memeluk erat anaknya, ada yang mengusap wajah mereka berulang kali, memastikan semua itu bukan mimpi.

Aleta, Aura, dan Viana ikut turun dari dalam bus.

"Udara di sini nggak sesegar di Desa. Tapi pemandangan gedung pencakar langit bikin gue betah," ucap Viana.

"Vi!"

"Viana!"

Seorang wanita paruh baya berlari sambil menangis, begitu juga dengan pria paruh baya yang berlari di belakangnya. Tanpa menunggu Viana bereaksi, wanita itu langsung memeluk putrinya erat.

"Kamu nggak apa-apa, kan? Mama khawatir sekali..."

Deg.

Tubuh Viana mendadak membeku. Pelukan itu begitu hangat. Pelukan yang tidak pernah ia rasakan di kehidupan sebelumnya. Tanpa sadar, kedua tangannya perlahan membalas pelukan wanita tersebut. Air matanya menetes begitu saja.

"Ma..." Suara itu keluar begitu lirih.

Dalam kehidupan sebelumnya, Viona telah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil.

"Papa juga mau peluk," ucap Ayah Viana, ia lalu memeluk Viana dan istri tercintanya.

"Au!"

Seorang pria dan wanita berlari menghampiri Aura. Mereka langsung memeluk Aura bergantian.

"Syukurlah kamu selamat."

"Ibu dan Ayah hampir gila nyari kamu."

Aura memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak. Tanpa ia sadari, air mata perlahan membasahi pipinya.

"Aura kangen..." Ia hanya sanggup mengucapkan itu. Meski sebelumnya belum pernah bertemu, tapi Aura sangat ingin memiliki orang tua.

Di kehidupan sebelumnya, Naura selalu iri melihat anak-anak lain yang masih memiliki keluarga. Kini, untuk pertama kalinya setelah bereinkarnasi, ia kembali merasakan kasih sayang yang pernah hilang dari hidupnya.

Sementara itu...

Viana yang sudah sedikit tenang langsung menghampiri Aura sambil mengusap air matanya sendiri.

"Au..." panggilnya.

"Pelukan orang tua..." gumam Aura, namun masih bisa didengar oleh Viana.

"Ternyata sehangat ini ya." Viana tersenyum kecil.

Aura mengangguk pelan. Keduanya saling tersenyum, meski mata mereka masih sembab.

Satu per satu para siswa mulai meninggalkan halaman sekolah bersama keluarga masing-masing. Begitu juga dengan Aura dan Viana. Setelah berpamitan pada Aleta mereka pun langsung pergi meninggalkannya sendirian, hingga akhirnya sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang.

"Non Aleta."

Seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam sopir segera membukakan pintu belakang.

Aleta mengangguk kecil meski tak mengenali pria itu. Baru saja ia hendak masuk ke dalam mobil, seorang wanita paruh baya langsung menariknya ke dalam pelukan.

"Ya ampun, Non... hiks..." Wanita itu menangis. "Bibi benar-benar khawatir."

Aleta sedikit terkejut namun ia segera menetralkan ekspresi nya.

"Maaf sudah membuat Bibi khawatir."

"Bibi tidak peduli soal itu. Yang penting Non pulang dengan selamat."

Perlahan Aleta membalas pelukan tersebut.

"Maaf..."

Wanita itu tersenyum sambil menghapus air matanya.

"Sudah... Tidak perlu minta maaf. Ayo pulang. Bibi sudah masak semua makanan kesukaan Non." Ucapnya sambil membukakan pintu untuk Aleta.

"Apakah ada udang dan kepiting?"

"Tentu saja. Semua jenis makanan laut ada di sana."

Aleta terkekeh pelan.

"Kalau begitu... hari ini aku akan makan banyak."

"Harus! Pak Darto jalan!"

"Baik, Bi Mina."

Mobil pun perlahan melaju meninggalkan sekolah. Di sepanjang perjalanan, wanita itu tak berhenti menanyakan keadaan Aleta.

"Di sana dingin ya?"

"Dingin."

"Digigit nyamuk?"

"Sering."

"Makan teratur?"

"Lumayan."

"Non Aleta terlihat kurus."

"Tapi aku baik-baik saja."

"Baiklah jika begitu. Itu sudah cukup membuat Bibi tenang." ucapnya sambil menggenggam tangan Aleta.

"Bagi Bibi... Non bukan majikan."

Aleta menoleh.

"Non adalah anak Bibi."

...****************...

Sementara itu...

Aura berjalan pulang bersama kedua orang tuanya. Jalan kecil yang mereka lewati dipenuhi pepohonan rindang. Rumah-rumah sederhana berjajar di sepanjang gang sempit itu.

"Ayo, sebentar lagi sampai."

Ayah Aura tersenyum sambil membawa tas putrinya.

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana. Beberapa bagian dindingnya sudah mulai lapuk. Atap sengnya bahkan ditahan dengan batu agar tidak mudah terbang tertiup angin. Aura menatap rumah itu cukup lama.

'Gue belum pernah melihat apalagi tinggal di tempat kayak gini...'

"Masuk, Nak," ucap Ibunya, menyadarkan Aura dari lamunannya.

Begitu masuk, aroma masakan sederhana langsung memenuhi ruangan.

"Papa sama Mama masak sayur bening sama tempe goreng."

"Maaf..." Aura menundukkan kepala.

Kedua orang tuanya saling berpandangan. "Maaf karena apa?"

"Aku pasti sudah membuat kalian sangat khawatir."

"Jangan bilang begitu." Ibunya langsung memeluk Aura.

"Kamu pulang dengan selamat saja sudah cukup."

"Kalau kamu kenapa-kenapa... rumah ini pasti terasa kosong." Ayah Aura ikut mengusap kepala putrinya.

"Yah..." panggil Aura.

"Ya?"

"Terima kasih..."

"Terima kasih kenapa?" Ayahnya tersenyum.

"Karena sudah menjadi ayahku."

"Lho? Memangnya ada ayah lain?" Pria itu tertawa kecil. Aura juga ikut tertawa.

...****************...

Di sisi lain...

Viana dan kedua orang tua nya baru saja turun dari taksi.

"Makasih ya, Pak!"

"Iya, Neng."

Begitu pintu rumah dibuka...

"Kakaaakk!"

Seorang anak laki-laki kecil langsung menerjang tubuh Viana.

"Eh! Adit!" teriak ibunya terkejut.

Bruk!

Keduanya sama-sama jatuh di lantai.

"Aduh!"

"Bangun, Kak! Berat!"

"Siapa suruh lompat?" tanya Viana sedikit kesal tapi cukup terhibur dengan tingkat Adit.

"Kalian baru ketemu lima menit udah ribut." Ibunya menggeleng menggelengkan kepala melihat tingkah konyol keduanya.

"Hehehe..."

"Malam ini masak apa Ma?" tanya Viana.

"Ayam goreng. Kenapa nanya-nanya? kayak mau bantuin aja kamu," sindir sang Ibu.

"Goreng ayam mah gampang, Ma. Nanti aku bantuin kok," ucap Viana meyakinkan.

"Terserah."

"Horeee!" Adit langsung bersorak.

"Malam ini pesta!"

"Pesta apanya? Cuma ayam goreng," ucap Ibu nya.

"Itu udah pesta buat kita, Ma." Viana tersenyum lebar.

'Rumah ini emang nggak besar kayak rumah gue dulu. Meskipun cat temboknya mulai memudar, dan perabotannya yang sederhana, tapi rumah ini penuh oleh suara tawa satu keluarga yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh apapun. Jauh berbeda dengan suasana rumah gue dulu, sepi...'

Ketika mereka makan malam bersama, Viana dan Adit saling berebut paha ayam. Keduanya saling bercanda bahkan sesekali saling mengejek. Viana memperhatikan mereka satu per satu, Ayahnya, Ibunya, Adiknya. Hingga tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.

"Eh?" Ibunya menoleh.

"Kok nangis?"

"Hah?" Viana buru-buru mengusap matanya. "Nggak kok!"

"Bohong." Adit menunjuk wajah Viana. "Kakak nangis."

Viana langsung tertawa kecil. "Gue cuma lagi bahagia, Dit."

"Dasar anak aneh." Ayahnya mengacak rambut Viana.

"Jadi, aku anak aneh? Bukan anak Papa dan Mama?"

"Bukan gitu maksud Papa."

"Halahh..."

...****************...

Sore itu, langit kota mulai berubah jingga. Sinar matahari yang perlahan meredup menyinari deretan batu nisan yang tersusun rapi di sebuah taman pemakaman.

Seorang pria berdiri diam di depan salah satunya. Perlahan, ia mengusap nama yang terukir pada batu nisan itu. Senyum tipis terlukis di wajahnya, namun matanya mulai berkaca-kaca.

"Gue rindu lo, Viona..." lirihnya, ia mengembuskan napas pelan.

"Jika di kehidupan sebelumnya gue gak bisa milikin lo... Gue berharap banget, di kehidupan ini gue bisa miliki lo."

Sesaat ia terdiam, seolah menahan sesuatu yang begitu berat di dalam dadanya.

"Namun jika takdir masih belum mengizinkan..."

"In another life... I'll be your boy." Pria itu tersenyum lirih.

Tak lama kemudian, ia berbalik dan berjalan meninggalkan pemakaman. Sosoknya perlahan menjauh, sementara cahaya senja terus menyinari nama yang masih terukir jelas di atas batu nisan itu.

Viona.

1
Peach
bener sih tapi jawabannya... 😭😭
Nongnong 🦩: agak laen yaa 🤭🤣
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Nongnong 🦩: dulu pas author masih sama dia juga lucu tapi endingnya tetep pisah 😌
total 1 replies
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
Nongnong 🦩: namanya juga manusia 😔
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
Nongnong 🦩: Adrian mah gercep
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
Nongnong 🦩: Author juga demen 🤑
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
Nongnong 🦩: Author juga sering kaya gtu, padahal ga reinkarnasi 🤧
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
Nongnong 🦩: cari aman dulu wkwkwk
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
Nongnong 🦩: silakan mengeluarkan kata² mutiara mu kak
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
Nongnong 🦩: real .
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!